Muhammadiyah menorehkan sejarah dengan meluncurkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) per 1 Muharram 1446 H yang jatuh pada Minggu (7/7/2024). Mulai tanggal itu, Muhammadiyah menggunakan KHGT dalam penanggalan hijriyah.
Prinsip KHGT adalah kalender dengan satu tanggal, satu hari, dan berlaku di seluruh dunia. Selama ini persyarikatan menggunakan metode wujudul hilal dalam menyusun kalender hijriyah. Kekurangannya, metode ini hanya berlaku lokal di Indonesia, tidak bisa diterapkan secara global. Dengan KHGT, Idulfitri, misalnya, pasti akan jatuh pada hari dan tanggal yang sama di seluruh dunia. Prinsip satu tanggal, satu hari, berlaku global dalam KHGT ini akan mengatasi ketidaksamaan berbagai kalender hijriyah yang berlaku selama ini.
Metode dan kriteria yang beragam ini mengakibatkan sering terjadi perbedaan penetapan hari-hari istimewa umat Islam, seperti awal Ramadan, Idulfitri maupun Iduladha. Perbedaan ini yang sering membikin kurang “nyaman” umat Islam. Acapkali terjadi perdebatan rutin di media sosial setiap kali ada perbedaan. Agar bisa kompak, tentu KHGT ini harus diadopsi oleh warga muslim dunia.
Menandai peluncuran KHGT ini, melalui TvMU, televisi milik persyarikatan, menyelenggarakan Pengajian Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bertema “Kalender Hijriyah Global Tunggal, Landasan dan Penerapannya” pada Jumat (6/7/2024) malam pukul 19.00-21.00 WIB.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, Dr. Maskufah, menjelaskan panjang lebar sejarah penerapan KHGT. Dengan memberlakukan KHGT, persyarikatan ingin ada kepastian dalam kalender hijriyah.
Kepastian dalam beribadah, kepastian dalam melaksanakan puasa Arafah, puasa Ramadan, Idulfitri, Iduladha dan kalender penting lainnya. Muhammadiyah secara serius melakukan kajian untuk menerapkan kalender hijriyah global ini sejak 2007.
Pada tahun itu, PP Muhammadiyah menyelenggarakan simposium internasional bertema “The Effort toward Uniflying the Islamic International Calender”. “Simposium ini sebagai upaya menuju penyatuan kalender Islam Internasional,” jelas Maskufah.

Tangkapan layar Pengajian PP Muhammadiyah di TvMu Channel di YouTube.
Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 2015 juga mengamanatkan PP Muhammadiyah mengupayakan penyatuan kalender hijriyah yang berlaku internasional. Pada 2016 Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar, mengikuti Muktamar Kalender Global di Turki.
Simposium ini menyepakati melalui voting kalender hijriyah mono zonal dengan satu hari satu tanggal di seluruh dunia (seluruh dunia itu satu matlak). Menurut Maskufah, hasil kongres Turki 2016 ini mempertegas kriteria Kongres Penentuan Awal Bulan Kamariah di Istanbul 1978.
Kongres itu menetapkan parameter imkanur rukyat dengan tinggi hilal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat dengan matlak global. Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo pada 2022 kembali menegaskan perlunya mengesahkan kalender hijriyah global tunggal.
Secara khusus, hal ini masuk dalam dokumen Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang menjadi keputusan muktamar. Dalam RIB, khususnya pada tema “Pengkhidmatan Global” menegaskan, sebagai organisasi berkemajuan, Muhammadiyah semakin dituntut memainkan perannya bukan saja pada tingkat nasional tetapi juga pada tingkat global.
Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar untuk membangun tata kehidupan global yang adil, damai dan sejahtera. Salah satu peran global Muhammadiyah itu adalah melakukan perbaikan sistem waktu Islam secara internasional melalui upaya pemberlakuan kalender Islam global unifikatif.
Hal itu dalam rangka menyatukan jatuhnya hari-hari ibadah Islam, terutama yang waktu pelaksanannya terkait lintas kawasan. Selama 17 tahun sejak 2007, persyarikatan terus melakukan kajian melalui seminar, penelitian, dan kajian-kajian ilmiah lainnya untuk mematangkan ijtihad di bidang penanggalan hijriyah ini.
Puncaknya adalah Keputusan Musyawarah Tarjih ke-32 di Pekalongan pada Februari lalu. Munas menyetujui peralihan penggunaan kalender Hijriyah Global. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, saat membacakan keputusan mengatakan kalender hijriyah global ini merupakan jihad baru Muhammadiyah yang harus diperjuangkan untuk melahirkan peradaban Islam yang maju.
“Orang Muhammadiyah harus berani bersakit-sakit untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin,” tegasnya seperti dikutip suaramuhammadiyah.id, Minggu (25/2/2024). Akhirnya PP Muhammadiyah resmi memberlakukan KHGT per 1 Muharram 1446 H ini.
Utang Peradaban
Dalam berbagai kesempatan, Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menyatakan pemberlakuan KHGT merupakan “utang peradaban” Muhammadiyah yang harus ditunaikan. Haedar mengakui untuk bisa diterima secara global, KHGT ini membutuhkan perjuangan panjang.
Dia membandingkan dengan pemberlakuan kalender masehi yang membutuhkan waktu lama untuk bisa berlaku secara global. Saat membuka Munas Tarjih tersebut, Haedar Nashir mengatakan, “Kita iri dengan kalender miladiyah (masehi). Mereka tidak pernah berselisih tentang Natal dan hari-hari besar lainnya, karena sudah ada kalender tunggal, satu hari satu tanggal di seluruh dunia,” ujar Haedar seperti dikutip situs Muhammadiyah.or.id.
Dalam konteks kalender, Haedar menilai, adagium “perbedaan adalah rahmat” tidak berlaku dan perlu digantikan dengan pandangan bahwa “kesatuan dan kepastian dalam berkalender hijriah tunggal adalah rahmat”. Menurut Haedar, sesungguhnya KHGT bukan hanya milik Muhammadiyah melainkan milik umat Islam seluruhnya.
Sebagai ijtihad baru, Muhammadiyah sangat membuka diri berdiskusi serta menerima kritik pihak lain. Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar dalam pengajian PP Muhammadiyah itu menyilakan pihak lain menyampaikan kritik untuk perbaikan. Selama kritik itu berdasarkan metodologi ilmiah, katanya, Muhammadiyah akan menerima dengan baik.
Apa langkah selanjutnya? PP Muhammadiyah telah melakukan berbagai sosialisasi di internal persyarikatan melalui jaringan-jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. Tidak terlalu susah agar KHGT ini untuk bisa diterima oleh warga Muhammadiyah.
Yang berat adalah meyakinkan pihak lain baik di Indonesia maupun warga muslim dunia agar bisa sama-sama mengadopsi KHGT model Turki 2016 ini. Karena itu, lobi-lobi Muhammadiyah di tingkat global menjadi sangat penting. Entah butuh berapa puluh tahun, atau berapa abad lagi agar warga muslim dunia bisa sepakat menggunakan kalender hijriyah tunggal ini.
Futurolog muslim Ziauddin Sardar pernah mengatakan, untuk membangun peradaban muslim masa depan, umat Islam perlu menulis sejarah masa depan itu mulai sekarang. Penyatuan kalender hijriyah global ini bagian ikhtiar persyarikatan untuk membangun peradaban masa depan dengan basis Islam rahmatan lil alamin. Dan, Muhammadiyah telah memulainya dengan langkah besar itu…
Pemuda Muhammadiyah Kota Bengawan Gelar Festival Ramadan #3, Bukti Geliat Ekonomi dan Dakwah
Sinergi apik tercipta di lingkungan Masjid Nurul Hidayah pada Rabu (18/02/2026) yang penuh berkah. Kolaborasi strategis ini melibatkan Takmir Masjid dan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah...
Media Afiliasimu dan Agenda Muhammadiyah
Para pengelola media yang tergabung pada Media Afiliasi Muhammadiyah (Afiliasimu) sepakat menjadikan medianya sebagai ujung tombak penyebaran agenda dan informasi persyarikatan. Pada Jambore Media Afiliasi...
Pembelajaran Baik tentang Pendidikan Lingkungan Hidup di SMA Muh PK Kottabarat
Manusia hidup menetap dan tak terlepas dari lingkungan hidupnya. Lingkungan itu merupakan tempat manusia menggantungkan hidup. Seperti halnya tempat tinggal, tempat sumber makan, hingga menjadi...






