Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Belajar Bermuhammadiyah Otentik ke Gunungpring

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 28 Oktober 2024 11:21 WIB
Belajar Bermuhammadiyah Otentik ke Gunungpring
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ketua Majelis Pendidikan Mohamad Ali.

Hari Ahad,  27 Oktober 2024,  kami Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta beserta istri, berkunjung ke Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Kami diterima bersamaan dengan rombongan dari PDM Kota Surabaya, Jawa Timur di SD Muhammadiyah Gunungpring. Rupanya PRM Gunungpring mengalokasikan waktu khusus untuk menerima kunjungan/tamu sebulan sekali pada hari hari Ahad pekan terakhir.

Setelah dinobatkan sebagai Ranting Unggulan oleh Pimpinan Pusat  Muhammadiyah (PPM),  Gunungpring menjadi destinasi baru untuk belajar bermuhammadiyah. Aktivis Muhammadiyah dari berbagai daerah di seluruh penjuru Tanah Air berduyun-duyun  melihat dari dekat dan melakukan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Mereka menyambutnya dengan antusias dan penuh kegembiraan.

Dari cara mereka menerima tamu sudah terlihat aroma keunggulan; tidak protokoler, sangat bersahabat, dan tidak terkesan menggurui. “Silaturahmi menumbuhkan insipirasi” bukan sekadar tagline, tetapi benar-benar menjiwai aktivitas mereka. Dengan silaturahmi kita saling berbagi pengalaman baik, saling menimba inspirasi baru sehingga baik yang dikunjungi maupun yang berkunjung sama-sama memperoleh kesegaran baru dalam bermuhammadiyah.

Dari paparan mereka tentang bagaimana mereka bermuhammadiyah dan menggerakkan ranting, serta mengembangkan amal usaha terpancar dengan jelas manifestasi dari etos Muhammadiyah generasi awal sebagaimana digambarkan Alfian, James L. Peacock, Taufik Abdullah, Clifford Geertz, Mitsuo Nakamura untuk menyebut beberapa nama terkemuka. Ciri khas generasi awal adalah bersahaja, ikhlas, disiplin, pekerja keras, dan visioner/ideologis, suatu perwujudan pesan Kiai Dahlan, “Hidup-hidupi Muhammadiyah”.

Ranting Melenting

Mereka memiliki tagline untuk membangkitkan motivasi diri dan menggairahkan semangat bermuhammadiyah dengan rumusan yang sederhana tetapi tepat sasaran, yaitu: gembul (makan-makan), kumpul (bertemu) dan tukul (tumbuh). Setiap malam Jumat mereka secara konsisten bertemu untuk makan-makan, bertemu, dan tumbuh ide-ide baru untuk menggerakan ranting, menyemarakkan dakwah, dan mengembangkan AUM. Tempat pertemuan tentatif terkadang di rumah pimpinan, di rumah makan, di kantor ranting dan seterusnya. Ringkasnya, mereka mengalokasikan waktu setiap malam jumat untuk rapat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) secara konsisten.

Begitu datang ke ranting Gunungpring tidak sedikit yang terperanjat ketika mendengar jumlah amal usaha pendidikan yang di miliki berupa: 7 buah PAUD-TK dan masing-masing satu SD, SMP, dan SMA yang semua menjadi sekolah pilihan utama masyarakat. Tentu saja ada amal usaha lain seperti masjid, musala dan kelompok-kelompok pengajian yang tumbuh subur.

Ranting benar-benar menjadi pusat keunggulan baik dalam aktivitas persyarikatan maupun AUM. Pengelolaan sekolah/pendidikan disentralkan di ranting. Dengan demikian, meski sama-sama memilih sentralisasi tetapi titik pusat sentralisasi berbeda dengan PCM Cileungsi yang berpusat di PCM, juga berlainan dengan PDM Surakarta yang berpusat di Majelis Pendidikan. Data-data tentang keragaman model-model sentraliasi pengelolaan sekolah semakin memperkaya khazanah pengelolaan sekolah Muhammadiyah.

Meski mengelola uang besar, setiap bulan sekitar Rp 500 juta untuk biaya operasioanl seluruh sekolah yang dikelolanya, tetapi para pimpinan ranting tidak memperoleh gaji. Mereka bukan hanya ujung tombak dakwah, tetapi seringkali “ujung tombok”  untuk membiayai aktivitas Muhammadiyah. Melihat langsung kiprah mereka dari dekat memancarkan aura keikhlasan, kedisplinan, kerja keras, dan pengorbanan sehingga tidak sedikit simpatisan maupun warga Muhammadiyah yang dengan sukarela mewakafkan tanah dan menyumbangkan uang ataupun harta untuk perintisan sekolah Muhammmadiyah baru.

Memoar Hima Sugiyarto 

Ketika tiba di Gunungpring saya bertemu tiga orang teman lama yang sudah puluhan tahun tidak bertemu, yaitu Anis Asrori, Hima Sugiyarto, dan ustaz Arif Arfianto yang rupanya adalah Ketua PCM Muntilan. Yang terakhir merupakan teman sekamar saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Sunan Kaliga Yogyakarta di Kulonprogo.

Beberapa kali tidur di rumahnya saat KKN tahun 1996-an dalam rangka mencari donatur ke beberapa pihak. Dia dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah yang militan. Keseharian mengajar di SMK Muhammadiyah, tetapi yang pokok adalah menjadi mubalig. Dengan nada kelakar ia bercerita tentang aktivitas mubalignya sebagai “mubaligh cantelan, bukan mubalig bisaroh. Seusai mengisi pengajian, jemaah akan men-cantel-kan snack atau jenis makanan lain di sepeda motornya. Dia terlihat sangat menikmati pekerjaannya karena bisa mencerahkan warga masyarakat yang benar-benar membutuhkan kehadirannya.

Para pengurus Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PDM) Kota Solo saat studi banding ke Pimpinan Ranting Muhammadiyah Gunungpring, Minggu (27/10/2024). (Istimewa).

Ketika menyampaikan sambutan sebagai tuan rumah, ia mengingatkan kembali kepada hadirin tentang makna bermuhammadiyah sebagai jalan yang mengantarkan kita bersama-sama ke pintu jannatun naim. Rupanya dia sangat menghayati, bukan sekadar membaca, Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Di tengah kesibukan menjadi guru, mubalig, dan aktivis Muhammadiyah setiap pagi merawat ibundanya yang terbaring sakit.

Mas Anis Asrori teman seperjuangan saat merintis Jaringan Sekolah Muhammadiyah (JSM) dalam rentang waktu tahun 2003-2013. JSM berawal dari kegelisahan beberapa kepala sekolah yang merasa perlu ada konsolidasi kekuatan sekolah-sekolah Muhammadiyah. JSM sekadar jejaring yang sangat longgar, bukan organisasi yang ketat. Saat itu ditunjuk sebagai Ketua Solikhin dari SD Muhammadiyah Condongcatur, saya (Mohamad Ali) dari SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Solo, dan Anis Asrori dari SD Muhammadiyah Gunungpring selaku Bendahara. Ketika Forum Guru Muhammadiyah (FGM) terbentuk maka kehadiran JSM sudah tidak diperlukan lagi.

Rupanya sudah tiga tahun ini beliau pensiun sehingga mencurahkan seluruh energinya untuk kegiatan Muhammadiyah. Kemampuan dalam memimpin sekolah sangat dibutuhkan sehingga diminta ranting untuk turut mendampingi pengembangan sekolah Muhammadiyah yang dikelolanya.

Pada awal tahun 2010 ketika akan membuka SMP Muhammadiyah PK Kottabarat,  kami berkunjung dan melakukan studi tiru di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, Hima Sugiyarto adalah Kepala Sekolahnya. Mengapa memilih sekolah ini? Karena capaian Ujian Nasional (UN) paling tinggi untuk SMP Muhammadiyah di Jawa Tengah.

Kami disambut dengan baik dan berdiskusi panjang lebar tentang tata kelola SMP Muhammadiyah yang unggul, berprestasi dan berkemajuan. Kami banyak memperoleh ilmu dan inspirasi dari beliau. Ketika hari ini SMP Muhammadiyah PK menjadi seperti saat ini, secara jujur dan terbuka disampaikan tidak kecil sumbangan pikiran dan tentu saja inspirasi dari beliau.

Seusai acara saya ikut membeli buku Memoar Hima Sugiyarto, sepanjang perjalanan pulang saya baca dan mengkatamkan. Ketika membaca paragraf demi paragraf tanpa disadari air mata menetes berulangkali. Cita-cita dan apa yang dilakukan Mas Hima ternyata memiliki banyak garis kesamaan, yaitu cita-cita mengembangkan dan memajukan sekolah Muhammadiyah agar benar-benar unggul dan berkemajuan.

Dalam usaha meraih cita-cita itu dukungan dari keluarga, yaitu istri dan anak-anak sangat besar. Ketika dalam proses perintisan tidak ada sekolah Muhammadiyah yang mampu menggaji guru secara memadai (standar UMR). Sekolah Muhammadiyah tumbuh dari bawah, istilah mas Hima “melangkah dengan bismillah”. Sementara itu tenaga, waktu, dan pikiran harus banyak dicurahkan untuk mengembangkan sekolah. Ringkasnya, ada ketimpangan antara tenaga yang dicurahkan dengan imbalan yang diterima. Dalam situasi demikian pengertian dan kerelaan keluarga mutlak dibutuhkan. Di sinilah makna perjuangan benar-benar dipertaruhkan dan menjadi kegembiraan yang tidak pernah bisa dinilai dengan uang ataupun material lain.

Inilah oleh-oleh yang bisa dibagikan dari kunjungan dan belajar bermuhammadiyah di Gunungpring. Bermuhammadiyah adalah kata kerja aktif yang melibatkan aktivitas mental, spiritual, dan fisik untuk meraih sorga jannatun naim dengan jalan berpartisipasi aktif dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sesuai profesi dan kemampuan kita masing-masing. Inilah jalan Muhammadiyah yang lurus dan otentik.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo

Berita Terbaru

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Leave a comment