Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Umum

Opini di Kompas Ungkap “Raya”: Dari Koran ke Panggung Radio Serta Podcast sebagai Seruan Kesehatan Anak Indonesia

Tim Redaksi, Editor: Sholahuddin
Rabu, 3 September 2025 07:56 WIB
Opini di Kompas Ungkap “Raya”: Dari Koran ke Panggung Radio Serta Podcast sebagai Seruan Kesehatan Anak Indonesia
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (kanan) saat menjadi narasumber podcast. (Istimewa).

SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Artikel opini berjudul “Raya dan Alarm Kesehatan Anak Indonesia” karya Prima Trisna Aji, dosen Program Studi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), berhasil menggugah publik setelah tayang di harian Kompas edisi 23 Agustus 2025.

Tulisan tersebut menyoroti tragedi seorang balita bernama Raya di Sukabumi, Jawa Barat, yang meninggal dunia karena tubuhnya dipenuhi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) dengan bobot lebih dari satu kilogram. Isu ini sontak mengundang perhatian luas karena menyentuh problem mendasar kesehatan anak Indonesia. Tidak berhenti sebagai opini, tulisan itu mengantarkan Prima diundang menjadi narasumber dalam talkshow Radio Idola 92,6 FM Semarang pada Jumat (29/8/2025) pukul 07.25 WIB. Dalam acara ini, ia kembali mengingatkan pentingnya pencegahan penyakit yang sebenarnya bisa ditangani sejak dini dengan langkah sederhana.

Alarm bagi Bangsa

Melalui siaran pers yang diterima Muhammadiyahsolo.com, Prima menegaskan, kasus Raya adalah alarm keras bagi bangsa. Ia menyebut kematian balita akibat cacingan bukan hanya tragedi individu, melainkan potret kegagalan sistem kesehatan dasar. Anak-anak, menurutnya, seharusnya mendapatkan hak atas layanan kesehatan yang layak dan akses intervensi pencegahan yang memadai.

Tangkapan layar artikel Prima Trisna Aji di Kompas edisi 23 Agustus 2025. (Istimewa).

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkuat pernyataan itu. Hingga saat ini, lebih dari 1,5 miliar orang di dunia atau sekitar 24 persen populasi global masih terinfeksi cacing usus, dan sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Di Indonesia, prevalensinya juga masih tinggi. Berbagai studi melaporkan angka yang bervariasi, mulai dari 2,5 persen hingga lebih dari 60 persen, tergantung wilayah dan kondisi sanitasi. Bahkan, penelitian sebelumnya menunjukkan rata-rata hampir sepertiga anak sekolah dasar di Indonesia pernah terinfeksi cacing.

Menurut Prima, fakta tersebut menunjukkan bahwa tragedi Raya bukan kasus tunggal. Masalah serupa masih bisa menimpa banyak anak lain, terutama di daerah dengan sanitasi buruk dan akses kesehatan terbatas. Ia menekankan, intervensi sederhana seperti kebiasaan mencuci tangan, penggunaan jamban sehat, pemberian obat cacing massal secara rutin, dan edukasi keluarga adalah kunci pencegahan yang murah tetapi efektif.

Dari Opini ke Aksi

Fenomena ini menjadi menarik karena opini seorang akademisi daerah mampu menembus media nasional, kemudian menyebar ke berbagai medium lain. Dari halaman koran, gagasan itu berlanjut ke udara melalui siaran radio, hingga akhirnya masuk ke forum akademik kampus lewat Podcast Bincang Unimus Semarang. Perjalanan gagasan ini menjadi simbol bahwa suara intelektual dari daerah juga bisa memantik diskusi publik yang luas dan lintas kanal.

Prima menekankan pentingnya kesinambungan aksi. “Kami ingin agar isu ini tidak berhenti sebagai berita duka. Dari kampus, media, hingga keluarga, semua pihak perlu mengambil langkah nyata. Anak sehat adalah investasi masa depan bangsa,” ujarnya.

Menghindari “Raya” Kedua

Dalam wawancara di Radio Idola FM, Prima mengingatkan bahwa tragedi Raya tidak boleh terulang. Ia menekankan setiap anak Indonesia berhak tumbuh sehat tanpa ancaman penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah. Bagi Prima, Raya bukan sekadar nama seorang balita, tetapi simbol kegagalan yang seharusnya menjadi pemicu kesadaran bersama. “Raya jangan hanya dikenang sebagai korban, tetapi sebagai alarm yang mengingatkan kita semua akan tanggung jawab besar yang belum tertunaikan,” tegasnya.

Melalui keterlibatan media, dunia akademik, dan masyarakat luas, isu kesehatan anak kini semakin mendapat sorotan. Alarm itu sudah berbunyi, dan bangsa ini ditantang untuk menjawabnya dengan tindakan nyata.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Pemkot Solo-Transid Kolaborasi Aktifkan Perpustakaan Kampung dan Taman Cerdas

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pemerintah Kota Solo menjalin kerja sama dengan komunitas Transid untuk mengoptimalkan perpustakaan kampung dan taman cerdas sebagai ruang literasi warga. Kolaborasi tersebut ditandai...

Loyalitas Jadi Kunci Memajukan Pendidikan Muhammadiyah

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Loyalitas dan pembiasaan perilaku positif menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan dan mencerahkan. Komitmen tersebut perlu diwujudkan melalui kedisiplinan, penguatan...

Baru 3 Tahun, Abqory Berhasil Selesaikan Lintasan Edu Fun Run UMS

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Seorang pelari berusia tiga tahun mencuri perhatian dalam gelaran Edu Fun Run Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Minggu...

Kritik Tajam dari Boyolali: Agama Cuma Jadi Identitas, Tidak Ada Politik Nilai dalam Bernegara

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Keprihatinan terhadap kondisi demokrasi, politik hukum, ekonomi hingga kesejahteraan masyarakat mendorong sejumlah elemen masyarakat di Boyolali menggelar diskusi perdana bernama Forum Harapan.  Diskusi mengusung...

Pelari dari Jawa Barat Tempuh 5K, Edu Fun Run FKIP UMS Dinilai Kondusif

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyemarakkan Hari Jadi ke-68 melalui Edu Fun Run FKIP UMS 2026 bertema “Move for...

Pelajar Didorong Jadi Agen Pengawasan Kawasan Tanpa Rokok

SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Abi Umaroh, menggagas Youth Clean Air Movement for Tobacco Control (YCAM-TC) 2026 untuk melibatkan pelajar...

Ketika Usia Bertambah, Jangan Biarkan Makna Hidup Berkurang

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti berkarya dan mengabdi. Masa pensiun justru dapat menjadi fase baru untuk memperbanyak syukur, menjaga kesehatan, memperluas kebermanfaatan,...

Silaturahmi Pensiunan Muhammadiyah Solo, Rawat Persaudaraan dan Semangat Pengabdian

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Puluhan purnatugas pendidik dan tenaga kependidikan Perguruan Muhammadiyah Kota Surakarta berkumpul dalam agenda Silaturahmi dan Pengajian Pensiunan Perguruan Muhammadiyah Kota Surakarta, Sabtu (29/8/2026)....

BikersMu Jepara Konsolidasi, Dorong Komunitas Bikers Berkontribusi bagi Warga

JEPARA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Sebanyak 33 peserta mengikuti silaturahmi dan konsolidasi awal untuk menyongsong pembentukan kepengurusan BikersMu Chapter Jepara. Kegiatan tersebut berlangsung di Pantai Bandengan, Tirta...

Ironi Solo sebagai Kota Cerdas Pangan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pemerintah Kota (Pemkot) Solo telah mendeklarasikan Kota Solo sebagai Kota Cerdas Pangan sejak 2020. Pemkot Solo telah menandatangani Pakta Milan (Milan Urban Food Policy...

Pakar UMS: Desil Tak Bisa Jadi Satu-satunya Dasar Batasi Pertalite

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Wacana pembatasan pembelian Pertalite berdasarkan desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) mendapat perhatian dari pakar Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan...

Touring ke Pacitan, Bikersmu Solo Perkuat Ukhuwah dan Nilai Keagamaan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Komunitas Bikersmu Solo menggelar touring sekaligus camping ke Pacitan selama dua hari satu malam, 15-16 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 peserta...