Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Tablig Muhammadiyah Harus Menggembirakan

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Jumat, 20 Desember 2024 14:11 WIB
Tablig Muhammadiyah Harus Menggembirakan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, salah satu tokoh persyarikatan yang bisa mengadirkan ceramah secara menarik. (Istimewa).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menyampaikan keprihatinannya terkait perkembangan dakwah di ruang publik akhir-akhir ini. Haedar mengatakan ada kecenderungan agama sekadar menjadi intertainment atau hiburan semata. Uniknya dakwah sekadar hiburan ini yang disukai banyak orang. Haedar mengatakan hal itu saat melantik Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Mundakir, Senin (9/12/2024), untuk menanggapi hiruk-pikuk seorang pendakwah yang berbicara kasar saat mengisi pengajian.

Pernyataan Haedar ini perlu menjadi renungan bersama para pimpinan Muhammadiyah, khususnya para mubalig persyarikatan. Memang, dalam beberapa waktu terakhir, banyak pendakwah yang menyampaikan materi kajian dengan cara guyonan untuk mengundang tawa para hadirin. Apakah dakwah tidak boleh diselingi humor? Tentu boleh selama guyonan itu disampaikan secara elegan, wajar, tidak melanggar kaidah moral secara umum. Kalau guyonan itu sudah melanggar etika, bahkan melecehkan jemaah untuk sekadar mengundang kelucuan, tentu tidak bisa ditoleransi.Humor dalam dakwah itu bukan tujuan, melainkan sekadar salah satu metode agar dakwah terasa segar. Tapi kalau humor dijadikan tujuan orang hadir di majelis pengajian, maka pengajian jatuh sekadar sebagai intertainment seperti keprihatinan Prof. Haedar Nashir.

Dua terminologi kunci yang menjadi ciri gerakan Muhammadiyah adalah memajukan, menggembirakan. Memajukan tentu harus mengacu pada ketentuan pada Risalah Islam Berkemajuan yang menjadi dokumen resmi persyarikatan. Islam menjadi sumber nilai yang mennggerakkan umatnya untuk terus meraih kemajuan, dalam segala hal. Dalam dakwah, setidaknya para pendakwah bisa mengkomunikan pesan-pesan agar jemaah bisa meraih kemajuan baik kemajuan dunia maupun akhirat. Menggembirakan, kalau mengacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maknanya bisa menyenangkan dan menggiatkan. Bisa bermakna pula membuat orang bergembira, senang. Artinya para mubalig Muhammadiyah harus mampu membuat jemaah, para audiens itu senang dan bergembira dalam berislam. Tapi, ingat, gembira bukan sekadar membuat jemaah tertawa. Apalagi tertawa terbahak-bahak yang melanggar batas kepantasan. Orang tertawa tak selalu bisa dimaknai kegembiraan sebagaimana pemaknaan dakwah Muhammadiyah.

Pada realitasnya, ada dua model dakwah yang berkembang saat ini. Di satu sisi, ada model dakwah yang memahami ajaran Islam secara kaku. Sering menuduh pihak lain sebagai kafir, bid’ah, dan tuduhan-tuduhan lainnya kepada pihak yang berbeda pandangan. Pada sisi lainnya muncul model dakwah guyonan, bak panggung hiburan. Kedua model itu sama-sama mendapatkan audiens yang banyak. Jemaahnya juga membludak.

Tugas Berat

Situasi ini memang menjadi tugas berat mubalig Muhammadiyah. Para mubalig Muhammadiyah harus bisa menempatkan diri secara tepat. Dakwah mubalig Muhammadiyah harus tetap menarik, tapi tetap dalam koridor ajaran Islam dan manhaj persyarikatan. Tantangan mubalig Muhammadiyah tidak hanya dituntut bisa masuk ke media-media baru (new media) berbasis digital sebagai saluran berdakwah, di sisi lain mereka juga harus mampu menyampaikan pesan-pesan suci ajaran Islam secara memajukan dan menggembirakan. Mubalig Muhammadiyah harus bisa memajukan pemahaman umat terhadap ajaran Islam dengan baik dan benar. Mubalig Muhammadiyah harus mampu memajukan cara berpikir jemaah, menggunakan akal budi dan nuraninya dengan baik. Mubalig Muhammadiyah harus bisa mengajak umatnya mengembangkan model berpikir bayani, burhani dan irfani yang sudah sah menjadi metode berpikir di Muhammadiyah.

Model tersebut bisa membentuk insan muslim yang seimbang karena menggunakan pertimbangan kompleks dalam berpikir dan bertindak. Mubalig Muhammadiyah harus mampu menginternalisasi kepada jemaah bahwa Islam selalu mengajarkan umatnya untuk meraih kemajuan hidup, dunia dan akhirat. Mubalig Muhammadiyah harus mampu membuat para jemaah tercerahkan usai mengikuti mimbar-mimbar pengajian. Mencerahkan hati, mencerahkan pikiran sehingga memperoleh kegembiraan dalam makna seluas-luasnya.  Umat diharapkan meningkat kualitas keimanan dan kualitas hidupnya.

Untuk bisa menjalankan peran-peran suci itu, para mubalig Muhammadiyah dituntut menguasai etika dan cara komunikasi publik yang baik. Sehingga bisa mengemas pesan suci ajaran agama dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai kondisi audiens. Para Mubalig Muhammadiyah dituntut terus belajar dan rajin memperkaya bacaan. Bukan hanya membaca sumber-sumber formil ajaran agama, melainkan memperkaya diri dengan referensi, bacaan bermutu dari berbagai disiplin ilmu: pendidikan, sosial, budaya, filsafat, dsb.

Penguasan atas referensi akan memperkaya pengalaman, pemahaman, perspektif, cara pandang mubalig Muhammadiyah dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Menyampaikan pesan agama dengan pendekatan transdisiplin. Bagaimana mungkin para mubalig Muhammadiyah bisa menyampaikan Risalah Islam Berkemajuan kalau para mubalignya miskin referensi. Bagaimana mungkin bisa memajukan umat kalau para mubalig Muhammadiyah malas memajukan dirinya sendiri. Hal-hal seperti ini yang menjadi pekerjaan rumah para mubalig, khususnya Majelis Tablig Muhammadiyah di segala tingkatan.  Memajukan dan menggembirakan umat itu tugas yang tidak ringan.

Tapi itu sudah menjadi pilihan hidup persyarikatan.

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment