Dari salah seorang muridnya, saya mendengar Prof. A. Malik Fadjar pernah berujar, Muhammadiyah akan menjadi seperti kuburan China kalau terus-menerus membangun gedung, tapi lupa membangun sumber daya manusia (SDM). Apa maknanya? Anda tentu sudah mafhum.
Ada semacam guyonan di Muhammadiyah, yaitu “tidak ada hari tanpa peresmian”. Hari ini meresmikan amal usaha Muhammadiyah (AUM) di sini. Besok groundbreaking AUM di sana. Setiap hari. Tidak ada hari tanpa peresmian. Tidak ada hari tanpa groundbreaking.
Muhammadiyah hingga saat ini sangat solid secara gerakan. Terutama dalam konteks pembangunan AUM. Warga Muhammadiyah, dari ranting hingga pusat, tak pernah lelah gotong royong membangun AUM.
Tentu ini hal yang menggembirakan. Hanya saja, kita patut melihat Muhammadiyah dalam aspek yang lebih luas. Pembangunan AUM yang masif ini membutuhkan kader-kader yang andal untuk mengelola. Jangan sampai, AUM yang jumlahnya ribuan itu justru tidak dikelola dengan baik karena ketiadaan SDM yang mumpuni.
Di titik inilah rasanya kita perlu melihat ke dalam. Keseriusan membangun AUM tidak sebanding dengan keseriusan membangun SDM, terutama SDM kader muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan Muhammadiyah. Analoginya begini. Berapa banyak dana yang mengalir untuk membangun gedung. Coba kita bandingkan berapa banyak dana yang mengalir untuk membangun SDM di internal Muhammadiyah. Seratus juta untuk membangun satu lokal kelas atau membebaskan sepetak tanah itu tampak kecil. Pimpinan dan warga Muhammadiyah akan gotong-royong untuk mengumpulkan dana. AUM-AUM besar juga tak sungkan membantu.
Tapi, seratus juta untuk menyekolahkan seorang kader itu rasa-rasanya kok besar sekali. Butuh rapat berbulan-bulan dan debat berkepanjangan bagi pimpinan agar mau menggelontorkan dananya untuk membiayai pendidikan kader-kadernya.
Kekhawatiran tokoh Muhammadiyah Prof. A. Malik Fadjar di atas tentu beralasan. Ia khawatir kalau ke depan, Muhammadiyah menjadi semakin besar, memiliki ribuan bangunan megah, aset bertumpuk di mana-mana, tapi bangunan dan aset itu dikelola oleh orang-orang oportunis yang disebut oleh Kiai Dahlan sebagai orang yang “mencari hidup di Muhammadiyah”.
Ia khawatir ketika Muhammadiyah semakin besar, gedung-gedungnya mewah, tapi tidak ada roh kemuhammadiyahannya. Karena kader-kader penggeraknya sendiri tidak di-support. Tidak diperhatikan. Tidak diayomi. Muhammadiyah akan menjadi bangunan tanpa nyawa. Jasad tanpa roh. Tubuh tanpa jiwa.
Maka, alokasi dana dari ranting hingga pusat harus dilihat ulang secara detail. Dana untuk pengembangan kader perlu ditambah. Dalam hal ini kita di akar rumput bisa mencontoh PP Muhammadiyah. PP Muhammadiyah sudah mulai menginisasi kegiatan yang berbasis pengembangan SDM kader seperti Muhammadiyah Scholarship Preparation Program (MSPP).
Studi Lanjut
MSPP adalah kegiatan belajat Bahasa Inggris secara intensif dengan model karantina selama tiga bulan. Tujuannya menyiapkan kader-kader Muhammadiyah dan dosen perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) untuk menempuh studi lanjut di luar negeri. Bagi saya, ini adalah prototype kegiatan yang sangat ideal. Dana yang digelontorkan untuk MSPP cukup besar. Setiap tahun, panitia memberangkatkan sekitar 50 peserta dari berbagai daerah dengan memberi beasiswa belajar Bahasa Inggris secara intensif lengkap dengan tempat tinggal, makan, hingga tiket berangkat dan pulang serta uang saku bulanan. Lazismu, PTM, serta beberapa pihak lain gotong royong untuk mendukung kegiatan ini dari sisi pendanaan dan pengadaan fasilitas.
Melihat kegiatan yang begitu baik ini, DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) kemudian menduplikasi dengan membuat Djazman English Scholarship (DES). Konon, DES menghabiskan separuh dari keseluruhan anggaran DPP IMM. Sebuah upaya yang sangat patut kita acungi jempol.
MSPP dan DES ditujukan untuk alumni S1/S2 yang akan melanjutkan ke pendidikan pascasarjana. Maka, peran Pimpinan Ranting Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah (PRM/A), pimpinan cabang dan pimpinan daerah baik Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah melakukan pendampingan kader-kader yang baru lulus SMA. Sebagian dari mereka tidak berhasil mendapatkan beasiswa dari PTMA terdekat. Pimpinan Muhammadiyah bisa melakukan beberapa hal. Pertama, melakukan pendekatan kepada PTMA tujuan agar bisa mengakomodasi dengan skema beasiswa. Kedua, jika poin pertama gagal, bisa mencarikan beasiswa dengan funding dari sumber lain. Seperti Lazismu dan AUM selain PTMA. Jika masih tidak bisa, maka kader-kader seperti ini bisa dibimbing, diberikan pendampingan dan pelatihan agar bisa mendapatkan kampus dengan beasiswa di tahun depan, syukur-syukur bisa ke perguruan tinggi negeri (PTN). Jika toh tetap tidak bisa, maka perlu ada pendampingan usaha atau usaha pencarian pekerjaan yang layak.
Tentu usaha ini tidak bisa langsung dilihat hasilnya. Seperti ketika membangun gedung yang megah. Yang bisa langsung kita banggakan sebagai sebuah legacy. Tapi membina kader adalah membina manusia. Membina manusia adalah membina kemanusiaan. Butuh waktu yang lama untuk melahirkan seorang kader yang andal. Asalkan dibekali dengan pendampingan dan pendidikan yang baik, di masa depan, kader-kader muda ini akan menjadi penerus perjuangan Muhammadiyah dengan dampak yang luas. Hasil dari membina kader Muhammadiyah baru akan dirasakan 10-20 tahun ke depan.
Bagi saya, Muhammadiyah berdiri untuk meningkatkan sumberdaya manusia. Hari ini, di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), IMM, Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA), Pemuda Muhammadiyah (PM), Hizbul Wathan (HW), dan Tapak Suci (TS), saya melihat ribuan kader di seluruh Indonesia yang siap ditempa, dibina, dan dididik oleh ayahanda dan ibunda Muhammadiyah–‘Aisyiyah. Ribuan kader muda ini, jika diperhatikan dengan serius, akan menjadi katalisator gerakan Muhammadiyah yang dahsyat 10-20 tahun ke depan.
Insyaallah.
Penulis adalah Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Solo
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






