Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Belajar dari Surah Al-Fajr: Kesombongan Membawa Kehancuran, Takwa Mengundang Kemuliaan

Yusuf, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 7 Februari 2025 16:51 WIB
Belajar dari Surah Al-Fajr: Kesombongan Membawa Kehancuran, Takwa Mengundang Kemuliaan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Tafsir Al-Qur’an dengan topik Surah Al-Fajr, Kamis (6/2/2025), yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting. (Humas)

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Tafsir Al-Qur’an dengan topik Surah Al-Fajr, Kamis (6/2/2025), yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting.

Kajian ini merupakan bagian dari program pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi dosen dan tenaga kependidikan UMS, yang rutin diadakan setiap Kamis pukul 12.30 – 13.30 WIB. Hadir sebagai narasumber, Ustaz Ainur Rha’in yang membahas secara mendalam makna Surah Al-Fajr, baik dari segi tafsir maupun implikasi ajarannya dalam kehidupan.

Kajian diawali dengan pembacaan ayat-ayat Surah Al-Fajr, kemudian dilanjutkan dengan analisis tafsir dari berbagai perspektif ulama. Dalam penjelasannya, Ainur Rha’in menyebutkan terdapat dua pendapat utama di kalangan ulama mengenai makna Al-Fajr dalam ayat pertama.

Pendapat pertama menafsirkan Al-Fajr sebagai waktu subuh, yakni saat kegelapan malam mulai tergantikan oleh cahaya pagi. Allah bersumpah dengan waktu ini karena memiliki keutamaan besar. Pendapat kedua menyatakan yang dimaksud adalah salat Subuh, yang disebut dalam hadis sebagai salat yang paling berat bagi orang-orang munafik.

“Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Muslim No. 657, Barangsiapa yang salat subuh (secara berjamaah), maka ia berada dalam lindungan Allah,” kata Ainur. Terkait makna “malam-malam yang sepuluh”, terdapat dua pendapat di kalangan ulama.

10 Hari Pertama

Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang di dalamnya terdapat keutamaan ibadah haji dan hari raya Idul Adha. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dimana terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Ainur Rha’in mengutip HR. Bukhari No. 969, yang menyatakan bahwa amalan saleh yang dilakukan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah lebih dicintai Allah dibandingkan amalan di hari-hari lainnya, bahkan lebih utama daripada jihad, kecuali jihad dengan jiwa dan harta yang tidak kembali.

Kajian juga menyoroti nasib kaum-kaum terdahulu yang dibinasakan Allah karena kesombongan dan kedurhakaan mereka. Dalam Surah Al-Fajr ayat 6-14, Allah menyebut tiga kaum besar yang mengalami kehancuran: (1) Kaum ‘Aad, Kaum yang terkenal dengan bangunan megah dan peradaban yang maju.

Namun, mereka ingkar terhadap Nabi Hud AS dan akhirnya dibinasakan oleh angin topan yang dahsyat; (2) Kaum Tsamud, dikenal sebagai bangsa yang mengukir rumah-rumah mereka di gunung batu. Mereka menolak ajakan Nabi Saleh AS dan akhirnya dihancurkan dengan suara keras yang mengguncang bumi; (3) Kaum Fir’aun, Penguasa Mesir yang terkenal dengan kebengisan dan kesewenang-wenangan terhadap Bani Israil.

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Tafsir Al-Qur’an dengan topik Surah Al-Fajr, Kamis (6/2/2025), yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting.

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Tafsir Al-Qur’an dengan topik Surah Al-Fajr, Kamis (6/2/2025), yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting. (Humas)

Kesombongan Fir’aun membuatnya ditenggelamkan bersama tentaranya di Laut Merah.“Kaum-kaum ini adalah contoh nyata bagaimana kesombongan dan kezaliman membawa kehancuran. Allah hanya mengirim angin untuk membinasakan Kaum ‘Aad, suara menggelegar untuk menghancurkan Kaum Tsamud, dan menenggelamkan Fir’aun di lautan. Ini adalah azab dunia. Sedangkan di akhirat mereka akan menerima siksa yang jauh lebih berat,” jelas Ainur Rha’in.

Lebih lanjut, kajian ini membahas ayat yang menggambarkan pola pikir orang kafir yang mengukur kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta dan jabatan. Dalam Surah Al-Fajr ayat 15-16, Allah menjelaskan ketika seseorang diberi rezeki berlimpah, ia menganggap dirinya dimuliakan. Sebaliknya, jika diuji dengan kesulitan, ia merasa dihinakan.

“Pandangan ini adalah kesalahan besar. Kemuliaan sejati dalam Islam bukan diukur dari kekayaan, tetapi dari keimanan dan ketakwaan. Banyak tokoh-tokoh kaya seperti Fir’aun, Qarun, dan kaum ‘Aad yang justru dihancurkan oleh Allah karena kesombongan mereka,” terang Ainur Rha’in, merujuk pada Tafsir As-Sama’ani dan Tafsir Al-Qurthubi.

Dari kajian ini, terdapat beberapa pesan utama yang dapat diambil, yaitu : (1) Tolak ukur orang kafir adalah harta dan jabatan, sedangkan dalam Islam, kemuliaan dinilai dari keimanan dan ketakwaan. Miskin bukan berarti hina, kaya belum tentu mulia; (2) Banyak kaum terdahulu yang kaya raya tetapi dihancurkan Allah karena kesombongan mereka; (3) Kemuliaan tidak terletak pada kekayaan, tetapi pada ketaatan kepada Allah.

Berita Terbaru

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...

Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H

Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...

Tablig Akbar UMS Soroti Peran Masjid dalam Membangun Kehidupan Warga

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3/2026) sebagai rangkaian dari Gema Kampus Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut menghadirkan...

Masjid Baiturrahman Nusukan Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Baiturrahman, Cangakan, Nusukan Banjarsari, menggelar Pengajian Nuzulul Qur’an pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan Nuzulul Quran...

Belajar Metode Pendidikan Islam Ala Luqman Al-Hakim dalam Surat Luqman Ayat 13

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Dalam sejarah Islam terdapat sosok pendidik karakter inspiratif. Luqman Al-Hakim namanya, ceritanya dijelaskan secara komprehensif dalam Al-Qur’an pada surat Luqman. Dosen Ilmu Qur’an dan...

Puasa : Regulasi Diri dan Etika Digital

Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga memiliki makna psikologis dan sosial yang mendalam. Di sisi lain,...

Di Meja Berbuka, Kita Menyulam Cinta dan Takwa

Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan wajah yang khas. Ia bukan hanya bulan ibadah individual seperti puasa, tarawih, dan tilawah, tetapi juga ruang sosial yang hidup....

Meneropong Sejarah Perubahan Kiblat dan Konsep Umat Wasathan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Sejarah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah. Dosen Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah...

Ramadan Berdaya, Kuliah Subuh Desa Demangan Bangkitkan Spirit Kepedulian

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana Subuh di Masjid Desa Demangan Sambi Boyolali terasa lebih hidup dan khidmat. Ratusan jamaah memadati saf untuk mengikuti Kuliah Subuh bertema “Ramadhan Berdaya,...

Tarhib Ramadan Masjid Al-Jannah Tegalgiri, Wayang Golek Pitutur Kupas Keutamaan Bulan Suci

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masjid Al-Jannah Dukuh Kajar, Tegalgiri, Nogosari menggelar kegiatan Tarhib Ramadan yang dikemas melalui pagelaran Wayang Golek Pitutur, Sabtu (14/2/2026) malam. Kegiatan dalam rangka menyambut...

Menyambut Ramadan 1447 H: Saatnya Kembali Menata Hati

Setiap kali bulan Ramadan mendekat, ada getaran batin yang berbeda dalam diri seorang Muslim. Seolah-olah jiwa ini dipanggil untuk pulang kepada kesadaran terdalam sebagai hamba...

Mencerahkan, Kajian AIK di PCM Grogol Kupas Thaharah dari Dimensi Akidah

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo menyelenggarakan Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang bertempat di MCC LKSA Muhammadiyah Cabang Grogol, Sukoharjo, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini...

Leave a comment