Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tarjih & Tajdid

Pengajaran Menentukan Kalimat Utama dengan Metode TAI

Siti Junaidati (Guru SD Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta), Editor: Yusuf R. Yanuri
Sabtu, 5 November 2022 18:09 WIB
Pengajaran Menentukan Kalimat Utama dengan Metode TAI

Pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra.

Kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan baik dan benar tentunya akan menumbuhkan rasa percaya diri ketika tampil di depan khalayak umum. Apresiasi terhadap hasil karya sastra akan memperhalus dan memperkaya pengalaman batin siswa. Hal ini senada dengan pendapat Akhadiah dkk (1991: 1). Ia menyatakan bahwa tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah agar siswa memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar serta dapat menghayati bahasa dan sastra Indonesia dengan situasi dan tujuan berbahasa serta tingkat pengalaman siswa sekolah dasar.

Sejalan dengan perkembangan Kurikulum, tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia pun lebih kompleks. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang terdapat dalam Kurikulum 2013 dengan pembelajaran berbasis teks bertujuan agar dapat membawa peserta didik sesuai dengan perkembangan mentalnya dan menyelesaikan masalah kehidupan nyata dengan berpikir kritis.

Teks yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diambil dari muatan materi pelajaran lain. Dengan kata lain, pelajaran Bahasa Indonesia adalah penghela mata pelajaran lain. Siswa diajak untuk berpikir kritis dan menanggapi teks yang digunakan dalam pembelajaran sehingga mereka terbiasa menerapkan empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, menulis, dan berbicara) dengan baik dan benar.

Hadirnya Kurikulum Merdeka menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Pun demikian dengan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam Kurikulum Merdeka, mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk membentuk keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, membaca, dan memirsa) dan keterampilan berbahasa produktif (berbicara, memperesentasikan, dan menulis).

Kompetensi berbahasa ini berdasar pada tiga hal yang saling berhubungan dan saling mendukung untuk mengembangkan kompetensi siswa. Yaitu 1) bahasa (mengembangkan kompetensi kebahasaan), 2) sastra (kemampuan memahami, mengapresiasi, menganalisis, dan mencipta karya sastra), dan 3) berpikir (kritis, kreatif, dan imajinatif). Pengembangan kompetensi tiga hal tersebut diharapkan membentuk peserta didik yang memiliki kemampuan literasi tinggi dan berkarakter Pancasila.

Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia yang sudah penulis uraikan di atas, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tentunya dibutuhkan model, metode, teknik, strategi, dan media pembelajaran yang tepat agar siswa tertarik dan terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. 

Pelajaran yang gampang dan asyik. Begitulah anggapan dari sebagian siswa kita. Mudah karena tidak perlu menghafal materi. Soal yang disajikan biasanya hanya berupa bacaan. Bagi siswa yang kurang suka apalagi tidak mempunyai kebiasaan membaca tentunya akan meneui kesulitan dan menganggap sulit pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini yang akan menjadi hambatan belajar siswa.

Salah satu hambatan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah ketika dihadapkan pada sebuah paragraf yang panjang. Mereka kurang terampil dalam memahami isi paragraf. Pemahaman terhadap isi paragraf didukung oleh kemampuan siswa dalam menentukan kalimat utama. 

Kalimat utama kalimat yang mengandung pokok pikiran paragraf paragraf (Asul Wiyanto 2004: 25). Kalimat utama dalam paragraf sangat penting karena menjadi kerangka dasar dalam pengembangan paragraf. Selain Itu, kalimat utama juga memuat keseluruhan isi paragraf. Paragraf dikatakan padu jika didalamnya terdapat kalimat utama. 

Model Pembelajaran Menentukan Kalimat Utama

Bagaimana cara guru untuk  mengajarkan kepada siswa  dalam menentukan kalimat utama? Model pembelajaran apa yang sesuai? Model pembelajaran yang sudah saya praktikkan di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta untuk menentukan kalimat utama adalah model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization).

Team Assisted Individualization adalah kombinasi dari belajar kooperatif dengan belajar individu (Ridwan 2019: 189). Model pembelajaran kooperatif ini mendorong siswa untuk saling membantu sehingga tim mereka menjadi yang terbaik. Model pembelajaran ini menurut pengalaman yang sudah saya praktikan dalam mengajar di kelas menjadi paling efektif dan tetap dalam pengajaran menentukan kalimat utama. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam model pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut: 1) tes awal untuk penempatan, 2) pengelompokkan siswa, 3) pemberian tugas, 4) diskusi antar teman, dan 5) penilaian.

Adapun langkah-langkah pembelajaran yang saya gunakan dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI untuk menentukan kalimat utama dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut:

Langkah ke-1 Tes Penempatan. Salah satu hal yang membedakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan model pembelajaran lainnya yaitu adanya tes penempatan. Pada tahapan ini, guru memberikan tes diagnostic. Hasil dari tes diagnostik akan digunakan untuk mengelompokkan anak ketika pembelajaran.

Langkah ke-2, Pembentukan kelompok. Pembentukan anak berdasarkan nilai tes diagnostik awal. Pengelompokkan anak bersifat heterogen yaitu perpaduan antara anak yang mempunyai nilai tinggi, sedang, dan rendah. Satu kelompok terdiri atas 4 – 5 anak. setelah kelompok terbentuk mereka berkumpul di meja yang sudah dibentuk sesuai kesepakatan guru dan siswa.

Selanjutnya, langkah ke-3 Penjelasan materi. Langkah selanjutnya setelah kelompok terbentuk dan menempatkan diri adalah penjelasan materi. Guru menjelaskan materi tentang kalimat utama. Pengertian, ciri-ciri, dan cara menentukannya. Siswa dapat bertanya jika masih belum memahami penjelasan guru.

Langkah yang ke-4, Pengerjaan soal secara mandiri. Langkah yang keempat adalah mengerjakan soal. Guru sudah menyiapkan amplop yang didalamnya berisi sepuluh paragraf yang sudah terpotong-potong menjadi kartu paragraf. Masing-masing kelompok mendapatkan amplpo tersebut. Anak yang ditunjuk menjadi ketua kelompok membagikan masing-masing dua kartu paragraf kepada anggota keompoknya. Selanjutnya mereka menenentukan kalimat utama dari potongan paragraf tersebut.  

Langkah ke-5, Diskusi kelompok. Langkah kelima, setelah masing-masing anggota kelompok menyelesaikan tugasnya tahap selanjutnya adalah diskusi kelompok. Masing-masing siswa mengoreksi hasil pekerjaan teman satu kelompoknya dan mencari penyelesaian yang benar. Kartu paragraf dikelompokkan sesuai jenis paragraf berdasarkan letak kalimat utamanya.

Setelah itu kartu pararaf tersebut ditempelkan di kertas berwarna sesuai dengan pengelompokkan jenis paragraf (deduktif, ineratif, dan induktif).

Langkah ke-6 Pembahasan. Masing-masing kelompok  menukar hasil pekerjaannya dengan kelompok lain sesuai arahan guru. Selanjutnya, guru dan siswa membahas soal yang sudah dikerjakan. Penilaian berdasarkan jumlah jawaban benar. Dalam tahap ini, hampir semua kelompok menapatkan nilai 100.

Langkah ke-7, Evaluasi mandiri. Tahap selanjutnya adalah siswa mengerjakan soal secara mandiri. Soal masih sama seperti tahap sebelumnya yaitu menentukan kalimat utama dalam sebuah paragraf. Jumlah soal untuk tahap ini hanya lima butir soal.

Langkah ke-8, Perhitungan nilai kelompok. Nilai kelompok didapatkan dari pengerjaan soal secara kelompok dan rata-rata nilai hasil pengerjaan evaluasi mandiri. Kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi akan menjadi pemenang.

Langkah ke-9, Penghargaan. Kelompok dengan nilai tertinggi akan mendapatkan reward. Pemberian reward ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Reward akan bagikan bersamaan dengan acara refleksi bulanan.

Demikian pengalaman penulis menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dalam menentukan kalimat utama di kelas VI. Model pembelajaran ini cukup efektif untuk menghidupkan pembelajaran.

Semua siswa aktif dan terlibat dalam pembelajaran. Mereka termotivasi untuk saling membantu, peka terhadap teman yang membutuhkan, saling bertukar pendapat untuk menentukan jawaban yang benar, dan yang paling penting rasa kekeluragaan semakin erat terjalin. 

Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization menjadi salah satu alternatif yang bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Tidak hanya pada pembelajaran Bahasa Indonesia tentunya, melainkan pembelajaran yang lainnya. Pembelajaran bisa didesain di luar kelas, sehingga suasana menjadi berbeda dari biasanya dan murid bisa bereksplorasi secara maksimal baik secara individu maupun kelompok.

Berita Terbaru

Dari GWO Sriwedari, Belajar Jadi Manusia Seutuhnya

Dua kali saya menyaksikan tampilan seni budaya dalam bentuk drama dan pagelaran seni daerah nusantara persembahan dari siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Gelaran...

Membangun Amal Usaha Muhammadiyah Unggulan

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak atas semangat al-Ma’un dan Al-Ashr (dari etos ke spirit peradaban) dan berkhidmat untuk membangun kemanusiaan, keumatan, kebangsaan, dan internasional...

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam Menghadapi Penurunan Jumlah Warganya?

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pernyataan Denny JA mengenai penurunan yang signifikan dalam jumlah warga Muhammadiyah dalam 20 tahun terakhir merupakan isu yang perlu dipertimbangkan dengan serius...

Historical Walking, Ikhtiar Pembumian Nilai Kemuhammadiyahan

Sepanjang yang saya ketahui, ada dua buku yang mengupas perjalanan Sejarah Muhammadiyah kota Surakarta. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis oleh Dr Mohamad...

Mindful Learning dalam Pembelajaran Kimia

Materi kimia sangatlah menarik. Bila seorang guru mampu membangkitkan minat dan motivasi siswa, materi kimia bisa menjadi sarana berpikir kritis, kreatif, membentuk karakter ilmiah dan...

STEM and Digitalisation (3): Manpower Development, Coaching Students, and Reflective Thinking

Diskusi dan sharing pengelolaan pendidikan bersama akademisi Nanyang Polytechnic Singapura berlanjut sampai hari ke -10. Tema Pengembangan sumber daya manusia untuk pertumbuhan ekonomi, membangun cara...

Melekat Kelas Baru

Di awal tahun pelajaran baru, satuan pendidikan menyiapkan awal tahun pelajaran. Kegiatan awal tahun ditandai adanya berbagai kegiatan. Salah satunya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah...

STEM and Digitalisation (2): Menciptakan Iklim dan Ekosistem Inovasi

Baca seri pertama dari artikel ini di sini Hari ke-2, 3, dan 4 pelatihan, kami berdialog dan sharing dengan Mr Yoon Eng Tong dalam forum...

Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)

RESENSI BUKU Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) Judul Buku : Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)...

STEM And Digitalisation (1): Refleksi Teachers Course di Nanyang Polytechnic Singapura

Hari ini, Senin 17 Juli 2023 saya berkesempatan untuk belajar secara langsung bersama Dr Judy Emily dari Nanyang Polytechnic (NYP) Singapore untuk mendalami model pendidikan...

Romansa Guru Penggerak

Program guru penggerak merupakan bagian dari program merdeka belajar episode ke lima yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program guru pengerak adalah...

Buku Merawat Intelektualisme Muhammadiyah Telah Terbit

Kabar gembira bagi para aktivis dan kader Muhammadiyah di kota Solo. Pasalnya, buku karya Dr Mohamad Ali yang merupakan catatan–catatan sejarah pergerakan Muhammadiyah di kota...

Leave a comment