Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Kamu Harus Jadi Mubalig…

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Minggu, 14 September 2025 14:31 WIB
Kamu Harus Jadi Mubalig…
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (Dok.pribadi)

“Anak-anakku semua harus jadi mubalig/mubaligah.”

Meski telah bertahun-tahun, saya masih terngiang-ngiang kata-kata almarhum ayah saya ini. Pernyataan itu berulangkali diungkapkan saat ngobrol santai bersama keluarga. Suatu pesan yang disampaikan secara berulang, bisa dimaknai pesan itu serius. Ya, ayah saya serius menginginkan putra-putrinya bisa meniru jejaknya sebagai mubalig.

Untuk mewujudkan impiannya itu, ayah menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah yang berbasis agama. Bahkan, mengirimkan sebagian ke pesantren. Saya belum pernah merasakan pendidikan di pesantren. Namun, saya menyelesaikan pendidikan tingkat dasar hingga menengah (SD-SMA) di madrasah. “Sekolah [agama] itu akan menjadi bekal kalian saat menjadi mubalig/mubaligah,” lanjut ayah. Pada saat masuk perguruan tinggi saja ayah tidak mengharuskan putra-putrinya masuk ke kampus berbasis agama. Bebas…

Kami, putera-puterinya, memahami betul keinginan ayah. Ayah saya memang seorang mubalig. Hampir tiap malam, ayah keluar rumah untuk berceramah. Apalagi kalau pas momen hari-hari besar Islam, kalender yang menjadi petunjuk jadwal ceramah, hampir penuh dengan lingkaran merah di setiap tanggalnya, berikut keterangan di mana ayah harus ceramah. Kadang-kadang, kalau putra-putrinya ada di rumah (pas pulang dari kos/pondok), ayah selalu mengajaknya saat berceramah. Pertama, untuk menemani saat keluar malam-malam. Maklum, sebagai mubalig tempo dulu, jarang dijemput oleh sang pengundang. Ya, berangkat sendiri naik motor. Kalau lokasinya tidak bisa naik motor, ya jalan kaki, berteman senter, kadang-kadang melewati kuburan, menyerangi sungai tanpa jembatan. Pernah malam-malam kehujanan di pinggir hutan, ban motor bocor lagi. Beruntung ada kakak saya yang menemani.  Kedua, dengan mengajak anak-anaknya, sebagai bagian dari pengaderan tugasnya sebagai mubalig. Karena sering diajak ceramah, saya masih ingat beberapa materi ceramahnya.

Foto ilustrasi (Freepik.com).

Selain sebagai mubalig, ayah juga aktif di Persyarikatan Muhammadiyah. Bahkan, pernah menjadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Simo, Boyolali, hingga 32 tahun. “Menyamai kekuasaannya Soeharto,” begitu ledek putra-putrinya kepada ayah. Sama-sama “berkuasa” selama 32 tahun, he..he..he…

“Kamu tahu bedanya Bapakmu sama Soeharto?” begitu kata ayah, dengan nada serius.

“Kalau Soeharto, rakyatnya sudah minta dia turun, tapi Soeharto tetap ingin jadi presiden.”

“Kalau Bapakmu, sudah berulangkali minta agar tidak jadi ketua, tapi Musyawarah Cabang selalu minta Bapakmu jadi Ketua PCM,” kata ayah.

“Ha…ha…ha….,” kami pun ngakak bareng.

Ayah saya piawai berdebat. Maklum, selain mubalig, pernah juga jadi politisi Masyumi, anggota DPRD-GR Parmusi, dan terakhir “dipaksa” masuk Golkar karena seorang PNS.

Sejauh ingatan saya, jabatan terakhir di Persyarikatan adalah Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali. Setelah itu, pada 1996, ayah meninggal. Ayah saya memang dididik oleh kakek untuk menjadi mubalig.  Saat kecil, ayah “dipaksa” ceramah di pasar-pasar oleh kakek saya. Akhirnya, selama hidupnya, ayah mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan dan dakwah, termasuk melalui Persyarikatan Muhammadiyah.

Jujur, saat mendengarkan keinginan ayah itu, saya hanya diam. Sesungguhnya itu cita-cita orang tua yang mulia. Namun, saya tidak bisa membayangkan saat saya jadi juru dakwah. Saat kecil, saya orang yang inferior. Sebagai wong ndeso yang sering di-bully, saya adalah pribadi yang minderan. Pendiam. Jarang bicara. Karena memang susah untuk bicara. Apalagi di hadapan orang banyak. Hmmmm…sungguh itu siksaan! Bagaimana mungkin saya bisa menjadi penceramah agama yang baik? Itu saja yang saya pikirkan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mengusir perasaan minder ini. Bahkan, saat kuliah, saya masuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) semata-mata ingin berlatih untuk meningkatkan kepercayaan diri. Alhamdulillah, perasaan minder itu tidak lagi menghantui hidup saya.

Tafsir Ulang

Suatu hari, saat diskusi bareng keluarga, ayah tiba-tiba menafsir ulang atas pengertian mubalig/mubaligah.  “Jadi mubalig/mubaligah itu tidak harus melalui ceramah. Jadi mubalig/mubaligah bisa melalui pekerjaan/profesi masing-masing,” begitu kata ayah.

“Mubalig/mubaligah adalah orang yang selalu menyampaikan kebenaran, sesuai pekerjaan kamu,” lanjut ayah.

“Kalau jadi politikus, jadilah politikus yang selalu menyampaikan dan berpihak kepada kebenaran. Itu namanya juga mubalig/mubaligah.”

Sungguh, saya kaget, sekaligus senang, tiba-tiba ayah punya penafsiran baru tentang mubalig/mubaligah. Mengapa tiba-tiba ayah berubah? Saat itu saya kok tidak menanyakan secara langsung. Yang pasti, saya bungah karena saya bisa terbebas “beban” menjadi seorang penceramah agama. Bahwa menyampaikan kebenaran, mengajak kebaikan, itu bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan banyak cara, asalkan dilakukan dengan cara-cara yang baik.

Itulah, mubalig/mubaligah…

Tafsir ayah saya itu sebenarnya tidak benar-benar baru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mubalig adalah orang (laki-laki) yang menyiarkan (menyampaikan) ajaran agama Islam; juru dakwah’. Sedangkan mubaligah untuk menunjuk perempuan. Dalam makna kata asli dalam bahasa Arab, maknanya tidak jauh beda dengan makna di KBBI, karena kata di kamus ini merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Dari makna KBBI itu,  tidak ada hal yang spesifik mubalig/mubaligah harus seorang penceramah.

Dalam bahasa yang mudah, saya memaknai mubalig/mubaligah adalah ‘sang penyampai’. Sang penyampai ajaran agama (Islam), sang penyampai kebenaran, sang penyampai kebaikan, sang penyampai perdamaian, sang penyampai persaudaraan, sang penyampai keadilan, sang penyampai kesetaraan, sang penyampai nilai-nilai spiritualitas, dst. Dengan pemaknaan seperti itu, sesungguhnya setiap pekerjaan, profesi, aktivitas, bisa bermakna sebagai “sang penyampai” bila mereka bisa memformulasikan nilai-nilai keislaman ke dalam konteks yang aktual sesuai yang mereka kerjakan.

Seorang kreator konten yang konsisten membuat pesan kebaikan dengan basis nilai-nilai keislaman, pada hakikatnya mereka adalah mubalig(ah), seorang guru/dosen yang benar-benar mengabdi  untuk mencerdaskan dan memuliakan manusia pada hakibatnya adalah seorang mubalig(ah), seorang aktivis lingkungan yang memfokuskan hidupnya untuk merawat makhluk-makhluk Allah di alam semesta ini, pada hakikatnya adalah mubalig(ah),  orang yang terjun di tengah-tengah masyarakat untuk memberdayakan wong cilik, mengangkat derajatnya hingga menjadi manusia yang berdaya, pada hakibatnya adalah mubalig(ah). Para ketua partai politik, anggota Dewan, yang dengan tulus mengabdikan diri sebagai penyambung suara rakyat yang memilihnya (kalau memang ada), mereka hakikatnya adalah mubalig(ah). Seorang jurnalis (wartawan), melalui karyanya, istikamah menebarkan kebenaran fakta untuk memberi pencerahan kepada publik, pada hakikatnya juga mubalig(ah), seorang pengusaha yang mampu membuka lapangan kerja seluas-seluasnya serta terus menerapkan tata kelola usahanya sesuai prinsip-prinsip kebaikan dan kebenaran, mereka pada hakikatnya adalah mubalig(ah). Dan seterusnya. Ruang kecil ini tidak cukup kalau saya tulis semuanya.

Sekali lagi, mereka adalah para penyampai kebenaran…

Pemaknaan secara luas tentang mubalig(ah) ini penting agar atribut ini tidak menjadi “monopoli” para penceramah. Korps Mubalig Muhammadiyah juga perlu memikirkan agar tidak hanya merekrut para mubalig(ah) pada makna konvensional (penceramah), tapi juga memberdayakan pekerjaan, profesi, atau aktivitas apa pun yang sesungguhnya mereka juga sebagai “sang penyampai” ajaran Islam dalam makna seluas-luasnya.

Islam ini terlalu luas untuk sekadar diceramahkan. Butuh stakeholder lainnya untuk membumikan nilai-nilai keislaman pada tataran praksis. Apalagi, tugas untuk menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya itu masih sangat jauh. Ayo ber-taawun, para mubalig/mubaligah, untuk mewujudkan tugas-tugas mulia peradaban ini.

Insya Allah…

Colomadu, 14 September 2025

Penulis pernah menjadi Ketua Takmir Masjid Al-Hijrah, kompleks Griya Solopos, selama 15 tahun. 

Berita Terbaru

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Mengejar Hikmah, Mencari Arti Kehidupan

Menjalani kehidupan adalah sebuah keniscayaan bagi setiap insan yang bernyawa. Mengisi hari demi hari adalah bagian dari perjuangan. Seringkali perjuangan mengisi kehidupan manusia dinodai dengan...

Leave a comment