Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Peduli pada Sesama Melalui Puasa Ramadan

Andy Ratmanto, Editor: Sholahuddin
Kamis, 14 Maret 2024 12:09 WIB
Peduli pada Sesama Melalui Puasa Ramadan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Andy Ratmanto, S.H., (Foto: Dok. pribadi)

Puasa Ramadan adalah waktu yang sangat baik untuk meningkatkan empati dan peduli pada sesama. Selain menahan diri dari makan dan minum, puasa juga mengajarkan pengendalian diri dan empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Melalui puasa kita bisa merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus, sehingga memotivasi kita untuk membantu mereka yang membutuhkan dengan lebih baik.

Empati meliputi kemampuan untuk memahami, merasakan, dan berempati dengan perasaan dan pengalaman orang lain. Ini termasuk kemampuan untuk melihat dari sudut pandang orang lain, merasakan emosi yang mereka rasakan, dan memberikan dukungan atau bantuan sesuai dengan kebutuhan mereka. Empati juga melibatkan mendengarkan dengan penuh perhatian, mengakui perasaan orang lain, dan bertindak dengan cara yang memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan mereka.

Pengendalian diri adalah kemampuan untuk mengatur dan mengontrol perilaku, emosi, dan keinginan diri secara efektif. Ini melibatkan kesadaran diri yang tinggi, kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi dengan baik, serta kemauan untuk menunda atau menahan diri dari tindakan yang tidak sesuai dengan nilai atau tujuan yang di inginkan. Pengendalian diri membantu seseorang untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana, menghindari godaan yang merugikan, dan mengambil tindakan yang sesuai dengan tujuan jangka panjangnya.

Mengelola emosi melibatkan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola perasaan secara sehat dan produktif. Ini termasuk mengidentifikasi emosi yang muncul, mengekspresikan emosi dengan tepat, dan menemukan cara untuk mengatasi stres atau ketegangan yang mungkin timbul. Mengelola emosi juga melibatkan penggunaan strategi seperti komunikasi efektif, olahraga, meditasi, atau mencari dukungan dari orang lain untuk membantu mengatasi emosi yang kuat atau negatif. Dengan mengelola emosi dengan baik, seseorang dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan menjaga hubungan interpersonal yang sehat.

Tidak Malas

Selama berpuasa itu sangat penting untuk menjaga diri agar tidak menjadi malas. Puasa Ramadan bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga tentang meningkatkan spiritualitas, produktivitas, dan kebaikan. Oleh karena itu, penting untuk tetap aktif, menjalankan aktivitas sehari-hari dengan semangat, dan menggunakan waktu dengan produktif, baik itu untuk ibadah, pekerjaan, atau kegiatan yang bermanfaat lainnya.

Berikut beberapa tip untuk menjaga agar tidak malas saat berpuasa:

  1. Berpegang pada rutinitas
  2. Penuh semangat dalam ibadah
  3. Mengatur waktu dengan baik
  4. Makanan dan minuman yang sehat
  5. Bergerak aktif
  6. Bersosialisasi dengan positif
  7. Menjauhi penyebab kemalasan.

Puasa Ramadhan bisa dapat untuk melatih diri kita lebih empati atau lebih peduli lagi kepada orang lain. Peduli dengan sesama dan berbagi dalam bulan Ramadan adalah prinsip yang sangat dijunjung tinggi oleh semua manusia. Mereka fokus pada memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan terutama di Indonesia.

Pentingnya berbagi di bulan Ramadan:

  1. Spiritualitas Ramadan
  2. Mengurangi ketimpangan sosial
  3. Meningkatkan solidaritas sosial
  4. Membangun empai
  5. Memberikan manfaat jangka panjang
  6. Menginspirasi tindakan lain
  7. Pengalaman berharga
  8. Memperkaya hidup.

Berbagi memiliki makna mendalam dalam konteks Ramadan, di mana umat Islam di seluruh dunia diberikan kesempatan untuk memperkuat ikatan sosial dan spiritual dengan berbagi kebaikan kepada sesama. Berbagi berperan dalam mengurangi ketimpangan social dengan memastikan bahwa semua anggota masyarakat memiliki akses terhadap sumber daya yang cukup, terutama pada bulan suci ini.

Tindakan berbagi memperkuat rasa solidaritas di antara anggota masyarakat, mengingatkan bahwa kita semua satu keluarga manusia yang saling berhubungan dan bertanggung jawab satu sama lain. Dengan berbagi, seseorang belajar untuk lebih memahami dan merasakan apa yang dialami oleh mereka yang kurang beruntung. Hal ini membangun empati dan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain.

Berbagi tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek kepada yang membutuhkan, tetapi juga membantu membangun komunitas yang lebih kuat dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Tindakan berbagi dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa, membentuk efek domino dari kebaikan yang dapat membawa perubahan positif dalam masyarakat.

Bagi pemberi, pengalaman berbagi menjadi pengalaman yang sangat berharga, memberikan kebahagiaan dan kepuasan yang mendalam dalam memberikan manfaat kepada orang lain. Berbagi tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga memperkaya hidup pemberi dengan memberikan rasa makna dan tujuan yang lebih besar dalam kehidupan mereka.

Andy Ratmanto, S.H., Sekretaris Dekan FEB UMS dan Sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah Setabelan

 

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...