Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Antara Mewariskan Gedung dan Mewariskan Kader

Yusuf R. Yanuri, Editor: Sholahuddin
Rabu, 17 Januari 2024 15:36 WIB
Antara Mewariskan Gedung dan Mewariskan Kader
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Yusuf R. Yanuri/IG Yusuf R. Yanuri

Dari salah seorang muridnya, saya mendengar Prof. A. Malik Fadjar pernah berujar, Muhammadiyah akan menjadi seperti kuburan China kalau terus-menerus membangun gedung, tapi lupa membangun sumber daya manusia (SDM). Apa maknanya? Anda tentu sudah mafhum.

Ada semacam guyonan di Muhammadiyah, yaitu “tidak ada hari tanpa peresmian”. Hari ini meresmikan amal usaha Muhammadiyah (AUM) di sini. Besok groundbreaking AUM di sana. Setiap hari. Tidak ada hari tanpa peresmian. Tidak ada hari tanpa groundbreaking.

Muhammadiyah hingga saat ini sangat solid secara gerakan. Terutama dalam konteks pembangunan AUM. Warga Muhammadiyah, dari ranting hingga pusat, tak pernah lelah gotong royong membangun AUM.

Tentu ini hal yang menggembirakan. Hanya saja, kita patut melihat Muhammadiyah dalam aspek yang lebih luas. Pembangunan AUM yang masif ini membutuhkan kader-kader yang andal untuk mengelola. Jangan sampai, AUM yang jumlahnya ribuan itu justru tidak dikelola dengan baik karena ketiadaan SDM yang mumpuni.

Di titik inilah rasanya kita perlu melihat ke dalam. Keseriusan membangun AUM tidak sebanding dengan keseriusan membangun SDM, terutama SDM kader muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan Muhammadiyah.  Analoginya begini. Berapa banyak dana yang mengalir untuk membangun gedung. Coba kita bandingkan berapa banyak dana yang mengalir untuk membangun SDM di internal Muhammadiyah. Seratus juta untuk membangun satu lokal kelas atau membebaskan sepetak tanah itu tampak kecil. Pimpinan dan warga Muhammadiyah akan gotong-royong untuk mengumpulkan dana. AUM-AUM besar juga tak sungkan membantu.

Tapi, seratus juta untuk menyekolahkan seorang kader itu rasa-rasanya kok besar sekali. Butuh rapat berbulan-bulan dan debat berkepanjangan bagi pimpinan agar mau menggelontorkan dananya untuk membiayai pendidikan kader-kadernya.

Kekhawatiran tokoh Muhammadiyah Prof. A. Malik Fadjar di atas tentu beralasan. Ia khawatir kalau ke depan, Muhammadiyah menjadi semakin besar, memiliki ribuan bangunan megah, aset bertumpuk di mana-mana, tapi bangunan dan aset itu dikelola oleh orang-orang oportunis yang disebut oleh Kiai Dahlan sebagai orang yang “mencari hidup di Muhammadiyah”.

Ia khawatir ketika Muhammadiyah semakin besar, gedung-gedungnya mewah, tapi tidak ada roh kemuhammadiyahannya. Karena kader-kader penggeraknya sendiri tidak di-support. Tidak diperhatikan. Tidak diayomi. Muhammadiyah akan menjadi bangunan tanpa nyawa. Jasad tanpa roh. Tubuh tanpa jiwa.

Maka, alokasi dana dari ranting hingga pusat harus dilihat ulang secara detail. Dana untuk pengembangan kader perlu ditambah. Dalam hal ini kita di akar rumput bisa mencontoh PP Muhammadiyah. PP Muhammadiyah sudah mulai menginisasi kegiatan yang berbasis pengembangan SDM kader seperti Muhammadiyah Scholarship Preparation Program (MSPP).

Studi Lanjut

MSPP adalah kegiatan belajat Bahasa Inggris secara intensif dengan model karantina selama tiga bulan. Tujuannya menyiapkan kader-kader Muhammadiyah dan dosen perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) untuk menempuh studi lanjut di luar negeri. Bagi saya, ini adalah prototype kegiatan yang sangat ideal. Dana yang digelontorkan untuk MSPP cukup besar. Setiap tahun, panitia memberangkatkan sekitar 50 peserta dari berbagai daerah dengan memberi beasiswa belajar Bahasa Inggris secara intensif lengkap dengan tempat tinggal, makan, hingga tiket berangkat dan pulang serta uang saku bulanan. Lazismu, PTM, serta beberapa pihak lain gotong royong untuk mendukung kegiatan ini dari sisi pendanaan dan pengadaan fasilitas.

Melihat kegiatan yang begitu baik ini, DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) kemudian menduplikasi dengan membuat Djazman English Scholarship (DES). Konon, DES menghabiskan separuh dari keseluruhan anggaran DPP IMM. Sebuah upaya yang sangat patut kita acungi jempol.

MSPP dan DES ditujukan untuk alumni S1/S2 yang akan melanjutkan ke pendidikan pascasarjana. Maka, peran Pimpinan Ranting Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah (PRM/A), pimpinan cabang dan pimpinan daerah baik Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah melakukan pendampingan kader-kader yang baru lulus SMA. Sebagian dari mereka tidak berhasil mendapatkan beasiswa dari PTMA terdekat. Pimpinan Muhammadiyah bisa melakukan beberapa hal. Pertama, melakukan pendekatan kepada PTMA tujuan agar bisa mengakomodasi dengan skema beasiswa. Kedua, jika poin pertama gagal, bisa mencarikan beasiswa dengan funding dari sumber lain. Seperti Lazismu dan AUM selain PTMA. Jika masih tidak bisa, maka kader-kader seperti ini bisa dibimbing, diberikan pendampingan dan pelatihan agar bisa mendapatkan kampus dengan beasiswa di tahun depan, syukur-syukur bisa ke perguruan tinggi negeri (PTN). Jika toh tetap tidak bisa, maka perlu ada pendampingan usaha atau usaha pencarian pekerjaan yang layak.

Tentu usaha ini tidak bisa langsung dilihat hasilnya. Seperti ketika membangun gedung yang megah. Yang bisa langsung kita banggakan sebagai sebuah legacy. Tapi membina kader adalah membina manusia. Membina manusia adalah membina kemanusiaan. Butuh waktu yang lama untuk melahirkan seorang kader yang andal. Asalkan dibekali dengan pendampingan dan pendidikan yang baik, di masa depan, kader-kader muda ini akan menjadi penerus perjuangan Muhammadiyah dengan dampak yang luas. Hasil dari membina kader Muhammadiyah baru akan dirasakan 10-20 tahun ke depan.

Bagi saya, Muhammadiyah berdiri untuk meningkatkan sumberdaya manusia. Hari ini, di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), IMM, Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA), Pemuda Muhammadiyah (PM), Hizbul Wathan (HW), dan Tapak Suci (TS), saya melihat ribuan kader di seluruh Indonesia yang siap ditempa, dibina, dan dididik oleh ayahanda dan ibunda Muhammadiyah–‘Aisyiyah. Ribuan kader muda ini, jika diperhatikan dengan serius, akan menjadi katalisator gerakan Muhammadiyah yang dahsyat 10-20 tahun ke depan.

Insyaallah.

Penulis adalah Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Solo

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...