Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Sudahkah Guru Muhammadiyah Berprinsip Growth Mindset?

Dr. Waskito Widi W., Editor: Sholahuddin
Senin, 29 Juli 2024 07:31 WIB
Sudahkah Guru Muhammadiyah Berprinsip Growth Mindset?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Waskito Widi W.

Growth Mindset menjadi salah satu kunci yang mesti dimiliki para guru di perguruan Muhammadiyah. Dengan berlandaskan pola berpikir terbuka, guru akan memahami bahwa kualitas siswa dikembangkan melalui dedikasi dan usaha yang keras. Semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

Sebaliknya, apabila guru masih beranggapan bahwa bakat siswa adalah mutlak adanya (dibawa sejak lahir), tidak bisa diasah, akan memandang bahwa sukses siswa bergantung kepada bakat yang dimiliki sebelumnya. Pola pikir ini cenderung tertutup atau fixed mindset. Tidak disadari hal ini akan mengerdilkan potensi dan bakat anak didik karena kurangnya kesempatan yang sama. Setiap siswa memiliki potensi dan bakat yang berbeda dan bahkan unik sehingga tugas guru untuk lebih jeli memunculkan potensi dan bakat siswa.

Siswa yang tinggal di daerah perdesaan atau daerah tertinggal sudah tentu memiliki keterbatasan akses dan informasi pengetahuan dibanding mereka yang tinggal di perkotaan. Namun hal ini bukan halangan mengingat kemampuan berpikir siswa di pedalaman tidak kalah dibanding dengan siswa di perkotaan. Masih ingat novel Laskar Pelangi yang ternyata tumbuh dari sekolah Muhammadiyah yang penuh dengan keterbatasan? Ternyata sang guru berhasil menumbuhkan intellectual curiosity kepada sang siswa sehingga tidak takut bermimpi, dan kenyataannya terdapat siswa yang mampu mewujudkannya dengan baik.

Energi Positif

Kisah novel Laskah Pelangi tentu sangat inspiratif bagi para guru Muhammadiyah. Setidaknya terdapat tiga hal penting, pertama, semangat untuk terus belajar dan berkembang. Seorang guru harus senantiasa memberikan energi positif dan semangat yang konsisten kepada siswa. Kedua, fokus dalam proses belajar serta berani menerima tantangan apapun. Ketiga, dengan kerja dan kemauan keras maka berbagai jenis keterampilan bisa dikembangkan.  Pembelajaran juga diarahkan untuk meningkatkan soft skill agar siswa memiliki ketrampilan sesuai bakatnya. Dengan berpegang tiga hal tersebut, dipahami bahwa hasil pembelajaran tidak lepas dari maksimalnya sebuah proses. Kegagalan juga merupakan bagian dari proses.

Termasuk dalam pola pikir growth mindset ialah keterbukaan menerima kritik dari siapapun, bahkan dari siswa itu sendiri. Terkadang terdapat guru yang masih alergi terhadap kritik dari siswa. Guru beranggapan sebagai orang tua yang tidak boleh dikritik karena akan menurunkan kewibawaan guru. Padahal, kewibawaan guru justru akan terjaga manakala bersikap terbuka dan rendah hati, menganggap bahwa siswa bukan seperti gelas kosong melainkan gelas yang penuh potensi. Mereka siap dikembangkan dengan pengetahuan dan pembelajaran di sekolah yang berkualitas.

Khususnya pembelajaran di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang memiliki ciri khusus. Meminjam Prof. Suyanto, model pendidikan Muhammadiyah adalah holistik-integratif yang mengarah pada integrasi ilmu Agama Islam dan ilmu umum, serta berbagai aspek lain yang mendukung. Karena itulah, pendidikan karakter diarahkan pada pembentukan moral, kejujuran dan tanggungjawab. Fenomena meningkatnya game online, pinjol (pinjaman online), hingga judi online yang sudah menjangkiti masyarakat luas adalah tantangan tersendiri.

Disadari bahwa guru bukan satu-satunya sumber belajar, dan kini tergeser oleh media sosial bahkan aplikasi artifisial intelligence (AI). Media sosial dan  AI akan semakin berkembang ke depan, dan menunjukkan fenomena penurunan semangat membaca dan belajar siswa. Sifat instan semakin menggejala di kalangan para siswa.  Literasi bacaan semakin berkurang dan lebih memilih membaca yang remeh temeh (membaca IG) dan status artis daripada buku atau bacaan yang bermutu. Evaluasi terhadap seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri, kelemahan menonjol para siswa SLTA saat ini terletak pada aspek literasi, baik bahasa Indonesia, Inggris, maupun numerik.

Pengelolaan sekolah Muhammadiyah juga perlu dilandasi konsep berpikir growth mindset. Bahwa kepala sekolah (KS) terbuka menerima masukan dan saran sehingga sekolah semakin baik pengelolaanya. KS juga menjadi manager yang membuat sistem agar sekolahnya memiliki tata kelola yang baik. Pengelolaan keuangan yang transparan, pemberian reward and punishment yang tertata, serta situasi penuh kekeluargaan akan menjadikan sekolah yang dicari masyarakat dan bukan sebaliknya.

Penulis adalah Wakil Ketua Majelis Pendidikan PDM Surakarta

Berita Terbaru

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...