Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Sosok

Dari Tikar Sederhana hingga Lapak Tetap: Perjalanan Hidup Sularti di Pasar Gede

Aghna Joan Aqila, Editor: Sholahuddin
Jumat, 21 November 2025 09:52 WIB
Dari Tikar Sederhana hingga Lapak Tetap: Perjalanan Hidup Sularti di Pasar Gede
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Pedagang buah di Pasar Gede, Kota Solo, Sulastri, saat berada di kiosnya. [Istimewa].

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Di antara hiruk-pikuk suara tawar-menawar dan aroma buah segar yang memenuhi udara pagi di Pasar Gede, tepatnya di Jl. Suryopranoto, Kota Solo, seorang perempuan paruh baya tampak sibuk menata dagangannya. Tangannya yang keriput cekatan mengelap buah jeruk satu per satu, seolah sedang merawat harapan yang tak pernah padam. Perempuan itu bernama Sularti, 60, pedagang buah yang setiap hari mengais rezeki di pasar tradisional ini.

Tak banyak yang tahu, di balik senyumnya yang ramah kepada setiap pembeli, tersimpan kisah panjang penuh perjuangan. Sebelum menjadi pedagang, Sularti hanyalah seorang petani di desa. Ia hidup sederhana bersama suaminya yang penghasilannya tidak menentu. Ketika kebutuhan keluarga semakin banyak dan anak-anaknya mulai tumbuh besar, ia sadar harus berbuat sesuatu. Maka, dengan niat membantu ekonomi keluarga, ia memutuskan turun ke pasar, menjual buah-buahan meski tanpa pengalaman sama sekali.

Awalnya, lapaknya hanyalah selembar tikar usang di pojok pasar. Dengan modal kecil, ia hanya mampu membeli beberapa kilo buah untuk dijajakan. Di masa-masa awal berjualan, penghasilannya hanya sekitar Rp500 ribu per bulan ketika sepi, dan paling tinggi Rp700 ribu aat ramai. Jumlah itu jauh dari cukup, namun ia tetap bertahan. Hari-harinya penuh ketidakpastian. Kadang-kadang dagangan laku keras, kadang tak ada satu pun pembeli datang. Namun ia tidak menyerah. “Sedikit-sedikit, yang penting halal,” begitu yang selalu ia yakini, belum lama ini.

Tetap Setia di Tempatnya

Siang berganti malam, panas dan hujan datang silih berganti, tapi Sularti tetap setia di tempatnya. Pernah suatu waktu, karena pasar sedang sepi, ia baru bisa menutup lapak hampir tengah malam. Tubuhnya lelah, tapi wajahnya tetap menyimpan senyum, karena dari situlah ia bisa membawa pulang uang untuk membeli beras esok hari.

Perlahan, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Dari hasil menabung, ia mampu menyewa lapak kecil, tak lagi harus berjualan di atas tikar. Sekarang, setelah kurang lebih 10 tahun berjualan, pendapatannya pun meningkat. Dalam sebulan, ia bisa memperoleh Rp2-3 juta, jumlah yang membuatnya sedikit lebih tenang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di meja kayu sederhananya, aneka buah tersusun rapi: jeruk, pisang, pepaya, dan kadang buah musiman yang ia dapat dari petani sekitar. Ia tak pernah menuntut banyak, cukup dagangan laku dan bisa menafkahi keluarga.

Namun, kehidupan sebagai pedagang tak selalu mudah. Ketika harga buah naik di pasaran, keuntungan menipis, kadang ia harus mengurangi stok agar tidak rugi. Saat pasar sepi, ia terpaksa bertahan hingga malam hanya demi bisa menutup modal. “Yang penting bisa terus jualan, bisa bawa pulang rezeki buat anak dan cucu,” katanya lirih. Bagi Sularti, pasar bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sinilah ia tumbuh, jatuh, dan bangkit kembali. Di sinilah ia belajar arti sabar dan ikhlas, meski terkadang dagangan tak habis terjual. Hubungannya dengan para pelanggan pun begitu akrab. Ia mengenal mereka bukan sekadar pembeli, tetapi teman yang sering menanyakan kabar dan berbagi cerita kehidupan.

Sesekali, ia masih teringat masa-masa awalnya dulu ketika harus berjualan sambil menahan tangis karena dagangan tak laku, atau ketika harus menunggu pembeli di tengah hujan deras dengan tubuh menggigil. Tapi dari setiap air mata itu, lahir keteguhan yang membuatnya bertahan hingga hari ini.

Kini, lapaknya mungkin tak besar, tapi bagi Sularti, tempat itu adalah saksi perjalanan hidup yang penuh makna. Ia berharap suatu hari nanti bisa menambah jenis buah yang dijual, agar pembeli punya lebih banyak pilihan. Harapannya sederhana, sama seperti hidupnya semoga usahanya terus lancar, anak cucunya sehat, dan rezekinya tetap mengalir dari tempat yang ia sebut rumah keduanya: Pasar Gede.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Faeyza Bayanaka Kusuma, Ungkap Rahasia Raih Seabrek Prestasi

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah. Faeyza Bayanaka Kusuma, siswa kelas III, menunjukkan konsistensi gemilang dalam prestasi bidang akademik maupun...

Mengenal Nur Subekti, Pelatih PON yang Berdedikasi di Kampus UMS

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Konsistensi, disiplin, dan keberanian dalam mengambil keputusan besar menjadi benang merah perjalanan hidup Nur Subekti. Sosok kader Muhammadiyah ini menapaki jalan panjang dari arena...

Alumnus UMS Asri Hartanti Buktikan Bahasa Inggris Bisa Dipelajari dari Aktivitas Harian

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menghadirkan kisah inspiratif alumninya melalui program UMS Talk Podcast. Kali ini, podcast menghadirkan Asri Hartanti, alumnus Pendidikan Bahasa Inggris...

Ketua IPM Solo Lempar Analisis Fiskal di Future Leader Camp Kemendiktisaintek

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM– Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui keaktifan mahasiswanya di kancah nasional. Jody Julian Putra Caesar, mahasiswa dari Fakultas Hukum dan...

Kisah Mahasiswa UMS Jadi Classification Assistant IFCPF Men’s Asia-Oceania Cup 2025

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Tak selamanya seorang mahasiswa menghabiskan waktu untuk belajar di dalam kelas. Bagi sebagian mahasiswa, praktik langsung di lapangan adalah pengalaman berharga. Mengimplementasikan pelajaran di...

Kisah Asa Ahmad Din Membangun Asa Melalui Butik Halmartex

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Di Jl. Mangesti Raya, Gentan, Sukoharjo, berdiri sebuah butik batik yang tampak sederhana namun memiliki kisah perjalanan yang dalam. Butik itu bernama Halmartex, sebuah...

Berani Mencoba Menjadi Kunci Ammar PBSI UMS Tembus Juara Puisi Nasional

Langit kelabu menaungi halaman depan Gedung B Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Selasa (4/11/2025) sore.  Sekitar pukul 15.40, seorang...

Bangkitkan Semangat Literasi, Alumni UMS Rebut Juara II Pemuda Pelopor Kota Solo

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Alumni Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mohammad Taufiq Hassan, meraih Juara II Pemuda Pelopor Kota Solo Tahun 2025...

Alumni UMS Bersua Najwa Shihab, Ceritakan Celengan Beasiswa Narasi hingga Penggerak Literasi Digital

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Perjalanan inspiratif datang dari alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Ari Septian, yang belum lama ini mendapat kesempatan langka untuk bertemu langsung dengan Najwa Shihab...

Mahasiswa Fisioterapi UMS Raih Karya Terfavorit di Ajang NEO 2025

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selvi Restiyani, berhasil mencatatkan prestasi nasional setelah masuk dalam Top 50 Nasional dan meraih predikat Karya...

Berkat Kelomang, Mahasiswa Arsitektur UMS Raih Omzet Puluhan Juta per Bulan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Siapa sangka, dari kunjungan santai ke pantai di Gunungkidul, Rifan Susanto, mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), justru menemukan ide bisnis yang...

Fajry Annur, Potret Mahasiswa UMS Berprestasi…

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Lahir dan besar di Desa Ponre Waru, Kecamatan Wolo, Sulawesi Tenggara, Fajry Annur dikenal sebagai sosok perempuan inspiratif yang aktif dalam pergerakan Muhammadiyah. Sebagai...

Leave a comment