
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masih dalam suasana dinamika negara yang penuh persoalan, akhir-akhir ini mulai terjadi perang narasi Indonesia Gelap versus Indonesia Terang. Kondisi ini muncul sejak unjuk rasa mahasiswa dan masyarakat ramai di media sosial dengan tagar #IndonesiaGelap.
Sedangkan kajian dari Data and Democracy Research Hub, Monash University Indonesia, menyebut bahwa narasi tandingan #IndonesiaTerang dibagikan oleh stakeholder yang memiliki posisi strategis, dikutip dari Tempo. Co-Director Data and Democracy Research Hub, Ika Idris menyebut alih-alih menggunakan kritik publik sebagai masukan yang berharga, pemerintah justru menangkis kritik tersebut dengan membangun narasi tandingan.
Sedangkan tanggapan dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus mantan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan menurut pewartaan CNNIndonesia menanggapi aksi #IndonesiaGelap saat demonstrasi, justru dengan kalimat “Kalau ada yang bilang Indonesia gelap, yang gelap kau bukan Indonesia”.
Kritik tajam dari mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah ini diwujudkan dalam gerakan demonstrasi dengan tagar #IndonesiaGelap, baik dilakukan melalui media sosial maupun aksi turun ke jalan. Menurut Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Aidul Fitriciada Azhari, pemilihan kata tersebut mencerminkan kekhawatiran mahasiswa terhadap masa depan yang suram.
Demonstrasi mahasiswa yang berlangsung berhari-hari ini mendapatkan beragam respons dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah. Guru Besar UMS itu menegaskan aksi demonstrasi merupakan bagian dari partisipasi publik bermakna dan tidak semestinya dicurigai sebagai gerakan yang ditunggangi pihak tertentu.
Tidak Terkait Pendanaan USAID
Belum lagi tudingan bahwa Aksi Mahasiswa yang ditunggangi lembaga tertentu. Dilansir dari Suara.com (27/2/2025), narasi aksi mahasiswa #IndonesiaGelap disebut dimanfaatkan dan ditunggangi oleh lembaga swadaya masyarakat.
Namun, melansir hasil verifikasi Tempo, diketahui narasi tersebut tidak memiliki bukti-bukti akurat. Aksi #IndonesiaGelap merupakan aksi massa yang melibatkan beragam kelompok masyarakat sipil. Aksi ini tidak terkait dengan pendanaan dari USAID yang telah ditutup Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Demonstrasi dilakukan di ruang publik dan itu adalah sesuatu yang baik. Tidak mesti dicurigai sebagai bentuk penunggangan atau gerakan yang dibayar. Yang terpenting adalah bagaimana demonstrasi itu digunakan untuk menyalurkan aspirasi dan pemikiran di ruang publik secara terbuka,” ujar Kaprodi Program studi Magister Ilmu Hukum UMS itu.
Ia juga menekankan dalam konsep meaningful participation atau partisipasi bermakna, publik termasuk mahasiswa memiliki hak untuk didengar (right to be heard), hak untuk dipertimbangkan pemikirannya (right to be considered), serta hak untuk mendapatkan penjelasan dari pemerintah (right to be explained).

Prof. Aidul Fitriciada Azhari. (Humas)
Oleh karena itu, menurutnya, respons pemerintah terhadap aksi mahasiswa seharusnya bersifat rasional dan dialogis, bukan dengan mobilisasi opini yang justru mendiskreditkan gerakan tersebut.
“Gerakan mahasiswa, sekalipun ada yang mencoba memanfaatkannya, tetap merupakan bagian dari artikulasi aspirasi. Mahasiswa melakukannya dalam bentuk pemikiran, bukan anarki. Mereka menawarkan tuntutan dan pemikiran, maka jawablah dengan dialog yang rasional,” lanjutnya.
Terkait dengan pernyataan beberapa pihak yang menanggapi aksi mahasiswa dengan menyebut situasi Indonesia “gelap”, Aidul menilai bahwa hal tersebut seharusnya menjadi bahan diskusi yang lebih dalam.
“Jika mahasiswa mengatakan Indonesia gelap, tanyakan kepada mereka mengapa mereka berpendapat demikian. Saya kira yang mereka maksud adalah mereka tidak melihat titik terang dalam pemerintahan saat ini yang bisa memberikan jaminan kehidupan bagi mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan mahasiswa saat ini berada pada fase persiapan memasuki dunia kerja dan membutuhkan kepastian akan masa depan mereka. “Mereka menuntut pekerjaan, menuntut masa depan yang lebih baik. Namun, jika situasinya dipenuhi korupsi, oligarki yang semakin dominan, dan kelas menengah semakin tertekan, maka wajar jika mereka menyuarakan ketidakpuasan,” pungkasnya.
Regulasi Medsos Anak Disorot, Literasi Digital Jadi Kunci
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menerbitkan Kebijakan yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun dinilai sebagai langkah preventif dalam...
Zakat Fitrah dan Dampak Sosialnya pada Masyarakat
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Zakat fitrah menjadi salah satu ibadah wajib bagi umat Islam menjelang Hari Raya Idulfitri. Setiap muslim yang mampu diwajibkan menunaikan zakat ini sebagai bentuk...
Tak Hanya Ibadah, Dosen UMS Dorong Masjid Jadi Pusat Dakwah dan Pendidikan
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai pusat layanan umat yang mengintegrasikan dakwah, kesehatan komunitas, dan pendidikan Islam....
Paradoks Era Digital: Demokratis, tapi Krisis Etika
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Perkembangan teknologi digital membuka ruang kebebasan baru bagi masyarakat dalam menyuarakan suara, menyampaikan pengalaman, hingga mengawasi kekuasaan. Namun, di balik peluang tersebut, muncul persoalan...
Ustaz Adi Sulistyo Isi Kajian Bakda Subuh di Masjid Balai Muhammadiyah Kota Solo
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Kajian bakda Subuh di Masjid Balai Muhammadiyah PDM Kota Solo, Jumat (13/03/2026), diisi oleh Ustaz Adi Sulistyo yang menyampaikan materi tentang kriteria...
Mahasantri Pondok Shabran UMS Inisiasi Ramadhan Island Fest 1447 H di Raja Ampat
RAJA AMPAT, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Mahasantri Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang juga Dai Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LDK PP Muhammadiyah), Ari Hardianto, menggagas penyelenggaraan...
Bank Jateng Syariah KCPS UMS Gelar Jalan Senja Bersama Mitra UMKM
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai kegiatan Jalan Senja yang digelar oleh Bank Jateng Syariah KCPS UMS bersama para pelaku UMKM di wilayah Menco Raya, Kartasura, Sukoharjo, Rabu...
Negara vs Big Tech: Dosen FHIP UMS Soroti Kedaulatan Digital Indonesia
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Langkah tegas Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam memberikan peringatan keras kepada raksasa teknologi Meta dinilai sebagai momentum krusial penegasan kedaulatan digital nasional. Peringatan...
Tokoh Masyarakat Apresiasi Silaturahmi Ramadan UMS, Dorong Kolaborasi Dakwah
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Kegiatan Pengajian Ramadan dan Silaturahmi yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendapat apresiasi positif dari para tokoh masyarakat dan takmir masjid di sekitar kampus....
Menurunnya Minat Menjadi Anggota BEM, Pembina Soroti Tantangan Aktivisme 4.0
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (FKIP UNS) melaksanakan pelantikan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UNS yang bertempat di Aula Gedung...
Pelantikan Pengurus BEM FKIP UNS: Dekan dan Wakil Dekan Mendorong Mahasiswa Berkarakter “Juara”
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (FKIP UNS) secara resmi melantik 181 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UNS dalam sebuah prosesi...
Pesantren Jurnalistik Muhammadiyah Jateng Pacu Akselerasi Dakwah Digital
SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Jurnalistik merupakan bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar yang dilakukan melalui tulisan. Profesi ini dinilai sangat mulia, bahkan telah dicontohkan oleh KH Ahmad...





