Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Realitas Mistis Masyarakat Akar Rumput

Alfin Nur Ridwan, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 30 Januari 2025 14:32 WIB
Realitas Mistis Masyarakat Akar Rumput
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Alfin Nur Ridwan.

Malam semakin gelap, orang mulai beranjak ke tempat peristirahatannya dengan senyap, tidur dalam balutan selimut dengan lelap. Bermodalkan rasa penasaran dan keingintahuan tinggi, aku, yang sedang mengemban amanah menjadi Redaktur Pelaksana (Redpel) Majalah PABELAN 2024, menerbitkan majalah bertemakan “Kejawen”. Kala itu aku menelusuri gelapnya malam Semarang di bulan November.

Aku yang dahulu jarang sekali menyapa sekre lembagaku sendiri, kini justru harus menyapa penghuni malam di Mata Air Senjoyo yang cukup terkenal keangkerannya. Tanpa rasa takut apalagi dibayar untuk hal itu, lagi-lagi ini hanya soal idealisme yang berangkat dari penasaran akan isu-isu grassroot yang jarang terjamah media mainstram

Bulan November, jika dalam konteks masyarakat Amerika Serikat dan Kanada kerap disebut sebagai Bulan Thanksgiving (bulan kasih sayang dan berkumpul bersama keluarga), tampaknya tak berlaku bagi diriku. Ketika di Amerika Serikat sana menjadikan bulan ini sebagai momentum menjalin kedekatan kembali dengan keluarga, diri ini justru harus dihadapkan pada keharusan menembus gelapnya salah satu mata air di Semarang.

Mata Air Senjoyo yang terletak di Kabupaten Semarang merupakan tempat yang saat ini dibuka sebagai tempat rekreasi. Ya, tempat rekreasi, akan tetapi hanya berlaku di pagi sampai sore hari. Karena, ketika malam menyingsing tempat ini berubah wajah menjadi wadah bagi mereka yang masih rutin melakukan ritual-ritual mistis hingga malam berganti hari.

Malam itu, tanggal 8 November, aku masih ingat betul, bagaimana langkah kaki ini dengan penuh optimisme memacu sepeda motor bersama beberapa temanku untuk memutuskan memulai penelusuran lebih dalam di Mata Air Senjoyo.

Bukan soal sejarah yang ingin kita cari, bukan tentang bagaimana mata air itu disulap menjadi tempat rekreasi. Bukan juga terkait dengan mengapa tempat itu bisa dianggap angker oleh masyarakat. Ekspedisi kami saat itu terkait dengan sebuah ritual yang masih rutin dilakukan oleh masyarakat, khususnya Jawa.

Penelurusan kami malam itu bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, di bulan Oktober, untuk pertama kalinya kami menginjakkan kaki di sendang angker tersebut pada tengah malam. Di saat orang-orang terlelap dalam hangatnya selimut.

Penemuan Mengejutkan

Malam itu, sesuai dengan apa yang kami cari tahu sebelumnya, banyak penemuan mengejutkan yang hadir di depan mata. Ritual-ritual yang sebelumnya hanya kami tahu dari cerita ke cerita, kini menampakkan eksistensinya langsung.

Terkejut memang. Bagaimana tidak, penampakan seseorang yang tengah berendam tanpa suara dan gerak di beberapa titik mata air itu bak seperti mayat yang masih penasaran dengan dinginnya malam. Itulah saat-saat pertama di mana secara langsung aku pribadi menyadari bahwa di tengah gemerlapnya dunia perkotaan, masyarakat akar rumput yang disebut oleh Geertz sebagai “abangan” itu masih kental dengan aktivitas-aktivitas mistisnya.

Sebagai seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang berada di Solo, agaknya sedikit untuk menemukan mereka yang rela menelusuri gelapnya malam hanya untuk memuaskan rasa penasarannya akan hal-hal mistis.

Namun, kami berbeda. Berhubung ada proyek majalah lembaga yang sedang kami angkat kala itu seputar Kejawen, maka tidak ada alasan untuk tidak mau terjun langsung kepada mereka yang masih mempraktikkan segala ajarannya.

Bermodalkan rasa penasaran dan keingintahuan yang dalam, walau aku tahu segala bentuk resiko yang kuhadapi, hal tersebut tidak menjadi tembok penghalang bagiku untuk berbalik arah ke Solo dan menjalani kehidupan yang membosankan di kampus lagi. Sesekali ditemani rintik hujan di Kabupaten Semarang, menjadi penenang tersendiri bagi kami bahwa Tuhan masih bersama kami.

Niat kami malam itu untuk bermukin di salah satu kediaman kawan kami yang tak jauh rumahnya dari sendang tersebut, empat hari bukanlah waktu yang lama untuk bisa memperoleh informasi yang kami cari. Informasi tentang alasan dibalik ritual tersebut masih dilakukan dan bahkan dilakukan oleh mereka yang ingin memperoleh kekuasaan.

Kungkum namanya. Ritual berupa berendam di sebuah sendang pada malam hari yang masih dilakukan oleh beberapa orang khususnya masyarakat Jawa. Terkhusus juga di Mata Air Senjoyo ini. Ritual tersebut masih terus dilakukan. Memberikan kehidupan malam di sendang peninggalan Joko Tingkir tersebut.

Dalam cerita ini, sebenarnya bukan perihal seluk beluk ritualnya yang hendak kusampaikan. Melainkan, dalam proses ekspedisi selama empat hari tersebut ada hal menarik yang cukup membuat diriku yang beragama Islam ini bertanya-tanya.

Tidak Rasional

Hari ketiga kami di sana. Dalam malam yang sunyi dengan rintik hujan yang tak terlalu deras, kami berkesempatan mewawancarai salah seorang pelaku kungkum di sendang tersebut. Pria berbadan cukup besar, dengan tinggi yang tak jauh beda denganku, ternyata mantan seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dari beberapa pertanyaan yang diajukan untuk memenuhi rasa penasaranku, aku cukup tertarik pada jawabannya perihal alasannya melakukan ritual tersebut. Sebagai seorang mahasiswa, bahkan juga mantan aktivis kampus, agak aneh bagiku jika di kemudian hari dirinya justru akrab dengan aktivitas yang bagi kebanyakan orang tidak rasional.

“Untuk napak tilas, juga untuk menenangkan batin khususnya,” jawab Anshori, seorang informan sekaligus pelaku kungkum yang berhasil kuwawancarai malam itu. Dia menerangkan, berendam di sebuah sendang pada tengah malam menjelang dini hari itu memberikan rasa ketenangan tersendiri baginya.

Inilah yang kemudian membuat diri ini sebenarnya ingin mengajukan pertanyaan lain terkait hal tersebut. Dengan latar belakang penganut agama Islam yang cukup kental, diriku bertanya-tanya, “Kalau untuk mencari ketenangan, bukannya dalam Islam sendiri sudah ada ibadah Tahajud yang juga dilakukan pada sepertiga malam,” ungkapku dalam hati.

Inilah yang menjadi pertanyaanku, khususnya diriku yang menempuh pendidikan selama jenjang sekolah menengah hingga bangku perkuliahan di Muhammadiyah. Sejauh ini memang yang sedang digaungkan oleh Muhammadiyah sendiri berkenaan dengan “Internasionalisasi”. Walaupun di sisi lain, pada sidang Tanwir Muhammadiyah 2022 lalu menegaskan soal pentingnya gerakan dakwah kultural.

Satu abad eksistensi Muhammadiyah masih bertahan tentu bukan waktu yang singkat. Telah banyak dinamika zaman yang berhasil dilaluinya. Namun, melihat realitas yang tampak langsung di depan mata, diri ini bertanya-tanya akan peran Muhammadiyah di tataran akar rumput.

Agaknya masih menjadi isu yang akan hangat sampai kapanpun terkait dengan masyarakat yang masih cukup kental dengan ritual-ritual tertentu. Di sinilah peran Muhammadiyah sudah barang tentu juga masih harus tetap melek akan isu-isu grassroot.

Apa yang dicanamkan dalam Sidang Tanwir 2022 lalu itu harus segera diimplementasikan dari tataran ranting hingga pusat. Di saat isu global yang juga sedang menjadi perhatian, baiknya juga bagaimana Muhammadiyah merangkul kaum abangan juga turut menjadi perhatian. Agar “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” itu benar-benar bisa diwujudkan.

Berita Terbaru

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...