Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Para Perintis Sekolah Berkemajuan

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 26 Agustus 2024 19:05 WIB
Para Perintis Sekolah Berkemajuan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Mohamad Ali

Salah satu faktor yang mempengaruhi kemajuan ataupun kemunduran (pasang-surut) suatu sekolah adalah kualitas kepemimpinan (leadership) kepala sekolah. Bahkan ada pandangan yang lebih ekstrim lagi, bahwa wajah sekolah pada hakikatnya merupakan wajah kepala sekolah. Tentu ini pandangan yang berlebihan, apalagi untuk konteks pendidikan di lingkungan Muhammadiyah yang mengenal adanya trisula aktor pendidikan, yaitu: kepala sekolah sebagai pengelola, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) sebagai penyelenggara, dan persyarikatan sebagai sebagai pemilik.

Dari tiga aktor pendidikan itu, harus diakui bahwa yang menggumuli masalah persekolahan sehari-hari adalah kepala sekolah beserta seluruh guru dan tenaga kependidikan. Mereka bekerja penuh waktu untuk memikirkan pengembangan dan nongkrongi sekolah maupun madrasah. Sementara itu, pimpinan persyarikatan sebagai pemilik maupun Majelis Dikdasmen sebagai penyelenggara bekerja paruh waktu, aktivitas voluntir-kerelawanan, sehingga intensitas keberadaan di sekolah tidak seintensif pengelola sekolah.

Esai ini akan mencoba mencari jawab, mengapa sekolah/madrasah yang awalnya biasa-biasa saja, medioker, bahkan sekolah “sekaratul maut” berkat sentuhan dingin kepemimpinan seorang kepala sekolah kemudian bisa mengangkat dan mentransformasikannya menjadi sekolah yang unggul, sehat, dan berkemajuan. Sebaliknya, tidak sedikit pula sekolah Muhammadiyah yang awalnya sehat, unggul, dan berkemajuan ketika dipimpin kepala sekolah “baru” tidak lama kemudian sekolah mengalami kemunduran dan siswanya terus merosot.

Tentu harus dicatat pula bahwa, banyak faktor yang melatari pasang-surut suatu sekolah, baik kondisi internal maupun eksternal. Namun peran kepala sekolah sebagai lokomotif dituntut kemampuannya untuk menjawab dan mencari solusi atas berbagai permasalahan tersebut, bukan hanya menyalahkan keadaan ataupun pihak lainnya. Kepala sekolah yang mampu memahami dan memecahkan masalah sekolah pada urutannya membawa kemajuan.  Sebaliknya kepala sekolah yang tidak mampu memahami dan memecahkan permasalahan, maka dengan sendirinya akan menjadi beban berkepanjangan sehingga laju sekolah tersendat dan melambat yang pada urutannya kualitas layanan dan prestasi siswa menurun.

Belajar Bersama kehidupan

Seorang leader (pemimpin) yang tangguh, inovatif dan transformatif, bukan suatu kebetulan belaka, ataupun muncul secara tiba-tiba dari perut bumi. Mereka menjadi pemimpin tangguh karena proses sejarah yang panjang, ditempa serangkaian tantangan kehidupan. Ia tidak mau lari dari masalah kehidupan, tetapi malah tertantang untuk menggumuli dan memecahkan. Pergumulan menghadapai asam-garam kehidupan inilah yang melahirkannya menjadi seorang leader tangguh yang mampu menggerakkan kemajuan sekolah.

Berdasarkan data-data yang terbatas yang diperoleh melalui riset kecil-kecilan, baik melalui observasi maupun obrolan (wawancara). Berikut diidentifikasi sejumlah nama dan perannya dalam memajukan sekolah. Fahri (SMK Muhammadiyah Gondang Legi), Akhmad Solikhin (SD Muhammadiyah Condong Catur), Muhammad Solikhin (SD Muhammadiyah Pucang), Agus Suroyo (SMP-SMA Mujahidin Gunungkidul), Agus Yulianto (MBS Prambanan), Sutomo (SD-SMP Muhammadiyah Plus Salatiga), Sutrisno-Saijan (SD Muhammadiyah Sapen), Ali Musyafa (SMP-SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro Lampung), untuk menyebut beberapa nama dan sekolah yang terkemuka.

Dari 8 (delapan) orang perintis sekolah unggul-berkemajuan tersebut di atas, semua lulus sarjana dan sebagian besar, bahkan hampir semua Sarjana Agama (Pendidikan Islam). Kala mahasiswa mereka bukan hanya kuliah, tetapi juga menjadi aktivis ekstra kampus baik di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) maupun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di organisasi itu jiwa kepemimpinan mereka ditempa. Pada umumnya mereka berasal dari keluarga sederhana pegawai/petani/pedagang kecil yang untuk studi mereka orang tua harus memeras keringat dan ia sendiri harus hidup hemat agar tetap terjaga, bahkan beberapa harus sambil bekerja. Ringkasnya, mereka harus menjalani hidup bersahaja sembari mencari celah untuk bisa bertahan menjadi mahasiswa.

Tacit knowledge

Latar belakang kehidupan keluarga dan lika-liku dunia kemahasiswaan inilah yang menempa menjadi pribadi tangguh yang pada urutannya menjadi modalitas awal dalam memimpin sekolah Muhammadiyah secara out the box. Kemampuan belajar dan mengasah kecerdasan bersama kehidupan, bukan hanya mempelajari teori dari buku-buku, yang dalam istilah Michael Polanyi sebagai tacit knowledge.

Secara sedehana tacit knowledge dapat didipahami sebagai pengetahuan tersembunyi, sulit untuk dibahasakan karena memiliki kualitas personal yang merupakan gabungan antara pengetahuan kognitif dan praksis individual yang umumnya diperoleh melalui pengalaman, belajar mandiri dipengaruhi oleh kepercayaan, nilai-nilai, dan perspektif. Ringkasnya, tacit knowledge inilah yang menjadi modalitas para perintis sekolah unggul-berkemajuan.

Bila kita sejalan dengan alur berpikir di atas, baik Majelis Dikdasmen maupun kepala sekolah eksisting, yang tengah menjabat perlu memikirkan cara bagaimana iklim sekolah Muhammadiyah mampu melahirkan guru-guru yang memiliki tacit knowledge, sehingga tidak ada sekolah Muhammadiyah surut karena ketiadaan kader yang memiliki tacit knowledge. Strategi pengkaderan tokoh-tokoh Muhammadiyah awal melalui sistem kader intilan yang terus mengikuti kemanapun sang tokoh pergi.

Baca juga: Pengarusutamaan Sekolah Berkemajuan

Gerakan Diksuspala (pendidikan khusus kepala sekolah/madrasah) secara masif di seluruh daerah, yang belakangan ini gencar dilakukan Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) bisa menjadi pintu masuk persamaian tacit knowledge. Sebab para narasumber/fasilitatornya adalah kepala sekolah dan mantan yang telah berhasil mengangkat dan mentransformasikan sekolah medioker menjadi sekolah berkemajuan.

Diksuspala menjadi wahana penyemaian tacit knowledge yang efektif, efisien, dan produktif. Oleh karena itu, sudah selayaknya seluruh pimpinan Majelis Dikdasmen PWM dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) menyambut dengan gembira, dan mendorong sekolah dan madrasah di daerahnya untuk diikutsertakan. Dengan jalan demikian, persemaian benih-benih tacit knowledge tertanam kuat di benak seluruh kepala sekolah Muhammadiyah di seluruh penjuru Tanah Air.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo

Berita Terbaru

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Leave a comment