Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Cerdas Merawat Gerakan Muhammadiyah

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Kamis, 11 Januari 2024 21:56 WIB
Cerdas Merawat Gerakan Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Zaki Setiawan (kiri) dan Hendro Susilo saat berbincang tentang Cara Cerdas Merawat Muhammadiyah di channel youtube TalkMu.

Kelompok Studi Tajdid Pendidikan kembali melakukan diskusi, Rabu (10/1/2024) di channel youtube talkMu bertema Cerdas Merawat Gerakan Muhammadiyah. Tema ini menjadi obrolan kami (Hendro Susilo dan Zaki Setiawan) untuk melihat fenomena perkembangan dan dinamika masyarakat jelang hajatan pemilu 2024. Beragam respon baik kontestan, tim sukses, para pendukung tergambar dan tersebar luas di media sosial. Potongan video, tulisan narasi yang tersaji ada yang saling mendukung dan menguatkan, ada yang saling mengkritik, bahkan ada yang mengkerdilkan dengan tujuan menjatuhkan pesaing. Bagaimana respon kader muda Muhammadiyah terkait dinamika tersebut?

Obrolan ini memotret dinamika dari masa ke masa fase kepemimpinan di Muhammadiyah. Dari dinamikanya, kita akan belajar pola-pola hubungan Muhammadiyah dengan kekuasaan sebagai cermin bagi kader muda. Dimulai fase awal K.H. Ahmad Dahlan.  Dia sosok yang memiliki pemikiran terbuka, visioner, dan memilih strategi kooperatif dalam mengembangkan Muhammadiyah. Dengan strategi ini, izin pendirian organisasi Muhammadiyah diperoleh dari pemerintahan Hindia Belanda.

Meskipun izin operasional Muhammadiyah di awal hanya di wilayah Jogja, namun Ahmad Dahlan begitu gigih menyebarkan ajaran Islam progresif di berbagai daerah dengan  membangun jejaring. Sebagai contoh di Kota Solo, jaringan ulama K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi shidiq, amanah, tablig, vathonah (SATV) sebagai wadah pergerakan kajian Islam sekaligus menjadi embrio lahirnya Muhammadiyah Kota Solo. Sebuah langkah yang cerdas dan taktis dalam mengembangkan Muhammadiyah.

Link diskusi Tajdid Pendidikan bisa dilihat di link berikut : https://www.youtube.com/watch?v=IchIGtjKbps

Pada era penjajahan Jepang, hubungan Muhammadiyah dan Jepang memiliki relasi kompleks dan naik turun. Majalah Suara Muhammadiyah sempat ditutup Jepang, namun pada 1943 majalah ini terbit kembali. Tentu ini menjadi bagian propaganda Jepang dalam meraih dukungan umat Islam menghadapi sekutu. Hal lain dalam upaya propaganda, Jepang juga membentuk Putera. Salah satu pemimpin Putera adalah Mas Mansur. Mas Mansur adalah Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah tahun 1937 – 1942. Tokoh Muhammadiyah lain seperti Ki Bagus Hadikusumo (BPUPKI) dan Kasman Singodimejo (KNIP) memiliki peran penting dalam mendirikan negara Indonesia Merdeka.

Saat orde lama, kondisi negara belum stabil dari segi ekonomi dan politik. Pemerintah masih disibukkan untuk mempertahankan NKRI dari serangan Belanda dan Inggris serta meredam berbagai pemberontakan di dalam negeri. Kondisi ini berpengaruh pada Muhammadiyah. Hal ini tampak pada saat Muhammadiyah berusaha mempertahankan diri agar tidak dibubarkan oleh pemerintah tatkala partai Masyumi dibekukan atas propaganda PKI.

Orang Sederhana

Pada saat orde baru berkuasa, Muhammadiyah dipimpin oleh orang-orang yang sangat sederhana. Mereka adalah K.H. A.R. Fahruddin dan K.H. Ahmad Azhar Basyir. Muhammadiyah tidak melakukan politik konspirasi, tetapi politik yang jujur, tegas dan argumentatif serta tidak berorientasi pada kekuasaan. Saat orde baru, memang ada kader Muhammadiyah yang duduk di kabinet seperti Abdul Mukti Ali, Munawir Sjadzali, Tarmizi Taher. Tetapi ketiganya terpilih karena kalkulasi visi pengembangan pemerintahan bukan karena konspirasi. A.R. Fahruddin (Pak AR) dan Soeharto  memang memiliki hubungan yang unik, mereka dekat namun integritas Pak AR terjaga dan tidak bisa terbeli oleh kekuasaan.

Kemudian, di era reformasi saat ini,  kami juga mengulas dan berdiskusi tentang budaya politik Muhammadiyah. Bahwa budaya politik warga Muhammadiyah majemuk dan dinamis. Relasi Muhammadiyah dan politik begitu kompleks serta tidak sederhana. Bagaimana hubungan Muhammadiyah dan politik serta bagaimana seharusnya kader dalam berpolitik bisa merujuk pada Khittah Perjuangan Muhammadiyah terpanggil untuk berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di akhir perbincangan, Zaki Setiawan mengingatkan pada kader muda untuk melihat perjalanan sejarah relasi Muhammadiyah dan politik kekuasaan. Dengan melihat hal itu, bisa menjadi cermin dalam melangkah ke depan dengan tetap menempatkan kepentingan Muhammadiyah di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dan melihat kondisi dan problematika keumatan, kemanusiaan serta lingkungan saat ini, ke depan Muhammadiyah harus mempersiapkan kader-kader terbaik.

Kader tersebut dipersiapkan secara matang terutama dalam hal kader ulama, kader lingkungan, kader politik serta kader literasi untuk antisipasi era post truth dalam rangka sumbangsih kontribusi menuju baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur seperti apa yang di cita-citakan Muhammadiyah.

Penulis adalah pegiat di Kelompok Studi Tajdid Pendidikan, Surakarta

Berita Terbaru

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...