Satuan Penyelenggara Administrasi dan Gerai Surat Izin Mengemudi (Satpas) Satlantas Polresta Surakarta resmi memberlakukan tes psikologi sebagai persyaratan bagi pemohon pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM). Kewajiban tersebut berlaku bagi pemohon SIM A dan SIM C, baik untuk SIM yang baru maupun perpanjangan. Aturan pemberlakuan tes psikologi (psikotes) berdasarkan peraturan Kapolri No.9.2012 tentang SIM dan instruksi Kapolda Jateng No.ST/2013/YAN.1.1./2020 tentang pemberlakuan tes psikologi di seluruh jajaran Polda Jateng. Semua pemohon SIM harus lulus tes psikologi. Tulisan berikut ini akan memberikan sedikit arahan apa dan bagaimana tes psikologi itu.
Saat ini, hampir semua bidang kehidupan, profesi dan pekerjaan mengggunakan psikotes sebagai salah satu tahapan dalam proses seleksi, seperti seleksi calon apartur sipil negara (ASN) , militer, polisi, guru, bidan, seleksi masuk peruruan tinggi, calon tenaga kerja, karyawan perbankan bahkan untuk menjadi calon anggota legislatif, presiden dan wakil presiden semua menggunakan pendekatan tes psikologi. Yang terbaru adalah untuk pemohon SIM. Jika Anda belum pernah mengikuti psikotes, berikut ini saya beri sedikit penjelasan mengenai apa itu psikotes dan bagaaimana menghadapi psikotes. Namun tulisan ini akan memberikan paparan tentang materi dan kisi kisi dari psikotes tersebut.
Pada umumnya masyarakat lebih sering menyebut psikotes daripada pemeriksaan psikologis. Istilah pemeriksaan psikologis sebenarnya lebih tepat digunakan karena tes psikologi bukanlah testing dalam arti ujian sebagaimana ujian tes masuk perguruan tinggi. Psikotes merupakan serangkaian pemeriksaan psikologis bertujuan mengukur atau assesment agar diperoleh informasi akurat tentang profile kepribadian seseorang. Prinsip dasar pemeriksaan psikologi sangat berbeda dengan tes kemampuan hasil belajar. Ujian dinilai dengan prinsip benar atau salah, sedangkan psikotes atau pemeriksaan psikologis penilaian atau interpretasi tes tidak didasarkan pada prinsip benar atau salah. Semua respon (jawaban) subjek adalah benar asal benar-benar direspon (dijawab) sesuai dengan keadaan individu yang diperiksa atau dites. Oleh karena itu strategi paling mendasar untuk mengerjakan atau menghadapi psikotes adalah memberikan respons atau jawaban apa, tidak dibuat buat atau jangan terpengaruh jawaban orang lain. Yang penting respons tersebut benar-benar mencerminkan keadaan diri Anda yang sebenarnya. Tidak perlu dibuat-buat, apalagi mencari bocoran soal dan kunci jawaban.
Belajar lpsikotes sebenarnya tidak perlu bagi para testee (orang yang menjalani tes). Hal tersebut kecuali menimbulkan kegelisahan prapsikotes juga membuang-buang waktu dan energi sehingga hasil psikotes justru menjadi bias dan tidak akurat. Karena testee memberikan informasi yang salah sehingga merugikan diri testee sendiri karena telah terjadi kesalahan penggambaran keribadian. Namun demikian karena istilah psikotes atau tes psikologi pada saat ini sudah sedemikian populernya dan sulit untuk diubah, maka dalam tulisan ini penulis mohon izin untuk tetap menggunakan istilah tes psikologi atau psikotes sebagai penyebutan untuk pemeriksaan psikologi.
Psikotes atau tes psikologi adalah sebuah tes yang bertujuan mengukur fungsi kognitif dan emosi seseorang. Psikotes dapat dipergunakan berbagai keperluan baik medis semisal untuk keperluan terapi, maupun untuk keperluan nonmedis. Di bidang nonmedis, psikotes ini menjadi sebuah tes yang lazim dipakai dalam seleksi penerimaan karyawan baru maupun tes kenaikan jabatan karyawan perusahaan, dan juga untuk tes kelayakan mengemudi kendaraan bermotor sebagaimana yang diterapkan pada ujian pemohon SIM ini. Jika demikian halnya maka pernyataan yang menyebutkan bahwa pemohon SIM harus sehat jasmani dan rohani sudah benar. Untuk melihat indikator kesehatan jasmani pemohon harus lulus uji/kir dokter sedangkan untuk melihat derajat kesehatan rohani atau kesehatan psikologis pemohon harus lolos pemeriksaan psikologis atau psikotes (Solopos, 12 Februari 2020).
Terlepas dari macam dan jenis tes psikologi apa yang dipergunakan, pemeriksaan psikologi minimal harus melibas empat aspek kepribadian yang harus diungkap, masing-masing aspek intelegensi, kematangan emosi, keterampilan sosial dan sikap kerja/berkendara. Keempat aspek ini merupakan suatu entitas, merupakan satu kesatuan di mana kondisi salah satu aspek akan mempengaruhi aspek yang lain. Oleh karena itu biasanya tes-tes psikologi tidak dilakukan secara parsial hanya untuk satu kepentingan. Misalnya hanya untuk memperoleh gambaran tentang kematangan emosi saja dan mengabaikan kecakapan sosialnya. Oleh karena itu penyebutan yang menyatakan pengemudi kendaraan bermotor harus memenuhi syarat sehat jasmani dan rohani adalah tepat sekali. Hal itu karena pengguna jalan sangat erat kaitannya dengan sikap, etika, norma dan saling menghargai pengguna jalan. Ketika terjadi sesuatu hal seperti kecelakaan di jalan raya, misalnya, maka seseorang yang sehat jiwa atau rohaninya akan mampu mempertanggungjawabkannya.
Rasa tanggung jawab ini merupakan bagian dari kesehatan jiwa seseorang. Psikotes memang ribet dan menuntut banyak waktu seperti banyak dikeluhkan para pemohon SIM yang mengikuti tes psikologi ini. Namun hal ini bukan persoalan ribet atau tidak ribet, sebab jumlah kecelakaan di jalan raya sangat tinggi sehingga tes psikologi ini menjadi perhatian penting dan prioritas dari satuan lalu lintas.
Menghadapi Psikotes
Instrumen psikodiagnostika dibedakan menjadi dua yaitu instrumen yang berwujud tes psikologi proyektif dan tes psikologi nonproyektif. Untuk yang disebut terakhir adalah tes-tes psikologi yang model analisisnya sangat objektif dan ditujukan untuk mengungkap aspek-aspek objektif dalam kehidupan psikologis seseorang. Seperti misalnya tes tempat dan ruang, tes numerical, block design, tes IQ, tes bakat dan minat dan lain-lain. Sedangkan tes psikologi proyektif adalah tes yang berupaya memotret kondisi internal psikofisik dan kepribadian dengan rangsang-rangsang tertentu yang sifatnya diproyeksikan.
Meskipun terdapat pembedaan antara tes proyektif dan nonproyektif , tetapi strategi dasar dalam menghadapi tes-tes tersebut adalah sama. Strategi itu berbeda dengan strategi menghadapi ujian masuk perguruan tinggi yang ada lembaga bimbingannya. Strategi yang paling utama adalah mempersiapkan kondisi fisik yang fit dan kondisi mental yang prima ketika akan menghadapi psikotes. Capailah kondisi mental yang prima dengan mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri dan bersikap positif terhadap proses pemeriksaan psikologi yang sedang berlangsung. Pandanglah psikotes sebagai suatu tantangan yang menarik. Jangan menganggap psikotes sebagai beban agar tidak muncul perasaan tertekan. Kemudian perhatikan dan pahami secara cermat setiap instruksi yang diberikan selama psikotes berlangsung. Jangan anggap remeh sebab setiap kesalahan cara mengerjakan akan berakibat fatal.
Hindarilah perilaku yang sama sekali tidak berguna dalam menghadapi psikotes, misalnya : mencari bocoran soal-soal dan kunci-kunci jawaban. Hal ini hanya membuang waktu dan menjebak Anda. Jangan kurang istirahat karena sibuk “belajar” mengerjakan latihan soal-soal psikotes. “Belajar” atau latihan soal dalam psikotes sama sekali tidak akan menolong Anda. Kerjakanlah tugas dalam psikotes sebagaimana yang diinstruksikan oleh tester Anda.
Jangan membandingkan pekerjaan sendiri dengan hasil yang dibuat peserta lain, apalagi menirunya. Selain itu, usahakan hadir di lokasi tempat tes psikologi dilangsungkan minimal 30 menit sebelum tes. Jangan lupa membawa alat tulis (biasanya pensil 2B dan juga bolpoin dengan tinta berwarna biru), karet penghapus. Selama tes berlangsung peserta tes tidak boleh saling meminjamkan peralatan tulis. Usahakanlah tidak meninggalkan atau keluar raungan tempat tes dengan alasan buang air seni atau alasan yang lain. Hal yang demikian tidak diperbolehkan selama tes psikologi sedang berlangsung. Semoga catatan kecil ini berguna untuk para pemohon SIM yang baru pertama kali mengikuti ujian tes psikologi.
Tes psikologi? Siapa takuuuut.
Penulis adalah psikolog, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
SAGU SAMU, Gerakan Bersama Menjemput Masa Depan Sekolah
Sekolah swasta hidup dan berkembang karena kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk hadirnya peserta didik yang memilih sekolah kita sebagai tempat belajar dan bertumbuh....
Mendesain Pelepasan dan Mendesain Cari Murid
Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu....
Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran
Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....







