Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Berbagai Pandangan terhadap Hari Minggu

Heinis Khawari, Editor: Sholahuddin
Selasa, 19 Desember 2023 13:32 WIB
Berbagai Pandangan terhadap Hari Minggu
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Heinis Khawari

And you take what you want, but you won’t get hope for free. Itu adalah salah satu kutipan lagu dari grup band terkenal Bernama Oasis di lagunya yang berjudul Sunday morning call. Osasis merupakan grup band dari Inggris. Grup band ini dibentuk di Manchester, Inggris pada 1991. Sunday morning call merupakan lagu yang menggambarkan hari Minggu sebagai hari untuk refleksi ketika seseorang mempertimbangkan hidup. Hal ini menarik bahwa lagu itu sangat berbanding terbalik dengan makna hari Minggu yang kita ketahui. Hari Minggu biasanya dianggap sebagai hari menyenangkan karena hari Minggu merupakan satu-satunya hari libur di antara tujuh hari dalam sepekan.

Biasanya kita menggunakan hari Minggu untuk bersantai bersama keluarga, liburan bersama, maupun hanya berdiam diri di rumah. Di hari Minggu kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan, seperti bermain, piknik, menonton TV, dan lainnya. Bahkan ada umat beragama yang menggunakan hari Minggu sebagai hari beribadah. Jika kita melihat keluar, pada hari Minggu maka akan sangat banyak orang berlalulalang. Entah mereka baru akan pergi jalan-jalan, maupun sudah pulang. Saat malam Minggu saja kafe dan tempat nongkrong dipenuhi anak muda.

Uniknya bagaimana hari Minggu menjadi hari yang benar-benar ditunggu semua orang dibanding enam hari lainnya. Tetapi lagu Sunday moorning call milik band Oasis, memiliki arti hari Minggu yang sangat berbeda dari pengertian yang biasanya. Atau sebenarnya pandangan terhadap hari Minggu hanyalah perbedaan antara seseorang yang sudah tumbuh dewasa dengan anak kecil. Pada hari minggu kuturut ayah kekota itu merupakan lagu yang sudah kita kenal sejak dari kecil. Lagu itu menggambarkan pandangan anak-anak yang berada di desa tentang hari Minggu. Bagi mereka hari Minggu mungkin adalah hari di mana mereka terbebas setelah enam hari mereka belajar pelajaran sekolahan yang membosankan. Bagi mereka menghabiskan hari Minggu dengan pergi ke kota mungkin adalah hal yang sangat keren.

Tumbuh Dewasa

Selain itu hari Minggu adalah tempatnya hari bersenang-senang, menonton televisi dari pagi hingga siang, pergi ke rumah teman, bersepeda Bersama-sama, maupun pergi ke tempat yang menarik bersama keluarga. Kita semua tentu pernah mengalami sebagian dari beberapa hal itu. Mungkin itu berbeda dengan pandangan orang-orang yang sudah tumbuh dewasa dan bekerja. I go out to work on a Monday morning Tuesday I go off to honeymoon I’ll be back again before it’s time for Sunny-down, I’ll be lazing on a Sunday afternoon. Itu merupakan sebuah lagu yang menggambarkan bagaimana orang dewasa menghabiskan hari Minggu mereka. Itu adalah kutipan lagu dari grup band yang sangat terkenal yaitu Queen.

Queen grup band yang ramai didengarkan pada tahun 70-an. Queen dibentuk di Britania Raya di London, Inggris. Di lagu yang berjudul Lazy on Sunday itu diceritakan seseorang yang bekerja penuh selama sepekan dari Senin-Sabtu, dia memiliki jadwal yang padat untuk melakukan banyak hal. Di akhir pekan dia hanya menghabiskan waktunya untuk bermalas-malasan. Mungkin itu merupakan sebuah perbedaan besar pandangan hari Minggu antara anak kecil dan orang dewasa. Tetapi meski memiliki pandangan yang berbeda hari Minggu tetap menjadi hari yang banyak dinantikan banyak orang.

Tapi meski begitu ternyata tak semua orang menantikan hari Minggu. Banyak orang yang mungkin biasa saja atau bahkan mungkin membenci hari Minggu. Seperti salah satu lagu yang dibawakan oleh grup band asal Indonesia bernama Bip Band yang didirikan pada tahun 1996. Di dalam lagunya yang berjudul Hari Minggu, dikisahkan orang-orang pergi menikmati liburan dan prifacy mereka tak punya waktu atau diganggu.  Tak ada tempat kasbon di hari Minggu. Unik. Di lagu itu mereka terang-terangan menyatakan tak menyukai hari Minggu. Menurut mereka di hari Minggu mereka tak mempunyai tempat untuk mengkasbon atau mengutang. Hal ini menarik entah itu di tahun 70-an maupun pada era 2000-an, orang-orang memiliki cara yang berbeda untuk menghabiskan hari Minggu mereka.

Penulis adalah siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah  Program Khusus Kottabarat Solo

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment