Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
HistoriMU

Menyulam Iman di Kota Raja: Sontohartono dan Lahirnya Muhammadiyah Solo

Nasta Mahardi, Editor: Sholahuddin
Selasa, 13 Januari 2026 18:43 WIB
Menyulam Iman di Kota Raja:  Sontohartono dan Lahirnya Muhammadiyah Solo
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Suasana Kongres Muhammadiyah ke-18 di Surakarta tahun 1929 yang diselenggarakan di ndalem Sontohartanan. Sumber: Museum Muhammadiyah Yogyakarta. [Istimewa].

Riwayat awal hidup Sontohartono memang masih diselimuti kabut tipis sejarah. Hingga kini, tak satu pun sumber menyebutkan secara pasti kapan ia dilahirkan. Namun, terdapat petunjuk awal bahwa Sontohartono kemungkinan lahir pada dekade 1880-an di Keprabon, sebuah wilayah yang terletak di jantung Kota Solo.

Keprabon bukanlah kampung sembarangan. Ia dikenal sebagai sentra batik halus, meski tak besar secara produksi, tetapi sarat gengsi dan tradisi. Kampung ini dihuni para saudagar batik sekaligus guru-guru ngaji yang diberi peran khusus untuk memajukan kehidupan keislaman masyarakat. Di ruang sosial semacam inilah Sontohartono kecil tumbuh, menyerap denyut ekonomi, agama, dan kebudayaan sekaligus.

Pada masa itu, Islam yang berkembang di Surakarta atau Kota Solo masih kental dengan corak lokal, yang kerap disebut sebagai sintesis mistik Islam. Letak Keprabon yang berada di antara dua pusat kekuasaan, Kasunanan dan Mangkunegaran, ikut menjaga corak Islam ini tetap lestari, setidaknya hingga gelombang pembaruan Islam datang kemudian. Tradisi, kekuasaan, dan agama bertaut erat. Sontohartono muda menyaksikan semuanya dari jarak yang sangat dekat.

Namun, pengalaman itu justru menanamkan kegelisahan. Alih-alih menerimanya begitu saja, Sontohartono kecil merekam realitas tersebut sebagai sesuatu yang kelak layak dipertanyakan. Kegelisahan itu muncul ke permukaan ketika ia dewasa dan berubah menjadi pertanyaan yang amat personal, “Meskipun menganut agama Islam tetapi mengapa saya tidak suka Islam?”

Pertanyaan itu bukan tanda penolakan, melainkan awal pencarian. Sontohartono merasa tidak menemukan kepuasan batin dalam Islam gaya Jawa yang ia kenal sejak kecil. Dari sanalah terjadi apa yang dapat disebut sebagai transformasi keagamaan, yakni dari Islam sinkretik menuju Islam santri. Proses ini berlangsung sekitar awal dekade 1910-an, beriringan dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) serta maraknya perkumpulan pengajian di Kampung Sewu, Solo.

Dinamika SATV dan Muhammadiyah Cabang Solo

Pencarian keagamaan itu akhirnya menemukan wadah gerakan. Sebelum resmi bergabung dengan Muhammadiyah Cabang Solo, Sontohartono lebih dulu terlibat dalam SATV (Sidik Amanat Tableg Vatonah), sebuah perkumpulan tablig Islam reformis yang berdiri di Solo  pada paruh kedua dekade 1910-an. SATV sendiri merupakan akronim dari sifat-sifat Nabi Muhammad Saw.

Soal tahun berdirinya SATV, sumber-sumber sejarah memang tidak sepenuhnya sejalan. Ada yang menyebut 1915, sementara sumber lain menunjuk tahun 1918. Meski berbeda angka, satu hal tak terbantahkan: SATV hadir dengan tujuan yang jelas untuk memajukan studi Islam dan memperkuat persatuan umat.

Perkumpulan ini digagas oleh H.M. Misbach bersama dua saudagar batik lainnya, Harsoloemakso dan Darsosasmito. Ketiganya menjadi penggerak utama SATV, dengan Misbach sebagai Ketua, Darsosasmito sebagai Wakil Ketua, dan Harsoloemakso sebagai Sekretaris. Lalu, di manakah posisi Sontohartono dalam struktur ini?

Dalam sejumlah sumber sezaman, posisi Sontohartono di tubuh SATV justru tampil samar. Tidak ada keterangan yang secara gamblang menyebut jabatan apa yang ia emban. Namanya hanya muncul sebagai salah satu perintis berdirinya SATV, berdampingan dengan tokoh-tokoh lain yang lebih sering disebut.

Ketidakjelasan ini menjadi menarik ketika sebuah laporan surat kabar justru menyebut Sontohartono sebagai Ketua SATV. Dalam laporan tersebut, ia dikabarkan bersama Harsoloemakso mengajukan sebuah permohonan kepada Dewan Kota di Semarang. Permohonan itu berisi penolakan dan keberatan atas tata cara pemakaman di Kali Lama, sekaligus tuntutan agar praktik tersebut diperbaiki. Apakah ini sekadar kekeliruan redaksi, atau ada pergeseran kepemimpinan yang luput dicatat sejarah?

Jika ditilik dari situasi yang melingkupi SATV pada masa itu, tampak jelas bahwa organisasi ini tengah berada dalam kondisi yang jauh dari stabil. Dua tokoh utamanya, H.M. Misbach dan Darsosasmito, ditangkap dan ditahan oleh pihak berwenang akibat keterlibatan mereka dalam pemogokan petani di Tegalgondo pada 1919. Penangkapan ini bukan sekadar peristiwa hukum, melainkan pukulan telak yang membuat roda organisasi tersendat.

Dalam situasi semacam itu, pertanyaan pun mengemuka: masuk akalkah jika Sontohartono kemudian naik sebagai Ketua SATV? Kemungkinan tersebut justru tampak lemah. Kepemimpinan organisasi kemudian diteruskan oleh Mochtar Boechari, seorang kiai muda yang dikenal memiliki bekal ilmu agama yang kuat serta kepiawaian dalam menulis.

Seiring waktu, banyak anggota SATV terpengaruh oleh gagasan Muhammadiyah. Ketika Misbach bebas dari tahanan pada 1922, ia mendapati SATV sudah tidak lagi berdiri sebagai organisasi tersendiri. SATV telah mengubah dirinya menjadi Muhammadiyah Cabang Solo  melalui langkah reorganisasi yang dilakukan tanpa kehadirannya. Bersamaan dengan itu, dibentuk susunan kepengurusan baru sebagai berikut:

  1. Ketua: Sastrosoegondo
  2. Wakil Ketua: Mochtar Boechari
  3. Sekretaris: Harsoloemakso
  4. Bendahara: Sontohartono

Penempatan Sontohartono sebagai Bendahara—bukan Ketua—menjadi penegasan penting. Ia hadir bukan sebagai figur politik organisasi, melainkan sebagai penyangga keuangan dan logistik gerakan, sebuah peran yang justru krusial dalam fase awal pertumbuhan Muhammadiyah Cabang Solo.

Kepercayaan itu terus berlanjut. Dalam berbagai program kerja Muhammadiyah Cabang Solo, Sontohartono berulang kali dipercaya mengatur arus keuangan, bahkan kerap menyokong kegiatan organisasi dengan dana pribadinya. Dengan demikian, anggapan bahwa ia pernah menjadi Ketua SATV tampak semakin lemah.

Potret Pengurus Muhammadiyah Cabang Solo pada 1930-an, dengan Sontohartono berdiri di barisan terdepan sebelah kanan. [Sumber: H.I.K. Moehammadijah Soerakarta (Java), 1939.]

Menariknya, justru sang istri, Nyai Sontohartono, yang tampil sebagai pemimpin. Ia tercatat menjadi Ketua ‘Aisyiyah Cabang Solo, sayap perempuan Muhammadiyah. Peran keluarga ini menegaskan bahwa kontribusi Sontohartono tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan kerja kolektif rumah tangga dan gerakan.

Terlepas dari polemik jabatan, posisi Sontohartono dalam sejarah Muhammadiyah Solo tetaplah sentral. Ia bahkan dijuluki “Patriot Muhammadiyah”. Julukan ini tidak lepas dari kesediaannya membuka rumah sebagai markas SATV sekaligus tempat pengajian rutin, serta kantor Muhammadiyah Cabang Solo ketika pertama kali didirikan. Di sana, dakwah, diskusi, dan pergerakan dijalankan dengan semangat gotong royong.

Tak hanya menyumbang tenaga dan ruang, Sontohartono juga menyokong Muhammadiyah secara material dan intelektual. Ia menyumbang dana pembangunan sekolah Muhammadiyah di area Masjid Mangkunegaran dan aktif berdakwah menyebarkan gagasan pembaruan Islam.

Sontohartono dikenal sebagai pribadi yang tajam daya tangkapnya dan tak pernah puas pada pemahaman yang setengah-setengah. Rasa ingin tahunya yang tinggi membuat ia mudah menangkap inti pengajian yang diikutinya, termasuk pengajian yang diasuh langsung oleh Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Apa yang ia peroleh dari ruang-ruang pengajian itu tidak berhenti sebagai pengetahuan personal; ia mengolahnya, memperdalamnya, lalu menyebarkannya kembali melalui forum pengajian dan dakwah yang ia kelola sendiri.

Ketajaman itu tampak jelas ketika ia tampil di ruang publik. Dalam Konferensi Muhammadiyah Regional Solo pada 1934, Sontohartono berdiri sebagai pembicara di hadapan ribuan hadirin. Ia membawakan materi tentang penyempurnaan agama, sebuah tema yang berangkat dari pergulatan batinnya sendiri. Dalam pidatonya, ia menuturkan pengalaman keberagamaannya yang sempat meninggalkan kegelisahan, hingga akhirnya menemukan keteguhan melalui Muhammadiyah.

Selain piawai berdakwah, Sontohartono juga memiliki pemahaman yang baik tentang sejarah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Solo. Pengetahuan ini membuatnya kerap tampil sebagai sosok pengingat, menyampaikan peringatan agar para anggota Muhammadiyah tidak lengah, terus menjaga semangat perjuangan, dan menautkan kerja organisasi dengan tujuan kebaikan yang lebih luas.

Ndalem Sontohartanan

Semua denyut aktivitas itu bermuara di satu tempat: ndalem Sontohartanan di Keprabon, Kota Solo. Rumah ini bukan sekadar hunian seorang saudagar kaya, melainkan jantung gerakan Muhammadiyah Solo. Dari Hizbul Wathan, Pemuda Muhammadiyah, hingga ‘Aisyiyah, banyak organisasi bernaung dan bertumbuh di sana.

Lebih dari itu, ndalem ini hidup sebagai ruang publik. Di sanalah digelar khitanan massal, tadarus, rapat, konferensi, hingga pesta fakir miskin. Rumah ini dilengkapi masjid, pemondokan, taman kanak-kanak Bustanul Athfal, hingga kedai, membentuk sebuah kompleks sosial-keagamaan yang nyaris menyerupai pesantren modern.

Kesaksian tokoh sezaman semakin menegaskan peran sentral rumah ini. Ndalem Sontohartanan digambarkan sebagai tempat berkumpul tokoh-tokoh Muhammadiyah dari Solo dan Yogyakarta, sekaligus simpul pertemuan gagasan dan gerakan.

Kediaman Sontohartono bukan sekadar rumah tinggal, melainkan ruang hidup bagi denyut organisasi Muhammadiyah Cabang Solo. Di ndalem Sontohartanan inilah berbagai agenda penting digelar. Salah satu momen krusial terjadi pada 14 Agustus 1922, ketika para anggota berkumpul untuk merapikan arah gerak organisasi. Dalam rapat tersebut, mereka membagi anggota ke dalam beberapa bagian—yang kelak dikenal sebagai majelis—mulai dari Pendidikan, Taman Pustaka, hingga Propaganda. Dari ruang yang sama pula lahir keputusan untuk mendirikan sekolah baru di kompleks Masjid Mangkunegaran.

Rumah ini kembali mencatat peristiwa penting pada awal 1925, ketika Muhammadiyah Cabang Solo menggelar rapat tahunan dan memilih kepengurusan baru. Dengan demikian, rumah Sontohartono tidak hanya menjadi tempat bermusyawarah, tetapi juga saksi pergantian estafet kepemimpinan organisasi. Puncaknya pada tahun 1929, rumah ini menjadi satu dari beberapa venue yang digunakan dalam Kongres (Muktamar) ke-18 Muhammadiyah di Solo.

Menariknya, fungsi ndalem Sontohartanan melampaui kepentingan Muhammadiyah semata. Rumah ini terbuka bagi berbagai organisasi dan perkumpulan di Solo. Dari sini tampak jelas bahwa ndalem Sontohartanan telah menjelma menjadi ruang bersama, tempat ide, gerakan, dan generasi saling bersilangan.

Tak berlebihan jika dikatakan bahwa ndalem Sontohartanan adalah panggung sunyi sejarah. Di sanalah rapat-rapat penting berlangsung, keputusan strategis diambil, dan arah Muhammadiyah Solo ditentukan. Sejarah besar lahir dari ruang domestik—dari rumah seorang saudagar batik yang memilih menjadikan hartanya sebagai jalan pengabdian bagi Muhammadiyah.

Penulis adalah sarjana Pendidikan Sejarah FKIP UNS

—————————————-

Daftar Pustaka

Adil, Juli 1986.

Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 2 Desember 1932.

Bentara Hindia, September 1922.

De Indische Courant, 15 Februari 1939.

De Locomotief, 21 November 1919.

De Locomotief, 19 Januari 1925.

De Locomotief, 8 April 1927.

De Nieuwe Vorstenlanden, 18 Desember 1924.

Djawa Tengah, 6–7 Februari 1925

Djawa Tengah, 28 Maret 1925

Islam Bergerak, 10 Juli 1918.

Islam Bergerak, 10 September 1922

Islam Bergerak, 20 Oktober 1918.

Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, Oktober 1934.

Ali, M. & Arifin, S. (2015). Matahari Terbit di Kota Bengawan: Sejarah Awal Muhammadiyah Solo. Surakarta: Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta.

Amir, M. (n.d.). Riwayat Berdirinya Muhammadiyah di Surakarta. Surakarta: n.p.

Majlis Wakaf dan Kehartabendaan Kodia Surakarta. (1990). Sejarah Hibah/Wasiat Gedung Sontohartanan: Pusat Kegiatan dan Lahirnya Muhammadiyah Surakarta. Surakarta: Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta.

Ricklefs, M.C. (2007a). Polarising Javanese Society: Islamic and Other Visions c. 1830−1930. Singapura: Leiden: KITLV Press.

________. (2007b). Sejarah Indonesia Modern, 1200−2004. Terj. Satrio Wahono, dkk. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

________. (2013). Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang. Terj. FX Dono Sunardi & Satrio Wahono. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Shiraishi, T. (1997). Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa, 1912−1926. Terj. Hilmar Farid. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Zuhri, Saifudin. (2020). Autobiografi KH. Saifudin Zuhri: Berangkat dari Pesantren. Jakarta: Direktorat Urusan Agam Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama bekerja sama dengan Yayasan Saifudin Zuhri.

Berita Terbaru

Soerono Wirohardjono: Kuli Tinta Jagoan Muhammadiyah Solo

Di lorong-lorong waktu Kota Bengawan, nama Soerono Wirohardjono pernah bergaung lirih namun mantap. Ia bukan sekadar penulis berita. Ia adalah penenun kata yang dari ujung...

Mengenang 97 Tahun Kongres ke-18 Muhammadiyah di Surakarta (30 Januari 1929−30 Januari 2026)

Riwayat awal Muhammadiyah Cabang Surakarta (MCS) sejatinya sudah well-documented atau terdokumentasi dengan baik. Nama-nama tokohnya kerap disebut, dinamika organisasinya sering dikisahkan. Jejak gerakannya tak sukar...

HistorywalkMu Telusuri Kampung Kauman Bareng Mahasiswa Psikologi UMS

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Puluhan mahasiswa beralmamater tampak berkumpul di halaman Masjid Agung Solo, Senin (8/7/2024) pagi. Mahasiswa tersebut berasal dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang...