Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Mengulik Kurikulum di Madrasah Mambaul Ulum

Zaki Setiawan, Editor: Sholahuddin
Selasa, 16 Januari 2024 10:14 WIB
Mengulik Kurikulum di Madrasah Mambaul Ulum
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Tangkapan layar Buletin Tajdid Pendidikan

Pendidikan Islam masih didominasi oleh pondok pesantren di masa Madrasah Mambaul Ulum (1905-1955). Pondok Pesantren mempunyai sistem pendidikan yang unik yaitu sorogan dan bandongan. Sorogan yaitu pembelajaran kitab secara individual. Setiap santri menghadap secara bergiliran kepada kiai untuk membaca, menjelaskan atau menghafal pelajaran yang diberikan sebelumnya. Bandongan artinya guru menjelaskan mengenai suatu materi dan peserta didik memperhatikan atau menyimak dan mencatat penjelasan yang diberikan oleh guru.

Metode sorogan disebut juga dengan muwajahah untuk pendidikan Islam di Timur Tengah. Seorang Kiai akan memberi ijazah kelulusan ke santri setelah sang santri diuji oleh kiai secara tatap muka. Sang kiai mengajarkan sebuah kitab dengan membacakan dan menelaah kitab di hadapan para santri. Kiai dan santri duduk melingkar di masjid atau pendopo dalam kajian tersebut. Itu disebut metode bandongan.

Madrasah Mambaul Ulum merupakan pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta. Sistem pendidikan di Mambaul Ulum berbeda sekali dengan sistem pendidikan di pesantren. Mambaul Ulum menyelenggarakan pendidikan di kelas menggunakan meja, kursi dan papan tulis. Materi pelajaran disusun menggunakan metode kurikulum ala Barat di masa tersebut.

Materi pelajaran tersusun rapi berdasarkan kelas. Siswa harus mengikuti pendidikan secara berjenjang dari kelas I – XI. Siswa harus melalui ujian untuk kenaikan jenjang pendidikan. Guru atau kiai mengampu materi pelajaran tertentu. Mambaul Ulum mempunyai wewenang yang besar dalam jenjang pendidikan bahkan siswa diperkenankan melompat kelas jika dianggap layak.

Hal ini sangat unik karena meniru pendidikan ala barat padahal para kiai sangat antipati dengan segala sesuatu berbau Barat. Mambaul Ulum memang diselenggarakan oleh pemerintah yang diakui oleh para kiai yaitu Keraton Surakarta. Ini menyebabkan para kiai tidak menentang Mambaul Ulum bahkan mendukung. Hal tersebut berbeda dengan nasib dengan Muhammadiyah di waktu itu yang ditentang para kiai.

Berikut ini tabel materi pelajaran berdasarkan kelas :

  1. Kelas I – IV
NoMateriSumber Belajar/Kegiatan
1Al-Qur’anTohaji, Tajwid dan menghafal juz amma
2FiqhSafinatun najah, Taqrib Matan Abi Syuja’
3TauhidTijan Dorori (Ummul Barohim), Aqidatul Awam
4NahwuAwamil, Jumuniah
5ShorofTashrif, Matan Bina, Izi
6BerhitungTambah, Kurang dan Bagi
7BahasaJawa, Melayu dan Arab
  • Kelas V – VIII
NoMateriSumber Belajar/Kegiatan
1FiqhFathul Qorib, Fathul Muin
2TauhidHud-Hudi, Kifayatul Awam
3NahwuImrithi, Alifiah Ibnu Malik
4ShorofMaqsud, Nadhom
5Badi dan BayanJauhar dan Makmun dan Arudil
6Ilmu RupaIlmu Rasm
7Ilmu UkuranTakaran dan Timbangan
8Pendidikan dan PengajaranTa’limul Muta’alim
9AkhlaqAdzkiyaa (Tasawuf Akhlaq)

Kelas IX – XI

NoMateriSumber Belajar/Kegiatan
1TafsirJalalain
2HaditsMuslim
3FiqhFathul Wahab, Al-Muhadzab
4Ushul FiqhWaraqat, Irsyadul Fuhul
5TauhidUqudul Juman
6Ilmu FalakRubu’ Mujayyab, Wasilatul Tulab, Risalatun Nayirin
7Al JabarAkar dan logaritma
8Pendidikan dan PengajaranAt-Tarbiyah Wat Ta’lim, Abdul Fata

Pimpinan dan Guru

Pendirian Mambaul Ulum diawali dengan berbagai rintangan dan tantangan. Mamba’ul Ulum belum cukup mantap, belum teratur dan belum mempunyai gedung sendiri dan sarana/pra saran belum lengkap. Disamping itu, Sistem pendidikan Mambaul Ulum merupakan model baru yang belum pernah dıpakai di lingkungan pendidikan Islam meskipun sudah lama dipakai di sistem pendidikan Barat. Sistem pendidikan dengan model kurikulum dipandang asing di kalangan ulama.

Mambaul Ulum membutuhkan tokoh yang berpengaruh, lincah, dan dinamis sehingga dapat mengorganisasi, membina dan mengembangkan Mambaul Ulum. Maka, Kiai Bagus Arfah ditetapkan sebagai pemimpin pertama Mambaul Ulum karena dianggap cakap dan mampu memikul tugas tersebut meskipun bukan ulama besar.

Tahap selanjutnya, Mambaul Ulum memerlukan ulama yang ahli dalam bidang ilmu agama untuk memimpin. Kiai H. Moh ldris merupakan ulama besar yang memimpin pondok Jamsaren diangkat sebagai pimpinan Mambaul Ulum. Kiai Idris menyelenggarakan pengajian kitab besar di Jamsaren.  Pimpinan Mambaul Ulum setelah Kiai Idris yaitu Kiai Jauhar. Kiai Jauhar menulis di berbagai majalah secara aktif.

Kiai Abdul Jalil Projowiyoto sebagai penggati Kiai Jauhar. Beliau merupakan ulama yang wara’ dan ahli lmu falak. Kiai Abdul Jalil memimpin sampai akhir pemerintahan Kasunanan. Selama itu, Kiai H. Dimyati Condro Wiyoto menjadi wakil kepala dari masa kepemimpinan Kiai Idris sampai dengan Kiai Abdul Jalil Projowiyoto.

Berikut ini daftar dari dewan guru Mambaul Ulum :

NoNamaPosisi di luar Mambaul UlumPangkatPengajar
1Kiai Muhammad FadilKhatib ArumMualim 1bacaan Al-qur’an
2Kiai Muhammad FadlilJuru Kunci makam pajangmualim 2
3Bagus Abdul Katam mudarris
4Kiai Muhammad Nawawidari perdikam Gempolmudarris
5Kiai Bagus Arfah mualim 1pengajar kitab
6Kiai Muhammad Badris mualim 2
7Kiai Fahrurs Rozi mualim 2
8Kiai Muhammad Ilyas Mudarris
9Kiai Muhammad Anwar Mudarris 
10Kiai Muhammad Idris  ilmu agama dan falak
11Kiai H. Dimyati Condrowiyoto  
12Kiai Abdul Jalil Projowiyoto  
13Kiai Jauhar (Kiai Muhsan)  
14Kiai Kholil  
15Kiai H. Irsyam  
16Kiai L Abu Su’ud  
17Kiai Mawardi  
18Kiai Amin   
19Kiai Jalal Suyuti   
20Kiai Asyhuri   
21Kiai Ma’ruf Manguniyoto 
22Kiai Suryani Manguniyoto) 
23Kiai Subki   
24Kiai Amir Hamzah Gonowiyoto 
25Kiai Kafrawi   
26Sukaji Brotowiyoto 
27Kiai Ali Darokah   
28Wingnyowiyoto  Vak Umum
29Syamsul Hadiwiyoto  

Sebagian besar latar belakang pendidikan dari dewan guru Mambaul Ulum berasal dari lulusan pesantren seperti Tremas, Tegalsari, dan lain-lain. Beberapa guru yang lain berasal dari lulusan Mamba’ul Ulum sendiri yang istimewa. Kepangkatan guru yang semula dípergunakan istilah mualimn 1, 2 dan mudarris. Namun, kepangkatan disesuaikan dengan kepangkatan keraton seperti jajar, lurah, mantri, penewu dan wedono. Kepangkatan menunjukkan kewenangan mengajar, senioritas dan tingkat gaji.

Sumber : Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo, Januari 2024/edisi 9/2024.

Penulis adalah pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Solo. 

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment