Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tarjih & Tajdid

Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Membangun Civil Society

Tim Redaksi, Editor: Admin
Kamis, 16 Mei 2019 22:42 WIB
Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Membangun Civil Society

Pergulatan Muhammadiyah dengan globalisasi bukanlah sesuatu yang bisa dihidari. Sebagai organisasi modern  yang telah berusia 106 tahun pada tanggal 18 November 2018 lalu, Muhammadiyah diakui telah memiliki peran penting dalam membangun civil society (Sutikno, 2015).

Dampak globalisasi yang menjerat manusia ke dalam aktivitas yang cenderung pragmatis dan tidak mengindahkan nilai kemanusiaan, serta situasi politik yang cenderung berorientasi pada kekuasaan dan mengabaikan pembangunan manusia secara utuh.

Muhammadiyah yang lahir dengan berbagai latar belakang sosial-empiris seperti pendidikan, ekonomi, dan politik hadir untuk menumbuhkan sebuah gagasan gerakan pembaharuan (tajdid) agar peradaban manusia tetap maju dan mampu bergulat dengan perkembangan zaman.

Semangat inilah yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan kepada generasi penerus Muhammadiyah demi terwujudnya masyarakat utama sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh Muhammadiyah sejak awal berdiri.

Tujuan gerakan tajdid Muhammadiyah jika dilihat pada praksisnya memiliki dua orientasi, yaitu puritan dan reformasi. Puritan atau puitanisme ialah gerakan yang memiliki tujuan untuk mengembalikan pemahaman Islam yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad atau yang biasa diistilahkan dengan ber-Islam sesuai dengan tuntunan al-quran dan As-sunnah.

Sedangkan reformasi adalah gerakan yang bertujuan untuk membenahi tatanan sosial-masyarakat yang selama ini banyak ditindas oleh kelompok imprealisme dan kolonialisme. Bentuk praksisnya dengan memperbaiki pola pikir masyarakat agar menjadi masyarakat yang maju dan peka terhadap realitas melalui gerakan yang diwadahi dengan pendidikan, kesehatan, dan sosial-masyarakat.

Kiprah gerakan Muhammadiyah yang didorong oleh spirit tajdid bisa dilihat dan difahami melalu berbagai perspektif, seperti historis, teologis, ekonomi dan budaya. Perspektif historis menggambarkan gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan Islam yang berdialektika dengan gerakan pembaharuan Islam di Barat Tengah.

Gagasan pembaharuan Islam yang dibawa oleh KH. Ahmad Dahlan terinpirasi oleh pemikiran aktivis Islam seperti Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afghani, dan Muhammad Abduh. Perspektif ini sekaligus mempertegas bahwa Muhammadiyah dengan gerakan yang digagasnya tidak terlepas dari unsur teologis yang dapat disaksikan melalui pergulatan Kiai Dahlan dengan masalah TBC (takhayyul, bid’ah, dan kurafat).

Disamping itu, perspektif politik juga menggambarkan bagaimana kiprah gerakan Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi yang berpengaruh dalam dinamika politik ummat Islam.

Di akhir abad 20, kiprah politik Muhammadiyah bisa tergambar dari aktivitas politik Muhammadiyah yang berorientasi pada gerakan politik untuk memupuk semangat nasionalisme, toleransi, dan persatuan.

Meskipun Muhammadiyah secara organisasi tidak bergelut langsung di dunia politik praktis, namun sumbangsih Muhammadiyah dalam membangun aktivitas politik di Indonesia begitu signifikan bagi pembangunan bangsa dan negara.

Hal ini juga disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020, Haedar Nashir, yang mengatakan bahwa aktivitas politik Muhammadiyah bukanlah untuk menduduki jabatan pemerintahan, melainkan internalisasi nilai-nilai kebangsaan agar semangat nasionalisme terawat dengan baik di dalam diri masyarakat Indonesia.

Begitu juga dengan kiprah Muhammadiyah dalam membangun prekonomian ummat Islam di Indonesia, bergerak dengan spirit al-maun yang ditopang oleh nilai kebudayaan, gotong-royong, menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam yang memiliki kepedulian terhadap kondisi perekonomian yang saat ini masih bisa dikatakan lemah karena kuatnya pengaruh kapitalisme.

Gerakan ekonomi Muhammadiyah yang bernuansa filantorpis tentu tidak bisa kita abaikan, dengan didirikannya lembaga amil zakat (LAZISMU) yang dikelola oleh kader-kader Muhammadiyah telah memberikan sumbangsih yang sangat luar biasa bagi perekonomian ummat hingga saat ini, meskipun masih ada hal yang perlu dibenahi di dalam diri LAZISMU.

Apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah hingga hari ini mencerminkan bahwa semangat tajdid yang dimiliki oleh aktivis Muhammadiyah masih terjaga dengan baik. Betapapun banyak kelompok yang mengkritik, namun upaya pembaharuan di wilayah pemikiran dan gerakan sosial masih menjadi agenda utama Muhammadiyah.

Apalagi dengan kuatnya pengaruh globalisasi bagi bangsa Indonesia, khususnya pada aspek perilaku masyarakat yang semakin individualistic dan keringnya moralitas anak-anak bangsa, membuat Muhammadiyah dipaksa bekerja keras agar ummat Islam tidak terjerumus pada aktivitas atau perilaku-perilaku yang tidak mengindahkan harkat dan martabat manusia seperti yang banyak kita saksikan saat ini.

Share:

Berita Terbaru

Dari GWO Sriwedari, Belajar Jadi Manusia Seutuhnya

Dua kali saya menyaksikan tampilan seni budaya dalam bentuk drama dan pagelaran seni daerah nusantara persembahan dari siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Gelaran...

Membangun Amal Usaha Muhammadiyah Unggulan

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak atas semangat al-Ma’un dan Al-Ashr (dari etos ke spirit peradaban) dan berkhidmat untuk membangun kemanusiaan, keumatan, kebangsaan, dan internasional...

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam Menghadapi Penurunan Jumlah Warganya?

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pernyataan Denny JA mengenai penurunan yang signifikan dalam jumlah warga Muhammadiyah dalam 20 tahun terakhir merupakan isu yang perlu dipertimbangkan dengan serius...

Historical Walking, Ikhtiar Pembumian Nilai Kemuhammadiyahan

Sepanjang yang saya ketahui, ada dua buku yang mengupas perjalanan Sejarah Muhammadiyah kota Surakarta. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis oleh Dr Mohamad...

Mindful Learning dalam Pembelajaran Kimia

Materi kimia sangatlah menarik. Bila seorang guru mampu membangkitkan minat dan motivasi siswa, materi kimia bisa menjadi sarana berpikir kritis, kreatif, membentuk karakter ilmiah dan...

STEM and Digitalisation (3): Manpower Development, Coaching Students, and Reflective Thinking

Diskusi dan sharing pengelolaan pendidikan bersama akademisi Nanyang Polytechnic Singapura berlanjut sampai hari ke -10. Tema Pengembangan sumber daya manusia untuk pertumbuhan ekonomi, membangun cara...

Melekat Kelas Baru

Di awal tahun pelajaran baru, satuan pendidikan menyiapkan awal tahun pelajaran. Kegiatan awal tahun ditandai adanya berbagai kegiatan. Salah satunya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah...

STEM and Digitalisation (2): Menciptakan Iklim dan Ekosistem Inovasi

Baca seri pertama dari artikel ini di sini Hari ke-2, 3, dan 4 pelatihan, kami berdialog dan sharing dengan Mr Yoon Eng Tong dalam forum...

Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)

RESENSI BUKU Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) Judul Buku : Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)...

STEM And Digitalisation (1): Refleksi Teachers Course di Nanyang Polytechnic Singapura

Hari ini, Senin 17 Juli 2023 saya berkesempatan untuk belajar secara langsung bersama Dr Judy Emily dari Nanyang Polytechnic (NYP) Singapore untuk mendalami model pendidikan...

Romansa Guru Penggerak

Program guru penggerak merupakan bagian dari program merdeka belajar episode ke lima yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program guru pengerak adalah...

Buku Merawat Intelektualisme Muhammadiyah Telah Terbit

Kabar gembira bagi para aktivis dan kader Muhammadiyah di kota Solo. Pasalnya, buku karya Dr Mohamad Ali yang merupakan catatan–catatan sejarah pergerakan Muhammadiyah di kota...