
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pembahasan mengenai neraka kini cenderung terabaikan seiring perkembangan zaman. Banyak anak sekarang tidak mengetahui bagaimana gambaran penghuni neraka. Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in, mengupas bagaimana gambaran neraka serta penghuni di dalamnya menurut QS. Al-Mudatsir.
Ia memaparkan kondisi neraka ketika kiamat tiba. Neraka saqar digambarkan sebagai neraka yang penuh kesakitan dan kesengsaraan tiada henti. Neraka ini diperuntukkan bagi orang yang menghina ajaran Islam. Penghuni neraka bagaikan orang paling bangkrut karena akan merasakan siksaan neraka selamanya. Orang yang masuk ke dalamnya akan dibakar dengan api yang sangat panas yang akan membakar kulitnya. “Ketika api itu membakar kulit hingga menghitam, melepuh, dan mengelupas maka kulit itu akan diganti Allah dengan kulit baru. Begitupun seterusnya. Proses pergantian kulitnya sakit sekali,” jelas Ainur, Kamis (11/9/2025). Materi tersebut disampaikan dalam Kajian Tafsir UMS melalui Zoom Meeting.
70 Ribu Malaikat
Selain itu ia juga menjelaskan bagaimana dahsyatnya neraka jahanam. Ketika kiamat tiba, neraka jahanam dihadirkan dengan 70 ribu tali kekang, setiap kekang terdapat 70 ribu malaikat yang menariknya. “Yang dijelaskan itu baru yang menariknya, belum termasuk malaikat penjaganya, malaikat yang menyiksanya dan malaikat yang di dalamnya,” lanjutnya.
Ainur juga menjelaskan ciri-ciri penghuni neraka, di antaranya yakni orang yang tidak menunaikan salat, tidak memberi makan orang miskin, berbicara batil, dan tidak mempercayai hari pembalasan (kiamat). “Hal paling utama yang membedakan kita (orang Muslim) dengan orang kafir itu salat. Malaikat berkata seandainya aku tidak diperintahkan oleh Allah untuk memberi rezeki, tidak akan sudi aku memberikan kepada orang yang tidak salat,” jelasnya.
Kajian ini juga menyoroti tentang maraknya informasi hoaks yang banyak ditemukan di media sosial. Orang yang menyebarkan informasi hoaks termasuk dalam orang yang batil yaitu menutupi kedzaliman dengan kedzaliman. “Penghuni neraka itu keras kepala, diingatkan kebaikan tidak mau. Kata-kata nya kasar dan kotor dan mudah mendzalimi orang lain,” lanjutnya.
Dosen FAI UMS itu mengingatkan kita untuk mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat dengan membekali diri dengan ilmu tentang akhirat, baik surga maupun neraka. Ia menekankan kepada kita agar jangan sampai kita menjadi bagian dari penghuni neraka.
Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...
Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...
Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan kesabaran (ṣabr) sebagai salah satu nilai fundamental dalam Al-Qur’an sangat penting untuk pengembangan karakter manusia, terutama dalam konteks pendidikan. Pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak ...
Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?
Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...
Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z
Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....
Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an
Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...
Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer
Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...
Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an
Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...
Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender
Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...
Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...
Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...
Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...





