Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Di Meja Berbuka, Kita Menyulam Cinta dan Takwa

Soleh Amini Yahman, Editor: Sholahuddin
Senin, 2 Maret 2026 12:34 WIB
Di Meja Berbuka, Kita Menyulam Cinta dan Takwa
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Soleh Amini Yahman (Dok. pribadi).

Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan wajah yang khas. Ia bukan hanya bulan ibadah individual seperti puasa, tarawih, dan tilawah, tetapi juga ruang sosial yang hidup. Dalam beberapa dekade terakhir, lahir satu fenomena yang kini terasa begitu lumrah: buka bersama, atau yang populer disebut bukber. Ia bukan ritual yang secara formal dicontohkan sebagai agenda kolektif terjadwal seperti hari ini, melainkan praktik sosial yang tumbuh dari dinamika masyarakat Muslim modern. Namun, karena terus berulang, diterima luas, dan memiliki pola tertentu, bukber perlahan menjelma menjadi tradisi baru.

Dalam kajian sejarah sosial, sebuah praktik dapat menjadi tradisi ketika ia mengalami pengulangan dan dilekatkan pada makna simbolik tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Eric Hobsbawm (1983) tentang lahirnya tradisi-tradisi baru dalam masyarakat modern. Bukber memiliki ciri itu seperti undangan yang terjadwal, tempat yang dipilih, menu yang disiapkan, dokumentasi kebersamaan, dan narasi “menyambung silaturahmi”. Ia menjadi ritus sosial Ramadan masyarakat urban menyatukan keluarga besar, sahabat lama, kolega kerja, hingga komunitas lintas profesi.

Pada sisi positifnya, bukber adalah oase relasi di tengah kehidupan yang serba cepat dan individualistik. Ia menghadirkan kembali rasa memiliki, mempertemukan yang lama tak bersua, mencairkan jarak emosional yang mungkin membeku oleh rutinitas. Dalam konteks psikologis, kebersamaan semacam ini memperkuat dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif. Dalam konteks keislaman, ia berpotensi menjadi ruang memperkuat ukhuwah dan memperluas empati.  Namun Ramadan bukan sekadar momentum sosial. Ramadhan adalah bulan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Di sinilah pertanyaan religius muncul,  di mana letak ibadah dalam bukber?

Secara normatif, berbuka puasa adalah momen ibadah yang agung. Nabi Muhammad ﷺ menganjurkan menyegerakan berbuka dan menjanjikan pahala bagi orang yang memberi makan kepada yang berpuasa. Maka, ketika bukber diorientasikan sebagai sarana berbagi rezeki, menghidupkan doa berbuka, menjaga adab makan, dan mempererat silaturahmi karena Allah, ia bukan sekadar makan bersama. Bukber menjadi ibadah kolektif. Nilai ibadahnya tidak terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada niat dan kesadaran spiritual yang menyertainya.

Dalam perspektif religiositas yang komprehensif, sebagaimana dirumuskan oleh Charles Glock &Rodney Stark (2023), agama memiliki dimensi keyakinan, praktik ritual, pengalaman batin, pengetahuan, dan konsekuensi moral. Bukber dapat menyentuh semuanya, yaitu keyakinan yang melandasi niat, doa berbuka sebagai praktik ritual, rasa syukur dan haru sebagai pengalaman religius, percakapan bernilai sebagai penguatan pengetahuan, serta empati sosial sebagai konsekuensi moral. Tetapi ia juga dapat kehilangan seluruh dimensi itu jika direduksi menjadi ajang konsumsi dan pencitraan.

Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Solo saat berbuka puasa bersama di rumah Anas Syahirul Alim, Sabtu (28/2/2026). [Istimewa].

Di sinilah sisi ambivalennya. Bukber kadang bergeser menjadi arena simbolisme sosial: pemilihan tempat yang prestisius, unggahan media sosial, bahkan kompetisi gaya hidup. Ramadan berisiko berubah menjadi musim konsumsi. Tidak sedikit pula yang merasa terbebani oleh banyaknya undangan atau tuntutan sosial untuk hadir. Jika demikian, bukber justru menggerus kekhusyukan dan mengalihkan fokus dari esensi puasa.

Karena itu, bukber sejatinya adalah cermin kedewasaan spiritual umat. Ia bisa menjadi jembatan silaturahmi yang menguatkan takwa, atau sekadar tradisi musiman tanpa kedalaman makna. Segalanya kembali pada orientasi hati. Ketika niat diluruskan, kesederhanaan dijaga, dan kepedulian sosial dihadirkan misalnya dengan melibatkan kaum dhuafa atau menyisihkan anggaran untuk berbagi maka bukber menjadi bagian dari ibadah Ramadan itu sendiri.

Ramadan mengajarkan kita menahan diri, bukan memamerkan diri; memperdalam makna, bukan memperluas seremoni. Maka bukber yang bernilai adalah bukber yang menghadirkan syukur, memperkuat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen moral. Di situlah tradisi baru menemukan ruhnya tidak sekadar ramai secara sosial, tetapi juga bercahaya secara spiritual. Selamat menjalankan ibadah puasa ramadahan 1447. Taqoballahumina waminkum.

Penulis adalah psikolog, dosen Fakultas Psikologi UMS, dan pengurus Majelis Pustaka Informasi PDM Surakarta.

Berita Terbaru

Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak ...

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...

Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer

Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...

Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender

Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...

Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H

Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...