Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan wajah yang khas. Ia bukan hanya bulan ibadah individual seperti puasa, tarawih, dan tilawah, tetapi juga ruang sosial yang hidup. Dalam beberapa dekade terakhir, lahir satu fenomena yang kini terasa begitu lumrah: buka bersama, atau yang populer disebut bukber. Ia bukan ritual yang secara formal dicontohkan sebagai agenda kolektif terjadwal seperti hari ini, melainkan praktik sosial yang tumbuh dari dinamika masyarakat Muslim modern. Namun, karena terus berulang, diterima luas, dan memiliki pola tertentu, bukber perlahan menjelma menjadi tradisi baru.
Dalam kajian sejarah sosial, sebuah praktik dapat menjadi tradisi ketika ia mengalami pengulangan dan dilekatkan pada makna simbolik tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Eric Hobsbawm (1983) tentang lahirnya tradisi-tradisi baru dalam masyarakat modern. Bukber memiliki ciri itu seperti undangan yang terjadwal, tempat yang dipilih, menu yang disiapkan, dokumentasi kebersamaan, dan narasi “menyambung silaturahmi”. Ia menjadi ritus sosial Ramadan masyarakat urban menyatukan keluarga besar, sahabat lama, kolega kerja, hingga komunitas lintas profesi.
Pada sisi positifnya, bukber adalah oase relasi di tengah kehidupan yang serba cepat dan individualistik. Ia menghadirkan kembali rasa memiliki, mempertemukan yang lama tak bersua, mencairkan jarak emosional yang mungkin membeku oleh rutinitas. Dalam konteks psikologis, kebersamaan semacam ini memperkuat dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif. Dalam konteks keislaman, ia berpotensi menjadi ruang memperkuat ukhuwah dan memperluas empati. Namun Ramadan bukan sekadar momentum sosial. Ramadhan adalah bulan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Di sinilah pertanyaan religius muncul, di mana letak ibadah dalam bukber?
Secara normatif, berbuka puasa adalah momen ibadah yang agung. Nabi Muhammad ﷺ menganjurkan menyegerakan berbuka dan menjanjikan pahala bagi orang yang memberi makan kepada yang berpuasa. Maka, ketika bukber diorientasikan sebagai sarana berbagi rezeki, menghidupkan doa berbuka, menjaga adab makan, dan mempererat silaturahmi karena Allah, ia bukan sekadar makan bersama. Bukber menjadi ibadah kolektif. Nilai ibadahnya tidak terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada niat dan kesadaran spiritual yang menyertainya.
Dalam perspektif religiositas yang komprehensif, sebagaimana dirumuskan oleh Charles Glock &Rodney Stark (2023), agama memiliki dimensi keyakinan, praktik ritual, pengalaman batin, pengetahuan, dan konsekuensi moral. Bukber dapat menyentuh semuanya, yaitu keyakinan yang melandasi niat, doa berbuka sebagai praktik ritual, rasa syukur dan haru sebagai pengalaman religius, percakapan bernilai sebagai penguatan pengetahuan, serta empati sosial sebagai konsekuensi moral. Tetapi ia juga dapat kehilangan seluruh dimensi itu jika direduksi menjadi ajang konsumsi dan pencitraan.

Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Solo saat berbuka puasa bersama di rumah Anas Syahirul Alim, Sabtu (28/2/2026). [Istimewa].
Karena itu, bukber sejatinya adalah cermin kedewasaan spiritual umat. Ia bisa menjadi jembatan silaturahmi yang menguatkan takwa, atau sekadar tradisi musiman tanpa kedalaman makna. Segalanya kembali pada orientasi hati. Ketika niat diluruskan, kesederhanaan dijaga, dan kepedulian sosial dihadirkan misalnya dengan melibatkan kaum dhuafa atau menyisihkan anggaran untuk berbagi maka bukber menjadi bagian dari ibadah Ramadan itu sendiri.
Ramadan mengajarkan kita menahan diri, bukan memamerkan diri; memperdalam makna, bukan memperluas seremoni. Maka bukber yang bernilai adalah bukber yang menghadirkan syukur, memperkuat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen moral. Di situlah tradisi baru menemukan ruhnya tidak sekadar ramai secara sosial, tetapi juga bercahaya secara spiritual. Selamat menjalankan ibadah puasa ramadahan 1447. Taqoballahumina waminkum.
Penulis adalah psikolog, dosen Fakultas Psikologi UMS, dan pengurus Majelis Pustaka Informasi PDM Surakarta.
Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H
Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...
Tablig Akbar UMS Soroti Peran Masjid dalam Membangun Kehidupan Warga
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3/2026) sebagai rangkaian dari Gema Kampus Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut menghadirkan...
Masjid Baiturrahman Nusukan Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Baiturrahman, Cangakan, Nusukan Banjarsari, menggelar Pengajian Nuzulul Qur’an pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan Nuzulul Quran...
Belajar Metode Pendidikan Islam Ala Luqman Al-Hakim dalam Surat Luqman Ayat 13
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Dalam sejarah Islam terdapat sosok pendidik karakter inspiratif. Luqman Al-Hakim namanya, ceritanya dijelaskan secara komprehensif dalam Al-Qur’an pada surat Luqman. Dosen Ilmu Qur’an dan...
Puasa : Regulasi Diri dan Etika Digital
Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga memiliki makna psikologis dan sosial yang mendalam. Di sisi lain,...
Meneropong Sejarah Perubahan Kiblat dan Konsep Umat Wasathan
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Sejarah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah. Dosen Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah...
Ramadan Berdaya, Kuliah Subuh Desa Demangan Bangkitkan Spirit Kepedulian
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana Subuh di Masjid Desa Demangan Sambi Boyolali terasa lebih hidup dan khidmat. Ratusan jamaah memadati saf untuk mengikuti Kuliah Subuh bertema “Ramadhan Berdaya,...
Tarhib Ramadan Masjid Al-Jannah Tegalgiri, Wayang Golek Pitutur Kupas Keutamaan Bulan Suci
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masjid Al-Jannah Dukuh Kajar, Tegalgiri, Nogosari menggelar kegiatan Tarhib Ramadan yang dikemas melalui pagelaran Wayang Golek Pitutur, Sabtu (14/2/2026) malam. Kegiatan dalam rangka menyambut...
Menyambut Ramadan 1447 H: Saatnya Kembali Menata Hati
Setiap kali bulan Ramadan mendekat, ada getaran batin yang berbeda dalam diri seorang Muslim. Seolah-olah jiwa ini dipanggil untuk pulang kepada kesadaran terdalam sebagai hamba...
Mencerahkan, Kajian AIK di PCM Grogol Kupas Thaharah dari Dimensi Akidah
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo menyelenggarakan Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang bertempat di MCC LKSA Muhammadiyah Cabang Grogol, Sukoharjo, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini...
Pengajian Sabtu Legi, PRA Malangjiwan Angkat Tema Isra Mi’raj
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Malangjiwan menyelenggarakan pengajian rutin Sabtu Legi di Masjid Al Huda Trowangsan, Malangjiwan, Sabtu (24/1/2026). Acara dengan penceramah Ustaz Hananto ini...
Kajian Tafsir UMS Bahas Sifat Bani Israil dalam Al-Qur’an
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menyadari pentingnya memahami kandungan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk meningkatkan kadar spiritualitas hamba. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hadir dengan menggelar Kajian Tafsir, mengundang pakar dalam...






