Malam semakin gelap, orang mulai beranjak ke tempat peristirahatannya dengan senyap, tidur dalam balutan selimut dengan lelap. Bermodalkan rasa penasaran dan keingintahuan tinggi, aku, yang sedang mengemban amanah menjadi Redaktur Pelaksana (Redpel) Majalah PABELAN 2024, menerbitkan majalah bertemakan “Kejawen”. Kala itu aku menelusuri gelapnya malam Semarang di bulan November.
Aku yang dahulu jarang sekali menyapa sekre lembagaku sendiri, kini justru harus menyapa penghuni malam di Mata Air Senjoyo yang cukup terkenal keangkerannya. Tanpa rasa takut apalagi dibayar untuk hal itu, lagi-lagi ini hanya soal idealisme yang berangkat dari penasaran akan isu-isu grassroot yang jarang terjamah media mainstram
Bulan November, jika dalam konteks masyarakat Amerika Serikat dan Kanada kerap disebut sebagai Bulan Thanksgiving (bulan kasih sayang dan berkumpul bersama keluarga), tampaknya tak berlaku bagi diriku. Ketika di Amerika Serikat sana menjadikan bulan ini sebagai momentum menjalin kedekatan kembali dengan keluarga, diri ini justru harus dihadapkan pada keharusan menembus gelapnya salah satu mata air di Semarang.
Mata Air Senjoyo yang terletak di Kabupaten Semarang merupakan tempat yang saat ini dibuka sebagai tempat rekreasi. Ya, tempat rekreasi, akan tetapi hanya berlaku di pagi sampai sore hari. Karena, ketika malam menyingsing tempat ini berubah wajah menjadi wadah bagi mereka yang masih rutin melakukan ritual-ritual mistis hingga malam berganti hari.
Malam itu, tanggal 8 November, aku masih ingat betul, bagaimana langkah kaki ini dengan penuh optimisme memacu sepeda motor bersama beberapa temanku untuk memutuskan memulai penelusuran lebih dalam di Mata Air Senjoyo.
Bukan soal sejarah yang ingin kita cari, bukan tentang bagaimana mata air itu disulap menjadi tempat rekreasi. Bukan juga terkait dengan mengapa tempat itu bisa dianggap angker oleh masyarakat. Ekspedisi kami saat itu terkait dengan sebuah ritual yang masih rutin dilakukan oleh masyarakat, khususnya Jawa.
Penelurusan kami malam itu bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, di bulan Oktober, untuk pertama kalinya kami menginjakkan kaki di sendang angker tersebut pada tengah malam. Di saat orang-orang terlelap dalam hangatnya selimut.
Penemuan Mengejutkan
Malam itu, sesuai dengan apa yang kami cari tahu sebelumnya, banyak penemuan mengejutkan yang hadir di depan mata. Ritual-ritual yang sebelumnya hanya kami tahu dari cerita ke cerita, kini menampakkan eksistensinya langsung.
Terkejut memang. Bagaimana tidak, penampakan seseorang yang tengah berendam tanpa suara dan gerak di beberapa titik mata air itu bak seperti mayat yang masih penasaran dengan dinginnya malam. Itulah saat-saat pertama di mana secara langsung aku pribadi menyadari bahwa di tengah gemerlapnya dunia perkotaan, masyarakat akar rumput yang disebut oleh Geertz sebagai “abangan” itu masih kental dengan aktivitas-aktivitas mistisnya.
Sebagai seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang berada di Solo, agaknya sedikit untuk menemukan mereka yang rela menelusuri gelapnya malam hanya untuk memuaskan rasa penasarannya akan hal-hal mistis.
Namun, kami berbeda. Berhubung ada proyek majalah lembaga yang sedang kami angkat kala itu seputar Kejawen, maka tidak ada alasan untuk tidak mau terjun langsung kepada mereka yang masih mempraktikkan segala ajarannya.
Bermodalkan rasa penasaran dan keingintahuan yang dalam, walau aku tahu segala bentuk resiko yang kuhadapi, hal tersebut tidak menjadi tembok penghalang bagiku untuk berbalik arah ke Solo dan menjalani kehidupan yang membosankan di kampus lagi. Sesekali ditemani rintik hujan di Kabupaten Semarang, menjadi penenang tersendiri bagi kami bahwa Tuhan masih bersama kami.
Niat kami malam itu untuk bermukin di salah satu kediaman kawan kami yang tak jauh rumahnya dari sendang tersebut, empat hari bukanlah waktu yang lama untuk bisa memperoleh informasi yang kami cari. Informasi tentang alasan dibalik ritual tersebut masih dilakukan dan bahkan dilakukan oleh mereka yang ingin memperoleh kekuasaan.
Kungkum namanya. Ritual berupa berendam di sebuah sendang pada malam hari yang masih dilakukan oleh beberapa orang khususnya masyarakat Jawa. Terkhusus juga di Mata Air Senjoyo ini. Ritual tersebut masih terus dilakukan. Memberikan kehidupan malam di sendang peninggalan Joko Tingkir tersebut.
Dalam cerita ini, sebenarnya bukan perihal seluk beluk ritualnya yang hendak kusampaikan. Melainkan, dalam proses ekspedisi selama empat hari tersebut ada hal menarik yang cukup membuat diriku yang beragama Islam ini bertanya-tanya.
Tidak Rasional
Hari ketiga kami di sana. Dalam malam yang sunyi dengan rintik hujan yang tak terlalu deras, kami berkesempatan mewawancarai salah seorang pelaku kungkum di sendang tersebut. Pria berbadan cukup besar, dengan tinggi yang tak jauh beda denganku, ternyata mantan seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Dari beberapa pertanyaan yang diajukan untuk memenuhi rasa penasaranku, aku cukup tertarik pada jawabannya perihal alasannya melakukan ritual tersebut. Sebagai seorang mahasiswa, bahkan juga mantan aktivis kampus, agak aneh bagiku jika di kemudian hari dirinya justru akrab dengan aktivitas yang bagi kebanyakan orang tidak rasional.
“Untuk napak tilas, juga untuk menenangkan batin khususnya,” jawab Anshori, seorang informan sekaligus pelaku kungkum yang berhasil kuwawancarai malam itu. Dia menerangkan, berendam di sebuah sendang pada tengah malam menjelang dini hari itu memberikan rasa ketenangan tersendiri baginya.
Inilah yang kemudian membuat diri ini sebenarnya ingin mengajukan pertanyaan lain terkait hal tersebut. Dengan latar belakang penganut agama Islam yang cukup kental, diriku bertanya-tanya, “Kalau untuk mencari ketenangan, bukannya dalam Islam sendiri sudah ada ibadah Tahajud yang juga dilakukan pada sepertiga malam,” ungkapku dalam hati.
Inilah yang menjadi pertanyaanku, khususnya diriku yang menempuh pendidikan selama jenjang sekolah menengah hingga bangku perkuliahan di Muhammadiyah. Sejauh ini memang yang sedang digaungkan oleh Muhammadiyah sendiri berkenaan dengan “Internasionalisasi”. Walaupun di sisi lain, pada sidang Tanwir Muhammadiyah 2022 lalu menegaskan soal pentingnya gerakan dakwah kultural.
Satu abad eksistensi Muhammadiyah masih bertahan tentu bukan waktu yang singkat. Telah banyak dinamika zaman yang berhasil dilaluinya. Namun, melihat realitas yang tampak langsung di depan mata, diri ini bertanya-tanya akan peran Muhammadiyah di tataran akar rumput.
Agaknya masih menjadi isu yang akan hangat sampai kapanpun terkait dengan masyarakat yang masih cukup kental dengan ritual-ritual tertentu. Di sinilah peran Muhammadiyah sudah barang tentu juga masih harus tetap melek akan isu-isu grassroot.
Apa yang dicanamkan dalam Sidang Tanwir 2022 lalu itu harus segera diimplementasikan dari tataran ranting hingga pusat. Di saat isu global yang juga sedang menjadi perhatian, baiknya juga bagaimana Muhammadiyah merangkul kaum abangan juga turut menjadi perhatian. Agar “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” itu benar-benar bisa diwujudkan.
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...
Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka
“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...
Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton
Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...
Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu
Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...
MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup
Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...






