
Kelompok Studi Tajdid Pendidikan kembali melakukan diskusi, Rabu (10/1/2024) di channel youtube talkMu bertema Cerdas Merawat Gerakan Muhammadiyah. Tema ini menjadi obrolan kami (Hendro Susilo dan Zaki Setiawan) untuk melihat fenomena perkembangan dan dinamika masyarakat jelang hajatan pemilu 2024. Beragam respon baik kontestan, tim sukses, para pendukung tergambar dan tersebar luas di media sosial. Potongan video, tulisan narasi yang tersaji ada yang saling mendukung dan menguatkan, ada yang saling mengkritik, bahkan ada yang mengkerdilkan dengan tujuan menjatuhkan pesaing. Bagaimana respon kader muda Muhammadiyah terkait dinamika tersebut?
Obrolan ini memotret dinamika dari masa ke masa fase kepemimpinan di Muhammadiyah. Dari dinamikanya, kita akan belajar pola-pola hubungan Muhammadiyah dengan kekuasaan sebagai cermin bagi kader muda. Dimulai fase awal K.H. Ahmad Dahlan. Dia sosok yang memiliki pemikiran terbuka, visioner, dan memilih strategi kooperatif dalam mengembangkan Muhammadiyah. Dengan strategi ini, izin pendirian organisasi Muhammadiyah diperoleh dari pemerintahan Hindia Belanda.
Meskipun izin operasional Muhammadiyah di awal hanya di wilayah Jogja, namun Ahmad Dahlan begitu gigih menyebarkan ajaran Islam progresif di berbagai daerah dengan membangun jejaring. Sebagai contoh di Kota Solo, jaringan ulama K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi shidiq, amanah, tablig, vathonah (SATV) sebagai wadah pergerakan kajian Islam sekaligus menjadi embrio lahirnya Muhammadiyah Kota Solo. Sebuah langkah yang cerdas dan taktis dalam mengembangkan Muhammadiyah.
Link diskusi Tajdid Pendidikan bisa dilihat di link berikut : https://www.youtube.com/watch?v=IchIGtjKbps
Pada era penjajahan Jepang, hubungan Muhammadiyah dan Jepang memiliki relasi kompleks dan naik turun. Majalah Suara Muhammadiyah sempat ditutup Jepang, namun pada 1943 majalah ini terbit kembali. Tentu ini menjadi bagian propaganda Jepang dalam meraih dukungan umat Islam menghadapi sekutu. Hal lain dalam upaya propaganda, Jepang juga membentuk Putera. Salah satu pemimpin Putera adalah Mas Mansur. Mas Mansur adalah Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah tahun 1937 – 1942. Tokoh Muhammadiyah lain seperti Ki Bagus Hadikusumo (BPUPKI) dan Kasman Singodimejo (KNIP) memiliki peran penting dalam mendirikan negara Indonesia Merdeka.
Saat orde lama, kondisi negara belum stabil dari segi ekonomi dan politik. Pemerintah masih disibukkan untuk mempertahankan NKRI dari serangan Belanda dan Inggris serta meredam berbagai pemberontakan di dalam negeri. Kondisi ini berpengaruh pada Muhammadiyah. Hal ini tampak pada saat Muhammadiyah berusaha mempertahankan diri agar tidak dibubarkan oleh pemerintah tatkala partai Masyumi dibekukan atas propaganda PKI.
Orang Sederhana
Pada saat orde baru berkuasa, Muhammadiyah dipimpin oleh orang-orang yang sangat sederhana. Mereka adalah K.H. A.R. Fahruddin dan K.H. Ahmad Azhar Basyir. Muhammadiyah tidak melakukan politik konspirasi, tetapi politik yang jujur, tegas dan argumentatif serta tidak berorientasi pada kekuasaan. Saat orde baru, memang ada kader Muhammadiyah yang duduk di kabinet seperti Abdul Mukti Ali, Munawir Sjadzali, Tarmizi Taher. Tetapi ketiganya terpilih karena kalkulasi visi pengembangan pemerintahan bukan karena konspirasi. A.R. Fahruddin (Pak AR) dan Soeharto memang memiliki hubungan yang unik, mereka dekat namun integritas Pak AR terjaga dan tidak bisa terbeli oleh kekuasaan.
Kemudian, di era reformasi saat ini, kami juga mengulas dan berdiskusi tentang budaya politik Muhammadiyah. Bahwa budaya politik warga Muhammadiyah majemuk dan dinamis. Relasi Muhammadiyah dan politik begitu kompleks serta tidak sederhana. Bagaimana hubungan Muhammadiyah dan politik serta bagaimana seharusnya kader dalam berpolitik bisa merujuk pada Khittah Perjuangan Muhammadiyah terpanggil untuk berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di akhir perbincangan, Zaki Setiawan mengingatkan pada kader muda untuk melihat perjalanan sejarah relasi Muhammadiyah dan politik kekuasaan. Dengan melihat hal itu, bisa menjadi cermin dalam melangkah ke depan dengan tetap menempatkan kepentingan Muhammadiyah di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dan melihat kondisi dan problematika keumatan, kemanusiaan serta lingkungan saat ini, ke depan Muhammadiyah harus mempersiapkan kader-kader terbaik.
Kader tersebut dipersiapkan secara matang terutama dalam hal kader ulama, kader lingkungan, kader politik serta kader literasi untuk antisipasi era post truth dalam rangka sumbangsih kontribusi menuju baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur seperti apa yang di cita-citakan Muhammadiyah.
Penulis adalah pegiat di Kelompok Studi Tajdid Pendidikan, Surakarta
Belajar Mendalam pada Ramadan
Pembelajaran mendalam (deep learning) adalah pendekatan pedagogis yang menitik beratkan pada kedalaman pemahaman dan penguasaan konsep, tidak lagi pada luasnya materi atau hapalan fakta semata. Siswa yang...
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...





