Pendidikan Islam masih didominasi oleh pondok pesantren di masa Madrasah Mambaul Ulum (1905-1955). Pondok Pesantren mempunyai sistem pendidikan yang unik yaitu sorogan dan bandongan. Sorogan yaitu pembelajaran kitab secara individual. Setiap santri menghadap secara bergiliran kepada kiai untuk membaca, menjelaskan atau menghafal pelajaran yang diberikan sebelumnya. Bandongan artinya guru menjelaskan mengenai suatu materi dan peserta didik memperhatikan atau menyimak dan mencatat penjelasan yang diberikan oleh guru.
Metode sorogan disebut juga dengan muwajahah untuk pendidikan Islam di Timur Tengah. Seorang Kiai akan memberi ijazah kelulusan ke santri setelah sang santri diuji oleh kiai secara tatap muka. Sang kiai mengajarkan sebuah kitab dengan membacakan dan menelaah kitab di hadapan para santri. Kiai dan santri duduk melingkar di masjid atau pendopo dalam kajian tersebut. Itu disebut metode bandongan.
Madrasah Mambaul Ulum merupakan pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta. Sistem pendidikan di Mambaul Ulum berbeda sekali dengan sistem pendidikan di pesantren. Mambaul Ulum menyelenggarakan pendidikan di kelas menggunakan meja, kursi dan papan tulis. Materi pelajaran disusun menggunakan metode kurikulum ala Barat di masa tersebut.
Materi pelajaran tersusun rapi berdasarkan kelas. Siswa harus mengikuti pendidikan secara berjenjang dari kelas I – XI. Siswa harus melalui ujian untuk kenaikan jenjang pendidikan. Guru atau kiai mengampu materi pelajaran tertentu. Mambaul Ulum mempunyai wewenang yang besar dalam jenjang pendidikan bahkan siswa diperkenankan melompat kelas jika dianggap layak.
Hal ini sangat unik karena meniru pendidikan ala barat padahal para kiai sangat antipati dengan segala sesuatu berbau Barat. Mambaul Ulum memang diselenggarakan oleh pemerintah yang diakui oleh para kiai yaitu Keraton Surakarta. Ini menyebabkan para kiai tidak menentang Mambaul Ulum bahkan mendukung. Hal tersebut berbeda dengan nasib dengan Muhammadiyah di waktu itu yang ditentang para kiai.
Berikut ini tabel materi pelajaran berdasarkan kelas :
- Kelas I – IV
| No | Materi | Sumber Belajar/Kegiatan |
| 1 | Al-Qur’an | Tohaji, Tajwid dan menghafal juz amma |
| 2 | Fiqh | Safinatun najah, Taqrib Matan Abi Syuja’ |
| 3 | Tauhid | Tijan Dorori (Ummul Barohim), Aqidatul Awam |
| 4 | Nahwu | Awamil, Jumuniah |
| 5 | Shorof | Tashrif, Matan Bina, Izi |
| 6 | Berhitung | Tambah, Kurang dan Bagi |
| 7 | Bahasa | Jawa, Melayu dan Arab |
- Kelas V – VIII
| No | Materi | Sumber Belajar/Kegiatan |
| 1 | Fiqh | Fathul Qorib, Fathul Muin |
| 2 | Tauhid | Hud-Hudi, Kifayatul Awam |
| 3 | Nahwu | Imrithi, Alifiah Ibnu Malik |
| 4 | Shorof | Maqsud, Nadhom |
| 5 | Badi dan Bayan | Jauhar dan Makmun dan Arudil |
| 6 | Ilmu Rupa | Ilmu Rasm |
| 7 | Ilmu Ukuran | Takaran dan Timbangan |
| 8 | Pendidikan dan Pengajaran | Ta’limul Muta’alim |
| 9 | Akhlaq | Adzkiyaa (Tasawuf Akhlaq) |
Kelas IX – XI
| No | Materi | Sumber Belajar/Kegiatan |
| 1 | Tafsir | Jalalain |
| 2 | Hadits | Muslim |
| 3 | Fiqh | Fathul Wahab, Al-Muhadzab |
| 4 | Ushul Fiqh | Waraqat, Irsyadul Fuhul |
| 5 | Tauhid | Uqudul Juman |
| 6 | Ilmu Falak | Rubu’ Mujayyab, Wasilatul Tulab, Risalatun Nayirin |
| 7 | Al Jabar | Akar dan logaritma |
| 8 | Pendidikan dan Pengajaran | At-Tarbiyah Wat Ta’lim, Abdul Fata |
Pimpinan dan Guru
Pendirian Mambaul Ulum diawali dengan berbagai rintangan dan tantangan. Mamba’ul Ulum belum cukup mantap, belum teratur dan belum mempunyai gedung sendiri dan sarana/pra saran belum lengkap. Disamping itu, Sistem pendidikan Mambaul Ulum merupakan model baru yang belum pernah dıpakai di lingkungan pendidikan Islam meskipun sudah lama dipakai di sistem pendidikan Barat. Sistem pendidikan dengan model kurikulum dipandang asing di kalangan ulama.
Mambaul Ulum membutuhkan tokoh yang berpengaruh, lincah, dan dinamis sehingga dapat mengorganisasi, membina dan mengembangkan Mambaul Ulum. Maka, Kiai Bagus Arfah ditetapkan sebagai pemimpin pertama Mambaul Ulum karena dianggap cakap dan mampu memikul tugas tersebut meskipun bukan ulama besar.
Tahap selanjutnya, Mambaul Ulum memerlukan ulama yang ahli dalam bidang ilmu agama untuk memimpin. Kiai H. Moh ldris merupakan ulama besar yang memimpin pondok Jamsaren diangkat sebagai pimpinan Mambaul Ulum. Kiai Idris menyelenggarakan pengajian kitab besar di Jamsaren. Pimpinan Mambaul Ulum setelah Kiai Idris yaitu Kiai Jauhar. Kiai Jauhar menulis di berbagai majalah secara aktif.
Kiai Abdul Jalil Projowiyoto sebagai penggati Kiai Jauhar. Beliau merupakan ulama yang wara’ dan ahli lmu falak. Kiai Abdul Jalil memimpin sampai akhir pemerintahan Kasunanan. Selama itu, Kiai H. Dimyati Condro Wiyoto menjadi wakil kepala dari masa kepemimpinan Kiai Idris sampai dengan Kiai Abdul Jalil Projowiyoto.
Berikut ini daftar dari dewan guru Mambaul Ulum :
| No | Nama | Posisi di luar Mambaul Ulum | Pangkat | Pengajar |
| 1 | Kiai Muhammad Fadil | Khatib Arum | Mualim 1 | bacaan Al-qur’an |
| 2 | Kiai Muhammad Fadlil | Juru Kunci makam pajang | mualim 2 | |
| 3 | Bagus Abdul Katam | mudarris | ||
| 4 | Kiai Muhammad Nawawi | dari perdikam Gempol | mudarris | |
| 5 | Kiai Bagus Arfah | mualim 1 | pengajar kitab | |
| 6 | Kiai Muhammad Badris | mualim 2 | ||
| 7 | Kiai Fahrurs Rozi | mualim 2 | ||
| 8 | Kiai Muhammad Ilyas | Mudarris | ||
| 9 | Kiai Muhammad Anwar | Mudarris | ||
| 10 | Kiai Muhammad Idris | ilmu agama dan falak | ||
| 11 | Kiai H. Dimyati Condrowiyoto | |||
| 12 | Kiai Abdul Jalil Projowiyoto | |||
| 13 | Kiai Jauhar (Kiai Muhsan) | |||
| 14 | Kiai Kholil | |||
| 15 | Kiai H. Irsyam | |||
| 16 | Kiai L Abu Su’ud | |||
| 17 | Kiai Mawardi | |||
| 18 | Kiai Amin | |||
| 19 | Kiai Jalal Suyuti | |||
| 20 | Kiai Asyhuri | |||
| 21 | Kiai Ma’ruf | Manguniyoto | ||
| 22 | Kiai Suryani | Manguniyoto) | ||
| 23 | Kiai Subki | |||
| 24 | Kiai Amir Hamzah | Gonowiyoto | ||
| 25 | Kiai Kafrawi | |||
| 26 | Sukaji | Brotowiyoto | ||
| 27 | Kiai Ali Darokah | |||
| 28 | Wingnyowiyoto | Vak Umum | ||
| 29 | Syamsul Hadiwiyoto |
Sebagian besar latar belakang pendidikan dari dewan guru Mambaul Ulum berasal dari lulusan pesantren seperti Tremas, Tegalsari, dan lain-lain. Beberapa guru yang lain berasal dari lulusan Mamba’ul Ulum sendiri yang istimewa. Kepangkatan guru yang semula dípergunakan istilah mualimn 1, 2 dan mudarris. Namun, kepangkatan disesuaikan dengan kepangkatan keraton seperti jajar, lurah, mantri, penewu dan wedono. Kepangkatan menunjukkan kewenangan mengajar, senioritas dan tingkat gaji.
Sumber : Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo, Januari 2024/edisi 9/2024.
Penulis adalah pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Solo.
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...






