Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Janji Bukan Sekadar Janji

Setyo N., Editor: Sholahuddin
Jumat, 26 Januari 2024 05:37 WIB
Janji Bukan Sekadar Janji
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - sumber: pwmu.co

Pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) 2024 tinggal menghitung hari. Tepatnya pada 14 Februari mendatang. Perhelatan politik sudah dapat dipastikan tidak terlepas dari persaingan antarpartai politik maupun antarkandidat presiden dan wakil presiden. Persaingan antarcalon merambah di tataran arus bawah sampai pada tingkat elite politik. Hal tersebut tidak lepas dari objek politik itu sendiri yang tidak lain adalah masyakat luas. Semua elemen masyarakat dapat ikut serta melakukan kegiatan politik, bahkan semua kalangan dapat menjadi aktor politik. Aktor politik adalah semua orang yang turut serta atau berpartisipasi mengikuti kegiatan politik tertentu baik secara individu atau organisasi.

Berbagai cara menarik simpati masyarakat pemilih dilakukan para aktor politik dalam pemilu, terlebih setelah diumumkannya calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).  Semakin gencarlah pengaruh menarik simpati masyarakat terhadap calon tertentu. Baik itu lewat  buzzer, lembaga survei, safari-safari politik, silaturahmi ke berbagai daerah, rapat akbar, bahkan sampai debat capres dan cawapres. Manuver-manuver politik dilakukan secara masif. Janji-janji politik secara gencar disuarakan oleh para kandidat capres dan cawapres khususnya lewat yang ditayangkan di media elektronik. Semua lapisan masyarakt bisa menyaksikan pentas demokrasi ini. Sebagian besar pemilih Indonesia tidak menganggap penting janji-janji politik dalam menentukan pilihan.

Lalu apa korelasinya debat dengan perhelatan pemilu 2024? Tentunya masyarakat berharap debat yang dilakukan para kandidat ini bisa menjadi solusi di masa mendatang bagi persoalan yang seringkali dihadapi masyarakat. Persoalan kesejahteraan rakyat yang meliputi sosial, ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Visi dan misi serta strategi yang direncanakan oleh para kandidat diharapkan dapat memberikan perubahan yang lebih baik. Bukan hanya sekadar janji dan penciteraan semata dalam ruang publik dan ruang digital serta angan-angan muluk serba indah. Tidak jelas apakah visi-misi itu komitmen kepada publik dan wajib dipertanggungjawabkan oleh pembuatnya kelak? Atau sekadar harapan kosong tanpa kewajiban dipertanggungjawabkan?

Dari pemilu ke pemilu berikutnya, dari kampanye ke kampanye sudah terlalu banyak peristiwa-peristiwa yang melukai hati, pikiran dan nalar masyarakat. Mulai dari kondisi jalan yang semakin semrawut akibat dari pemasangan baliho dan spanduk kampanye, perselisihan antarpendukung sehingga banyak menimbulkan korban, dan masih banyak lagi kejadian yang membuat luka rakyat yang mendalam dalam perhelatan politik. Ketika janji-janji muluk dan indah disuarakan oleh aktor-aktor politik, di luar sana banyak berita tentang kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan pabrik, mogok kerja, pengangguran, penggusuran, perampokan, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) akibat tekanan ekonomi yang begitu berat. Pada akhirnya masyarakat justru menunjukkan sikap apatisnya terhadap politik.  Masyarakat Indonesia cenderung lebih individualis yang hanya mementingkan urusan pribadinya.

Tidak Amanah

Untuk mengikuti kegiatan politik seperti pemilu hanya dijadikan formalitas saja tanpa mengkaji atau mencari tahu dengan jelas latar belakang calon pemimpin yang akan memimpin negeri ini. Akibatnya calon pemimpin yang masyarakat pilih dan terpilih menjadi pemimpin mereka justru tidak dapat memegang amanah dan bertanggungjawab kepada rakyat apa yang seharusnya menjadi tugasnya.

Lantas bagaimana dengan janji-janji politik yang di suarakan oleh para calon pemimpin yang nantinya akan dipilih di perhelatan Pemilu 2024 yang akan datang? Dan bagaimana mereka merealisasikan hal tersebut?

Oleh karena itu kita sudah seharusnya punya sikap yang jelas dalam memilih pemimpin. Belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu, sikap tidak peduli terhadap kondisi politik harus dihapuskan dengan turut mencermati dan menyikapi setiap kondisi politik yang nantinya akan berimbas pada nasib masyarakat secara keseluruhan. Menentukan pilihan terhadap pemimpin yang dapat membasuh luka yang kian hari kian memperparah kondisi masyarakat. Karena pemilu adalah  salah satu pilar utama dalam sistem demokrasi. Sikap apatis terhadap proses politik akan memengaruhi nasib bangsa di masa yang akan datang.

Akhirnya kita tinggal menunggu, siapapun nanti yang menang, benar-benar merealisasikan janji-janji politiknya. Selama ini janji politik hanya menarik untuk diperbincangkan saja, atau menjadi viral di media sosial dan dramatis di panggung politik. Tapi, setelah pemilu, janji-janji itu menguap begitu saja. Tak berbekas.  Kita tidak ingin hal itu kembali terjadi.

Semoga…

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment