Seusai audisi calon menteri, wakil menteri, dan kepala badan yang dipanggil secara bergiliran ke Kertanegara, kediaman Presiden Terpilih Prabowo Subianto, yang diikuti dengan proses pembekalan. Ada nada kegembiraan terpancar dari warga persyarikatan Muhammadiyah. Dari deretan nama-nama yang mengikuti audisi, tercatat sedikitnya enam orang merupakan produk penggemblengan Muhammadiyah beserta organisasi otonom (ortom). Mereka adalah pemimpin publik yang lahir dari rahim Muhammadiyah.
Salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjadi sorotan, karena dalam rentang waktu dua dekade terakhir mantan-mantan Rektor UMM menduduki menduduki jabatan menteri ataupun wakil menteri mulai dari Abdul Malik Fadjar, Muhadjir Efendi, dan Fauzan. Karena keberhasilan melahirkan para menteri, belakangan muncul plesetan UMM sebagai universitas magang menteri.
Keberhasilan mereka menduduki jabatan publik sebenarnya hanya salah satu sisi dari keseluruhan proses reproduksi kepemimpinan di Muhammadiyah. Mekanisme organisasi memungkinkan dan memberi peluang besar untuk melahirkan calon-calon pemimpin di berbagai level dan dalam berbagai bidang kehidupan.
Mekanisme organisasi yang demokratis membuka ruang lebar untuk melahirkan banyak calon pemimpin. Tidak berlaku pemimpin seumur hidup di Muhammadiyah, sebab seseorang harus mempertanggung-jawabkan kepemimpinanya secara periodik di depan musyawirin. Ketika memilih pemimpin, bukan pemimpin individual dengan memilih seorang ketua, tetapi dengan memilih formatur. Formatur inilah yang akan memilih ketua, sekretaris, bendahara, dan lain-lain. Mereka memimpin Muhammadiyah secara kolektif kolegial, bukan one man show.
Pada umumnya musyawirin memilih pemimpin mulai dari tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, sampai pusat berdasarkan reputasi, dedikasi, dan rekam jejak selama bermuhammadiyah. Jarang sekali yang memilih karena alasan keturunan, anak dari seorang tokoh besar, misalnya. Kalaupun kebetulan ia anak seorang tokoh, dia terpilih bukan karena ketokohan orang tuanya, tetapi lebih karena dedikasi dan prestasinya sendiri.
Mekanisme organisasi yang demokratis inilah yang membuat warga Muhammadiyah berpikir rasional, sehingga cenderung menolak pola kepemimpinan feodal-dinastik yang berdasarkan keturunan maupun kepemimpinan karismatik. Yang berlaku adalah teologi amal shaleh, kita masuk surga bukan karena kharisma ataupun wasilah ulama/ajengan/kiai, tetapi karena amal saleh yang kita lakukan.
Spektrum kepemimpinan dan proses reproduksi pemimpin di persyarikatan Muhammadiyah demikian luas, sehingga dalam kertas yang terbatas ini tidak akan tuntas dibicarakan. Berikut akan digambarkan salah satu wahana/laboratorium yang banyak melahirkan pemimpin-pemimpin baru pendidikan yang mampu memberi arah perubahan dalam perjalanan sekolah Muhammadiyah.
Pemimpin Organik
Kehadiran fasilitator ataupun narasumber dalam Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah (Diksuspala) yang digagas Majelis Dikdasmen-PNF PP Muhammadiyah ini mencerminkan keberhasilan sekolah Muhammadiyah dalam melahirkan pemimpin pendidikan (baca: Kepala Sekolah/Madrasah) yang andal dan mumpuni. Mengapa demikian? Karena proses seleksi narasumber sangat ketat. Syarat pertama dan utama ia telah terbukti berhasil memajukan sekolah Muhammadiyah, memimpin sekolah kecil menjadi besar, atau berhasil memimpin sekolah medioker menjadi sekolah unggul dan berkemajuan.
Saat ini ada tiga puluhan orang yang menjadi fasilitator Diksuspala. Ada tiga daerah yang menjadi pemasok utama, yaitu: Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Selebihnya berasal dari tiga orang dari Jawa Barat dan dua orang dari Lampung. Data ini menunjukkan bahwa sekolah unggul Muhammadiyah banyak terkonsentrasi di tiga wilayah di atas.
Di sela-sela menjadi fasilitator, terutama ketika makan bersama, kita mendiskusikan dan bertukar cerita bagaimana mereka tumbuh menjadi seperti saat sekarang ini. Mereka tumbuh dari bawah, mengawali karier mulai dari guru dan kemudian berkesempatan menjadi kepala. Ketika menjadi kepala sekolah, fokus pada bagaimana mengembangkan sekolah Muhammadiyah secara bertahap.
Bersamaan dengan upaya membesarkan sekolah secara tidak sadar mereka juga sedang berlatih menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang lahir dari bawah dan terus berjibaku dengan masalah-masalah kongkit yang harus dihadapi dan diselesaikan. Ketika berhasil menyelasaikan permaslahan-permasalahan riil sekolah secara tidak disadari mereka juga tumbuh menjadi pemimpin, seorang kepala sekolah yang andal dan mumpuni. Pengalaman berjibaku dengan permasalahan empiris inilah yang membuat mereka merasa dibesarkan dan lahir dari rahim persyarikatan Muhammadiyah.
Ringkasnya, para fasilitator Diksuspala adalah tipe pemimpin organik, pemimpin yang tumbuh secara bertahap dengan akumulasi permasalahan yang membelitnya. Bukan tipe pemimpin instan, atau pemimpin karbitan, yang lahir tiba-tiba karena dipoles sana-sini. Bukan pula pemimpin feodalis-dinastik yang menjadi pemimpin karena warisan orang tuanya. Bukan pula pemimpin menara gading yang pinter dan kaya akan khazanah teori, tetapi tidak pernah terjun dan menyelami masalah-masalah kehidupan empiris.
Demikianlah mekanisme organisasi dalam Muhammadiyah yang memberikan ruang yang begitu luas dan lahan yang subur untuk lahirnya pemimpin autentik, kepala sekolah visioner sekaligus realistis. Dari jumlah tiga puluhan orang fasilitator, jumlah ini pasti akan terus bertambah seiring gencarnya pelaksanaan Diksuspala di seluruh penjuru Tanah Air akhir-akhir ini.
Kalau dilihat dari jumlah sekolah/madrasah Muhammadiyah di seluruh Indonesia yang di atas lima ribu buah, sebetulnya tiga puluh orang fasilitator masih terlalu sedikit. Ini artinya mereka adalah aset sumber daya manusia yang sangat berharga sehingga perlu dirawat dan dibudidayakan. Jangan sampai aturan-aturan formal yang ada kemudian justru membatasi aktualisasi diri mereka.
Mencari Ruang Aktualisasi Diri
Pimpinan Majelis Dikdasmen perlu memikirkan bagaimana memberikan “mainan” bagi mereka agar mereka terus tumbuh dan menjadi bagian dari kerangka pengembangan sekolah Muammadiyah. Majelis Dikdasmen-PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah membuat terobosan melibatkan mereka dalam proses pelaksanaan Diksuspala, fasilitator kepala sekolah atau mantan kepala sekolah yang sukses membesarkan sekolah Muhammadiyah.
Majelis Dikdasmen di tingkat PWM, PDM, maupun PCM pun dituntut berkreasi dan berinovasi tentu sesuai dengan konteks permasalahan yang dihadapi daerah masing-masing. Tiga pilar pendidikan Muhammadiyah, kepala sekolah sebagai pengelola, Majelis Dikdasmen berperan sebagai penyelenggara, dan persyarikatan sebagai pemilik bisa ditata secara luwes agar cepat beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Pengalaman PCM Cileungsi, Bogor yang menjadikan Majelis Dikdasmen berperan sebagai direktur pendidikan yang mengoordinasi kepala sekolah menarik untuk untuk dikaji. Menarik karena, anggota majelis berasal dari kepala sekolah yang sukses dan digaji penuh untuk mendampingi pengembangan sekolah.
Alternatif lain adalah dengan membuat klasterisasi sekolah, terutama yang sekolah satu atap sehingga memudahkan dan mempercepat proses pengembangan sekolah. Untuk mengoordinasikan sekolah yang satu atap tadi dipilih mantan kepala sekolah sukses untuk mendampingi dan mengakselerasi kemajuan sekolah. Dengan cara demikian tugas Majelis Dikdasmen menjadi lebih ringan.
Berbagai terobosan baru harus dilakukan untuk menjamin kemajuan sekolah Muhammadiyah. Peran kepemimpinan kepala sekolah sangat besar dalam menentukan maju-mundur suatu sekolah. Pemimpin organik yang tumbuh dari rahim sekolah Muhammadiyah harus dirawat dengan cara memberikan tantangan-tantangan baru yang membuat talenta kepemimpinannya semakin terasah.
Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo.
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...






