Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Melanggengkan Keteladanan Muhammadiyah

Yusuf R. Yanuri, Editor: Sholahuddin
Jumat, 21 Juni 2024 00:01 WIB
Melanggengkan Keteladanan Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - sumber: pwmu.co

Belakangan ini warga Muhammadiyah tengah menikmati angin segar. Bagaimana tidak, tiga isu aktual di Tanah Air semua kompak bicara tentang “kehebatan” organisasi besutan K.H. Ahmad Dahlan, kiai asal Kauman, Jogja itu. Isu pertama adalah soal kenaikan uang kuliah Tunggal (UKT) di kampus negeri. Sembari marah-marah ke pemerintah, publik, terutama netizen, mengelu-elukan kampus Muhammadiyah yang membolehkan mahasiswa membayar dengan hasil bumi. Isu kedua adalah penarikan dana Muhammadiyah yang disimpan di BSI.

Dalam hal ini, Muhammadiyah seolah-olah ingin menunjukkan “taringnya”. “Jangan main-main dengan Muhammadiyah,” begitulah kira-kira kita membaca opini publik. Isu terakhir adalah soal tambang. Ini merupakan isu paling mutakhir dan pamungkas. Meskipun jawaban Muhammadiyah terkait tambang sebenarnya normatif—belum menolak atau menerima– namun masyarakat tetap mengelu-elukan Muhammadiyah. Pada saat yang sama, berbagai potret kesederhanaan elit-elit Muhammadiyah kembali mengemuka.

Fotofoto pimpinan organisasi yang begitu sederhana dibagikan ulang di berbagai platform media. Hingga titik ini, setidaknya sampai sebelum Muhammadiyah menerima tawaran tambang (jika menerima), nama organisasi modernis ini begitu harum. Semerbak mewangi. Keteladanan ini harus dirawat. Bukan karena kita ingin memiliki organisasi yang harum namanya. Namun karena saat ini kita tengah hidup di dunia di mana banalitas dipertontonkan dengan begitu terbuka. Keteladanan elit politik dan tokoh publik semakin langka. Setiap orang menjadi serigala bagi orang lain (homo homini lupus), saling sikut dan saling tikam.

Baca juga: Membumikan Kurikulum Ismuba

Orang besar mencuri hak-hak orang kecil tanpa rasa malu sedikitpun. Untuk melanggengkan keteladanan, Muhammadiyah perlu berbenah setiap hari. Tidak boleh merasa di atas angin. Tidak boleh merasa jemawa. Apalagi sampai mengecilkan yang lain, sombong. Kita perlu melihat lagi pada, misalnya, sistem keuangan di organisasi otonom (ortom). Muhammadiyah perlu mengevaluasi sistem supaya lebih kokoh. Selama ini sistem verifikasi keuangan di ortom tentu sudah ada. Setiap ortom harus melaporkan keuangannya di setiap musyawarah tertinggi masing-masing tingkatan. Dari pusat hingga ranting. Laporan itu bisa diakses oleh musyawirin yang hadir maupun oleh publik secara luas. Ada tim auditor internal yang mengawasi sirkulasinya.

Auditor Eksternal

Di sisi lain, sistem yang ada masih punya peluang untuk lebih diperkuat. Misalnya dengan memperkuat tim auditor, yang jumlahnya selama ini relatif sedikit. Anggota tim perlu diperbanyak dan disenjatai dengan peraturan legal formal yang kokoh. Supaya tidak gentar dan takut terhadap intervensi. Tentu akan lebih menarik jika kita memilih untuk menggunakan auditor eksternal. Setidak-tidaknya, eksternal ortom, yaitu pihak Muhammadiyah (Lembaga Pembinaan dan Pengawasan Keuangan Muhammadiyah). Lebih baik lagi jika ada auditor eksternal profesional. Supaya pengawasan bisa dilakukan dengan lebih independen dan terbuka. Ratusan kantor Lazismu sudah mengawali hal ini. Menjadi lembaga yang berkali-kali diganjar predikat Wajar Tanpa Pengecualian dari auditor profesional.

Beberapa amal usaha Muhammadiyah (AUM) juga memiliki sistem yang kuat dan kokoh. Sekarang saatnya organisasi otonom mengikuti teladan ini. Untuk menuju ke sana, pimpinan Muhammadiyah perlu turun mengawal secara langsung. Jangan sampai beberapa organisasi otonom yang begitu besar ini terlihat indah di luar namun rapuh di dalam. Ini bisa diinisiasi dari pusat, bisa juga dari wilayah/daerah. Penguatan sistem verifikasi keuangan ini juga penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap organisasi. Terutama di tengah runtuhnya kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara.

Kita semua berharap supaya Muhammadiyah terus menjadi teladan bagi bangsa dan negara.

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment