Akhir Ramadan dua tahun lalu, saya dan istri salat Isya di Masjid Balai Muhammadiyah Kota Solo. Sekalian ingin takbiran di Masjid yang bersejarah ini. Tahun 2023, Idul Fitri Muhammadiyah berbeda dengan keputusan pemerintah. Muhammadiyah berlebaran lebih awal.
Sebelum salat Isya, saya sempat bertanya kepada Mas Joko, “Ada takbiran Mas?” Beliau menjawab, “Oh ada Mas.” Dan setelah salat Isya, kami sempatkan takbiran beberapa saat. Tak banyak yang hadir, pun demikian takbiran tetap berlangsung dengan khdimat.
Jarum jam menunjukkan pukul 20.30 dan kami segera berpamitan. Sebelum kembali ke rumah, kami putuskan berkeliling Kota Solo, melewati beberapa Masjid Wakaf Muhammadiyah. Masih tampak ramai dan takbir menggema dari masjid-masjid tersebut.
Ada satu yang menjadi perhatian dari kegiatan takbiran malam itu. Sebenarnya hal yang wajar dan lumrah. Takbiran ini didominasi anak-anak hingga remaja. Mereka bersuka cita, melafalkan takbir dengan pekik yang luar biasa, mereka bergembira sepenuh hati.
Dalam pikiran saya, merekalah yang mengisi shaf-shaf masjid, memeriahkan kajian-kajian dan majelis ilmu dan mereka pulalah yang nanti mewarisi dan melanjukan tampuk Persyarikatan. Entah itu di tingkat Ranting, Cabang, Daerah bahkan bisa jadi di Pimpinan Pusat.
Bisa jadi mereka tidak bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Bisa jadi pula mereka belum mengenal Muhammadiyah. Namun melalui kegiatan-kegiatan kultural ini sedikit banyak mereka belajar mengenal Muhammadiyah. Tidak semua anak-anak itu berlatar belakang dari keluarga Muhammadiyah. Namun setiap harinya meramaikan dan menghidupkan masjid Muhammadiyah. Kemudian secara kultural mengikuti paham tarjih Muhammadiyah. Dan mereka merasa menjadi bagian dari keluarga Besar Muhammadiyah.
Para marbot dan takmir Masjid Muhammadiyah ini, bisa jadi bukan berlatar belakang Muhammadiyah. Namun hidup di tengah kader dan ulama Muhammadiyah, mereka menjadi “ketularan” bermanhaj Muhammadiyah. Kaderisasi kultural saya menyebutnya, tanpa kita sadari sedikit terpinggirkan jika tidak mau dikatakan terlupakan. Jalur kaderisasi ini seakan asing, tertutup riuhnya kaderisasi formal. Baitul Arqam, Ideopolitor, Darul Arqam dan perkaderan lainnya menjadi hal rutin dilaksanakan hampir di semua jenjang. Jalur formal seolah menjadi “penanda” bahwa seseorang bisa disebut sebagai kader.
Secara formal hal itu tidak salah, namun tidak bisa dibenarkan 100%. Jalur kaderisasi kultural juga mempunyai andil yang besar dan banyak melahirkan kader. Bahkan diawal berdirinya Persyarikatan, jalur ini menjadi “jalur utama kaderisasi”. Kiai Ahmad Dahlan mencontohkannya dengan silaturahmi ke tokoh-tokoh masyarakat, mengenalkan pemikirannya dan kemudian berlanjut diskusi santai. Beliau juga mengajak anak-anak untuk mengenal Islam melalui kajian yang berada rumah beliau. Mengenalkan seni melalui alat musik biola hingga anak-anak yang belajar merasa senang dan tanpa beban. Kyai Sudja’ mengajarkan melalui aksi nyata mengirimkan bantuan untuk korban letusan gunung Kelud.
Seolah Terlupakan
Langkah-langkah yang “diajarkan” para pendahulu kita ini seolah terlupakan. Hampir semuanya dibungkus dalam balutan formalitas. Kajian berubah bentuk menjadi sekolah-sekolah formal, ruang-ruang diskusi dan interaksi antara ulama dan umat tak berjalan mulus karena begitu susahnya bertemu dengan pimpinan karena pimpinan sibuk rapat dan menjalankan Amal Usaha Muhammadiyah. Ketika bertemu di forum kajian, tak bisa berlama-lama untuk berdialog karena terbatasnya waktu.
Ruang-ruang kaderisasi kultural perlu ditumbuhkan kembali. Sebagai penambal celah di pengaderan. Kaderisasi formal biasanya dibatasi waktu 2-3 hari, sementara kaderisasi kultural tidak dibatasi waktu. Menjadi hal yang mengasyikkan setelah pengajian Ahad Pagi mubalig kita bermain bola bersama remaja masjid. Bahkan jika ada waktu luang, tadabur bersama anggota jemaah bisa menjadi sarana untuk menguatkan ukhuwah. Kebutuhan anggota jemaah juga kita perhatikan. Bukan hanya kebutuhan rohani saja yang kita penuhi, kebutuhan jasmani juga patut kita bantu. Ada anggota jemaah yang sakit kita jenguk dan doakan sambil tak lupa membawa sedikit bingkisan yang mungkin bisa meringankan beban. Ketika mereka kesulitan keuangan segera kita bantu. Insya Allah lambat laun, Muhammadiyah akan semakin mendapat tempat di hati umat. Dan inilah kaderisasi kultural.
Penulis adalah Ketua Badan Pengurus Lazismu Kota Solo
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






