Saat mengikuti Rakernas Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah di SM Tower Yogyakarta beberapa waktu lalu, ada hal yang menarik menjadi pokok bahasan. Pokok bahasan tersebut adalah evaluasi penerimaan peserta didik baru (PPDB), digitalisasi pendidikan, revitalisasi Ismuba (Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab), pembentukan satuan tugas penjaminan mutu dan sebagainya. Sebagai majelis yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan pendidikan di Persyarikatan Muhammadiyah sejak awal langsung tancap gas dengan evaluasi dan refleksi terkait progres sekolah-sekolah Muhammadiyah selama ini.
Berbicara kuantitas, masih banyak sekolah Muhammadiyah yang siswanya di bawah 100 bahkan di bawah 50. Hal itu disampaikan Didik Suhardi selaku Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah. Realitas ini sebagai bahan evaluasi PPDB dan proses penyelenggaraan pendidikan selama ini. Belum lagi kita berbicara kualitas sekolah yang dikelola persyarikatan. .
Sekolah Muhammadiyah sudah saatnya berbenah. Tantangan pendidikan di era sekarang semakin berat. Bagaimana menghadirkan pendidikan yang beradab, aman, sehat, bersih dari bullying, kekerasan, rokok, dan narkoba. Belum lagi pengayaan kurikulum nasional dengan adopsi dan adaptasi kurikulum internasional (manca negara). Manakala tidak segera disikapi dengan cepat dan tepat sekolah Muhammadiyah tidak lagi diminati masyarakat. Sekolah-sekolah kompetitor sudah melakukan akselerasi dan transformasi dalam menyikapi tantangan zaman. Maka sudah saatnya penyelenggara dan pengelola sekolah Muhammadiyah berpikir soal kualitas. Kuantitas penting tetapi jika tidak sejalan dengan kualitas maka lambat laun akan memudar dan bahkan bisa mati.
Banyak cerita sekolah Muhammadiyah yang dulunya memiliki jumlah siswa melimpah sekarang sedang terengah-engah. Mereka kesulitan untuk kembali meraih jumlah siswa melimpah. Mereka kesulitan untuk kembali meraih simpati dan trust masyarakat. Apakah ini akan tetap dibiarkan terus-menerus dengan menghibur diri pernah menjadi sekolah besar dengan jumlah siswa melimpah? Sudah saatnya sekolah Muhammadiyah berbenah untuk kembali meraih kejayaan dan diminati masyarakat. Tentu saja diiringi dengan mutu sekolah Muhammadiyah yang bisa dibanggakan.
Banyak Faktor
Berbicara peningkatan mutu adalah hal yang menarik dan dinamis. Mengapa? Pasalnya memiliki multi wajah dan banyak faktor yang menunjang peningkatan mutu tersebut. Ada faktor siswa, keluarga, masyarakat, SDM, sarana dan prasarana, dan tidak kalah penting adalah faktor “kepemimpinan” di sekolah tersebut. Sehingga peningkatan mutu di sekolah tidak bisa secara instan, fragmentasi dan by accident. Akan tetapi harus komprehensif, simultan, berjangka panjang dan dilakukan secara sistematis serta konsisten dengan berbagai pendekatan baik formal struktural maupun kultural.
Peningkatan mutu sekolah bisa dimulai dari internal sekolah. Artinya hal yang paling dekat dengan peningkatan mutu adalah peningkatan kualitas proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang berkualitas akan mampu meningkatkan mutu sekolah. Meskipun tidak mudah untuk menuju ke sana. Karena banyak variable dalam proses interaksi antara guru dan peserta didik, berkaitan dengan konten/materi, kondisi keluarga, dan juga kondisi guru itu sendiri sangat berpengaruh terhadap kualitas proses pembelajaran.
Kualitas proses pembelajaran di sekolah juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, lingkungan, dan kultur sekolah. Sekolah yang mampu menghadirkan school culture dengan baik maka semua warga sekolah secara otomatis akan mengikuti ritme di sekolah tersebut. Apa yang mereka lakukan dan kerjakan itu bukan beban. Tetapi sesuatu yang dikerjakan karena sudah menjadi habit dan automatically. Manakala ini berjalan dengan mapan, maka tujuan sekolah meraih cita-cita akan mudah tercapai. Sehingga tidak akan terdengar lagi ada sekolah Muhammadiyah yang gulung tikar/ tutup, PPDB otomatis akan meningkat, sekolah akan semakin diminati masyarakat, dan menjadi kebanggaan warga persyarikatan khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya.
Semua hal di atas dapat diraih manakala sekolah Muhammadiyah segera berbenah. Minimal ada tiga hal yang mesti dilakukan oleh sekolah. Pertama, menyamakan mindset seluruh stakeholder sekolah. Mindset menjadi yang utama dalam penyelenggaraan sekolah. Apalagi sekolah Muhammadiyah yang notabenenya sekolah swasta. Sekolah berbasis partisipasi masyarakat. Bukan sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah yang semuanya ditopang oleh negara. Sebagai sekolah swasta maka mengelola layaknya sekolah swasta. Sekolah yang hidup matinya tergantung kita termasuk tingkat kesejahteraan. Kita yang menentukan sendiri bukan orang lain. Pemerintah dalam hal dinas pendidikan adalah mitra yayasan (baca: Majelis Dikdasmen) dalam memberikan pengarahan, pembinaan, dan penyelenggaraan pendidikan.
Kedua, pelayanan prima. Pendidikan adalah jasa dan jasa bertumpu pada kekuatan service (pelayanan). Pendidikan Muhammadiyah harus mengedepankan service terhadap kebutuhan masyarakat. Manakala service excellent (layanan unggul) ini mampu diaplikasikan maka sekolah Muhammadiyah tetap eksis dan diminati masyarakat. Ketiga, membangun sistem. Sistem organisasi sekolah perlu dibangun dengan baik dan sistematis. Seluruh stakeholder sekolah hendaknya mengikuti sistem yang sudah dibagun bersama. Semua tunduk pada sistem tidak terkecuali kepala sekolah.
Keempat, adaptif terhadap perubahan. Menurut tokoh teori evolusi Charles Darwin, bukan yang besar dan kuat yang bisa bertahan, melainkan yang adaptif terhadap perubahan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan maka kita harus menghadapi perubahan itu dengan langkah-langkah cerdas dan tepat. Banyak pelajaran bisa kita ambil dari perusahaan-perusahaan besar yang gulung tikar dan banyak sekolah yang dulu memiliki siswa banyak menjadi habis karena tidak bisa membaca tanda-tanda zaman perubahan serta tidak adaptif terhadap perubahan tersebut. Kunci bisa bertahan adalah bagaimana sekolah tetap inovatif, kreatif, adaptif, kolaboratif, dan pengembangan IT/digitalisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Kelima, leadership yang kuat. Semua program, sistem organisasi, rencana kerja dan sebagainya akan berjalan dengan baik manakala ditopang oleh kepemimpinan yang andal. Kepemimpinan yang mampu menerjemahkan visi misi dan menggerakkan seluruh stakeholder mencapai visi misi sekolah tersebut. Bukan model kempimpinan yang berbicara “melangit” yang tidak mampu dipahami stakeholder yang pada akhirnya seluruh sistem organisasi sekolah tidak berjalan dengan baik. Semoga dengan mindset yang benar, pelayanan prima, sistem yang handal, adaptif terhadap perubahan, dan ditopang dengan leadership yang kuat sekolah muhammadiyah meraih kembali kejayaan serta menjadi sekolah yang berkemajuan dan mencerahkan
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…
Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...
Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah
Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...
Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara
Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...
Inovasi atau Mati
Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...
Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam
SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...






