Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Efisiensi di Republik Omon-Omon

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Kamis, 13 Februari 2025 12:49 WIB
Efisiensi di Republik Omon-Omon
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (dok. pribadi)

Sebagai orang yang pernah bekerja di perusahaan selama 26 tahun, saya kenyang dengan kata-kata efisien, efisiensi, maupun efektif, keefektifan. Pada kata terakhir ini, ada juga yang menggunakan kata efektivitas. Dalam setiap rapat perusahaan, dua kata efisien dan efektif selalu muncul dalam rapat. Saat saya melanjutkan studi di program studi Magister Manajemen UMS, lagi-lagi saya menemui pembahasan dua kata itu di perkuliahan.

Tak sekadar pasangan kata, dua hal itu sudah menjadi pasangan konsep yang wajib hadir bersamaan dalam manajemen organisasi, apa pun organisasinya, termasuk organisasi pemerintahan. Lebih dari itu, dua pasangan konsep itu sangat diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bisa diterapkan pada berbagai sendi kehidupan. Bahkan, saat saya belajar bahasa pun, dua hal itu juga sangat diperlukan agar kita bisa berbahasa secara baik dan benar.

Sesuatu yang efisien sekaligus efektif, pasti menjadi hal positif. Itu kondisi idealnya (ideal type).  Lha bagaimana bila dua hal itu tidak bisa hadir bersamaan? Misalnya, efektif saja, atau efisien saja, mana yang harus kita pilih? Oke, nanti kita akan sampai ke sana.  Saya akan mengacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk membahas dua kata itu. Pengertian KBBI ini bisa mewakili banyak konsep. Tinggal kita sesuaikan saja pengertian bahasa itu ke dalam kepentingan praksis masing-masing. Kata efisien maknanya ‘tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya); mampu menjalankan tugas dengan tepat dan cermat; berdaya guna; bertepat guna; sangkil’. Sedangkan efisiensi adalah ketepatan cara (usaha, kerja) dalam menjalankan sesuatu (dengan tidak membuang waktu, tenaga, biaya); kedayagunaan; ketepatgunaan; kesangkilan; kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat (dengan tidak membuang waktu, tenaga, biaya).

Tepat Sasaran

Sedangkan efektif adalah dapat membawa hasil; berhasil guna (tentang usaha, tindakan); mangkus’. Masih ada makna lain dari efektif ini, tapi tidak saya kutip karena kurang relevan dengan tulisan ini. Sedangkan keefektifan adalah keberhasilan (tentang usaha, tindakan); kemangkusan. Saat saya mengetik kata efektivitas, KBBI justru menyarankan menggunakan kata keefektifan. Secara bahasa, efekvititas itu bukan kata baku, tapi banyak dipergunakan pada beberapa bidang kajian, termasuk manajemen.

Secara umum, efisien artinya kita mengorbankan sedikit waktu, biaya, tenaga, pikiran, dsb. Efektif terkait kecepatan dan ketepatan untuk mencapai tujuan atau sasaran. Nah, kalau kita menyandingkan efisien sekaligus efektif maknanya, kita menggunakan korbanan sedikit mungkin, tapi bisa mencapai tujuan secara cepat dan tepat. Efisien (efisiensi) terkait strategi atau cara mencapai tujuan. Sedangkan efektif (keefektifan) terkait tujuan yang kita tetapkan.

Kalau dalam dunia bisnis, kita menggunakan modal uang, tenaga, waktu yang minimal, tapi bisa mencapai tujuan berupa profitabilitas (keuntungan) yang tinggi secara cepat dan tepat. Ideal kan?  Dalam praktiknya, efektif dan efisien ini tidak selalu mesra berpasangan. Pada situasi kompleks, kita dihadapkan pada situasi dilematis. Kita mau mengedepan efisien atau efektif? Atau efisiensi atau keefektifan (efektivitas)? Masalah ini pernah saya tanyakan saat di bangku kuliah. “Pak, kalau efisiensi dan efektivitas itu tidak bisa diraih bersamaan, mana yang harus kita pilih?”

“Efektivitas!” jawab dosen saya.

Saya sepakat dengan dosen itu. Keefektifan atau efekvititas itu menyangkut tujuan yang hendak kita capai. Setiap individu, kelompok, organisasi, pasti punya tujuan. Dan tujuan itu yang harus menjadi prioritas yang harus kita dahulukan. Jelas ya? Buat apa melakukan efisiensi yang radikal secara biaya, misalnya, kalau itu kemudian menghambat pencapaian tujuan? Alih-alih bisa irit, yang terjadi bisa sebaliknya: pemborosan. Tidak efisien, sekaligus tidak efektif. Itu risikonya kalau ada pemimpin yang keras omon-omon soal efisiensi tapi kemudian mengabaikan aspek penting lain yang terkait pencapaian tujuan bangsa ini.

Saya sepakat, efisiensi itu diperlukan pada pos-pos yang boros yang bila anggaran itu dikurangi tidak mengganggu pada pencapaian tujuan. Tapi kalau kemudian efisiensi anggaran itu menyentuh hal-hal mendasar terkait hayat hidup orang banyak, itu namanya membangunkan macan tidur. Bahaya! Itu efisiensi yang ngawur. Efisiensi itu harus dilakukan secara cermat, cerdas, strategis, sekaligus memperhatikan tujuan jangka panjang bangsa ini.  Apalagi efisiensi itu dilakukan sekadar untuk membiayai program populis nan ambisius karena kadung dijanjikan saat kampanye: program makan siang gratis yang kemudian pada praktiknya diperhalus menjadi program makan bergizi gratis.

Benar kata para netizen, “Tidak ada makan siang gratis.” Untuk membiayai makan siang siswa ini, ongkosnya harus memotong anggaran pos lain di APBN yang, saya yakin, akan mengganggu kemaslahatan rakyat secara keseluruhan. Mengganggu pencapaian tujuan bangsa ini di bidang pencerdasan, penghidupan yang layak, serta memotong fasilitas untuk kebutuhan dasar hidup rakyat. Makan siang gratis jelas bentuk pemborosan luar biasa. Anak atau cucu orang paling kaya di Indonesia dengan anak orang paling melarat, diperlakukan sama: dapat jatah makan siang seharga Rp10.000. Bagi orang berpunya, makan siang Rp10.000 itu tak bermakna apa-apa karena terbiasa makan enak. Tapi, bagi kaum miskin, itu sangat berarti. Tanpa bantuan makan siang gratis itu, orang-orang berpunya tak bakal kekurangan makan. Penyakit di kelas menengah dan atas itu bukan karena kurang makan, melainkan karena makan berlebih. Lha orang-orang ini masih mau disumbang negara pakai uang rakyat? Hmmm…Saya sepakat makan siang bergizi buat siswa yang sekolahnya berada di kawasan miskin. Itu baru tepat sasaran.

Alih-alih efisiensi, makan siang gratis ini merupakan pemborosan anggaran luar biasa karena banyak hal strategis yang dikorbankan. Biaya riset dipotong yang akan menghambat pemajuan bangsa ini. Alat-alat pendeteksi bencana akan terbengkalai yang tentu akan membayakan bila ada risiko bencana. Biaya pendidikan dipotong berakibat berkurangnya fasilitas dan berdampak naiknya biaya pendidikan/kuliah. Efisiensi anggaran di luar pos makan siang mengakibatkan PHK teman-teman di TVRI dan RRI. Efisiensi juga membuat pengusaha hotel teriak-teriak yang bisa berujung terjadinya PHK karyawan. Kementerian maupun pemerintah daerah mulai mengurangi tenaga honorer yang notabene mereka adalah wong cilik. Pengurangan anggaran kesehatan juga bisa memotong fasilitas bagi rakyat kecil di bidang kesehatan.  Rezim ini memberi makan siang gratis, tapi kemudian “mematikan” penghidupan jutaan orang karena perlambatan ekonomi, PHK, serta pengurangan fasilitas lainnya.  Yang semringah ya tetap wakil rakyat karena anggarannya tak tersentuh efisiensi. Apakah karena kerja wakil rakyat ini luar biasa? Saya rasa tidak. Pembaca tahu jawabannya he-he-he…

Saya jadi merenung, makan siang gratis ini tujuannya mau menghidupkan atau malah mematikan bangsa ini? Entahlah. Selamat datang di Republik Omon-Omon

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Muhammadiyahsolo.com

Berita Terbaru

Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka

Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...

Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)

Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...

Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain

Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...

Dingin…

Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...

Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas

Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...

Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...

Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...