Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Sosok

Kisah Asa Ahmad Din Membangun Asa Melalui Butik Halmartex

Aghna Joan Aqila, Editor: Sholahuddin
Kamis, 20 November 2025 10:00 WIB
Kisah Asa Ahmad Din Membangun Asa Melalui Butik Halmartex
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Asa Ahmad Din saat berada di Halmartex [Aghna].

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Di Jl. Mangesti Raya, Gentan, Sukoharjo, berdiri sebuah butik batik yang tampak sederhana namun memiliki kisah perjalanan yang dalam. Butik itu bernama Halmartex, sebuah nama yang menyimpan harapan, doa, dan cerita perjuangan panjang seorang ayah bernama Asa Ahmad Din, atau akrab disapa Pak Asa.

Sebelum mengenal dunia batik, Pak Asa tidak memiliki latar belakang usaha tekstil sama sekali. Ia bekerja apa saja yang bisa menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga: berjualan jagung bakar, mengirim minyak tanah, hingga membuka toko kelontong kecil. Semua ia lakukan dengan tekun, meskipun hasilnya sering kali tidak sesuai harapan. Dalam perjalanan itu, ia jatuh, bangkit, mencoba lagi, dan terus maju tanpa kehilangan rasa syukur.

Suatu hari, ketika ia mulai memperhatikan kehidupan sekelilingnya, ia menyadari bahwa banyak dari orang-orang di sekitar Pasar Kliwon, Kota Solo, mampu hidup stabil dengan usaha kain dan batik. Ia mulai mencari tahu, mendengar, bertanya, dan tanpa disangka salah satu kerabat keluarga memperkenalkannya dengan produsen batik kemeja. Pertemuan sederhana itu menjadi pintu yang tak pernah ia sangka akan membuka jalan panjang Halmartex. Dari situ, ia mulai belajar memahami proses kain, motif, hingga pola pasar, meski semuanya ia pelajari dari pengalaman, bukan pendidikan formal.

Halmartex sendiri lahir bukan sebagai toko besar, melainkan dari sebuah kamar kosong di samping toko kelontong keluarga. Ruangan yang dulu hanya terisi barang seadanya itu, pelan-pelan berubah menjadi tempat usaha. Tidak ada etalase pada awalnya, tidak ada pajangan, bahkan tidak ada rak kain yang rapi. Hanya ada niat, keberanian mencoba, dan semangat untuk bertahan. Ia mulai dengan menjual sarung bermotif, lalu berkembang menambah koleksi batik kemeja, sampai akhirnya mampu memproduksi motif sendiri.

Nama Halmartex bukanlah nama yang dipilih sembarangan. Nama itu berasal dari nama putranya, Zidni A’torida Halmar Ma’aly. Dengan memberikan nama anaknya sebagai nama butik, Pak Asa seakan menitipkan doa agar kelak usaha ini bukan hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga menjadi warisan keluarga, sesuatu yang dapat dibanggakan, ditempati, dan diteruskan oleh anak-anaknya kelak. Halmartex adalah cinta yang dijahit dalam bentuk usaha.

Beda dengan Butik Lain

Dalam proses berkembang, Halmartex memilih ciri khas yang membedakannya dengan butik batik lain, yaitu motif dan teknik produksinya. Halmartex memproduksi batik dalam jumlah terbatas, bukan massal, sehingga setiap model terasa lebih personal dan eksklusif. Motif-motifnya terinspirasi dari kehidupan sehari-hari, seperti bentuk pagar rumah, ukiran pintu, pahatan dinding, hingga batik yang ditemui sekilas saat melintas, sebelum akhirnya mengolahnya menjadi ide motif baru. Sementara itu, motif khas batik Solo seperti parang dan burung tetap dipertahankan sebagai identitas lokal yang tidak boleh hilang.

Perjalanan ini tentu tidak lepas dari rintangan. Tantangan terbesar yang kini dihadapi Halmartex adalah persaingan di era digital, di mana banyak penjual telah berjualan melalui live shop dan media sosial. Namun, Pak Asa tidak menyerah. Baginya, usaha ini bukan hanya tentang profit, melainkan tentang kontinuitas dan keberkahan. Yang paling membahagiakan baginya adalah ketika putrinya, sang pemilik nama yang diabadikan sebagai identitas butik, kini mulai ikut membantu dan belajar dalam usaha keluarga ini. Saat itu terjadi, semua lelah seolah terbayar.

Ke depan, Halmartex memiliki rencana untuk memperluas pemasaran melalui platform digital dan membuka sesi live secara rutin untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Meskipun perjalanan masih panjang, harapan itu tidak pernah padam. Bagi anak muda yang sedang memulai usaha, Pak Asa memberi pesan sederhana namun bermakna: “Jangan takut gagal. Jatuh itu wajar. Yang penting, berdiri lagi. Kalau kita mau berusaha dan bersyukur, rezeki akan menemukan jalannya.”

Berita Terbaru

Faeyza Bayanaka Kusuma, Ungkap Rahasia Raih Seabrek Prestasi

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah. Faeyza Bayanaka Kusuma, siswa kelas III, menunjukkan konsistensi gemilang dalam prestasi bidang akademik maupun...

Mengenal Nur Subekti, Pelatih PON yang Berdedikasi di Kampus UMS

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Konsistensi, disiplin, dan keberanian dalam mengambil keputusan besar menjadi benang merah perjalanan hidup Nur Subekti. Sosok kader Muhammadiyah ini menapaki jalan panjang dari arena...

Alumnus UMS Asri Hartanti Buktikan Bahasa Inggris Bisa Dipelajari dari Aktivitas Harian

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menghadirkan kisah inspiratif alumninya melalui program UMS Talk Podcast. Kali ini, podcast menghadirkan Asri Hartanti, alumnus Pendidikan Bahasa Inggris...

Ketua IPM Solo Lempar Analisis Fiskal di Future Leader Camp Kemendiktisaintek

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM– Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui keaktifan mahasiswanya di kancah nasional. Jody Julian Putra Caesar, mahasiswa dari Fakultas Hukum dan...

Dari Tikar Sederhana hingga Lapak Tetap: Perjalanan Hidup Sularti di Pasar Gede

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Di antara hiruk-pikuk suara tawar-menawar dan aroma buah segar yang memenuhi udara pagi di Pasar Gede, tepatnya di Jl. Suryopranoto, Kota Solo, seorang perempuan...

Kisah Mahasiswa UMS Jadi Classification Assistant IFCPF Men’s Asia-Oceania Cup 2025

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Tak selamanya seorang mahasiswa menghabiskan waktu untuk belajar di dalam kelas. Bagi sebagian mahasiswa, praktik langsung di lapangan adalah pengalaman berharga. Mengimplementasikan pelajaran di...

Berani Mencoba Menjadi Kunci Ammar PBSI UMS Tembus Juara Puisi Nasional

Langit kelabu menaungi halaman depan Gedung B Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Selasa (4/11/2025) sore.  Sekitar pukul 15.40, seorang...

Bangkitkan Semangat Literasi, Alumni UMS Rebut Juara II Pemuda Pelopor Kota Solo

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Alumni Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mohammad Taufiq Hassan, meraih Juara II Pemuda Pelopor Kota Solo Tahun 2025...

Alumni UMS Bersua Najwa Shihab, Ceritakan Celengan Beasiswa Narasi hingga Penggerak Literasi Digital

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Perjalanan inspiratif datang dari alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Ari Septian, yang belum lama ini mendapat kesempatan langka untuk bertemu langsung dengan Najwa Shihab...

Mahasiswa Fisioterapi UMS Raih Karya Terfavorit di Ajang NEO 2025

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selvi Restiyani, berhasil mencatatkan prestasi nasional setelah masuk dalam Top 50 Nasional dan meraih predikat Karya...

Berkat Kelomang, Mahasiswa Arsitektur UMS Raih Omzet Puluhan Juta per Bulan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Siapa sangka, dari kunjungan santai ke pantai di Gunungkidul, Rifan Susanto, mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), justru menemukan ide bisnis yang...

Fajry Annur, Potret Mahasiswa UMS Berprestasi…

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Lahir dan besar di Desa Ponre Waru, Kecamatan Wolo, Sulawesi Tenggara, Fajry Annur dikenal sebagai sosok perempuan inspiratif yang aktif dalam pergerakan Muhammadiyah. Sebagai...

Leave a comment