Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Pendidikan Muhammadiyah Unggul dan Berkemajuan

Muhammad Albi Almahdy, Editor: Sholahuddin
Jumat, 29 November 2024 13:00 WIB
Pendidikan Muhammadiyah Unggul dan Berkemajuan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Muhammad Albi Almahdy (Dok. pribadi).

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah lama menjadi pilar penting dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada pendidikan agama, tetapi juga mengembangkan pendidikan yang seimbang antara ilmu agama dan ilmu duniawi. Melalui ribuan lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh penjuru negeri, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, Muhammadiyah telah berperan signifikan dalam mendidik generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdedikasi unggul untuk kemajuan bangsa. Komitmen Muhammadiyah terhadap pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan menunjukkan bahwa organisasi ini tidak sekadar membangun institusi, tetapi juga berusaha membentuk manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia.

Di abad kedua ini, Muhammadiyah telah dipercaya oleh pemerintah dalam memajukan pendidikan di Indonesia, hal ini terbukti atas kepercayaan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang belum lama ini mengangkat salah seorang tokoh kebanggaan Muhammadiyah yakni Prof. Abdul Mu’ti, sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran Periode 2024-2029. Tokoh yang bergelar Guru Besar Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah ini juga aktif sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Apresiasi pemerintah terhadap Muhammadiyah dengan mengangkat tokohnya menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, nyatanya bukan tanpa alasan. Muhammadiyah sejak masa pra-kemerdekaan telah berperan besar dalam menyukseskan pendidikan nasional. Bahkan banyak anak bangsa yang akhirnya menjadi pejuang melawan penjajah karena telah tercerdaskan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Tak heran jika hari ini terkenang pula berbagai tokoh Muhammadiyah yang diberi gelar pahlawan nasional seperti Buya Hamka, Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, K.H. Mas Mansoer, Gatot Mangkupraja, Kasman Singodimedjo, Ki Bagus Hadikusumo, dan lain-lain.

Perjuangan Muhammadiyah dalam menyelenggarakan pendidikan juga turut menginspirasi sekolah negeri dan sekolah swasta lainnya, baik dari segi sistem pendidikan, kurikulum, visi-misi, filosofi, sampai dengan manajemen proses belajar-mengajarnya. Uniknya, Muhammadiyah tidak pernah memandang pendidikan hanya sebagai sarana menghasilkan SDM (sumber daya manusia), tetapi Muhammadiyah selalu berorientasi untuk meningkatkan kualitas manusianya. Di sisi lain, pendidikan Muhammadiyah tidak mengenal dikotomi yakni keterpisahan antara ilmu agama (ukhrowi) dan ilmu duniawi. K.H. Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah, bahkan memadukan bagaimana pembelajaran ilmu agama dan ilmu dunia secara integratif dapat diterapkan di sekolah yang pertama kali didirikannya, Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Hal inilah yang menjadi bukti konkrit keunggulan pendidikan Muhammadiyah dalam sejarah bangsa Indonesia.

Landasan Pendidikan Muhammadiyah

Jika menilik sejarah Muhammadiyah pada masa awal didirikannya, ajaran Al Ma’un oleh K.H. Ahmad Dahlan tidak lepas daripada betapa lekatnya landasan teologis dengan gerakan pendidikan di Muhammadiyah. Surat Al Ma’un menjadi ajaran pertama dan utama dalam membangun landasan pendidikan Muhammadiyah oleh Kiai Dahlan terhadap murid-muridnya secara paradigmatis. Selama berbulan-bulan Kiai Dahlan mengajarkan surat Al-Ma’un, sampai suatu hari salah seorang muridnya bernama K.H. Syuja’ protes. Sang Kiai Dahlan lantas bertanya, apakah muridnya itu sudah memahami kandungan makna daripada surat itu? Seluruh muridnya pun menjawab bahwa mereka sudah cukup memahami bahkan hafal di luar kepala dan juga sering membacanya dalam salat. Ketika Kiai Dahlan bertanya, apakah para muridnya sudah mengamalkannya? Ternyata para muridnya selama ini belum benar-benar mengamalkan ajaran surat Al Ma’un secara aktual. Lantas Kiai Dahlan pun memerintahkan muridnya untuk mencari dan menyejahterakan orang miskin dan anak yatim di sekitar lingkungan mereka. Dari situ Kiai Dahlan mendirikan sekolah untuk menampung anak-anak kurang mampu untuk diajarkan agama dan diasah intelektualnya sehingga menjadi mandiri.

Kiai Dahlan kemudian merevolusi secara ontologis dan epistemologis persoalan kemiskinan yang disebutkan dalam surat Al Ma’un, tidak hanya dimaknai sebatas miskin secara ekonomi, tetapi Kiai Dahlan ingin menekankan bahwa kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan multidimensi, yakni kesehatan, kesejahteraan, dan terutama pada pendidikan. Kiai Dahlan secara tegas menafsirkan, yang dimaksud para pendusta agama dalam surat Al Ma’un adalah termasuk orang-orang yang mengabaikan pentingnya pendidikan.

Kiai Dahlan memberikan keteladanan dalam merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an secara sungguh-sungguh. Inilah definisi daripada Islam yang berkemajuan. Islam yang mengedepankan cara pandang yang tidak tekstual dan simbolis tetapi kontekstual, fungsional, dan berorientasi aktual. Belum ditemukan ulama yang menafsirkan surat Al Ma’un sebagaimana penafsiran Kiai Dahlan pada masa itu. Cara pandang Kiai Dahlan inilah yang di kemudian hari menjadi rumusan beliau dalam tujuh falsafah ajaran di Muhammadiyah.

Rahmatan lil ‘Alamin

Ajaran Al Ma’un juga mengutamakan nilai-nilai sosial dan universal. Sebagai bentuk implementasi ajaran tersebut, Muhammadiyah menunjukkan pendidikan yang rahmatan lil ‘alamin dengan mengedepankan toleransi dalam masyarakat yang beragam. Ketika sedang ramai diperdebatkan isu soal toleransi, Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari menjadi teladan dalam mempraktikkan toleransi. Hal ini dapat dibuktikan pada bagaimana Muhammadiyah selalu hadir memberikan pelayanan sosial, kesehatan, dan pendidikan tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun ras tertentu. Di Indonesia bagian timur, berbagai sekolah Muhammadiyah mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi bahkan didominasi oleh peserta didik yang beragama Kristen dan Katolik. Belakangan, istilah Kristen Muhammadiyah atau Krismuha sudah tidak asing lagi dibicarakan, bahkan Prof. Abdul Mu’ti dan Fajar Riza Ulhaq telah menerbitkan buku berjudul Kristen Muhammadiyah: Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan yang menggambarkan bagaimana situasi pendidikan yang toleran di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Varian Kristen Muhammadiyah ini merujuk pada orang Kristen yang menjadi simpatisan Muhammadiyah yang menandakan adanya interaksi yang harmonis antara siswa muslim dan Kristen dalam lingkungan pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Namun, Krismuha ini bukan merupakan varian secara teologis yang menggabungkan antara akidah Muhammadiyah dengan Kristen, tetapi merupakan bentuk interaksi sosial yang menggambarkan kedekatan Muhammadiyah dengan para pemeluk agama Kristen. Dalam hal ini, Muhammadiyah sudah tidak lagi memandang perbedaan agama sebagai hambatan dalam menunaikan amanat konstitusi yang dimaklumatkan pada Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Prestasi Muhammadiyah dalam pendidikan yang toleran dan inklusif ini berlandaskan pada cita-cita mewujudkan rahmat bagi seluruh alam yang tercantum pada Risalah Islam Berkemajuan, hasil putusan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo. Di sisi lain, keteladanan Muhammadiyah juga tidak terlepas daripada sosok pendirinya yakni K.H. Ahmad Dahlan yang lebih mempresentasikan dirinya sebagai man of action daripada man of thought, artinya Muhammadiyah berkontribusi nyata melalui perbuatan dan keteladanan daripada sekadar ucapan dan perdebatan.

Tantangan Pendidikan Muhammadiyah di Masa Depan

Meskipun Muhammadiyah telah berperan sangat baik dalam memajukan pendidikan di Indonesia, tetapi Muhammadiyah juga dihadapkan pada tantangan pendidikan yang kompleks. Salah satu tantangan pendidikan Muhammadiyah hari ini adalah pendidikan akhlak. Adapun pendidikan agama memiliki peran signifikan dalam penanaman akhlak bagi generasi bangsa. Namun, faktanya masih banyak persoalan kontradiktif yang terjadi di negeri kita hari ini, terutama menyangkut persoalan moral dan etika. Menurut data dari Kementerian Agama (Kemenag), lulusan sarjana terbanyak di Indonesia adalah sarjana di bidang agama. Dalam penelitian lainnya disebutkan bahwa Perguruan Tinggi Islam terbanyak di dunia adalah di Indonesia. Faktanya orang yang berkecimpung di bidang agama adalah dominan, tetapi mengapa kasus korupsi, judi online, penipuan, perampokan, perzinaan, dan berbagai jenis kejahatan lainnya di negeri ini kian merajalela?

Berbicara mengenai hal ini, mari kita refleksikan kembali Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika dianalisis secara mendalam, dapat ditemukan bahwa diksi iman dan takwa didahulukan sebagai capaian awal dari tujuan pendidikan kita. Hal ini dikarenakan iman dan takwa adalah kunci utama dalam membentuk moral, membangun karakter, mendorong mutu, menanamkan akhlak dan etika pada peserta didik.

Tugas guru, dosen, ustaz, maupun pendidik adalah menyangkut pada tiga peran pokok: mengajar, mendidik, dan memotivasi. Namun, peran sebagai motivator ini sering dilupakan oleh para pendidik. Selama ini para murid hanya diajarkan tata cara ibadah salat, tetapi tidak dimotivasi untuk mencintai salat. Para murid diajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi tidak ditanamkan cinta membaca Al-Qur’an. Tugas yang paling mudah adalah mengajar sebab hanya sekadar melakukan transfer ilmu dan informasi, tetapi yang lebih sulit dan sering diabaikan adalah luputnya para guru dalam menumbuhkan rasa cinta, padahal penanaman cinta inilah kunci utama dalam membentuk karakter dan akhlak peserta didik. Inilah alasan mengapa banyak terjadi fenomena santri yang mengemban pendidikan di madrasah atau pesantren, tetapi tidak salat, tidak senang membaca Al-Qur’an, dan hal lainnya yang justru tidak mencerminkan ajaran-ajaran Islami.

Pada intinya, peserta didik yang sudah ditanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan akan terhindar dari segala bentuk kemungkaran. Implikasi daripada keimanan dan takwa adalah buah kebaikan dan akhlak mulia yang menciptakan peserta didik yang berkualitas, sukses di segala bidang sekaligus secara otomatis menebarkan amar makruf nahi munkar. Untuk mencapai hal ini, Muhammadiyah harus bertransformasi dalam mengimplementasikan pendekatan pendidikan yang berbasis pada cinta dan motivasi. Sudah saatnya Muhammadiyah berganti peran, bukan sebagai agent of change lagi, tetapi Muhammadiyah harus menjadi bagian dari leader of change.

Dengan berbagai tantangan dan keberhasilan yang telah diraih, Muhammadiyah akan selalu berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan yang mencerahkan demi tercapainya cita-cita bangsa. Muhammadiyah akan mengusahakan terwujudnya pendidikan unggul yang mampu menuntaskan berbagai problematika dan tantangan di masa mendatang secara antisipatif-adaptif. Muhammadiyah juga memiliki ciri khas landasan pendidikan yang sistematis dan komprehensif dengan selalu berkomitmen untuk mewujudkan misi Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Harapannya tujuan utama mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bukan lagi sekadar omong kosong, tetapi menjadi spirit yang akan selalu diperjuangkan sebaik mungkin sehingga kebermanfaatan Muhammadiyah bisa dirasakan untuk maslahat umat, bangsa, dan negara. Akhir kata, mengutip sepenggal kalimat yang pernah disampaikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, “Muhammadiyah sekarang ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka, teruslah kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan di mana saja, jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah!”

Penulis adalah pemenang juara II Lomba Esai Milad ke-112 Muhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PDM) Kota Solo

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...