Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perguruan Tinggi

Negeri di Atas Patahan: Apakah Mitigasi Bencana Kita Sudah Memadai?

Alvian, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 12 Desember 2025 15:32 WIB
Negeri di Atas Patahan: Apakah Mitigasi Bencana Kita Sudah Memadai?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dosen Program Studi Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Danardono. (Humas)

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Indonesia berada dalam kawasan bencana dengan risiko tinggi sebagai negara yang berdiri di atas Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, dengan 295 sesar aktif, 14 segmen sumber gempa subduksi, serta ratusan segmen patahan lain yang belum teridentifikasi menurut Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) 2024.

Kondisi tektonik pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik membuat sebagian besar wilayah di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Bali-NTB-NTT, Sulawesi, Maluku, dan Papua rentan akan bencana gempa bumi, tsunami, serta deformasi permukaan.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan apakah mitigasi bencana Indonesia sudah memadai dalam menekan risiko kerusakan dan korban jiwa? Dosen Program Studi Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Danardono, menjelaskan siklus dalam manajemen bencana mencakup pra, saat dan pascabencana, di mana  fase prabencana menjadi kunci utama dalam sebuah mitigasi bencana.

Saat ini, Indonesia sudah memiliki peta risiko nasional melalui platform InaRISK milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang memetakan ancaman seperti gempa bumi, banjir, longsor, hingga hidrometeorologi di seluruh wilayah Indonesia. Namun pemetaan tersebut masih berada pada level makro.

“Peta BNPB itu sangat bagus, tetapi skalanya besar. Belum detail sampai tingkat kecamatan atau desa. Di situlah gap yang perlu ditutup, pemetaan risiko bencana itu hal yang sangat penting dalam upaya mitigasi, karena menjadi dasar menentukan daerah prioritas dan strategi adaptasi masyarakat,” jelasnya, Kamis (11/12/2025).

Menurut Danardono, beban pemetaan daerah risiko bencana secara detail seharusnya dilanjutkan oleh BPBD provinsi dan kabupaten. Namun, kenyataannya belum semua daerah memiliki peta risiko bencana yang memadai meskipun Indonesia memiliki sistem deteksi dini yang tidak kalah dengan negara maju.

Early Warning System (InaTEWS), sensor kegempaan, serta pemantauan deformasi sudah tersedia. Namun persoalannya muncul pada masalah maintenance. “Kalau semuanya diserahkan ke pusat, tentu berat. Mitigasi itu harus kolaboratif pemerintah, institusi pendidikan, masyarakat, dan sektor swasta harus terlibat. Banyak alat early warning system yang hilang atau dicuri. Ketika alat itu hilang, data terputus, dan ini menjadi problem serius,” ungkapnya.

Rancang Jalur Evakuasi

Ia memaparkan teknologi pemetaan detail seperti UAV (Unmanned Aerial Vehicle) sangat efektif untuk merancang jalur evakuasi tsunami dan analisis spasial lainnya. “Data UAV sangat membantu dalam akuisisi data spasial seperti elevasi dan penggunaan lahan. Tanpa data detail, jalur evakuasi tidak dapat disusun secara akurat,” ujarnya merujuk riset yang pernah ia lakukan.

Danardono juga menyoroti minimnya implementasi pendidikan kebencanaan. Pemerintah sudah memiliki program Sekolah Aman Bencana (SPAB) yang tertuang dalam Permendikbud No.33 Tahun 2019, tetapi belum menjangkau seluruh sekolah.

Dalam konteks itu, Prodi Geografi UMS turut mengambil peran dengan menyiapkan kurikulum yang membekali mahasiswa pada konsentrasi lingkungan fisik dan kebencanaan mulai di semester lima. Melalui mata kuliah manajemen kebencanaan, mahasiswa diajarkan untuk akuisisi data dasar kebencanaan, manajemen bencana, hingga penyusunan jalur evakuasi berbasis metode UAV, UMS mendorong lahirnya tenaga ahli yang siap berkontribusi dalam penguatan mitigasi bencana nasional.

Dia kembali menekankan pentingnya kerja lintas sektor dalam menghadapi bencana. Menurutnya, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri.”Pemerintah perlu mengintensifkan perannya sebagai regulator, sambil berkolaborasi dengan peneliti, lembaga masyarakat, dan komunitas,” ujarnya.

la meyakini siklus manajemen bencana hanya akan efektif ketika seluruh unsur terlibat, dari pembuat kebijakan hingga masyarakat paling bawah. Pendidikan, kolaborasi, dan pemahaman di akar rumput, katanya, adalah fondasi terbaik untuk mengurangi korban dan kerugian di masa mendatang.

Berita Terbaru

Iktikaf di Masjid Kampus UMS: Tahajud Berjemaah hingga Kajian Dai Solo Raya

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Kegiatan iktikaf pada 10 malam terakhir Ramadan kembali digelar dalam rangkaian program Gema Kampus Ramadan (GKR) 1447 H di Masjid Sudalmiyah Rais. Program ini...

Bangun Generasi Berakhlak, Dai Pondok Shabran UMS Inisiasi Semarak Ramadan di Kalimantan Barat

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat belajar sekaligus meningkatkan nilai keimanan para santri. Hal ini dilakukan oleh Mahasantri Pengabdian Pondok Shabran Universitas...

UMS Berikan Bingkisan untuk Ratusan Tenaga Outsourcing dan Tenaga Harian Lepas

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar pengajian Ramadan dan pembagian bingkisan bagi tenaga outsourcing dan tenaga harian lepas (THL) di Masjid Pesma Kampus 4 UMS,...

Mahasiswa KKN-Dik UMS Bangkitkan Impian Siswa SMK Muhammadiyah 3 Giriwoyo

WONOGIRI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masa depan bukanlah sesuatu yang hanya ditunggu, melainkan sesuatu yang perlu direncanakan dan dipersiapkan sejak dini. Kesadaran inilah yang coba ditanamkan mahasiswa Kuliah Kerja...

Negara vs Big Tech: Dosen FHIP UMS Soroti Kedaulatan Digital Indonesia

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Langkah tegas Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam memberikan peringatan keras kepada raksasa teknologi Meta dinilai sebagai momentum krusial penegasan kedaulatan digital nasional. Peringatan...

Kunjungi UMS, Mendiktisaintek Bahas Penguatan Riset dan Pengembangan Kampus PTMA

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, melakukan kunjungan ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Rabu (11/3/2026). Kunjungan tersebut diterima Rektor...

3 Dosen FHIP UMS Sabet Dana Penelitian Multitahun 2026, Angkat Isu ESG

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mencatatkan capaian membanggakan melalui keberhasilan tiga dosennya yang memperoleh Pendanaan Penelitian Multitahun (On...

Guru Besar UMS Soroti Dampak Konflik Iran-AS-Israel terhadap Ekonomi

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai berpotensi memberikan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk bagi Indonesia. Hal tersebut disampaikan Guru...

Pondok Shabran UMS Gandeng Warga Semarakkan Festival Ramadhan 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Festival Ramadhan 2026 yang diselenggarakan pada Sabtu – Minggu, (7-8/3/2026) berlangsung meriah dan sangat khidmat. Mengusung tema “Bersama Ramadhan, Menyemai Kebaikan, Menuai Kebahagiaan.” Kegiatan...

Cegah Bullying, UMS Jalin Kerja Sama dengan Sekolah di Selangor Malaysia

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jamaah Sungai Besar, Selangor, Malaysia melalui penandatanganan Memorandum of...

Kolaborasi Muhammadiyah Lintas Negara: UM PKU Surakarta dan PCIM Jepang Teken MoU

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang melaksanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi antar...

UMS Buka Prodi AI, Jadi Daya Tarik Baru Calon Mahasiswa 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada penerimaan mahasiswa baru (PMB) tahun 2026 mulai menghadirkan program studi baru Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Program studi...

Leave a comment