“Anak-anakku semua harus jadi mubalig/mubaligah.”
Meski telah bertahun-tahun, saya masih terngiang-ngiang kata-kata almarhum ayah saya ini. Pernyataan itu berulangkali diungkapkan saat ngobrol santai bersama keluarga. Suatu pesan yang disampaikan secara berulang, bisa dimaknai pesan itu serius. Ya, ayah saya serius menginginkan putra-putrinya bisa meniru jejaknya sebagai mubalig.
Untuk mewujudkan impiannya itu, ayah menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah yang berbasis agama. Bahkan, mengirimkan sebagian ke pesantren. Saya belum pernah merasakan pendidikan di pesantren. Namun, saya menyelesaikan pendidikan tingkat dasar hingga menengah (SD-SMA) di madrasah. “Sekolah [agama] itu akan menjadi bekal kalian saat menjadi mubalig/mubaligah,” lanjut ayah. Pada saat masuk perguruan tinggi saja ayah tidak mengharuskan putra-putrinya masuk ke kampus berbasis agama. Bebas…
Kami, putera-puterinya, memahami betul keinginan ayah. Ayah saya memang seorang mubalig. Hampir tiap malam, ayah keluar rumah untuk berceramah. Apalagi kalau pas momen hari-hari besar Islam, kalender yang menjadi petunjuk jadwal ceramah, hampir penuh dengan lingkaran merah di setiap tanggalnya, berikut keterangan di mana ayah harus ceramah. Kadang-kadang, kalau putra-putrinya ada di rumah (pas pulang dari kos/pondok), ayah selalu mengajaknya saat berceramah. Pertama, untuk menemani saat keluar malam-malam. Maklum, sebagai mubalig tempo dulu, jarang dijemput oleh sang pengundang. Ya, berangkat sendiri naik motor. Kalau lokasinya tidak bisa naik motor, ya jalan kaki, berteman senter, kadang-kadang melewati kuburan, menyerangi sungai tanpa jembatan. Pernah malam-malam kehujanan di pinggir hutan, ban motor bocor lagi. Beruntung ada kakak saya yang menemani. Kedua, dengan mengajak anak-anaknya, sebagai bagian dari pengaderan tugasnya sebagai mubalig. Karena sering diajak ceramah, saya masih ingat beberapa materi ceramahnya.

Foto ilustrasi (Freepik.com).
Selain sebagai mubalig, ayah juga aktif di Persyarikatan Muhammadiyah. Bahkan, pernah menjadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Simo, Boyolali, hingga 32 tahun. “Menyamai kekuasaannya Soeharto,” begitu ledek putra-putrinya kepada ayah. Sama-sama “berkuasa” selama 32 tahun, he..he..he…
“Kamu tahu bedanya Bapakmu sama Soeharto?” begitu kata ayah, dengan nada serius.
“Kalau Soeharto, rakyatnya sudah minta dia turun, tapi Soeharto tetap ingin jadi presiden.”
“Kalau Bapakmu, sudah berulangkali minta agar tidak jadi ketua, tapi Musyawarah Cabang selalu minta Bapakmu jadi Ketua PCM,” kata ayah.
“Ha…ha…ha….,” kami pun ngakak bareng.
Ayah saya piawai berdebat. Maklum, selain mubalig, pernah juga jadi politisi Masyumi, anggota DPRD-GR Parmusi, dan terakhir “dipaksa” masuk Golkar karena seorang PNS.
Sejauh ingatan saya, jabatan terakhir di Persyarikatan adalah Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali. Setelah itu, pada 1996, ayah meninggal. Ayah saya memang dididik oleh kakek untuk menjadi mubalig. Saat kecil, ayah “dipaksa” ceramah di pasar-pasar oleh kakek saya. Akhirnya, selama hidupnya, ayah mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan dan dakwah, termasuk melalui Persyarikatan Muhammadiyah.
Jujur, saat mendengarkan keinginan ayah itu, saya hanya diam. Sesungguhnya itu cita-cita orang tua yang mulia. Namun, saya tidak bisa membayangkan saat saya jadi juru dakwah. Saat kecil, saya orang yang inferior. Sebagai wong ndeso yang sering di-bully, saya adalah pribadi yang minderan. Pendiam. Jarang bicara. Karena memang susah untuk bicara. Apalagi di hadapan orang banyak. Hmmmm…sungguh itu siksaan! Bagaimana mungkin saya bisa menjadi penceramah agama yang baik? Itu saja yang saya pikirkan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mengusir perasaan minder ini. Bahkan, saat kuliah, saya masuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) semata-mata ingin berlatih untuk meningkatkan kepercayaan diri. Alhamdulillah, perasaan minder itu tidak lagi menghantui hidup saya.
Tafsir Ulang
Suatu hari, saat diskusi bareng keluarga, ayah tiba-tiba menafsir ulang atas pengertian mubalig/mubaligah. “Jadi mubalig/mubaligah itu tidak harus melalui ceramah. Jadi mubalig/mubaligah bisa melalui pekerjaan/profesi masing-masing,” begitu kata ayah.
“Mubalig/mubaligah adalah orang yang selalu menyampaikan kebenaran, sesuai pekerjaan kamu,” lanjut ayah.
“Kalau jadi politikus, jadilah politikus yang selalu menyampaikan dan berpihak kepada kebenaran. Itu namanya juga mubalig/mubaligah.”
Sungguh, saya kaget, sekaligus senang, tiba-tiba ayah punya penafsiran baru tentang mubalig/mubaligah. Mengapa tiba-tiba ayah berubah? Saat itu saya kok tidak menanyakan secara langsung. Yang pasti, saya bungah karena saya bisa terbebas “beban” menjadi seorang penceramah agama. Bahwa menyampaikan kebenaran, mengajak kebaikan, itu bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan banyak cara, asalkan dilakukan dengan cara-cara yang baik.
Itulah, mubalig/mubaligah…
Tafsir ayah saya itu sebenarnya tidak benar-benar baru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mubalig adalah orang (laki-laki) yang menyiarkan (menyampaikan) ajaran agama Islam; juru dakwah’. Sedangkan mubaligah untuk menunjuk perempuan. Dalam makna kata asli dalam bahasa Arab, maknanya tidak jauh beda dengan makna di KBBI, karena kata di kamus ini merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Dari makna KBBI itu, tidak ada hal yang spesifik mubalig/mubaligah harus seorang penceramah.
Dalam bahasa yang mudah, saya memaknai mubalig/mubaligah adalah ‘sang penyampai’. Sang penyampai ajaran agama (Islam), sang penyampai kebenaran, sang penyampai kebaikan, sang penyampai perdamaian, sang penyampai persaudaraan, sang penyampai keadilan, sang penyampai kesetaraan, sang penyampai nilai-nilai spiritualitas, dst. Dengan pemaknaan seperti itu, sesungguhnya setiap pekerjaan, profesi, aktivitas, bisa bermakna sebagai “sang penyampai” bila mereka bisa memformulasikan nilai-nilai keislaman ke dalam konteks yang aktual sesuai yang mereka kerjakan.
Seorang kreator konten yang konsisten membuat pesan kebaikan dengan basis nilai-nilai keislaman, pada hakikatnya mereka adalah mubalig(ah), seorang guru/dosen yang benar-benar mengabdi untuk mencerdaskan dan memuliakan manusia pada hakibatnya adalah seorang mubalig(ah), seorang aktivis lingkungan yang memfokuskan hidupnya untuk merawat makhluk-makhluk Allah di alam semesta ini, pada hakikatnya adalah mubalig(ah), orang yang terjun di tengah-tengah masyarakat untuk memberdayakan wong cilik, mengangkat derajatnya hingga menjadi manusia yang berdaya, pada hakibatnya adalah mubalig(ah). Para ketua partai politik, anggota Dewan, yang dengan tulus mengabdikan diri sebagai penyambung suara rakyat yang memilihnya (kalau memang ada), mereka hakikatnya adalah mubalig(ah). Seorang jurnalis (wartawan), melalui karyanya, istikamah menebarkan kebenaran fakta untuk memberi pencerahan kepada publik, pada hakikatnya juga mubalig(ah), seorang pengusaha yang mampu membuka lapangan kerja seluas-seluasnya serta terus menerapkan tata kelola usahanya sesuai prinsip-prinsip kebaikan dan kebenaran, mereka pada hakikatnya adalah mubalig(ah). Dan seterusnya. Ruang kecil ini tidak cukup kalau saya tulis semuanya.
Sekali lagi, mereka adalah para penyampai kebenaran…
Pemaknaan secara luas tentang mubalig(ah) ini penting agar atribut ini tidak menjadi “monopoli” para penceramah. Korps Mubalig Muhammadiyah juga perlu memikirkan agar tidak hanya merekrut para mubalig(ah) pada makna konvensional (penceramah), tapi juga memberdayakan pekerjaan, profesi, atau aktivitas apa pun yang sesungguhnya mereka juga sebagai “sang penyampai” ajaran Islam dalam makna seluas-luasnya.
Islam ini terlalu luas untuk sekadar diceramahkan. Butuh stakeholder lainnya untuk membumikan nilai-nilai keislaman pada tataran praksis. Apalagi, tugas untuk menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya itu masih sangat jauh. Ayo ber-taawun, para mubalig/mubaligah, untuk mewujudkan tugas-tugas mulia peradaban ini.
Insya Allah…
Colomadu, 14 September 2025
Penulis pernah menjadi Ketua Takmir Masjid Al-Hijrah, kompleks Griya Solopos, selama 15 tahun.
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...
Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...
Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah
Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...
Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia
Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...
Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone
Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...






