Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Umum

Berkreasi Memandirikan Cabang dan Ranting Muhammadiyah

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Senin, 16 Februari 2026 10:53 WIB
Berkreasi Memandirikan Cabang dan Ranting Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Suasana Focus Group Discussion (FGD) yang diselengarakan majalah Langkah Baru membahas kemandirian Cabang dan Ranting Muhammadiyah Kota Solo. [MPI Kota Solo].

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pajang Utara, Laweyan, Kota Solo, merintis usaha kreatif di bidang ekonomi. Syifa Bakery namanya. Usaha ini melayani pesanan roti untuk kebutuhan masyarakat, khususnya untuk kegiatan di Persyarikatan Muhammadiyah. PRM Pajang Utara mendirikan Syifa Bakery untuk mencari dana guna mendukung gerakan dakwah Persyarikatan, khususnya di Pajang Utara.

Ichsan Kristanto, pengurus PRM Pajang Utara, mengatakan pihaknya bisa melayani pesanan roti dari berbagai jenis, produk snack, termasuk makanan yang digoreng (gorengan). “Selama ini konsep produksi dan marketing-nya belum matang. Nanti akan terus kami kembangkan,” jelasnya pada saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) tentang kemandirian ekonomi Cabang dan Ranting, Sabtu (9/8/2025) silam, di Balai Muhammadiyah, Jl. Teuku Umar No. 5, Keprabon.  Acara ini digagas oleh redaksi majalah Langkah Baru, mengundang perwakilan PRM dan Pimpinan Muhammadiyah Cabang (PCM) di Kota Solo.

FGD tahap kedua ini sebagai kelanjutan FGD sebelumnya. Pada FGD tahap pertama, tim Langkah Baru menemukan banyak Cabang dan Ranting yang mengalami kesulitan pendanaan untuk menopang dakwah Persyarikatan. Selama ini, baik PRM maupun PCM, mengandalkan pemasukan dana dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang dikelolanya maupun donasi dari warga Persyarikatan. Namun, tidak semua PRM dan PCM mempunyai AUM yang memadai untuk menopang gerak organisasi. Gerakan Muhammadiyah di akar rumput akhirnya banyak yang tidak berjalan dengan baik. Kondisi inilah yang menginisiasi Langkah Baru dengan mendorong PRM-PCM bisa membangun usaha ekonomi kreatif untuk mendukung gerakan dakwah mereka.

Ichsan Kristanto melanjutkan bahwa Syifa Bakery baru dalam tahap rintisan, sehingga memerlukan pembenahan baik dari sisi produk maupun manajemen, khususnya dari sisi pemasaran produk. Modal awal Syifa Bakery, termasuk peralatan, berasal dari Prof. Sofyan Anis, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), saat itu. Dalam sebulan, pihaknya baru bisa mengumpulkan omzet Rp2-3 juta. Masih kecil. Namun, tambahnya, omzet ini diyakini akan terus meningkat seiring berbagai pembenahan yang akan dilakukan. Potensi untuk menggarap pasar roti dan snack ini cukup luas. Apalagi kebutuhan akan makanan ringan di Persyarikatan tergolong tinggi, misalnya, untuk suguhan pengajian maupun kegiatan lainnya di Muhammadiyah, ‘Aisyiyah maupun di semua amal usaha dan organisasi otonom (ortom). “Oleh karena itu, kami mohon dukungannya. Seluruh jenis pesanan roti,  kami siap melayani,” pintanya.

Pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo, Azhari (pegang mik), saat menyampaikan pendapatnya pada Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan majalah Langkah Baru, belum lama ini. [Dok. MPI Solo].

Dari hasil FGD tahap kedua tersebut, belum banyak Cabang dan Ranting yang menekuni bidang usaha ekonomi. Sebagian kecil peserta yang telah memulai memanfaatkan potensinya untuk kemandirian Cabang dan Ranting. Selain PRM Pajang Utara, Persyarikatan di bawah PCM Jebres juga mengelola usaha ekonomi meski dalam skala mikro. Bendahara PCM Jebres, Sri Mulyono, mengatakan untuk kegiatan di tingkat PCM, dari sisi pendanaan, sebenarnya dianggap cukup.  PCM Jebres mengelola beberapa amal usaha, seperti 17 TK ‘Aisyiyah, 4 SD Muhammadiyah, 2 SMP/MTs Muhammadiyah, dan 1 SMA/MA Muhammadiyah. Bahkan, Universitas ‘Aisyiyah Surakarta (Aiska), tempatnya juga di Jebres. Di PRM Kampung Sewu, Jebres, punya lima kamar untuk disewakan sebagai indekos. Biaya sewa per kamar Rp500.000/bulan. Sehingga ada pemasukan Rp2.500.000 setiap bulan. Selain itu, di PCM Jebres juga menyewakan satu ruangan untuk jasa pemotongan rambut. Biaya sewanya Rp5 juta/tahun. Di Madrasah Aliyah (MA) Muhammadiyah mengelola hidroponik yang dikelola oleh pihak sekolah. Namun, Sri Mulyono belum mengetahui persis berapa pendapatan dari hidroponik ini. Meski pendapatan dari usaha ekonomi ini belum banyak, paling tidak hal ini bisa membantu Cabang dan Ranting di PCM Jebres untuk menggerakkan organisasi. “Pendanaan di PCM Jebres yang paling banyak masih dari sekolah,” ujarnya.

Usaha kreatif lain justru datang dari Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kota Bengawan (Kobeng). Melalui salah satu pengurusnya, Halim Alafum, menjelaskan pengurus Pemuda Muhammadiyah seperti terseok-seok mencari dana untuk menjalankan program organisasi. Selama ini, katanya, PCM maupun PRM bisa memperoleh dana operasional dari AUM. Tidak dengan Pemuda Muhammadiyah karena ortom ini tidak mengelola AUM. Pada posisi seperti ini, PCPM Kota Bengawan harus menempuh cara-cara kreatif untuk mencari dana. Selain meminta kepada para donatur, pihaknya juga mencari cara lain dengan membangun usaha. Misalnya, PCPM Kota Bengawan membuat buletin yang dijual ke masjid-masjid. Setiap masjid berinfak Rp50.000/bulan untuk mendapatkan buletin sebanyak 100 eksemplar. “Kami baru bisa menyebarkan hingga 10 masjid,” jelasnya. Dana dari penjualan buletin ini diakui belum banyak. Omzetnya baru Rp500.000/bulan dengan keuntungan Rp250.000/bulan.

Pihaknya juga tengah mengembangkan parfum untuk pakaian. Mereknya Fastabik. Parfum dijual ke usaha-usaha laundry di Kota Bengawan. Usaha ini baru pada tahap rintisan. Ke depan, penjualan parfum laundry bisa diperbesar ke kawasan lain di Kota Solo. Halim Afalum kebetulan bekerja di usaha laundry, sehingga mengetahui soal kebutuhan terhadap parfum ini.  Ke depan, pihaknya juga berambisi untuk membuka jasa cuci sepatu. Pada forum tersebut, dia tengah mencari tempat untuk membuka usaha baru tersebut. “Kami membutuhkan tempat untuk usaha. Kalau ada ruang atau bangunan kosong yang bisa dipakai, kami bisa menyewanya.”

Pasar Ramadan

Pada setiap Ramadan, PCPM Kota Bengawan, menyelenggarakan Pasar Ramadan di Masjid Nurul Hidayah. Pasar Ramadan setiap sore hari ini setiap bulan Puasa ini menjual aneka kebutuhan masyarakat. Masyarakat yang mau berjualan di pasar ini tidak perlu membayar. Candra Cahyadi, Ketua PCPM Kota Bengawan, menambahkan pihaknya ingin membantu para penjual dengan menyediakan tempat, membantunya berpromosi melalui berbagai media, termasuk media sosial. Pihak panitia juga membantu agar para anggota jemaah bisa datang dan berbelanja di pasar ini. Dengan demikian, para pedagang bisa mendapatkan keuntungan.

Lantas bagaimana pihak panitia bisa memperoleh dana dari program ini?

Pihak penyelenggara Pasar Ramadan mendapatkan dana dari infak para pedagang secara suka rela. Panitia tidak menetapkan batas minimal atau maksimal infak. Setiap sore, pihaknya bisa memperoleh infak dari pedagang Rp250.000. Panitia juga tidak mematok biaya untuk parkir. Kalau tidak ada kendala hujan, panitia bisa mengantongi Rp150.000/hari dari parkir. Pasar Ramadan ini selalu ramai. Pada lima hari terakhir menjelang Idulftiri saja pedagang maupun pengunjung mulai berkurang karena mereka mulai mudik ke kampung halaman. Jadi, dalam sehari, panitia Pasar Ramadan bisa meraup dana Rp400.000/hari selama Ramadan. Selama satu bulan, panitia bisa mengumpulkan dana Rp8-10 juta. Uang itu dibagi dua, untuk PCPM Kota Bengawan dan untuk Takmir Masjid Nurul Hidayah. Pendapatan dari Pasar Ramadan ini sangat signifikan bagi Pemuda Muhammadiyah Kota Bengawan. “Masjid lain yang mau mengadakan kegiatan bisa mengundang kami. Kami akan memfasilitasi untuk meramaikan masjid,” tawarnya. PCPM Kobeng bisa membantu membuatkan acaranya, konsep acara, menyediakan doorprize yang disesuaikan dengan kebutuhan jemaah masjid. Yang penting ada pihak yang mendanai.

Pihaknya memang semangat untuk melaksanakan kegiatan yang bisa mendatangkan dana. Apalagi anak muda di Muhammadiyah ini sangat senang kalau mendapatkan tantangan. Di Kota Bengawan, Muhammadiyah mengelola 14-16 masjid. Kalau masjid-masjid tersebut bisa dikelola dengan baik, bisa menjadi lahan untuk dakwah kultural, seperti kegiatan sosial, bagi sayur gratis, bagi-bagi parfum, dsb. “Dengan kegiatan tersebut, bagaimana kita bisa mendapatkan simpati dari masyarakat,” jelasnya. Pihaknya membuat kegiatan lain seperti membuat buku dengan mengumpulkan para dai muda Muhammadiyah untuk menulis. Judul bukunya Katahsangu. Biaya cetak buku ini dimintakan ke AUM yang mau membantu.

Dari berbagai kegiatan kreatif untuk menggali dana itu, saat Musyawarah Cabang PCPM Kota Bengawan, dua tahun lalu, bisa melaporkan pengumpulan dana hingga Rp150 juta. Uang tersebut bisa dipakai untuk menjalankan organisasi dan menggerakkan dakwah Persyarikatan. “Karena dakwah ya harus serius. Sebenarnya banyak hal yang bisa digarap dan pasti akan ada jalan keluarnya,” tutupnya.

Dalam FGD tersebut juga muncul ide tentang peluang bisnis. Seperti disampaikan oleh Ngudi Riyo, dari PRM Jebres Timur. Dia mengusulkan Muhammadiyah bisa membuat lembaga pelatihan untuk mendidik bagi pemagang yang akan ke luar negeri, misalnya, ke Jepang. Apalagi di Muhammadiyah banyak anak muda yang bisa mengambil program pemagangan ini. “Kalau usaha ini membawa brand BUMM [Badan Usaha Milik Muhammadiyah] kepercayaan masyarakat akan meningkat,” paparnya. Bahkan, di PRM Jebres Timur ada wacana untuk mendirikan usaha jual beli barang bekas mahasiswa yang indekos di sekitar Jebres atau tempat lain. Mahasiswa yang sudah lulus dan tidak membawa pulang perabotan indekosnya, bisa dijual atau disedekahkan ke PRM Jebres Timur, misalnya, untuk kemudian PRM bisa menjual ke pihak lain. Dia juga punya ide agar masjid-masjid Muhammadiyah yang punya posisi strategis, bisa menyewakan booth atau ruang khusus untuk UMKM atau usaha lainnya agar bisa berjualan. Biaya sewa ini masuk ke kas masjid. “Kalau pemilik usaha menyewa booth selama satu tahan, kita sudah bisa balik modal,” usulnya.

Yang pasti, praktik baik sudah dijalankan sebagian Cabang dan Ranting untuk memulai kemandirian ekonomi untuk kepentingan dakwah. Sebagaian lain masih wacana. Kapan Muhammadiyah serius menggarap potensi ekonomi Persyarikatan ini?

Wallahualam

Sumber: Majalah Langkah Baru edisi 23/Januari-April 2026

Berita Terbaru

Krisis Iklim Bukan Isu Lebay, Wakil Ketua MPR RI Desak Percepatan Transisi Energi

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Eddy Soeparno, menegaskan krisis iklim merupakan realitas global yang harus segera ditangani. Penegasan...

Buka Manasik Haji 2027, KBIHU Zamzam Colomadu Perkenalkan Website dan Paket Bimbingan

KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — KBIHU Zamzam Cabang Colomadu meluncurkan website resmi (kbihuzamzam.com) bersamaan dengan pembukaan Bimbingan Manasik Haji, Ahad (26/4/2026), di Ruang Seminar lantai 5 Gedung...

Aset Dana Pensiun Nasional Tembus Rp1.700 T, ADPI Kumpul di UMS Bahas Strategi Investasi

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menjadi tuan rumah kegiatan nasional dengan menyelenggarakan Seminar dan Rapat Anggota I 2026 Perkumpulan Asosiasi Dana Pensiun...

Hari Bumi, Akademisi UMS: Kenaikan Harga Plastik Bukan Sekadar Isu Lingkungan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Hari Bumi Sedunia tahun ini menyoroti isu yang kian kompleks seperti kenaikan harga plastik yang dampaknya tidak berhenti pada lingkungan, tetapi merambah...

Ustaz Dwi Jatmiko: Dua Kunci Bahagia Dunia dan Akhirat…

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Anggota Korps Mubalig Muhammadiyah Kota Solo, Ustaz Dwi Jatmiko hadir sebagai pembicara pada acara Pengajian Halal bihalal TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal, Joyosuran, Jl. Cikarang...

Menyelami Tradisi Berbagi THR saat Lebaran

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana Hari Raya Idulfitri selalu identik dengan kebahagiaan, kebersamaan, dan tradisi berbagi. Salah satu yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak, adalah pembagian Tunjangan Hari...

Lapangan Ngasem Dipadati Ratusan Umat Islam saat Salat Idulfitri

NGASEM, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Ngasem, Colomadu, Karanganyar serta DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Baiturrahman mengadakan salat Idulfitri 1447 H yang dihadiri sekitar 750 umat Islam...

Salat Idulfitri di Gedung Juang Desa Degungan, Penuh Khidmat dan Pesan Ramadan

BANYUDONO, MUHAMMADIYAH.COM-Ribuan umat Islam memadati Gedung Juang Desa Degungan, Banyudono, Boyolali dalam pelaksanaan salat Idulfitri 1447 H yang berlangsung dengan penuh khidmat dan kekhusyukan, Jumat...

Ribuan Umat Islam Padati Lapangan Kottabarat, Prof. Andri Nirwana Ajak Istikamah Usai Ramadan

KOTTABARAT, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ribuan umat Islam memadati Lapangan Kottabarat untuk melaksanakan salat Idulfitri 1447 H, Jumat (20/3/2026) pagi. Bertindak sebagai imam dan khatib, Prof. Andri Nirwana, Guru...

Regulasi Medsos Anak Disorot, Literasi Digital Jadi Kunci

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menerbitkan Kebijakan yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun dinilai sebagai langkah preventif dalam...

Zakat Fitrah dan Dampak Sosialnya pada Masyarakat

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Zakat fitrah menjadi salah satu ibadah wajib bagi umat Islam menjelang Hari Raya Idulfitri. Setiap muslim yang mampu diwajibkan menunaikan zakat ini sebagai bentuk...

Tak Hanya Ibadah, Dosen UMS Dorong Masjid Jadi Pusat Dakwah dan Pendidikan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai pusat layanan umat yang mengintegrasikan dakwah, kesehatan komunitas, dan pendidikan Islam....