Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perguruan Tinggi

Bahas Hujan Ekstrem dan Banjir Bandang, Pakar Geografi UMS Soroti Rapuhnya Tata Ruang

Adi Humas, Editor: Alan Aliarcham
Selasa, 30 Desember 2025 19:19 WIB
Bahas Hujan Ekstrem dan Banjir Bandang, Pakar Geografi UMS Soroti Rapuhnya Tata Ruang
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi banjir.

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Anomali iklim yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi perhatian serius berbagai pihak. Fenomena hujan ekstrem, banjir bandang, dan potensi bencana hidrometeorologis dinilai bukan sekadar peristiwa musiman, tetapi berkaitan erat dengan kondisi geografis, perubahan iklim global, serta perilaku manusia dalam mengelola lingkungan.

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Kuswaji Dwi Priyono, menjelaskan anomali iklim sejatinya bukan fenomena baru. Namun, intensitas dan skalanya kini semakin besar.

Ia menyinggung peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi siklon tropis yang jarang berdampak langsung ke wilayah Indonesia. “Anomali iklim ini sebenarnya sudah terjadi dari tahun ke tahun, hanya saja kemarin intensitasnya sangat besar dan jarang terjadi, serta arah geraknya yang tak dapat diperkirajan” ujarnya. Selasa, (30/12/2025).

Menurut Kuswaji, hujan dengan intensitas tinggi yang seolah terjadi dalam waktu singkat menjadi indikasi adanya gangguan sistem iklim. Namun, ia menegaskan bahwa bencana tidak sepenuhnya disebabkan oleh perubahan iklim.

Faktor geografis dan aktivitas manusia turut memperparah dampaknya. “Bencana tidak murni perubahan iklim, karena secara geografis Indonesia adalah negara kepulauan dengan pegunungan vulkanik yang rapuh dan diperparah oleh aktivitas antropogenik,” katanya.

Ia menambahkan, alih fungsi lahan dan pengelolaan lingkungan yang kurang bijaksana menjadi pemicu utama meningkatnya risiko bencana. Evaluasi tata ruang wilayah, menurutnya, harus berbasis pada aspek kebencanaan dan dilakukan secara konsisten. “Tata ruang wilayah itu seharusnya dievaluasi terus-menerus, bukan hanya lima tahunan, karena kondisi lingkungan kita sangat dinamis,” jelasnya.

Rentan Bencana

Ia juga mengingatkan hampir seluruh wilayah Indonesia rentan terhadap bencana. Sebagai negara tropis dengan intensitas hujan tinggi dan kondisi geologis yang tua, potensi banjir dan longsor dapat terjadi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. “Indonesia ini seperti laboratorium kebencanaan dunia, sehingga kewaspadaan harus merata di semua wilayah,” ungkapnya.

Dalam konteks penanggulangan bencana, ia menilai fokus penanganan masih terlalu berat pada saat tanggap darurat. Padahal, upaya prabencana seperti mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat jauh lebih penting. “Yang perlu diperkuat adalah kesiapan dan mitigasi, bukan hanya mengirim bantuan saat bencana sudah terjadi,” tegasnya.

Ia mencontohkan Jepang yang berhasil membangun budaya tangguh bencana melalui pendidikan dan latihan berkelanjutan. Di Indonesia sendiri, upaya serupa telah dilakukan melalui program desa tangguh bencana dan sekolah siaga bencana, termasuk yang didampingi oleh Fakultas Geografi UMS.

Terkait sistem peringatan dini, Kuswaji menjelaskan bahwa untuk bencana geologi seperti gempa bumi dan gunung api, Indonesia sudah memiliki instrumen yang memadai. Namun, untuk bencana hidrometeorologis seperti banjir bandang, sistemnya masih bersifat prediktif. “Untuk banjir bandang memang belum ada peringatan dini yang pasti, karena sifatnya sangat dinamis dan dipengaruhi banyak faktor,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya mitigasi berbasis komunitas yang dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti pengelolaan sampah dan penghijauan. Menurutnya, pohon memiliki peran vital dalam menyerap air hujan dan mencegah limpasan permukaan. “Hujan itu seharusnya kita panen, disimpan menjadi air tanah, bukan dibiarkan menjadi banjir yang merusak,” tuturnya.

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Kuswaji Dwi Priyono.

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Kuswaji Dwi Priyono. (Humas)

Sejalan dengan penjelasan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Pedoman Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana menegaskan bahwa peningkatan intensitas hujan dan bencana hidrometeorologis perlu disikapi dengan kesiapsiagaan yang matang.

BNPB menyebut bahwa penetapan status keadaan darurat didasarkan pada dampak nyata bencana, seperti luas wilayah terdampak, jumlah korban, kerusakan lingkungan, serta terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

“Pedoman BNPB juga menekankan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat semata. Upaya mitigasi dan pengurangan risiko harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan wilayah, terutama di daerah rawan banjir dan longsor,” paparnya.

Evaluasi tata ruang, pengendalian pemanfaatan lahan, serta peningkatan kapasitas masyarakat menjadi faktor kunci untuk menekan dampak bencana yang berulang. Dengan karakter Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana hidrometeorologis, BNPB menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan bencana.

Pendekatan berbasis risiko dan lingkungan ini, lanjutnya, dinilai menjadi langkah strategis agar kejadian hujan ekstrem dan banjir bandang tidak selalu berujung pada kondisi darurat yang merugikan banyak pihak.

Menutup pemaparannya, Kuswaji mengajak generasi muda untuk tidak mudah lupa terhadap pelajaran bencana. Ia menilai perubahan iklim sudah nyata dan menuntut tanggung jawab bersama. “Perubahan iklim itu nyata, dan tugas kita bersama adalah mengelola alam dengan lebih bijak agar bencana tidak terus berulang,” tuturnya.

Berita Terbaru

PESMA UMS Latih Mahasantri Public Speaking dan Personal Branding

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pesantren Mahasiswa (PESMA) Internasional KH Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membekali mahasantri dengan keterampilan berbicara di depan umum (public speaking) dan membangun...

HMP PBSI FKIP UMS Selenggarakan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMP PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menyelenggarakan kegiatan Latihan...

HMP PTI UMS Lolos Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 Melalui Inovasi Smart Farming

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (HMP PTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil lolos sebagai peserta Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 melalui program PPK...

FKIP UMS Perkuat Peran Ormawa Melalui Diskusi Kelembagaan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Menggelar kegiatan bertajuk Diskusi Kelembagaan dan Penguatan Peran Oramawa FKIP UMS dengan Tema “FKIP...

UMS Dampingi PCA Gatak Bikin Minyak Jelantah Bernilai Ekonomi

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendampingi anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Sukoharjo, mengolah minyak jelantah menjadi sabun cair pencuci piring. Program pengabdian masyarakat...

Tiga Mahasiswa UMS Raih Penghargaan di Putra-Putri Lawu 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih penghargaan dalam ajang Putra-Putri Lawu 2026, pemilihan duta wisata Kabupaten Karanganyar. Penghargaan tersebut diumumkan dalam malam...

Inovasi Deteksi Dini Stunting Mahasiswa UMS Raih Emas di BMEIIF 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Program Studi Profesi Dokter Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Aswa Arsa Kumala, meraih dua penghargaan internasional melalui inovasi GROWELL, sebuah platform pemantauan pertumbuhan...

Mahasiswa Kesmas UMS Edukasi Warga Purwogondo soal Biopori

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengedukasi warga Desa Purwogondo, Kecamatan Kartasura, tentang pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB). Kegiatan ini...

UMS Hadirkan Pakar Bangladesh dalam Pelatihan Herbal di Gatak

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membekali anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Sukoharjo, dengan pengetahuan budidaya dan pengolahan tanaman obat melalui pelatihan herbal berbahan...

Tim Pengabdian UMS Dorong Digitalisasi Dikdasmen PCM Kartasura

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendorong digitalisasi tata kelola dan pengembangan kewirausahaan di lingkungan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF)...

IQT UMS Perkuat Tradisi Qira’at Bersanad di Pesantren

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkontribusi dalam pembinaan tahsin dan pembelajaran qira’at bersanad di...

Dosen UMS Bahas Desain Ideal Sistem Pemilu untuk Perkuat Kualitas Demokrasi

YOGYAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Desain sistem pemilihan umum (pemilu) berperan penting dalam menentukan kualitas demokrasi, keterwakilan politik, dan efektivitas pemerintahan. Karena itu, pembaruan sistem pemilu perlu mempertimbangkan keadilan...