Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Dua Wajah Guru Muhammadiyah

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 29 Juli 2024 00:01 WIB
Dua Wajah Guru Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Mohamad Ali

Dalam ketentuan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2024 telah dijelaskan pengertian guru, tetapi belum didefiniskan siapakah sesungguhnya yang dimaksud “guru Muhammadiyah”? Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, serta menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah. Pengertian ini bisa diterima sebagai titik tolak mencari definisi tentang guru Muhammadiyah.

Secara empiris guru Muhammadiyah dapat dimaknai sebagai seluruh guru yang mendidik/bekerja di sekolah Muhammadiyah, baik yang diangkat oleh persyarikatan maupun ASN yang diperbantukan (DPK) di sekolah Muhammadiyah. Pengertian ini mudah dipahami dan keberadaannya sudah diakui, terlebih setelah Forum Guru Muhammadiyah (FGM) berdiri dan terus menggeliat dalam menggerakkan guru-guru di sekolah Muhammadiyah.

Pengertian tersebut (empiris), merupakan modalitas awal untuk mengembangkan lebih jauh seluruh potensi mereka sesuai cita-cita Muhammadiyah. Idealnya guru Muhammadiyah bukan hanya mereka yang mendidik/bekerja di sekolah Muhammadiyah, tetapi pada saat bersamaan juga berkepribadian (berkarakter) Muhammadiyah dan aktif dalam aktivitas persyarikatan.

Idealnya guru Muhammadiyah memiliki karakter utama/kepribadian sebagai berikut: (1) beramal untuk perdamaian dan kesejahteraan, (2) memperbanyak kawan, (3) lapang dada dan berpandangan luas, (4) bersifat keagamaan dan kemasyarakatan, (5) mengindahkan hukum-hukum negara, (6) beramar ma’ruf nahi mungkar, (7) aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, (8) bekerjasama dengan golongan Islam lain, (9) membantu pemerintah, dan (10) adil serta korektif.

Berdasarkan dua kerangka konseptual di atas dapat ditarik garis lurus di mana yang empiris merupakan titik tolak/titik keberangkatan menuju titik cita idealistik. Dalam rentang jarak antara titik keberangkatan sampai titik idealistik, secara garis besar keberadaan mereka dapat digolongkan menjadi dua karakter (wajah) guru Muhammadiyah, yaitu; wajah guru “pencari penghidupan” dan wajah guru yang “menghidupkan” Muhammadiyah. Kedua wajah guru Muhammadiyah perlu dijabarkan lebih rinci dan lebih empiris, sehingga sosok masing-masing wajah terlihat semakin jelas.

Menghidupkan Sekolah Muhammadiyah

“Hidup-hidupilah (sekolah) Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di (sekolah) Muhammadiyah”, demikian pesan Kiai Dahlan saat proses awal merintis persyarikatan. Apa makna pesan ini? Bagaimana aktualisasinya dalam kerangka pengembangan sekolah saat ini?

Tentu kita tidak akan memaknai pesan itu secara tektual, bahwa seseorang yang bekerja di AUM (baca: sekolah Muhammadiyah) tidak boleh menerima gaji, kalaupun digaji harus serendah mungkin, jauh di bawah standar upah minimum regional (UMR). Dalam konteks saat ini, guru di sekolah Muhammadiyah justru harus disejahterakan agar hidup secara layak dan dapat bekerja penuh totalitas, tentu sesuai kekuatan finansial sekolah.

Sumber finansial sekolah Muhammadiyah berasal dari masyarakat, bukan dari pemerintah, sehingga harus benar-benar mampu menjaga layanan prima dan meningkatkan prestasi sekolah. Layanan prima dan prestasi inilah yang mampu merebut hati masyarakat untuk mempercayakan (trust) pendidikan putra-putrinya di sekolah Muhammadiyah. Tanpa layanan prima dan prestasi, sekolah akan ditinggalkan masyarakat dan siswanya akan terus merosot. Dengan sendirinya, kesejahteraan guru pun menurun.

Kualitas sekolah sangat ditentukan oleh keberadaan guru-gurunya dalam mendidik peserta didik. Bagaimana cara guru berada sangat menentukan kualitas Sekolah Muhammadiyah. Di muka disinggung dua cara (wajah) guru Muhammadiyah, yaitu; guru “pencari penghidupan” di Muhammadiyah dan guru yang “menghidupkan” (sekolah) Muhammadiyah.

Wajah guru Muhammadiyah yang pertama, “pencari penghidupan” pola berpikirnya stagnan (fix mindset) dan berkarakter memiliki (to having). Mereka bekerja menjadi guru Muhammadiyah semata-mata mencari uang, pola berpikirnya tidak berubah dan inginnya bergaji besar, tetapi kinerja dan moralitas/etos kerja rendah, serta banyak menuntut/meminta lembaga. Tentu saja mereka tidak mau aktif dalam kegiatan dakwah persyarikatan karena tidak menguntungkan baginya. Tidak ada uangnya.

Berbeda dengan wajah pertama, wajah kedua menampilkan karakter sebaliknya; berpikiran tumbuh (growth mindset), berorientasi pada karakter “menjadi” (to be), dan memfokuskan pada pengembangan dan menghidupkan sekolah Muhammadiyah. Sebab, bila sekolah Muhammadiyah berkembang, menjadi sekolah unggul dan berkemajuan, maka kesejahteraan seluruh guru dan karyawan akan meningkat. Orientasi pada pengembangan sekolah (lembaga), bukan sekadar kepentingan sendiri.

Dua wajah guru di atas tentu ada di sekolah Muhammadiyah. Di sekolah-sekolah yang unggul dan berkemajuan pada umumnya terjadi akumulasi guru-guru terbaik tipe kedua, guru-guru yang menghidupkan. Sebaliknya, di sekolah “hidup segan, mati sungkan” lebih dominan guru-guru tipe pertama, pencari penghidupan. Hipotesis ini tentu tidak berlaku untuk seluruh sekolah Muhammadiyah, terutama di daerah-daerah perdesaan/pedalaman yang mengalami banyak hambatan untuk berkembang.

Berangkat dari realitas empiris guru Muhammadiyah, sebagaimana digambarkan di atas, maka tugas berat menanti kepala sekolah sebagai pengelola dan Majelis Dikdasmen sebagai penyelenggara. Tugas berat itu adalah mentransformasikan kesadaran dan cara berpikir guru-guru “berwajah pencari penghidupan” menjadi guru-guru “berwajah menghidupkan” sekolah Muhammadiyah.

Belakangan tugas itu bertambah berat seiring kebijakan pemerintah menarik guru-guru ASN dari sekolah swasta dan mengangkat guru-guru yang telah terbentuk menjadi PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) dan ditempatkan di sekolah negeri. Meski demikian, sebagai pengelola dan penyelenggara harus berpikir optimistis. Fenomena itu harus dimaknai sebagai proses penyegaran dan peremajaan guru, wahana introspeksi diri sebagai momentum untuk menata guru Muhammadiyah secara lebih terarah dan terencana, serta menyejahterakannya.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Surakarta

Berita Terbaru

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Leave a comment