Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Umum

Gelombang Panas Global Kian Ekstrem, Guru Besar UMS Soroti Pentingnya Adaptasi Iklim

Fika Annisa Sholikhah, Editor: Alan Aliarcham
Selasa, 7 Juli 2026 10:59 WIB
Gelombang Panas Global Kian Ekstrem, Guru Besar UMS Soroti Pentingnya Adaptasi Iklim
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim.

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim. Suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius memicu kebakaran hutan, gangguan kesehatan, hingga menghambat aktivitas masyarakat. Fenomena tersebut juga memunculkan pertanyaan, apakah kondisi serupa dapat terjadi di Indonesia.

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kuswaji Dwi Priyono, menjelaskan masyarakat perlu memahami fenomena tersebut secara utuh. Menurutnya, gelombang panas (heatwave) di Eropa tidak dapat disamakan dengan cuaca panas yang dirasakan di Indonesia, meski keduanya sama-sama dipengaruhi perubahan iklim global.

Heatwave di Eropa merupakan hasil interaksi berbagai faktor atmosfer, geografis, dan perubahan iklim. Fenomena ini berbeda dengan El Niño yang merupakan interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik. Namun, pemanasan global membuat peluang terjadinya suhu ekstrem menjadi semakin besar di berbagai belahan dunia,” jelasnya, Senin (6/7/2026).

Ia menerangkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia telah menaikkan suhu rata-rata bumi. Ketika kondisi atmosfer tertentu terjadi, seperti sistem tekanan tinggi yang bertahan lama di Eropa, suhu udara dapat melonjak jauh di atas kondisi normal selama beberapa hari berturut-turut.

Selain perubahan iklim, terdapat sejumlah faktor geografis yang memperburuk gelombang panas di kawasan tersebut, mulai dari fenomena blocking high pressure, kekeringan tanah, meningkatnya suhu permukaan Laut Mediterania, hingga fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan akibat dominasi beton, aspal, dan minimnya ruang hijau.

Meski demikian, Kuswaji menegaskan Indonesia memiliki karakter iklim tropis yang berbeda dengan negara-negara subtropis sehingga kecil kemungkinan mengalami heatwave dengan karakter yang sama seperti di Eropa.

“Yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah meningkatnya jumlah hari dengan suhu maksimum tinggi, indeks panas yang semakin besar karena kelembapan udara tinggi, serta meningkatnya risiko kekeringan ketika terjadi El Niño,” ujarnya.

Lebih Berat

Menurutnya, kombinasi suhu dan kelembapan yang tinggi justru membuat tekanan panas di Indonesia dapat terasa lebih berat dibandingkan wilayah berudara kering. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya melihat angka suhu udara, tetapi juga perlu memperhatikan kelembapan, intensitas paparan matahari, dan lamanya aktivitas di luar ruangan.

Ia menilai fenomena tersebut menjadi peringatan agar Indonesia memperkuat strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Pembangunan, menurutnya, tidak lagi cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Kuswaji mencontohkan perkembangan kawasan perkotaan di Jawa Tengah, khususnya Solo Raya, yang terus mengalami alih fungsi lahan menjadi permukiman, kawasan perdagangan, industri, dan infrastruktur. Apabila pembangunan tidak diimbangi penyediaan ruang terbuka hijau, suhu kawasan perkotaan akan semakin meningkat akibat efek pulau panas perkotaan.

“Permukaan yang didominasi beton dan aspal akan menyerap panas lebih besar dibandingkan lahan yang masih memiliki vegetasi. Akibatnya, suhu udara di pusat kota akan terasa lebih tinggi dibandingkan daerah yang masih memiliki banyak pepohonan,” katanya.

Ia menambahkan, dampak peningkatan suhu tidak hanya memengaruhi kenyamanan masyarakat, tetapi juga sektor pertanian, kesehatan, hingga kebutuhan energi.

Di sektor pertanian, meningkatnya suhu menyebabkan kebutuhan air tanaman bertambah dan memperbesar risiko penurunan produktivitas. Sementara di perkotaan, penggunaan pendingin ruangan yang semakin tinggi akan meningkatkan konsumsi energi.

Dari sisi kesehatan, kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil, pekerja lapangan, serta masyarakat dengan penyakit kronis menjadi pihak yang paling berisiko mengalami gangguan akibat tekanan panas.

Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim.

Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim.

Karena itu, Kuswaji mendorong pemerintah memperkuat sistem peringatan dini terhadap suhu ekstrem sebagaimana peringatan banjir atau gempa. Informasi mengenai indeks panas dan risiko kesehatan akibat cuaca panas juga dinilai perlu disampaikan secara rutin kepada masyarakat.

Ia juga menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam meningkatkan literasi perubahan iklim sekaligus menghasilkan solusi berbasis riset.

Menurutnya, mahasiswa dapat berkontribusi melalui penelitian menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), penginderaan jauh, maupun survei lapangan untuk memetakan kawasan pulau panas perkotaan, mengidentifikasi wilayah rentan terhadap suhu tinggi, hingga menyusun rekomendasi tata ruang yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Selain itu, berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga gerakan kampus hijau dapat menjadi sarana membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, tetapi sedang terjadi saat ini. Karena itu, respons yang diperlukan bukan sekadar mengurangi emisi, melainkan membangun ketahanan wilayah melalui tata ruang yang adaptif, pelestarian ruang hijau, penguatan sistem peringatan dini, dan peningkatan literasi iklim masyarakat,” tegasnya.

Kuswaji berharap meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gelombang panas dunia dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran ekologis di Indonesia. Menurutnya, setiap pohon yang ditanam, ruang hijau yang dipertahankan, penelitian yang menghasilkan solusi, hingga perubahan perilaku masyarakat merupakan investasi penting dalam menghadapi tantangan iklim di masa depan.

Heatwave di Eropa mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Pelajarannya bukan menunggu suhu mencapai 45 derajat Celsius, melainkan mulai membangun kota yang lebih hijau, menjaga sumber daya alam, dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk beradaptasi sejak hari ini,” ujarnya.

Berita Terbaru

Menang di Trofeo Wonorejo Cup, Doskar UMS FC Bawa Pulang Gelar Juara

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) turut ambil bagian dalam pertandingan eksibisi Wonorejo Cup IV bertajuk “Piala Bersama 2026” melalui tim sepak bola Doskar...

PDM Boyolali Lantik Pengurus BikersMu, Perkuat Dakwah lewat Komunitas Otomotif

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali resmi melantik Pengurus BikersMu Chapter Boyolali periode 2026–2028 pada Selasa (16/6/2026). Pelantikan yang digelar di Dukuh Kemel,...

Muhammadiyah Pandang Malam Satu Suro sebagai Budaya, Tauhid Tetap Utama

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Muhammadiyah memandang tradisi Malam Satu Suro sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa yang lahir dari proses sosial dan sejarah. Namun, tradisi tersebut...

Pertamax Naik ke Rp16.250, Pengamat UMS Soroti Beban Kelas Menengah

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Isu yang ramai dibicarakan mulai dari ancaman inflasi...

Muhammadiyah Investasikan Rp800 Miliar untuk Bangun Pabrik Infus

MALANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, melakukan groundbreaking (peletakan batu pertama) pabrik infus milik Persyarikatan, PT Suryavena Farma Indonesia, Kamis (11/6/2026), di...

Akademisi UMS Ingatkan Pentingnya Kepastian Teknis dalam Ekspor Satu Pintu

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Akbar Pratama Kartika menilai kebijakan ekspor satu pintu yang melibatkan Badan Usaha...

Indonesia Open 2026 Banyak Beri Pelajaran soal Teknologi dan Analisis Olahraga

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Perhelatan Indonesia Open 2026 yang menghadirkan atlet-atlet bulu tangkis terbaik dunia dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempelajari perkembangan pembinaan olahraga...

Jurus Mahasiswa UMS Tenangkan Sapi Sebelum Penyembelihan Kurban

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Penyembelihan hewan kurban di Lapangan Timur Masjid Hj. Sudalmiyah Rais Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (28/5/2026), menjadi pengalaman berharga bagi...

UMS Dampingi Anak Migran Indonesia di Sabah, Ajarkan Kelola Uang Saku dan Dasar Komputer

SABAH, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM KI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan penguatan literasi keuangan dan pelatihan dasar komputer bagi siswa...

PCA Gatak Gelar Pengajian Safari Dakwah dan Pelepasan Calon Jemaah Haji

GATAK, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Siang yang cerah, usai Salat Jumat, Jumat (08/05/2026), gedung Tirta Wirejo, Wironanggan dipadati  jemaah pengajian Safari Dakwah dan jemaah calon haji Kecamatan Gatak, Sukoharjo tahun...

Padukan Syiar dan Tadabur Alam, Santri Pondok KHAD MTs Muhammadiyah Surakarta Rihlah ke Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pondok Putra KH Ahmad Dahlan (KHAD) MTs Muhammadiyah Surakarta melaksanakan kegiatan Rihlah dan Tadabur Alam di Kabupaten Gunungkidul, Sabtu–Minggu (9–10/5/2026). Kegiatan ini...

Melaju Bersama Dakwah, BikersMu Surakarta Gelar Touring ke Pacitan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Lebih dari 50 warga Muhammadiyah dan simpatisan yang tergabung dalam komunitas BikersMu Surakarta menggelar touring ke Pantai Buyutan dan Pantai Kasap, Pacitan,...