Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Kriptokurensi sebagai Alternatif Sistem Keuangan Syariah Internasional

Dimas Amril Firmansyah, Editor: Alan Aliarcham
Rabu, 19 Februari 2025 13:19 WIB
Kriptokurensi sebagai Alternatif Sistem Keuangan Syariah Internasional
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dimas Amril Firmansyah.

Kriptokurensi adalah mata uang yang dihasilkan dari cepatnya perkembangan teknologi di abad ke-21. Kriptokurensi kali pertama ditemukan Satoshi Nakamoto pada tahun 2008. Satoshi merilis whitepaper berjudul “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System”. Kemudian pada 3 Januari 2009 Satoshi Nakamoto menambang blok pertama Bitcoin yang dikenal sebagai Genesis Block (Blok 0), menandai kelahiran resmi Bitcoin sebagai kriptokurensi pertama di dunia.

Setelah itu mucullah ribuan mata uang kripto lainnya seperti Ethereum(ETH), Thether (USDT), BNB, Binance USD (USDC), XRP, dan kriptokurensi berbasis syariat islam yang dijamin berupa aset emas yaitu Onegram dan X8X. Kriptokurensi menjadi hal yang penting jika kita berbicara mengenai keInternasionalan karena banyak sekali keuntungan yang bisa diambil darinya,

Hal itu seperti mempermudah transaksi lintas batas antar negara dan benua yang tanpa melibatkan perantara seperti bank dan kecepatan bertransaksi yang hanya membutuhkan beberapa menit. Membuka akses keuangan global bagi siapa saja yang memiliki koneksi terhadap internet. Jadi negara manapun memiliki kesempatan yang sama dalam menggunakan pasar kriptokurensi internasional.

Lalu timbul pertanyaan, bisakah kriptokurensi menjadi solusi baru bagi sistem keuangan syariah di Tingkat internasional? Ada berbagai pandangan dari para ahli dan sudah muncul juga peraturan dari Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas sistem pembayaran.

BI melarang seluruh penyelenggara jasa sistem pembayaran dan penyelenggara teknologi finansial di Indonesia untuk memproses transaksi pembayaran dengan virtual currency. Hal ini diatur dalam Peraturan Badan Pengawas perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 7 tahun 2020.

Tantangan yang diberikan mata uang kripto juga bukan main banyaknya. Seperti fluktuasi harga kripto yang ekstrem yang menimbulkan unsur ketidakpastian/gharar dalam bermuamalah. Seperti stabilitas harga stablecoins Luna yang semula $119 turun drastis menjadi $1 dalam hitungan hari, jam bahkan menit.

Lalu pertentangan-pertentangan mengenai prinsip dan tujuan kriptokurensi yang tidak sesuai dengan prinsip keuangan syariah. Juga tidak memiliki regulasi hukum yang jelas sehingga menyebabkan rentan terjadinya kejahatan teknologi, seperti money laundering dan pendanaan untuk aksi terorisme karena anonimitasnya.

Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Tapi peluang yang dihadirkan kriptokurensi juga tidak kalah besarnya untuk mendukung cepatnya pertumbuhan ekonomi di dunia, khususnya untuk negara-negara miskin dan berkembang. Kripto membuka akses keuangan global bagi siapa saja tanpa harus melalui perantara bank.

Mungkin ke depannya lembaga keuangan seperti bank konvensional dan syariah menjadi kurang diminati karena efesiensi waktu dan jarak yang bisa dilakukan dari layer gawai dan transaksi atau kontrak bisa berlangsung dalam hitungan menit bahkan detik.

Serta potensi inovasi terhadap produk-produk syariah berbasis smart contract, seperti bisnis-bisnis berakad mudharabah, musyarakah, ijarah yang berskala internasional dan tanpa harus melalui perantara bank. Kata internasional menjadi sangat penting jika berbicara percepatan pertumbuhan ekonomi, mengetahui kebutuhan pasar internasional, paham mengenai pasar internasional.

Berinvestasi atau menarik investasi di pasar internasioal adalah salah satu pemicu untuk mendorong produksi dan ketepatan dalam pemasaran. Potensi sumber daya alam yang luar biasa yang dimiliki bangsa Indonesia yang belum terproduksi dengan baik dan masih menjadi barang mentah itu bukan lagi menjadi masalah di negara kita. Banyak dari orang-orang di Indonesia yang sudah aware dengan masalah ini.

Lalu apa kita sudah memperbaiki produksi dengan hilirisasi? Terjualnya sebuah produk menurut Yuval Noah Harari adalah bahwa produk yang dibutuhkan oleh pelanggan. Selain memahami kebutuhan dari para customers, perlu juga mempromosikan produk dengan baik. Hal itu dengan mulai memperkenalkan budaya kita di tingkat internasional dan mengenalkan produk-produk lokal kita. Sehingga, konsumen luar negeri puas terhadap pemakaian dengan produk kita.

Ini bukanlah hal yang mudah. Tetapi dengan langkah yang tepat dari pemerintah dan sumber daya manusia yang semakin meningkat imbas bonus demografi tahun 2045, dapat menjadikan Indonesia menjadi negara yang kuat dalam ekonomi. Mungkin dalam 100 tahun lagi transaksi di dunia ini sudah menggunakan kriptokurensi atau bahkan mungkin lima tahun lagi.

Terjadi peningkatan luar biasa dari berbagai sektor yang disebabkan oleh teknologi. Negara kita selalu menjadi target pemasaran dan tidak pernah menjadi pembuat inovasi. Setidaknya kita harus mulai percaya diri bahwa negara kita juga bisa bersaing di tingkat internasional sehingga tidak perlu pindah negara lagi.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment