Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Gelar Kajian Jelang Berbuka, UMS Kupas Tren Healing dan Tazkiyatun Nafs

Yusuf, Editor: Alan Aliarcham
Selasa, 4 Maret 2025 16:15 WIB
Gelar Kajian Jelang Berbuka, UMS Kupas Tren Healing dan Tazkiyatun Nafs
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Umum Ramadhan Mubarak (KURMA) dengan tema “Tren Healing vs Tazkiyah: Mengapa Ramadhan adalah Waktu Terbaik untuk Pulih”. Acara ini berlangsung pada Senin (3/3/2025) di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (Humas)

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Umum Ramadhan Mubarak (KURMA) dengan tema “Tren Healing vs Tazkiyah: Mengapa Ramadhan adalah Waktu Terbaik untuk Pulih”. Acara ini berlangsung pada Senin (3/3/2025) di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Gema Kampus Ramadhan (GKR) UMS yang bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa, dosen, dan masyarakat dalam meningkatkan ibadah serta memperkuat nilai-nilai keislaman selama bulan suci Ramadan. KURMA dirancang sebagai kajian menjelang berbuka puasa dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya.

Acara menghadirkan pembicara, Isman, yang juga sebagai Kaprodi Magister Hukum Ekonomi Syariah (HES) Fakultas Agama Islam (FAI) UMS. Dalam paparannya, ia menyoroti fenomena kelelahan mental yang banyak dialami oleh Generasi Z akibat tekanan sosial dan tuntutan produktivitas yang berlebihan.

Isman menjelaskan sistem ekonomi neoliberal telah mendorong persaingan tanpa henti dan individualisme ekstrem. Akibatnya, banyak individu mengalami depression dan burn out akibat tekanan untuk terus berprestasi tanpa batas yang jelas.

Positive Violence

Selain itu, ia mengangkat fenomena positive violence, yakni tuntutan untuk selalu berpikir positif dan berkembang secara terus-menerus. “Tekanan ini justru bisa menjadi kekerasan terselubung yang merusak mental individu karena mereka dipaksa menekan emosi negatif tanpa solusi yang tepat,” kata Isman di hadapan ratusan peserta kajian.

Konsep healing modern juga menjadi sorotan dalam kajian ini. Isman menyebut bahwa banyak orang yang terjebak dalam pola pemulihan instan, seperti liburan atau aktivitas self-care, yang hanya memberikan efek sementara tanpa mengubah pola pikir mendasar tentang kesuksesan dan ekspektasi sosial.

Ia mengutip QS. Ar-Ra’d (13:28) untuk menjelaskan bahwa ketenangan sejati hanya dapat diperoleh melalui pendekatan spiritual. “Healing yang bertumpu pada aktivitas duniawi sering kali gagal mengatasi akar permasalahan eksistensial dan spiritual,” lanjutnya.

Dalam kajian ini, Isman juga membahas konsep Tazkiyatun Nafs sebagai solusi yang lebih mendalam. Ia mencontohkan bagaimana Nabi Ibrahim AS menghadapi ujian berat yang justru meninggikan derajat spiritualnya. Keikhlasan dan keyakinannya kepada Allah membuatnya tetap tenang meskipun berada dalam situasi sulit.

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Umum Ramadhan Mubarak (KURMA) dengan tema “Tren Healing vs Tazkiyah: Mengapa Ramadhan adalah Waktu Terbaik untuk Pulih”. Acara ini berlangsung pada Senin (3/3/2025) di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Umum Ramadhan Mubarak (KURMA) dengan tema “Tren Healing vs Tazkiyah: Mengapa Ramadhan adalah Waktu Terbaik untuk Pulih”. Acara ini berlangsung pada Senin (3/3/2025) di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (Humas)

Ia juga menyinggung kisah Nabi Yunus yang disebut dalam Surah Ash-Shaffat (143-144). Menurutnya, Nabi Yunus menemukan ketenangan sejati bukan melalui pelarian, tetapi melalui taubat dan dzikir yang membuatnya lebih dekat dengan Allah.

Kajian ini tidak hanya memberikan wawasan keislaman, tetapi juga menggugah peserta untuk merefleksikan kembali cara mereka menghadapi tekanan hidup. Isman menegaskan bahwa Ramadan adalah momen terbaik untuk melakukan introspeksi dan kembali kepada Allah.

Setelah kajian, panitia menyediakan lebih dari 250 paket berbuka puasa gratis bagi peserta yang hadir di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais. Selain itu, lebih dari 180 paket berbuka juga dibagikan di Masjid Fadlurahman.

Melalui program GKR, UMS berupaya menciptakan atmosfer yang kondusif bagi sivitas akademika untuk memperkuat nilai-nilai spiritual. Rangkaian kegiatan ini akan terus berlangsung sepanjang Ramadan dengan berbagai kajian, diskusi, serta program ibadah lainnya yang diharapkan memberikan manfaat bagi seluruh peserta.

Berita Terbaru

Langgar Agung Al Falah Kerten Gelar Pengajian Arloji Sambut 1 Muharam

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Langgar Agung Al Falah Kerten Solo kembali menggelar Pengajian Arloji (Amanah Ora Lali Ndongo lan Ngaji) pada Malam Jumat Kliwon di Teras...

Momen Iduladha, Umat Diajak Perkuat Kepedulian Sosial

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Semangat pengorbanan dalam nilai spiritual menjadi tema utama Salat Iduladha yang digelar di Masjid Al-Ikhlas Bayan Krajan RT 4 RW 15, Kadipiro,...

Iman dan Takwa Jadi Kunci Keberkahan Kampung

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dwi Jatmiko, menyampaikan kajian bertema “Kunci Kampung yang Berkah dan Bahagia” dalam Salat Subuh...

Doa sebagai Penyembuh: Sembuhkanlah Sakitmu dengan Dahsyatnya Kekuatan Doa

Di tengah dunia yang semakin bising, manusia modern sesungguhnya sedang memikul banyak luka yang tidak selalu tampak oleh mata. Ada tubuh yang sakit karena kelelahan,...

Pengajian Aisyiyah Kampung Sewu, Jatmiko Ingatkan Ketakwaan sebagai Solusi Langit

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dwi Jatmiko, menyampaikan pesan mendalam tentang ketakwaan sebagai solusi atas setiap persoalan hidup dalam...

Tafsir atau Tafsir-Tafsir-an? Bahaya Belajar Agama Tanpa Guru di Era Digital

Ada satu perubahan yang pelan-pelan terjadi dalam cara manusia memahami agama—dan sering kali luput disadari. Hari ini, belajar agama terasa semakin mudah. Cukup membuka TikTok,...

Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...

Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak ...

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...