Friday, 25 June 2021
HOTLINE: (0271) 653 025 / 081234 567 890
  • Home
  • Menyoal SBR (Sekolah Berbasis Riset)
Menyoal SBR  (Sekolah Berbasis Riset)

Menyoal SBR (Sekolah Berbasis Riset)

Oleh : Hendro Susilo *)

 

 

MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Ketika hendak menulis judul artikel ini, berbarengan dengan munculnya keputusan peleburan kemenristek dan digabung dengan Kemendikbud. Pro kontra pun menyertai proses penggabungan kedua institusi ini. Dengan adanya proses ini, nomenklatur kementerian pendidikan berubah menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbud Ristek). Saya tidak akan  menuliskan  apa yang akan terjadi dengan penggabungan kedua institusi ini, pun tidak akan meramal masa depan pendidikan dengan penggabungan ini, apakah langkah maju atau langkah mundur. Biarlah waktu yang akan membuktikannya.

Sebagai seorang guru, saya tertarik pada proses pengembangan pendidikan dan sekolah. Pengembangan ilmu pendidikan yang meliputi permasalahan dalam proses belajar mengajar, pengembangan kurikulum sekolah, evaluasi dan penilaian hasil belajar, pengelolaan sekolah, model kepemimpinan sekolah, peran orang tua dalam pendidikan dan lain sebagainya yang perlu dipelajari secara seksama  dalam rangka pengembangan institusi yang bernama sekolah.

Bila kita tengok ke belakang, banyak kita temukan tulisan artikel yang memuat  tentang problematika multidimensi pendidikan di Indonesia, pun termasuk solusi atau kebijakan yang diambil dalam bidang pendidikan masih bersifat reaktif, solusi bersifat jangka pendek dan jarang sekali mengambil kebijakan berdasarkan hasil kajian berupa penelitian dan pengembangan. Ketidakmampuan mengambil kebijakan berdasarkan hasil riset lapangan ini diakibatkan minimnya jumlah peneliti dan belum terbangun baik jiwa budaya riset yang ada di lembaga pendidikan.

Kurikulum yang bersifat pasif dan pedagogik, dimana 60-70 % berupa teori dan 30-40% berupa praktik ditambah pola interaksi antara guru-siswa hanya di dalam ruangan kelas tidak akan mampu menstimulasi kepekaan siswa pada karakter jiwa peneliti. Menumbuhkan kepekaan dan ide kreatif siswa ataupun guru dalam menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar, mulai dari masalah sederhana sampai kompleks perlu ditanamkan pada warga sekolah. Ini sebagai dasar untuk menumbuhkan jiwa peneliti pada warga sekolah. Maka fokus sekolah untuk menumbuhkan kepekaan dan jiwa peneliti perlu dikembangkan.

Sebagai gambaran, saya ambil data dari kompas, (24/10/11) ada riset yang menyatakan bahwa rata-rata scientific literacy siswa Indonesia hanya 399, jauh di bawah rata-rata ideal dunia yang 500 artinya siswa Indonesia tak mampu menggunakan pengetahuan yang sudah dipelajari untuk memecahkan masalah kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dan sampai sekarang-pun, posisi peringkat PISA Indonesia yang mengukur kinerja siswa bidang matematika, sains, dan literasi pada posisi 371 (tahun 2018) yang memang menghadapi problem di pemerataan mutu pendidikan. Dari data ini, jelas menggambarkan daya dukung sekolah pada pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari siswa perlu ditingkatkan.

Terkait judul artikel ini, Sekolah Berbasis Riset (SBR) secara konseptual merupakan sekolah dengan mengandalkan riset sebagai landasan peningkatan dan pencarian ilmu pengetahuan dan tekonologi. Sekolah berbasis riset dapat mengantarkan siswa menjadi insan yang lebih peka dalam lingkungan sekitar, merangsang aktivitas motorik dalam peningkatan IPTEK, sehingga mahir dalam memecahkan persoalan yang ada. Riset atau penelitian sederhana menjadi bagian dari mata pelajaran dan tugas bagi setiap siswa.Untuk itu, perlu dikembangkan kurikulum sekolah berbasis riset. Kurikulum sekolah dasar dan menengah  perlu dikembangkan dan dimodifikasi untuk menumbuhkan jiwa dan budaya riset pada warga sekolah, dan tentu saja riset yang diterapkan pun akan berbeda dengan tingkat perguruan tinggi.

Dengan modifikasi kurikulum berbasis riset, sekolah berpeluang besar mampu menanamkan jiwa peneliti pada warga sekolah. Banyak artikel hasil riset yang menunjukkan data bahwasannya pembelajaran berbasis riset (Aktive Learning, Inquiry-Based Learning, Problem-Based Learning, dan Peer Instruction) akan mewujudkan pembelajaran yang efektif dan  inspiratif yang berdampak pada hasil belajar siswa. Sekolah berbasis riset, akan menghasilkan pembelajaran berbasis riset (PBR) pula. Dimana, PBR merupakan salah satu metode student-centered learning (SCL) yang mengintegrasikan riset di dalam proses pembelajaran.

Mengutip pendapat Masri Kudrat Umar, dkk. 2011,  Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan dalam memadukan pembelajaran dan riset  secara empirik, yaitu; (1) memperkaya bahan ajar dengan hasil penelitian pendidik, (2) menggunakan temuan-temuan penelitian mutakhir dan melacak sejarah, (3) memperkaya kegiatan pembelajaran dengan isu-isu penelitian kontemporer, (4) mengajarkan materi metode penelitian di dalam proses pembelajaran, (5) memperkaya proses pembelajaran dengan kegiatan penelitian dalam skala kecil, (6) memperkaya proses pembelajaran dengan melibatkan peserta didik dalam kegiatan, (7) memperkaya proses pembelajaran dengan mendorong peserta didik agar merasa, dan (8) memperkaya proses pembelajaran dengan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh peneliti.

Terlepas peristiwa perubahan nomenklatur Kemendikbud Ristek, sekolah dalam tingkatan mikro ada baiknya menumbuhkan ide kreatif , kepekaan terhadap problem lingkungan sekitar dan jiwa peneliti bagi warga sekolah dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pun termasuk sekolah-sekolah Muhammadiyah harus berani melakukan terobosan melalui pengembangan kurikulum, baik kurikulum Al-Islam Kemuhammadiyahan maupun kurikulum nasional agar sekolah bergerak menuju kualitas sekolah    “Al-Ashr” .

*)(Litbang Perguruan Muhammadiyah Kottabarat)

Ditulis oleh :

INFORMASI TERKAIT

All

Diskusi

Galeri Video

GALERI FOTO

TERPOPULER