Salah satu faktor yang mempengaruhi kemajuan ataupun kemunduran (pasang-surut) suatu sekolah adalah kualitas kepemimpinan (leadership) kepala sekolah. Bahkan ada pandangan yang lebih ekstrim lagi, bahwa wajah sekolah pada hakikatnya merupakan wajah kepala sekolah. Tentu ini pandangan yang berlebihan, apalagi untuk konteks pendidikan di lingkungan Muhammadiyah yang mengenal adanya trisula aktor pendidikan, yaitu: kepala sekolah sebagai pengelola, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) sebagai penyelenggara, dan persyarikatan sebagai sebagai pemilik.
Dari tiga aktor pendidikan itu, harus diakui bahwa yang menggumuli masalah persekolahan sehari-hari adalah kepala sekolah beserta seluruh guru dan tenaga kependidikan. Mereka bekerja penuh waktu untuk memikirkan pengembangan dan nongkrongi sekolah maupun madrasah. Sementara itu, pimpinan persyarikatan sebagai pemilik maupun Majelis Dikdasmen sebagai penyelenggara bekerja paruh waktu, aktivitas voluntir-kerelawanan, sehingga intensitas keberadaan di sekolah tidak seintensif pengelola sekolah.
Esai ini akan mencoba mencari jawab, mengapa sekolah/madrasah yang awalnya biasa-biasa saja, medioker, bahkan sekolah “sekaratul maut” berkat sentuhan dingin kepemimpinan seorang kepala sekolah kemudian bisa mengangkat dan mentransformasikannya menjadi sekolah yang unggul, sehat, dan berkemajuan. Sebaliknya, tidak sedikit pula sekolah Muhammadiyah yang awalnya sehat, unggul, dan berkemajuan ketika dipimpin kepala sekolah “baru” tidak lama kemudian sekolah mengalami kemunduran dan siswanya terus merosot.
Tentu harus dicatat pula bahwa, banyak faktor yang melatari pasang-surut suatu sekolah, baik kondisi internal maupun eksternal. Namun peran kepala sekolah sebagai lokomotif dituntut kemampuannya untuk menjawab dan mencari solusi atas berbagai permasalahan tersebut, bukan hanya menyalahkan keadaan ataupun pihak lainnya. Kepala sekolah yang mampu memahami dan memecahkan masalah sekolah pada urutannya membawa kemajuan. Sebaliknya kepala sekolah yang tidak mampu memahami dan memecahkan permasalahan, maka dengan sendirinya akan menjadi beban berkepanjangan sehingga laju sekolah tersendat dan melambat yang pada urutannya kualitas layanan dan prestasi siswa menurun.
Belajar Bersama kehidupan
Seorang leader (pemimpin) yang tangguh, inovatif dan transformatif, bukan suatu kebetulan belaka, ataupun muncul secara tiba-tiba dari perut bumi. Mereka menjadi pemimpin tangguh karena proses sejarah yang panjang, ditempa serangkaian tantangan kehidupan. Ia tidak mau lari dari masalah kehidupan, tetapi malah tertantang untuk menggumuli dan memecahkan. Pergumulan menghadapai asam-garam kehidupan inilah yang melahirkannya menjadi seorang leader tangguh yang mampu menggerakkan kemajuan sekolah.
Berdasarkan data-data yang terbatas yang diperoleh melalui riset kecil-kecilan, baik melalui observasi maupun obrolan (wawancara). Berikut diidentifikasi sejumlah nama dan perannya dalam memajukan sekolah. Fahri (SMK Muhammadiyah Gondang Legi), Akhmad Solikhin (SD Muhammadiyah Condong Catur), Muhammad Solikhin (SD Muhammadiyah Pucang), Agus Suroyo (SMP-SMA Mujahidin Gunungkidul), Agus Yulianto (MBS Prambanan), Sutomo (SD-SMP Muhammadiyah Plus Salatiga), Sutrisno-Saijan (SD Muhammadiyah Sapen), Ali Musyafa (SMP-SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro Lampung), untuk menyebut beberapa nama dan sekolah yang terkemuka.
Dari 8 (delapan) orang perintis sekolah unggul-berkemajuan tersebut di atas, semua lulus sarjana dan sebagian besar, bahkan hampir semua Sarjana Agama (Pendidikan Islam). Kala mahasiswa mereka bukan hanya kuliah, tetapi juga menjadi aktivis ekstra kampus baik di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) maupun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di organisasi itu jiwa kepemimpinan mereka ditempa. Pada umumnya mereka berasal dari keluarga sederhana pegawai/petani/pedagang kecil yang untuk studi mereka orang tua harus memeras keringat dan ia sendiri harus hidup hemat agar tetap terjaga, bahkan beberapa harus sambil bekerja. Ringkasnya, mereka harus menjalani hidup bersahaja sembari mencari celah untuk bisa bertahan menjadi mahasiswa.
Tacit knowledge
Latar belakang kehidupan keluarga dan lika-liku dunia kemahasiswaan inilah yang menempa menjadi pribadi tangguh yang pada urutannya menjadi modalitas awal dalam memimpin sekolah Muhammadiyah secara out the box. Kemampuan belajar dan mengasah kecerdasan bersama kehidupan, bukan hanya mempelajari teori dari buku-buku, yang dalam istilah Michael Polanyi sebagai tacit knowledge.
Secara sedehana tacit knowledge dapat didipahami sebagai pengetahuan tersembunyi, sulit untuk dibahasakan karena memiliki kualitas personal yang merupakan gabungan antara pengetahuan kognitif dan praksis individual yang umumnya diperoleh melalui pengalaman, belajar mandiri dipengaruhi oleh kepercayaan, nilai-nilai, dan perspektif. Ringkasnya, tacit knowledge inilah yang menjadi modalitas para perintis sekolah unggul-berkemajuan.
Bila kita sejalan dengan alur berpikir di atas, baik Majelis Dikdasmen maupun kepala sekolah eksisting, yang tengah menjabat perlu memikirkan cara bagaimana iklim sekolah Muhammadiyah mampu melahirkan guru-guru yang memiliki tacit knowledge, sehingga tidak ada sekolah Muhammadiyah surut karena ketiadaan kader yang memiliki tacit knowledge. Strategi pengkaderan tokoh-tokoh Muhammadiyah awal melalui sistem kader intilan yang terus mengikuti kemanapun sang tokoh pergi.
Baca juga: Pengarusutamaan Sekolah Berkemajuan
Gerakan Diksuspala (pendidikan khusus kepala sekolah/madrasah) secara masif di seluruh daerah, yang belakangan ini gencar dilakukan Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) bisa menjadi pintu masuk persamaian tacit knowledge. Sebab para narasumber/fasilitatornya adalah kepala sekolah dan mantan yang telah berhasil mengangkat dan mentransformasikan sekolah medioker menjadi sekolah berkemajuan.
Diksuspala menjadi wahana penyemaian tacit knowledge yang efektif, efisien, dan produktif. Oleh karena itu, sudah selayaknya seluruh pimpinan Majelis Dikdasmen PWM dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) menyambut dengan gembira, dan mendorong sekolah dan madrasah di daerahnya untuk diikutsertakan. Dengan jalan demikian, persemaian benih-benih tacit knowledge tertanam kuat di benak seluruh kepala sekolah Muhammadiyah di seluruh penjuru Tanah Air.
Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo
Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka
Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)
Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...







