Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perspektif

Perkenalanku dengan K.R.H. Asnawi Hadisiswaja: Generasi Awal Intelektual Muhammadiyah Surakarta

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Selasa, 3 November 2026 09:55 WIB
Perkenalanku dengan K.R.H. Asnawi Hadisiswaja:  Generasi Awal Intelektual Muhammadiyah Surakarta
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Foto Asnawi Hadisiswaja [sumber: Al-Manak Muhammadiyah 1383/1963].

Pada tahun 2019, saya menulis esai di media on line IB time.id berjudul “K.R.H. Asnawi Hadisiswaja (1905-1961), Guru Pembelajar Penggerak Perubahan”. Dalam tampilan di media itu, redaktur menampikan gambar/foto K.R. Asnawi Hadisiswaja asal Kudus, seorang kiai tradisionalis yang gigih menentang gerakan modernisme dan salah satu pendiri Nahdatul Ulama (NU). Besar kemungkinan karena redaktur tidak mampu membedakan kedua ulama besar yang kebetulan memiliki kesamaan nama, tetapi sebetulnya menunjukkan orang yang berbeda. Tentu saja, bila harus disalahkan, penulis sendiri yang bertanggung jawab, karena ketika mengirim artikel tidak sekaligus mengirim foto bersangkutan.

Terlepas dari peristiwa itu, ada satu hal yang harus menjadi perhatian serius pimpinan dan warga Muhammadiyah, yaitu kecenderungan tidak peduli pada tokoh-tokoh Persyarikatan yang telah meletakkan fondasi dan tiang-tiang pancang Persyarikatan. Tentu kita bisa beralasan, mereka berjuang ikhlas tentu telah dicatat oleh Allah Swt. sebagai amal kebaikan, untuk apa kita pedulikan dan mengungkap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan?.

Berbeda dengan itu, saya berpandangan bahwa mata rantai perjalanan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad ini berjalan sukses bukan hanya dinilai dari megahnya amal usaha baik berupa sekolah maupun rumah sakit, tetapi lebih mendasar dari itu adalah konsistensi untuk hidup bersahaja, jujur, etos kerja keras, mengutamakan kepentingan publik, dan berpandangan jauh ke depan. Nilai-nilai inilah warisan utama tokoh-tokoh awal Persyarikatan yang kemudian melahirkan amal usaha yang secara kasat mata dapat kita saksikan saat ini. Ringkasnya, warisan berupa nilai-nilai harus diperhatikan, bukan hanya warisan yang berupa materi.

Berangkat dari sudut pandang demikian, esai ini berupaya mengungkap perkenalan penulis dengan dengan salah satu generasi awal intelektual Muhammadiyah Surakarta, K.R. H. Asnawi Hadisiswaja (1905-1961).

Awal Perkenalan

Perkenalan penulis dengan Kiai Asnawi terjadi pada tahun 2014 saat melakukan riset disertasi tentang pemikiran pendidikan K.H. Ahmad Dahlan (1888-1923. Tulisan beliau berjudul K.H. Ahmad Dahlan di majalah Panji Masyarakat menjadi referensi penting dalam penulisan disertasi. Di paragraf dan baris paling akhir, ada keterangan di tulis di Solo, 11 Juli 1959. Saat itu saya menarik kesimpulan sementara bahwa Kiai Asnawi berasal dari Solo (Surakarta). Membaca artikel yang panjang dan sangat reflektif tentang fase-fase perjuangan Kian Ahmad Dahlan sehingga pembaca seolah-olah diajak bertemu langsung dengan pendiri Muhammadiyah itu. Cerita-cerita atau sumber lisan tentang Kiai Dahlan sangat membekas dan mempengaruhi alur tulisan itu. Besar kemungkinan beliau bertemu langsung, karena saat Kiai Dahlan meninggal tahun 1923, Kiai Asnawi (kelahiran 1905) sudah berusia 18 tahun. Dengan demikian, tulisan Kiai Asnawi dapat digolongkan sebagai sumber primer.

Setelah masa perkenalan awal itu, keinginan untuk menulis dan berselancar dengan gagasan-gagasan Kiai Asnawi muncul kembali pada tahun 2019, setelah selesai menulis disertasi dan menjadi Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saat itu tumbuh keinginan untuk menggali pemikiran pendidikan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Surakarta.  Kiai Asnawi menarik perhatian, sehingga setelah merampungkan esai tentang pemikiran pendidikan Kiai Moechtar Boechari yang merupakan guru Kiai Asnawi, perhatian tertuju pada penggalian pemikiran pendidikan Kiai Asnawi, sebagaimana tertuang dalam pembukaan esai ini.

Setelah berselang lama, belakangan ini minat untuk berkenalan secara lebih dekat dengan pemikiran-pemikiran beliau kembali muncul. Faktor pendorongnya adalah pertemuan rutin dengan saudara Anwar Sani, seorang kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tahun 2000-an awal yang saat ini menjalani pekerjaan sebagai tukang pijat. Dia sering bercerita bahwa ilmu pijat berasal dari pak Muhtar Hadi (w.2005), anak keenam dari pasangan suami istri Asnawi Hadisiswaja – Siti Aminah. Salah satu putri Pak Muhtar, Mba Dian, staf di PKU Muhammadiyah Solo, bercerita bahwa ayahnya berkeinginan untuk menyampaikan beberapa pesan untuk pimpinan Muhammadiyah. Namun, sebelum kesampaian, beliau wafat. Dari latar ini kemudian tumbuh kembali minat untuk mengenal lebih dekat beliau, tidak melalui percakapan fisik dan tatap muka, tetapi melalui buah penanya dalam sejumlah buku dan majalah.

Spektrum Pemikiran

Tentu bukan sekadar kebetulan ketika kelahirannya bersamaan dengan berdirinya Madrasah Mambaul Ulum (Sumber berbagai Ilmu Pengetahuan) pada tahun 1905. Mahmud Yunus dan Karel A. Steenbrink menyebut madrasah ini sebagai pelopor modernisasi pendidikan Islam di Indonesia, mendahului Muhammadiyah tahun 1912 di Yogyakarta dan Kaum Muda di Sumatera Barat 1909. Seperti Madrasah Mambaul Ulum yang menjadi kawah candradimuka calon pemimpin umat dan bangsa, Kiai Asnawi seperti sumur yang terus memproduksi pemikiran dari dari berbagai dimensi kehidupan, seperti: agama, dakwah, pendidikan, kepemimpinan, budaya, dan seni.

Melalui jaringan pemasaran digital, penulis berusaha mengumpulkan buku-buku maupun majalah karya Kiai Asnawi. Secara bertahap, melalui media ini akan dibedah karya-karyanya agar generasi muda Muhammadiyah dapat mengenal dari dekat kepeloporannya dalam gerakan intelektual maupun kiprahnya dalam dunia pendidikan, dakwah, politik, budaya, dan seni (seorang komponis andal).

Penulis adalah Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (2/Selesai)

Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. tidak cukup hanya diucapkan. Kecintaan tersebut perlu diwujudkan melalui keyakinan, sikap, dan amal dalam kehidupan sehari-hari. Ada berbagai cara untuk...

Buah dari Muhasabah Diri

Kemajuan peradaban dan kesibukan manusia dalam mengejar tujuan, popularitas, serta harta dapat membuat seseorang lalai dan melewati batas yang telah Allah Swt. tetapkan. Dalam kondisi...

TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan

Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...

Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat

Ustaz Muhammad Jazir, tokoh  Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...

Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana

Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...

Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global

Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...

Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati

Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...

Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah

Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...

Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau

Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...

Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental

Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...

Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi

Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...

Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan

Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...