Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Alirkan Dana Rp200 T ke Perbankan, Harapan atau Masalah Baru?

Leovera Nurlatifa Adilla, Editor: Alan Aliarcham
Selasa, 16 September 2025 14:55 WIB
Alirkan Dana Rp200 T ke Perbankan, Harapan atau Masalah Baru?

Ekonomi Indonesia saat ini sedang dalam proses pemulihan yang tidak mudah. Setelah berbagai tekanan global, pelemahan industri, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), kita sadar bahwa membangun kembali stabilitas bukan perkara sederhana.

Di satu sisi, kebutuhan akan lapangan pekerja semakin besar karena jumlah fresh graduate setiap tahun terus bertambah. Di sisi lain, banyak pekerja lama yang sempat dipecat akibat efisiensi, padahal mereka memiliki pengalaman dan kompetensi tinggi yang tidak mudah digantikan begitu saja.

Situasi ini menciptakan dilema tersendiri mengenai cara untuk menyeimbangkan antara kesempatan bagi generasi muda dengan keberlangsungan hidup mereka yang sudah berpengalaman namun dianggap tidak lagi produktif.

Dalam konteks inilah, pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengalirkan dana senilai Rp200 triliun ke bank-bank nasional. Kebijakan ini memunculkan perdebatan. Ada yang melihatnya sebagai beban tambahan karena bersumber dari uang publik hasil pajak, ada pula yang menilainya sebagai strategi cerdas untuk menjaga agar roda ekonomi tidak berhenti.

Tentu saja, dana sebesar ini tidak serta-merta menjadi solusi instan. Namun, jika ditelaah lebih dalam, suntikan likuiditas ini ibarat air yang dialirkan ke sawah kering yang secara tidak langsung mampu membuat panen berlimpah, tetapi memberi kehidupan bagi benih-benih yang sebelumnya hampir mati.

Sektor Riil dan Pengawasan Alokasi Dana

Salah satu poin penting dari kebijakan ini adalah penegasan bahwa dana tidak boleh diarahkan ke Surat Berharga Negara (SBN). Dengan kata lain, bank tidak hanya menyalurkan dana ke instrumen finansial pasif, melainkan harus memastikan aliran tersebut benar-benar sampai ke sektor riil seperti industri besar, manufaktur, hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hal ini sangat krusial, sebab UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Jika mereka mendapat akses pembiayaan dengan bunga rendah, peluang untuk bertahan dan berkembang dapat meningkatkan.

Namun, tentu tidak cukup hanya dengan menyalurkan dana. Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa setiap rupiah benar-benar digunakan untuk kepentingan produktif, bukan untuk konsumsi pribadi yang tidak memberikan nilai tambah ekonomi.

Transparansi dan pengawasan menjadi kata kunci. Bank yang dipercaya menyalurkan dana ini juga memikul tanggung jawab moral dan profesional yaitu mereka harus selektif dalam menentukan siapa yang layak menerima kredit, dan mengawasi  komitmen penggunaan dana agar sesuai dengan tujuan awal.

Dampak dan Harapan bagi Rakyat

Kebijakan ini pada akhirnya bersifat plus minus. Dari sisi positif, pemerintah berpotensi mendapat keuntungan ganda. Pertama, bunga pinjaman yang dibayarkan nasabah akan mengalir kembali sehingga memperkuat keuangan negara.

Kedua, dengan berjalannya kegiatan usaha, penerimaan pajak juga berpotensi meningkat. Dari sisi masyarakat, pinjaman dengan bunga lebih rendah dapat membuka akses modal yang sebelumnya sulit dijangkau, terutama bagi pelaku UMKM. Jika mereka mampu bertumbuh, maka lapangan kerja akan terbuka, daya beli masyarakat meningkat, dan siklus ekonomi pun kembali bergerak.

Namun, dari sisi negatif, risiko tetap ada. Pemerintah memang tidak bisa memberi dana secara cuma-cuma kepada masyarakat karena sulit memantau penggunaan di level individu. Jika salah sasaran, dana Rp200 triliun ini bisa habis tanpa menghasilkan pertumbuhan signifikan.

Lebih jauh lagi, apabila dana yang diberikan justru digunakan untuk kepentingan yang tidak produktif atau bahkan bocor ke luar negeri, maka manfaatnya tidak akan kembali ke rakyat Indonesia. Meski demikian, dalam kondisi penuh ketidakpastian ini, kebijakan mengalirkan dana ke perbankan jauh lebih efektif daripada tidak melakukan apa-apa.

Membangun kembali ekonomi tidak hanya memerlukan keberanian finansial, tetapi juga kepercayaan. Investor, pengusaha, hingga pekerja kecil sekalipun butuh sinyal bahwa negara hadir dan mendukung. Rp200 triliun bukan sekadar angka, melainkan simbol dari upaya kolektif untuk menjaga agar mesin ekonomi tidak padam.

Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana bank menyalurkan dana ke sektor yang tepat, serta bagaimana pemerintah mendampingi dengan kebijakan pendukung lain. Misalnya, penurunan pajak sementara bisa menjadi opsi agar pelaku usaha lebih fokus melunasi kewajiban pinjaman dan mengembangkan bisnis.

Dengan begitu, mereka tidak menerima beban ganda seperti di satu sisi membayar bunga, di sisi lain tetap menanggung pajak tinggi. Di balik semua itu, yang terpenting adalah bagaimana kebijakan ini dapat mengembalikan kesempatan kerja bagi rakyat. Mereka yang sempat kehilangan pekerjaan bisa kembali diserap industri. Fresh graduate yang masih produktif mendapat ruang belajar dan berkembang.

Pada akhirnya, ekonomi yang sehat bukan sekadar tentang angka pertumbuhan, melainkan tentang manusia di dalamnya yakni pekerja yang kembali tersenyum, keluarga yang bisa kembali menata hidup, dan generasi muda yang punya harapan akan masa depan lebih baik.

Rp200 triliun ini memang tidak sempurna, namun ia adalah harapan. Harapan bahwa Indonesia bisa bangkit, harapan bahwa dunia usaha tidak berjalan sendirian, dan harapan bahwa ekonomi kembali berpihak pada rakyat banyak. Karena sejatinya, pembangunan ekonomi bukan tentang siapa yang paling untung, melainkan tentang siapa yang ikut merasakan manfaat dari pertumbuhan itu sendiri.

Penulis adalah aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...