Dalam perkembangan pendidikan di Indonesia, Muhammadiyah sudah tidak diragukan lagi sumbangsih dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini terlihat dari K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang menggabungkan pendidikan agama dan umum sebagai respon dari pendidikan kolonial Belanda yang mendikotomikan antara keduanya. Berdasarkan sumber dari Ensiklopedia Islam tentang Sejarah Muhammadiyah di Indonesia, sekolah di Muhammadiyah mulai didirikan dengan mengintegrasikan antara pendidikan Islam dan pengetahuan umum. Persyarikatan ini membidik pembaharuan dalam pendidikan, karena dengan fokus pada bidang ini akan memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya hidup merdeka serta mampu mengelola sumber daya alam yang dimiliki oleh bangsa untuk masyarakat, bangsa dan negara (Latifah, 2015).
Ketika berbicara kiprah pendidikan dari masa ke masa, Muhammadiyah selalu merespon tantangan dan perubahan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari transformasi dan modernisasi yang dilakukan seperti memperkuat kualitas pendidikan dan membangun klaster pendidikan mulai dari Bustanul Athfal (BA) atau setingkat TK, hingga perguruan tinggi. Menurut Al Faruq (2020), pada era industri 4.0 Muhammadiyah tengah melakukan akselerasi dan ekspansi untuk memajukan lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dengan memperkokoh jaringan dengan lembaga pendidikan lainnya, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Muhammadiyah menganut sistem pendidikan klasik dan modern hingga pada awal berkembangnya terdapat banyak sekali penentangan dari berbagai golongan khususnya yang berpandangan inklusif. Peranan Muhammadiyah yang berpartisipasi dalam pembinaan generasi muda Islam, adalah suatu hal yang sangat penting (Ritonga, 2023). Dengan demikian, pendidikan menjadi tonggak utama dalam membentuk sekaligus membina generasi muda Islam, dalam rangka menyambut Indonesia Emas 2045.
Mencoba kembali menelaah tiga identitas yang dimiliki oleh Muhammadiyah, yaitu Muhammadiyah sebagai organisasi Islam, organisasi dakwah dan organisasi tajdid, yang kemudian juga diaplikasikan dalam sistem pendidikan yang ada di Muhammadiyah. Melihat pendidikan itu bukan sekadar transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Sehingga dalam proses belajar mengajar juga dikenalkan, diajarkan dan dibiasakan terkait bagaimana agama Islam itu harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan, Muhammadiyah juga mengambil peran untuk melakukan dakwah baik kepada umat Islam sendiri, maupun non-Islam. Seperti yang biasa dikenal dan tidak asing lagi dengan istilah “Krismuha” atau Kristen Muhammadiyah yang diulas di buku Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan karya tokoh Muhammadiyah, Abdul Mu’ti dan Fajar Riza Ulhaq.
Hal tersebut juga diperkuat bahwa Muhammadiyah memiliki lebih dari 4.623 sekolah dasar, 1.776 sekolah menengah, dan 172 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan ekosistem pendidikan yang luas ini, Muhammadiyah berupaya membentuk lingkungan pendidikan yang mendukung transfer of knowledge sekaligus transfer of value. Menurut data dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, lembaga ini secara konsisten mengembangkan institusi pendidikan untuk merespon tantangan zaman.
Berbagai upaya dan sistem telah dibangun dalam pendidikan Muhammadiyah yang konsisten membangun masyarakat yang beragam tanpa mendiskriminasi maupun menghilangkan identitas masing-masing. Gaya atau style yang digunakan Muhammadiyah dalam pendidikan ini mampu mempertahankan nilai, dengan tetap mengikuti perubahan zaman agar tetap eksis diminati generasi muda.
Tantangan Generasi Muda Muhammadiyah
Namun, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda Muhammadiyah saat ini adalah kesadaran diri mereka akan identitas dan peran yang dimiliki. Berbagai tantangan itu antara lain: (1). Banyak siswa dan mahasiswa yang belum sepenuhnya menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari generasi unggul yang memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan visi dan misi Muhammadiyah dalam pendidikan. Di sinilah pentingnya menanamkan kesadaran diri, agar mereka tidak hanya menjadi peserta pendidikan yang pasif, tetapi juga agen perubahan yang siap berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan agama. Melalui pendidikan yang diberikan, Muhammadiyah diharapkan dapat membangkitkan semangat generasi muda untuk mengenali diri mereka, memahami potensi yang dimiliki, dan siap mengembangkan diri demi kemajuan bersama. (2). Selain pembentukan kesadaran diri, pembentukan prestasi akademik dan non-akademik menjadi fokus penting bagi pendidikan Muhammadiyah. Banyak siswa dan mahasiswa yang hanya menekankan prestasi akademik sebagai tolok ukur keberhasilan, sementara prestasi non-akademik seringkali dianggap kurang bernilai. Padahal, prestasi non-akademik, seperti keterampilan dalam seni, olahraga, kepemimpinan, dan lain-lain, sangatlah penting dalam membentuk karakter dan soft skills yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Dengan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengeksplorasi bakat dan minat mereka, sekolah-sekolah Muhammadiyah diharapkan mampu menciptakan lulusan yang berprestasi di berbagai bidang, baik di tingkat nasional maupun internasional. (3). Meskipun telah menunjukkan banyak prestasi, tantangan masih ada, terutama dari persepsi masyarakat tentang sekolah swasta. Studi yang dilakukan oleh Susanto & Hidayat (2022) dalam jurnal Al-Idarah menyebutkan bahwa beberapa orang tua masih memandang sekolah negeri lebih bergengsi daripada sekolah Muhammadiyah atau sekolah swasta lainnya. Namun, persepsi ini mulai berubah seiring dengan capaian dan inovasi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah, yang semakin diakui kualitasnya baik di dalam maupun luar negeri. (4). Tantangan besar yang dihadapi oleh generasi muda Muhammadiyah saat ini adalah bagaimana mereka dapat menyesuaikan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama dalam konteks teknologi. Pesatnya kemajuan teknologi mendorong dunia pendidikan untuk turut bertransformasi, menyesuaikan pendekatan dan metode yang diterapkan agar tetap relevan dan efektif bagi generasi saat ini. Sebagai peserta didik, GenMu dihadapkan pada tanggung jawab untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi ini sebagai sesuatu yang bermanfaat, alih-alih membiarkannya menjadi distraksi atau bahkan menimbulkan dampak negatif. (5). Perkembangan media sosial, misalnya, telah menjadi fenomena yang tak terelakkan dalam kehidupan sehari-hari. GenMu semakin sulit melepaskan diri dari media sosial yang secara signifikan menghabiskan waktu mereka.
Oleh karena itu, pola pendidikan yang diterapkan perlu disesuaikan dengan karakter generasi saat ini, yang lahir di era digital dan terbiasa dengan akses informasi instan. Generasi muda saat ini memiliki karakteristik unik yang berbeda dari generasi sebelumnya; mereka terpapar teknologi sejak dini, bahkan anak-anak usia taman kanak-kanak sudah akrab dengan perangkat seperti ponsel dan tablet. Ini menjadikan teknologi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. (6). Dalam menghadapi tantangan ini, generasi muda Muhammadiyah perlu mengembangkan sikap bijaksana dalam memanfaatkan teknologi. Kemampuan untuk merespon perkembangan teknologi, terutama dalam penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dalam bidang pendidikan, sangat penting untuk dikuasai.
AI berpotensi memberikan manfaat besar dalam mendukung pembelajaran, tetapi juga menuntut pemahaman dan kebijaksanaan dalam penggunaannya agar dapat benar-benar menjadi alat yang mendukung kemajuan, bukan sekadar hiburan atau pengalih perhatian. (7). Pada akhirnya, kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi dan menggunakannya dengan bijak adalah kunci bagi generasi muda Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan zaman. Mereka perlu memahami bagaimana memanfaatkan teknologi untuk memperkaya wawasan, memperkuat keterampilan, dan mengembangkan potensi diri. Dengan sikap yang tepat, kecanggihan teknologi dapat menjadi sahabat dalam perjalanan menuju pendidikan unggul dan berkemajuan yang sejalan dengan visi Muhammadiyah untuk memajukan kehidupan bangsa.
Peran Strategis GenMu dalam Pendidikan
Di tengah perubahan sosial dan tantangan global yang semakin kompleks, peran strategis generasi muda menjadi kunci utama dalam membentuk masa depan yang lebih baik. Pendidikan memiliki peran sentral dalam mencetak generasi yang unggul dan mampu menghadapi dinamika zaman. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah sejak lama berkomitmen mengembangkan sistem pendidikan yang unggul dan berkemajuan, dengan fokus pada nilai-nilai moral dan sosial sebagai landasannya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Kurniawan et al. (2021) berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Muhammadiyah” dalam Jurnal Pendidikan Karakter, menemukan bahwa sekolah Muhammadiyah berhasil mengimplementasikan pendidikan karakter melalui kurikulum yang menekankan nilai-nilai agama, sosial, dan nasionalisme. Penelitian ini mendukung bahwa sekolah-sekolah Muhammadiyah mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang mendorong siswa untuk berkembang sebagai individu yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, integritas, dan etos kerja yang kuat.
Pendidikan Muhammadiyah bukanlah sekadar proses transfer pengetahuan akademis. Lebih dari itu, pendidikan Muhammadiyah berfungsi sebagai wadah untuk membentuk karakter melalui transfer nilai yang komprehensif. Dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari Bustanul Athfal hingga perguruan tinggi, Muhammadiyah berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai etika, sosial, dan keagamaan. Upaya ini bertujuan mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dalam menghadapi dinamika sosial, memiliki kepedulian terhadap sesama, dan berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan agama.
Pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada pengembangan intelektual siswa tetapi juga memperkuat literasi moral dan agama. Dalam buku Pendidikan Muhammadiyah: Dari Kaderisasi Hingga Sosial Humaniora oleh Haedar Nashir, disebutkan bahwa tujuan utama pendidikan Muhammadiyah adalah mencetak generasi yang berakhlak dan berpengetahuan luas. Kaderisasi di Muhammadiyah difokuskan pada pembentukan karakter religius yang modern, sehingga siswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki nilai-nilai etika dan moral yang kuat.
Strategi Peningkatan Peran GenMu
Untuk mencapai tujuan ini, peran pemangku kepentingan (stakeholders) sangatlah penting. Pemerintah, Dinas Pendidikan, dan pihak-pihak terkait lainnya perlu memberikan dukungan, baik dari segi regulasi maupun fasilitas, agar pendidikan Muhammadiyah dapat terus berkembang dan beradaptasi sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Kebijakan pendidikan yang mendukung pengembangan potensi siswa secara holistik menjadi kunci untuk menciptakan generasi yang berdaya saing tinggi dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Selain itu, Muhammadiyah sebagai lembaga pendidikan juga harus terus berinovasi dalam menyesuaikan kurikulum dan metode pengajaran. Dunia yang semakin digital dan global memerlukan pendekatan pendidikan yang lebih adaptif. Pendidikan Muhammadiyah perlu memperkuat kurikulum berbasis teknologi, kewirausahaan, dan literasi global, agar generasi muda mampu bersaing di panggung internasional tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan. Dengan demikian, pendidikan Muhammadiyah dapat tetap relevan dan kompetitif, bahkan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi.
Ditambah lagi generasi muda saat ini tengah berada dalam pusaran fenomena yang kompleks, salah satunya adalah perhatian yang besar terhadap isu kesehatan mental. Istilah seperti mental health, self-reward, self-healing, mental illness, dan berbagai kata lainnya menjadi bagian dari keseharian yang akrab bagi siswa dan mahasiswa. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental tentu adalah kemajuan, karena ini membuka diskusi dan perhatian terhadap aspek-aspek diri yang sering kali terabaikan. Namun, tantangan muncul ketika fenomena ini diserap tanpa kedalaman pemahaman, menciptakan kecemasan baru yang belum tentu ada kaitannya dengan realitas individu masing-masing.
Saat isu mental health diterima dengan baik dan bijak, ia bisa menjadi pengingat penting untuk mengenal diri, mengakui batas-batas, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berkembang. Akan tetapi, ketika istilah-istilah ini direspon secara berlebihan, muncul risiko bahwa generasi muda justru semakin cemas dan terdorong untuk mencari pelarian atau solusi instan tanpa pemahaman mendalam. Misalnya, kebiasaan yang sedang trending seperti self-reward dan healing bisa saja mengarah pada sikap konsumtif atau bahkan ketergantungan terhadap kebiasaan-kebiasaan ini sebagai bentuk pelarian, alih-alih pemulihan.
Lebih jauh, kita juga perlu memikirkan bagaimana pendekatan pendidikan dapat memainkan peran yang lebih integratif, tidak hanya melibatkan kesehatan mental, tetapi juga pendidikan karakter, nilai agama, dan kesadaran diri yang seimbang. Dengan adanya pemahaman agama, misalnya, generasi muda bisa mendapatkan landasan yang kokoh dalam menghadapi persoalan mental. Nilai-nilai dalam pendidikan Islam yang menekankan ketabahan, keikhlasan, dan sikap positif terhadap tantangan hidup dapat menjadi penyeimbang agar tidak semua ketidaknyamanan dianggap sebagai mental illness atau masalah besar yang perlu disembuhkan melalui cara-cara yang instan.
Di tengah tantangan ini, generasi muda harus mengasah kemampuan mengenal diri mereka sendiri dengan baik. Bukan sekadar mengikuti tren atau istilah-istilah yang sedang populer, tetapi benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan dan apa tujuan mereka. Kesadaran ini harus didasari pemahaman bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai akademis atau formalitas belaka, tetapi tentang proses membentuk karakter dan tujuan hidup. Mengingat tujuan pendidikan sebagai upaya untuk mempersiapkan masa depan, generasi muda perlu melihat pendidikan sebagai kebutuhan mendasar, bukan sekadar kewajiban yang dipaksakan.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai kebutuhan akan membentuk orientasi yang lebih positif dalam menempuh proses belajar. Pendidikan bukan untuk dijalani semata-mata demi formalitas atau pelampiasan, melainkan sebagai jalan untuk mengembangkan diri dan meraih impian. Dengan pendekatan yang lebih komprehensif—melibatkan keseimbangan kesehatan mental, nilai-nilai agama, serta kesadaran terhadap pentingnya pendidikan—generasi muda Indonesia diharapkan dapat lebih siap menghadapi masa depan dengan pikiran yang jernih, orientasi yang kuat, dan kontribusi yang nyata.
Profil GenMu Muhammadiyah
Ketika membahas profil GenMu Muhammadiyah, seringkali ada anggapan bahwa mereka harus mengikuti pola tertentu atau memenuhi standar yang seragam. Padahal, profil generasi muda Muhammadiyah bukan sekadar cetakan kaku yang berlaku untuk semua. Sebaliknya, profil ini dibentuk oleh perjalanan individu—baik siswa maupun mahasiswa—yang telah mengenali diri mereka sendiri dan menyadari potensi yang bisa mereka kembangkan. Inilah yang membuat pemrofilan generasi muda Muhammadiyah, yang membawa visi pendidikan unggul dan berkemajuan, begitu unik dan fleksibel. Tidak ada indikator atau patokan tertentu yang mutlak harus diikuti; setiap individu memiliki parameternya sendiri yang sesuai dengan bakat, minat, dan tujuan pribadi.
Hal ini selaras dengan semangat yang dicontohkan oleh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, yang mengembangkan pendidikan dan dakwah tanpa membatasi makna Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Setiap generasi muda Muhammadiyah bisa mengembangkan identitas mereka masing-masing, mengambil inspirasi dari teladan K.H. Ahmad Dahlan, tetapi tidak harus menjadi figur yang sama persis. Justru, keragaman inilah yang memperkaya profil generasi muda Muhammadiyah, menjadikannya penuh warna dan mencerminkan identitas yang unik.
Pendidikan di Muhammadiyah pada dasarnya mendorong keterbukaan untuk berekspresi dan mengeksplorasi. Siswa dan mahasiswa bebas mencari apa yang mereka inginkan dan kembangkan tanpa sekat atau batas yang menghambat pertumbuhan mereka. Walaupun ada kebebasan ini, mereka tetap bergerak dalam koridor yang berlandaskan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ini bukan sekadar aturan, tetapi prinsip dasar yang memberikan arah bagi mereka, memastikan bahwa eksplorasi yang mereka lakukan selalu berdampak positif bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan pendekatan yang fleksibel ini, generasi muda Muhammadiyah dapat terus berkembang dan menampilkan identitas yang otentik, sesuai dengan karakter pribadi mereka. Profil mereka bukan hitam dan putih, melainkan beraneka warna yang mewakili keberagaman potensi dan kontribusi yang bisa diberikan. Ini menegaskan bahwa menjadi generasi muda Muhammadiyah bukan berarti mengikuti jalur yang seragam, tetapi memiliki ruang untuk membangun diri dengan cara yang sesuai dengan zaman, sekaligus menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan dalam bingkai Islam yang universal dan inklusif.
Seiring dengan kesadaran diri yang tumbuh, generasi muda yang dididik oleh Muhammadiyah diharapkan mampu membawa misi pendidikan unggul berkemajuan ke berbagai aspek kehidupan. Mereka bukan hanya dituntut untuk sukses dalam bidang akademik atau karier, tetapi juga menjadi sosok yang peduli terhadap kemaslahatan umat dan mampu menghadirkan solusi atas permasalahan sosial yang ada. Generasi muda yang sadar akan nilai-nilai Islam dan bersemangat dalam berkarya untuk masyarakat dapat menjadi agen perubahan yang mampu membawa Muhammadiyah dan bangsa Indonesia menuju kemajuan yang lebih baik.
Pada akhirnya, upaya untuk mewujudkan pendidikan unggul berkemajuan tidaklah cukup hanya dengan menekankan aspek akademis atau materi kurikulum semata. Visi pendidikan berkemajuan harus diwujudkan melalui integrasi antara pembelajaran akademik, pembentukan karakter, dan penciptaan lingkungan pendidikan yang inklusif. Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan bahwa setiap generasi muda yang dilahirkan dari institusi pendidikannya mampu berfungsi sebagai representasi dari nilai-nilai Islam, bangsa, dan kemajuan peradaban.
Dengan terus mengedepankan prinsip ini, Muhammadiyah akan semakin kuat dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian yang tulus terhadap masyarakat. Generasi inilah yang akan membawa ruh pendidikan berkemajuan sebagai identitas dan kontribusi mereka dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Penulis adalah pemenang juara harapan pada Lomba Esai Milad ke-112 Muhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo.
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






