Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Menanti Dakwah Muhammadiyah Jalur Ekonomi

Anas Syahirul Alim, Editor: Sholahuddin
Jumat, 27 Desember 2024 05:42 WIB
Menanti Dakwah Muhammadiyah Jalur Ekonomi
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Produk mie instan, Miemu, produksi dari Majelis Ekonomi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Miemu menjadi salah satu bentuk gerakan ekonomi di persyarikatan. (Istimewa).

Bicara soal pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah memang ahlinya. Tapi organisasi masyarakat dengan jemaah lebih dari 30 juta pengikut ini tentu tidak akan berpuas diri hanya menggunakan sektor pendidikan dan kesehatan dalam mendukung dakwah mereka.

Di antara sektor yang diseriusi untuk digarap oleh Muhammadiyah adalah sektor ekonomi dan teknologi. Muhammadiyah menyadari bahwa ekonomi dan teknologi merupakan potensi yang sangat luar biasa di era kekinian.  Tak ketinggalan Muhammadiyah Jawa Tengah pun juga makin serius menengok kepada dua sektor tersebut. Ekonomi dan teknologi bisa menjadi sarana dakwah yang ampuh di era kekinian. Apalagi Indonesia termasuk Jawa Tengah sendiri memiliki target pasar yang besar.

Dengan menggarap ekonomi, bukan saja menjadi sarana dakwah melainkan juga berkontribusi dalam mempercepat laju pembangunan bangsa, berperan mengatasi pengangguran, membantu pertumbuhan ekonomi negara. Apalagi, di tengah kondisi ekonomi negara yang sedang tidak baik-baik saja, yang kelamaan mengalami stagnasi tak kunjung melesat perekonomiannya.

Ikhtiar menggarap sektor ekonomi ini sebenarnya sudah berulangkali dibahas dan dilakukan. Muhammadiyah pernah mewacanakan memiliki bank, transportasi, dan lainnya. Dari sisi makanan minuman, Muhammadiyah juga sudah masuk ke ranah ini meski belum optimal masih jauh dari harapan.  Sebagai sebuah ikhtiar, wajar jika Muhammadiyah menggarap sektor ini lantaran dari sisi market sangat besar. Indonesia adalah negara dengan potensi besar dalam berbagai sektor, terutama dalam bidang ekonomi. Kalau mau dikerucutkan potensi pasar dari internal Muhammadiyah sendiri sudah sangat besar, sehingga ini bisa menjadi pangsa awal.

Dalam Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Jawa Tengah akhir Desember ini, ikhtiar menggarap sektor ekonomi di Jawa Tengah kembali menggaung cukup kuat. Bahkan menjadi bahasan utama. Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Tafsir memaparkan fokus program Muhammadiyah Jawa Tengah terbagi dalam tiga kelompok besar: ideologisasi, industrialisasi, dan mitigasi. Ia menegaskan bahwa ketiga aspek ini menjadi strategi utama untuk mewujudkan misi Muhammadiyah sebagai organisasi yang menjadi “penolong kesengsaraan oemoem” (PKO).

Ideologisasi, menurut Tafsir, menjadi landasan utama dalam membangun kesadaran kader Muhammadiyah. Ini sudah digarap dengan terstruktur dan terkonsep, tinggal mengawal dan mengoptimalkan dengan strategi-strategi yang kreatif dan inovatif.  Program kaderisasi ini dirancang untuk mencetak kader yang tidak hanya paham nilai-nilai organisasi, tetapi juga mampu mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Kemudian aspek mitigasi juga tinggal meniup peluit karena fondasinya sudah tertata. PWM bertanggung jawab untuk mendampingi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang mengalami kesulitan. Rumah sakit dan AUM lain yang menghadapi tantangan manajemen maupun finansial juga harus mendapatkan pendampingan. Ini tentu bukan persoalan sulit karena tinggal komando dan memberi penugasan.

Industrialisasi Ekonomi

Yang masih menjadi tantangan adalah aspek ketiga yaitu industrialisasi ekonomi.  Ketua PWM menyoroti tantangan besar yang dihadapi masyarakat saat ini, yakni kesulitan mencari lapangan kerja. Kesengsaraan terbesar saat ini bukanlah sulit mencari masjid atau panti asuhan, tetapi sulit mencari pekerjaan. Kasus PT Sritex di Sukoharjo, perusahaan tekstil besar yang menghadapi kepailitan, yang berdampak pada ribuan pekerja juga dialami perusahaan lain di Jateng.

Muhammadiyah harus hadir sebagai solusi dengan mendukung program-program ekonomi yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja. Maka sudah saatnya Muhammadiyah, tidak hanya menjadi penonton tetapi juga pemain dalam sektor ekonomi. Muhammadiyah harus bertransformasi dari konsumen menjadi produsen.

Kita bangga Muhammadiyah punya perusahaan AC atau mesin pendingin, perusahaan roti, perusahaan mie, perusahaan minuman mineral, perusahaan teknologi dan lainnya. Tantangannya adalah apakah bisa Muhammadiyah menjaga keberlanjutannya. Karena kalau soal bicara ekonomi bisnis sebuah produk maupun jasa maka harus bisa menyuguhkan kualitas produk dan pelayanan.

Menggarap sektor ekonomi menjadi kunci untuk meningkatkan kemandirian ekonomi umat, menjaga maruah dan kemandirian organisasi, membantu negara mengatasi ketersediaan lapangan kerja, menyumbang pajak. Dan yang terpenting dari itu semua adalah, sektor ekonomi garapan Muhammadiyah ini akan menjadi sarana dakwah yang efektif seperti halnya sektor pendidikan dan Kesehatan yang sudah lebih dulu hadir di tengah masyarakat. Semoga…

Berita Terbaru

Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda

Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus...

Jangan Antikritik

Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...

Kompak Menyongsong Kemajuan

Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...

Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo

Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...

Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah

Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...