Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Dua Corak Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 16 September 2024 05:34 WIB
Dua Corak Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Kujungan Majelis Pendidikan PDM Kota Solo ke Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cileungsi, Bogor, Sabtu (14/9/2024). (Istimewa).

Hari Kamis, 12 September 2024 Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta melakukan studi tiru ke Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cileungsi, Bogor. Peristiwa ini menarik karena, pertama, umumnya yang melakukan studi tiru adalah pengelola sekolah/madrasah/pondok pesantren, bukan majelis sebagai penyelenggara. Kedua, kedua daerah ini sama-sama menerapkan kebijakan sentralisasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Dalam kajian manajemen pendidikan dikenal dua istilah penting, yaitu sentralisasi vs desentralisasi. Sentralisasi berarti menyerahkan kekuasaan/kewenangan kepada pihak “pusat”, sebaliknya, desentralisasi ialah pengalihan atau pendistribusian kekuasaan/kewenangan dari pusat ke “daerah”. Dalam proses implementasi baik sentralisasi maupun desentralisasi tidak seketat definisi, tapi dilakukan secara luwes dalam pengalokasian kewenangan/kekuasaan.

Ketentuan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2024, demikian pula ketentuan yang sama pada periode sebelumnya, tidak mengatur secara spesifik kecenderungan mana yang dipilih; sentralisasi ataukah desentralisasi pendidikan. Dengan demikian setiap daerah memiliki keleluasaan untuk memilih kebijakan mana (sentral atau desentral) yang memberi manfaat lebih besar untuk kemajuan sekolah di daerahnya.

Secara garis besar tata kelola pendidikan Muhammadiyah membagi kewenangan menjadi tiga ranah, yaitu persyarikatan sebagai pemilik, Majelis Dikdasmen sebagai penyelenggara, dan kepala sekolah sebagai pengelola. Rincian tanggung jawab dan kewenangan masing-masing ranah telah diatur dalam ketentuan Majelis Dikdasmen dan PNF.

Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah terjadi ketika tata kelola keuangan di sentral/terpusat di Majelis Dikdasmen dan atau di persyarikatan baik lingkungan ranting, cabang, ataupun daerah. Sedikit catatan, bantuan operasional sekolah (BOS) tetap di kelola oleh sekolah, tidak disetorkan ke majelis/persyarikatan. Masing-masing sekolah membuat Rencana Anggaran dan Kegiatan Sekolah (RAKS) untuk ajuan anggaran ke majelis/persyarikatan.

Desentralisasi pendidikan Muhammadiyah terjadi ketika keuangan sekolah tidak disentral/disetor di majelis/persyarikatan, uang tetap tinggal di sekolah masing-masing. Sekolah tetap membuat Rencana Anggaran dan Kegiatan Selolah (RAKS) yang harus disetujui oleh majelis/persyarikatan. Tentu, kedua sistem ini memiliki plus-minusnya masing-masing dan memerlukan ruang tersendiri untuk memperbincangkannya.

Berdasarkan penjelasan konseptual di atas, bila kita amati secara seksama realitas pendidikan Muhammadiyah saat ini, dapat diketahui bahwa sebagian besar besar memilih pola desentralisasi pendidikan. Hanya sebagian kecil yang memilih pola sentralisasi, Kota Surakarta dan Kecamatan Cileungsi-Bogor adalah dua daerah yang bereksperimen melakukan desentralisasi pendidikan. Meski sama-sama melakukan sentralisasi, tetapi dalam proses implementasi di kancah memiliki corak yang berbeda, memiliki keunikan masing-masing.

Sentralisasi ala Cileungsi dan Surakarta

Sebagaimana dijelaskan di atas, sentralisasi terjadi ketika tata kelola keuangan di sentral/terpusat di Majelis Dikdasmen dan atau di persyarikatan baik lingkungan ranting, cabang, ataupun daerah. Masing-masing sekolah membuat RAKS untuk ajuan anggaran ke majelis/persyarikatan.

Sentraliasi keuangan di Cileungsi terpusat di PCM, bukan hanya keuangan sekolah, tetapi juga AUM yang lain seperti BMT, PKU dan lain-lain. Majelis Dikdasmen berperan sebagai pengelola sekolah, karena peran penyelanggara menyatu dengan peran pemilik-persyarikatan. Pimpinan Majelis Dikdasmen merupakan “direktur” yang bekerja penuh waktu dan digaji secara prosesional untuk mendampingi pengembangan sekolah. Pimpinan Majelis berasal dari para mantan kepala sekolah yang sukses mengembangkan sekolah Muhammadiyah.

Beralih ke Surakarta, sentralisasi keuangan sebagian sekolah terpusat di Majelis Pendidikan PDM Surakarta. Mengapa sebagian? Karena ada sebagian lain yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) ataupun Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM). Majelis Pendidikan tetap berperan sebagai penyelenggara yang merupakan Unit Pembantu Pimpinan (UPP) dalam pengembangan sekolah. Sebagian besar pimpinan Majelis bekerja paruh waktu, dan ada sebagian penuh waktu. Pimpinan Majelis bukan sebagai direktur sebagaimana di Cileungsi tetapi berupaya mengorkestrasi pengembangan sekolah agar para kepala sekolah tetap fokus pada mutu pembelajaran dan layanan yang optimal.

Demikian sekelumet “oleh-oleh” dari kunjungan studi tiru di PCM Cileungsi. Meski sama-sama memilih pola sentraliasi pendidikan, tetapi dalam proses implementasi terdapat variasi dan keunikan masing-masing. Keunikan itu terbentuk dari proses sejarah yang panjang dari generasi ke genarasi dalam upaya merintis, merawat, dan mengambangkan pendidikan Muhammadiyah.

Terlepas dari pilihan pola kebijakan masing-masing daerah, baik yang sentralisasi ataupun desentralisasi, peran penting Majelis Dikdasmen dalam menciptakan ekosistem pendidikan Muhammadiyah yang sehat dan produktif harus tetap dilakukan.

Ekosistem pendidikan yang sehat dan produktif terbentuk apabila pimpinan Majelis bersedia mendengar apa yang menjadi kebutuhan sekolah dan permasalahan-permasalahan yang muncul di kancah. Peran minimal sebagai penyelenggara pendidikan adalah terlibat aktif dan duduk bersama kepala sekolah dalam proses perencanaan, menggerakaan, dan mengevaluasi kinerja sekolah.

Berita Terbaru

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...