Di awal setiap jabatan publik, baik di lembaga pemerintahan, legislatif, atau organisasi keumatan, kita sering menyaksikan prosesi sumpah yang sakral: tangan kanan menyentuh mushaf suci, Al-Qur’an, lalu lisan mengucapkan sumpah setia, siap mengemban amanah, menjunjung tinggi kebenaran, dan menghindari pengkhianatan.
Namun sayang, tak sedikit dari mereka yang menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai “aksesoris” seremonial. Ia dibaca untuk bersumpah, tapi diabaikan dalam laku kehidupan. Fenomena ini menjadi ironi besar di tengah umat yang mengaku sebagai pemeluk agama yang menjunjung tinggi nilai amanah dan tanggung jawab. Al-Qur’an, sebagai kitab suci yang seharusnya menjadi pedoman hidup, justru direduksi menjadi simbol semata dipajang, disentuh, lalu dilupakan.
Al-Qur’an: Antara Teks dan Konteks
Dalam Islam, sumpah bukan sekadar pengucapan janji, melainkan pengikatan diri terhadap Allah sebagai saksi. Dalam Surah An-Nahl ayat 91, Allah SWT berfirman: “Dan penuhilah janji kepada Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu setelah menguatkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sungguh, Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl: 91)
Ayat ini dengan tegas menempatkan Allah sebagai saksi atas setiap sumpah yang kita ucapkan. Mengingkari janji sama artinya dengan menghina kesaksian Allah sebuah dosa besar yang mencederai fitrah keimanan.
Sayangnya, banyak yang tidak memahami kedalaman makna ayat ini. Ada pula yang memahaminya, tetapi tetap mengingkari, karena tergoda oleh kekuasaan, uang, atau kepentingan politik. Dalam kondisi seperti ini, sumpah atas nama Al-Qur’an tak lebih dari formalitas legalistik yang kehilangan substansi spiritualnya.
Sumpah sebagai Tanggung Jawab Moral dan Spiritual
Teori kontrak sosial dalam filsafat politik menyebutkan bahwa kekuasaan bersumber dari rakyat dan harus digunakan untuk kepentingan publik. Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah (trust), bukan kepemilikan. Seperti disebut dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa’: 58)
Amanah bukan hanya soal jabatan, tetapi komitmen moral terhadap keadilan, kebenaran, dan pelayanan. Maka ketika seseorang mengangkat sumpah atas Al-Qur’an, ia sebenarnya sedang menyerahkan dirinya untuk diawasi oleh nilai-nilai Ilahi. Ia berikrar bahwa setiap keputusannya harus tunduk pada prinsip kebenaran yang termaktub dalam wahyu.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap-tiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Hadis ini memperkuat bahwa sumpah bukan hanya pengikat di dunia, melainkan akan dihisab di akhirat. Maka betapa ngerinya jika sumpah dijadikan permainan lidah, bukan cermin ketulusan hati.
Ketika Al-Qur’an Dijadikan Pajangan
Fenomena pejabat atau tokoh publik yang bersumpah atas Al-Qur’an namun tak menggubris ajaran di dalamnya merupakan contoh nyata dari gejala hipokrisi modern munafik dalam balutan simbol religius. Dalam psikologi sosial, ini dikenal sebagai moral disengagement mekanisme batin yang membuat seseorang merasa tidak bersalah meskipun melanggar standar moral yang sebelumnya ia akui.
Dengan kata lain, mereka tahu itu salah, tapi mencari justifikasi agar merasa benar. Maka jangan heran jika kita jumpai orang-orang yang berkhianat, tapi masih santai datang ke masjid atau tampil religius di depan kamera.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan: “Tidaklah cukup seseorang memegang mushaf dan membacanya dengan lisan, jika hatinya tidak tunduk pada isinya dan tubuhnya tidak bergerak menjalankan perintahnya.” Jelas, pengkhianatan terhadap sumpah atas Al-Qur’an bukan sekadar pelanggaran etika publik, tapi penghinaan terhadap wahyu itu sendiri.
Menghidupkan Kembali Ruh Sumpah
Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai umat Islam di tengah kemunduran spiritual ini? Pertama, umat perlu kembali memaknai Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, bukan sekadar simbol. Pendidikan agama harus lebih menekankan aspek internalisasi nilai, bukan hanya hafalan teks.
Kedua, para tokoh agama dan pemimpin masyarakat harus mencontohkan integritas sumpah. Seorang pemimpin sejati adalah mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas moral, bukan ornamen sumpah jabatan.
Ketiga, masyarakat sipil harus berani mengingatkan, bahkan menegur, mereka yang melanggar janji publik. Dalam Islam, amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban kolektif, dan membiarkan pengkhianat tanpa teguran adalah bentuk pembiaran yang melemahkan moral bangsa.
Sumpah Tak Bisa Dimainkan
Sumpah atas nama Al-Qur’an bukan peristiwa seremonial biasa. Ia adalah ikatan suci antara manusia dengan Tuhannya. Ketika Al-Qur’an dijadikan formalitas, maka kita sedang menyaksikan degradasi iman yang meresahkan. Lebih dari itu, kita sedang membuka pintu kehancuran kolektif, sebab bangsa yang dibangun atas kebohongan takkan pernah tegak dalam keadilan.
Maka marilah kita kembalikan makna sumpah sebagaimana mestinya: bukan hanya suara di hadapan publik, tapi gema keimanan yang menggema di dada, menggetarkan jiwa, dan memandu setiap langkah kehidupan. Sebab pada akhirnya, setiap janji akan dipertanggungjawabkan, dan Al-Qur’an akan menjadi saksi apakah kita benar-benar memegangnya, atau hanya sekadar menyentuhnya.
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...






