Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Menteri Baru, Kebijakan Baru

Muhdiyatmoko, Editor: Sholahuddin
Jumat, 3 Januari 2025 05:35 WIB
Menteri Baru, Kebijakan Baru
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat mengisi pengajian Tablig Akbar Milad ke-112 Muhammadiyah dan Milad ke-97 RS PKU Muhammadiyah Kota Solo, Minggu (8/12/2024). (MPI PDM Solo).

Pada Sabtu 28 Desember 2024, penulis berkesempatan mengikuti Rakor (Rapat Koordinasi) Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen & PNF)  Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kepala Sekolah, guru, dan penulis buku MIPA Bilingual Terintegrasi di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Srondol,  Semarang. Hal yang menarik dari kegiatan tersebut adalah hadirnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti. Peserta yang berasal dari seluruh kota/kabupaten di Jawa Tengah itu sangat antusias mendengarkan pencerahan yang diberikan oleh Abdul Mu’ti. Pasalnya setiap kehadiran Abdul Mu’ti ada hal baru yang disampaikan terkait kebijakan di kementerian.

Seperti yang sering kita dengar bersama ketika Abdul Mu’ti ditanya terkait kebijakan baru, dia sering menyampaikan,  apa gunanya diangkat menteri baru kalau tidak ada hal yang baru. Maka dalam kesempatan itu banyak hal yang disampaikan terkait kebijakan baru di Kementerian Pedidikan Dasar dan Menengah. Bukan lagi wacana tetapi telah menjadi keputusan dan kebijakan. Dan kebijakan dari Mendikdasmen ini yang sering ditunggu-tunggu oleh para guru dan pengelola pendidikan.

Hal menarik yang disampaikan Mendikdasmen di Rakor tersebut antara lain : pertama, guru tidak lagi diwajibkan mengajar 24 jam tatap muka di kelas. Beberapa kegiatan lain bisa dikonversi dan itu bisa mendukung 24 jam tersebut. Seperti kegiatan pembimbingan siswa, kegiatan sosial, keaktifan di organisasi profesi, workshop, pelatihan, dan lain-lain. Sehingga ada ruang bagi mereka (baca: guru) untuk aktif dalam berbagai kegiatan baik sosial maupun keprofesian. Tidak ada lagi guru “terbang”, pindah dari satu sekolah ke sekolah lain, hanya sekadar memenuhi 24 jam. Mereka fokus dalam memberikan pelayanan dan bimbingan dalam pengembangan siswa secara holistik.

Kedua, pelaporan kinerja yang selama ini membebani guru akan disederhanakan. Selama ini guru sering berkutat dalam hal administratif sehingga terkadang melupakan kewajiban utamanya dalam memberikan pelayanan kepada siswa. Nanti kepala sekolah yang berkewajiban mengunggah laporan ringkas secara online. Hal ini dilakukan agar guru  lebih fokus dalam pembelajaran dan efisiensi administrasi.

Ketiga, peluncuran 7 kebiasaan anak Indonesia hebat. Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa gerakan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat itu sebagai upaya membangun karakter bangsa dan menjalin sinergi antara sekolah, masyarakat, keluarga, dan media massa. Ketujuh  kebiasaaan itu adalah Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan Sehat dan Bergizi, Gemar Belajar, Bermasyarakat, dan Tidur Cepat. Abdul Mu’ti menyampaikan, ketujuh kebiasaan itu penting untuk memberikan penguatan karakter dan pembiasaan yang baik. Karena kebiasaan tersebut sebernarnya menggambarkan bagaimana tradisi dan nilai-nilai utama yang dimiliki oleh masyarakat serta nilai-nilai utama seluruh agama di Indonesia. Anak tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kecerdaasan spiritual dan sosial.

Keempat, terkait kurikulum silakan saja menggunakan kurikulum yang selama ini masih berjalan. Karena di beberapa tempat masih ada yang menggunakan kurikulum 13 dan Kurikulum Merdeka. Hanya menurut, Mendikdasmen, akan ada pendekatan baru dalam pembelajaran yang disebut deep learning. Deep learning itu bukan kurikulum tetapi sebuah metode pendekatan dalam pembelajaran. Pendekatan yang menekankan pemahaman mendalam terhadap materi pelajaran, sehingga proses belajar tidak hanya terpaku pada kuantitas. Salah satu urgensi dari deep learning adalah untuk mencipakan pembelajaran yang menyenangkan. Deep learning memiliki tiga elemen utama yakni mindfull learning, meaningfull learning, dan joyfull learning.

Sistem dan Format Baru

Hal yang menarik lain yang juga disampaikan beliau adalah adanya Ujian Nasional (UN) yang akan dilaksanakan di tahun pelajaran baru mendatang (2026).  Ujian nasional ini akan diselenggarakan dengan sistem dan format baru. Memang sejak tahun 2021 UN telah diganti dengan Asesmen Nasional (AN) oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim. Akan tetapi AN ini tidak bisa memberikan gambaran secara utuh terkait capaian siswa dan sekolah. Sehingga UN ini dipandang perlu untuk dikembalikan atau diselenggarakan kembali. Hanya teknis dan formatnya menuggu kepastian dari Kementerian.

Semoga apa yang telah menjadi kebijakan baru oleh Mendikdasmen ini menjadi pelecut bagi insan pendidik dan penyelenggara pendidikan Muhammadiyah segera menyambut dengan aksi. Abdul Mu’ti menyampaikan harapan kepada pendidikan Muhammadiyah untuk mejadi pelopor dalam pendidikan ini. Terutama dalam pembiasaan nilai-nilai utama yang baik itu. Sehingga semua sekolah Muhamamdiyah menjadi sekolah yang unggul dan berkemajuan.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment