Persimpangan jalan bukan hal asing bagi Muhammadiyah. Setiap saat, organisasi ini harus memutuskan tempat di mana ia berdiri. Tidak untuk menyenangkan semua orang, namun, untuk berpihak pada kebenaran.
Muhammadiyah terus bergulat pada persimpangan jalan. Misalnya, ketika khotbah-khotbah kesederhanaan A.R. Fachrudin tak pernah lupa dirapalkan oleh elite-elite di pusat kota, mobil-mobil mewah menjadi bagian yang lazim, dipertontonkan dengan begitu terang dan banal. Pada saat yang sama, akar rumput menjerit, tak mampu lagi menggaji penggerak denyut nadi organisasi di sebuah Bustanul Athfal.
Mantra-mantra Ahmad Dahlan masih menggema. Namun, kita harus jujur mengukur diri. Tuluskah perjuangan ini? Atau, lebih jauh, layakkah kerja-kerja ini disebut dengan “perjuangan”? Jangan-jangan, loyalitas organisasi dibangun atas dasar keinginan untuk mendapatkan cipratan kapital, agar dapat mencicipi kue yang dibagi tiap lima tahun sekali.
Masih adakah roh Muhammadiyah itu? Ketika anak-anak muda di kota besar saling berebut rente. Menjadi mesin pencetak proposal tanpa pertanggungjawaban di hadapan manusia, apalagi di hadapan Sang Pencipta. Ketika sekelompok orang berkumpul dengan harapan mencari galah, untuk melentingkan diri sendiri, alih-alih umat, apalagi rakyat kecil.
Maka kita harus pandai mengukur diri. Sejauh mana niat untuk mengabdi tetap tegak tak goyah. Sejauh mana ketulusan berorganisasi tak tersilaukan oleh angka-angka di atas kertas. Sejauh mana kerja-kerja peradaban itu tidak tereduksi menjadi sebatas mencairkan program pemerintah, menghamba pada kekuasaan alih-alih kebenaran.
Banyak hal harus dibenahi dari organisasi ini. Namun, yang menjadi dasar adalah kejujuran, kejernihan berpikir, dan ketulusan dalam berjuang. Bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang memiliki roh, ideologi. Didirikan atas dasar sebuah nilai agung yang diperjuangkan dengan begitu serius oleh para pendahulunya. Dengan cita-cita mulia, berbakti pada ibu pertiwi, pada kemanusiaan universal.
Organisasi ini tidak berdiri di atas nilai-nilai transaksi. Tidak dibangun di atas kepentingan primordial. Tidak berasas pada usaha-usaha memajukan diri sendiri, apalagi demi mengamankan periuk nasi. Gejolak muda untuk menantang batas-batas diri harus dibarengi dengan kesadaran bahwa organisasi ini terlalu mulia jika hanya menjadi inang bagi individu-individu tanpa integritas yang kuat. Hal itu justru akan menjadi noda, merusak kesucian nilai, dan mencederai cita-cita Muhammadiyah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Jangan Hanya Pemanis
Maka jangan sampai kisah keteladanan para pendahulu itu hanya menjadi pemanis setiap sambutan. Menjadi penina bobo bagi guru-guru yang gajinya minim. Ia harus mewujud dalam laku hidup. Menjadi teladan serta nilai-nilai ideal. Setiap individu hendaknya berusaha semaksimal mungkin mencapai tahap yang tinggi.
Kita boleh bertanya, apakah gedung-gedung tinggi nan megah itu masih menjiwai semangat bakti pada ibu pertiwi, atau justru menjadi gula-gula yang mengundang kehadiran semut untuk berkerumun, menciptakan berbagai konflik karena berebut kuasa. Apakah ia berubah menjadi mesin pencetak uang yang tidak menghasilkan apapun selain inflasi? Apakah ia seperti kuburan China, megah namun tak bernyawa?
Pada akhirnya, yang membuat Muhammadiyah hidup bukan gedung-gedung besar maupun kekayaan materi, namun nilai-nilai: kejujuran, keberanian, dan ketulusan. Selama roh itu masih ada, selama cita-cita itu terus dihidupi, Muhammadiyah tidak akan kehilangan arah, meski berkali-kali berada di persimpangan jalan.
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” ujar Kiai Ahmad Dahlan.
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…
Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...
Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah
Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...
Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara
Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...
Inovasi atau Mati
Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...
Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam
SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...






