Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Soloraya, Selasa (28/10/2025), menyelenggarakan diskusi bertema “Rancang Bangun Tafsir At-Tanwir: Pandangan Orang Dalam”. Acara yang berlangsung di ruang Siti Baroroh Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini menghadirkan Ali Muhtadin, salah satu penulis tafsir At-Tanwir. Tafsir yang kini dalam proses penulisan oleh tim Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kita perlu menyambut gembira hadirnya komunitas intelektual anak muda di Persyarikatan ini. Acara-acara seperti ini perlu diberi ruang seluas-luasnya. Ada beberapa perspektif yang bisa kita kemukakan terhadap acara ini. Pertama, bahwa JIMM ternyata masih “hidup” setelah sekian lama tidak terdengar kiprahnya. JIMM yang dideklarasikan anak-anak muda Muhammadiyah pada 8 Oktober 2003 di Cepogo, Bogor, Jawa Barat ini lahir sebagai komunitas anak muda Muhammadiyah yang bergerak pada ranah pemikiran, keintelektualan, dan pembaharuan. Komunitas ini lahir sebagai antitesis terhadap menguatnya konservatisme di tubuh Muhammadiyah, saat itu. Sayangnya, kelahiran JIMM mendapatkan tantangan kuat di tubuh Muhammadiyah karena dicurigai membawa gerbong pemikiran liberal di Persyarikatan. Kedua, kini, kehadiran JIMM tidak lagi mendapatkan resistensi seperti pada awal-awal berdirinya komunitas ini. Tentu saja situasi ini patut kita syukuri. Acara JIMM Soloraya ini bisa meminjam tempat di salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Kondisi seperti ini kecil kemungkinan bisa dilakukan tempo dulu karena pasti akan ditolak.
Komunitas intelektual yang berisi anak-anak muda Muhammadiyah ini sangat diperlukan kehadirannya. Komunitas ini bisa menjadi wadah pengaderan anak-anak muda yang tertarik pada ranah pemikiran dan keintelektualan. Forum seperti JIMM—dan komunitas lainnya—akan melengkapi pengaderan formal di Persyarikatan. Pengaderan formal di Persyarikatan tidak selalu mampu melahirkan kader-kader intelektual seperti yang kita butuhkan. Karena itu, kita membutuhkan ruang-ruang yang lebih dinamis untuk mewadahi dinamika kader-kader muda ini. Bagaimanapun, Muhammadiyah sangat membutuhkan kader-kader yang tertarik pada ranah pemikiran. Apalagi di tengah makin menguatnya arus pragmatisme di kalangan aktivis organisasi pengaderan di Persyarikatan.
Era “bulan madu” Muhammadiyah dan kekuasaan seperti saat ternyata membawa risiko: makin banyak anak muda Persyarikatan yang “kebelet” masuk ke struktur kekuasaan. Organisasi pengaderan di Persyarikatan seolah sekadar kendaraan untuk mewujudkan ambisinya. Tentu tidak semuanya, namun, fenomena ini cukup mengkhawatirkan. Kita menyadari, kader-kader Muhammadiyah perlu masuk ke struktur kekuasaan dengan membawa roh Islam berkemajuan. Namun, menjadikan organisasi pengaderan sekadar sebagai kendaraan bukan langkah yang tepat. Kalau kita biarkan, arus pragmatisme ini akan merusak pengaderan di Persyarikatan. Situasi seperti ini perlu mendapatkan perhatian serius dari pemangku kepentingan di Persyarikatan.
Kita perlu memberi ruang seluas-luasnya kepada anak-anak muda seperti di JIMM ini untuk mendinamisasi pemikiran di Persyarikatan. Semoga…
Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda
Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus...
Jangan Antikritik
Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...
Kompak Menyongsong Kemajuan
Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...
Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo
Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...
Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...







