Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Ideologi, Roh Sekolah Muhammadiyah

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 7 Oktober 2024 07:26 WIB
Ideologi, Roh Sekolah Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Mohamad Ali (Dok. pribadi)

Dalam rangkian pelaksanaan Diksuspala (Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah) yang masih terus bergulir, muncul pertanyaan menarik dari seorang peserta, “Apa yang membedakan sekolah Muhammadiyah dengan sekolah yang didirikan yayasan ataupun ormas Islam lain?” Pertanyaan ini menarik, karena secara sosiologis kemunculan sekolah Islam belakangan ini semakin masif baik yang didirikan oleh perorangan (umumnya seorang pengusaha) maupun yayasan dengan “merek bisnis” yang demikian beragam.

Seorang peserta lainnya  dengan cepat dan tangkas menjawab, “Perbedaan antara sekolah Muhammadiyah dengan sekolah Islam lain terletak pada keberadaan mata pelajaran Ismuba  (Al-Islam, Kemuhammadiyah dan Bahasa Arab) sebagai ciri khusus.” Agar suasana lebih panas, saya berusaha nimbrung dengan melempar masalah tambahan, bukankah di sekolah Islam lain juga diajarkan paham agama yang dianut? Misalnya, Sekolah Cokroaminoto mengajarakan ke-SI-an ataupun Sekolah Maarif milik NU juga mengajarkan Ke-Nu-an.

Kalau demikian, di mana sesungguhnya letak perbedaannya? Peserta lain menimpali dengan penjelasan, “Letak perbedaan pada aspek fikih, NU mengajakan qunut saat salat subuh, Muhammadiyah tidak pakai qunut, jumlah rekaat saat salat Tarawih dan seterusnya.” Ringkasnya, kehadiran mata pelajaran Kemuhammadiyahan yang menjadi faktor pembeda dipahami dalam dimensi fikiyah. Sekolah Muhammadiyah yang berhasil adalah yang mengajarkan fikih sesuai dengan ketentuan Majelis Tarjih dan Tajdid.

Tentu saja jawaban demikian tidak keliru, hanya saja kurang tepat. Fikih yang diproduksi Majelis Tarjih dan Tajdid sangat penting sebagai panduan beribadah, demikian pula Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) juga penting untuk pengaturan dan pengorganisasian persyarikatan agar berjalan dengan lancar.

Roh atau nyawa persyarikatan bukan di AD/ART ataupun hasil putusan Majelis Tarjih dan Tajdid, tetapi melekat pada ideologi Muhammadiyah. Oleh karena itu, warga Muhammadiyah lebih menghayati AD/ART bila memahami muqadimah Anggaran Dasar. Demikian pula dalam mengkaji Himpunan Putusan Tarjih (HPT) harus mendalami masalah lima sebagai kerangka dasar ketarjihan. Yang menarik dan menggerakkan seseorang untuk beramal, mencurahkan tenaga dan pikiran, bekerja dan berinfak dalam Muhammadiyah adalah ikatan ideologi Muhammadiyah.

Ideologi Muhammadiyah

Muhammadiyah memaknai “ideologi” secara positif, yaitu keyakinan dan cita-cita hidup. Ideologi Muhammadiyah adalah sistem keyakinan, cita-cita, dan perjuangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya (Nashir, 2007:20). Ideologi Muhammadiyah telah dirumuskan secara sistematis mulai dari Muqadimah Anggaran Dasar, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH), Kepribadian Muhammadiyah dan seterusnya hingga yang terakhir adalah Risalah Islam Berkemajuan (RIB).

Dengan demikian para aktivis, pimpinan, warga Muhammadiyah, bahkan pengkaji Islam dengan mudah mengakses dan mempelajari. Ideologi Muhammadiyah bersifat terbuka dan egaliter. Pembagian struktur dalam rangka pengorganisasian dan konsolidasi sumber daya, tidak menunjukkan kesalehan ataupun komitmen kemuhammadiyahannya. Seorang Pimpinan Ranting Muhammadiyah bisa jadi memiliki komitmen dan pemahaman ideologi Muhammadiyah lebih tinggi daripada Pimpinan Pusat.

Secara garis besar ideologi Muhammadiyah dapat dilihat dari dua sudut pandang; vertikal (transenden) dan horizontal (imanen). Dari sudut pandang vertikal, dengan bermuhammadiyah akan mengantarkan seseorang ke depan pintu gerbang Jannatun Na’im dengan rida Allah SWT. Untuk memasuki Jannatun Nai’m dengan jalan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT (sudut pandang horizontal).

Konstruksi ideologis inilah yang menggerakkan para aktivis Muhammadiyah periode awal, para aktivis Muhammadiyah kini, dan para aktivis Muhammadiyah esok hari dalam menggerakkan roda organisasi dan dalam merintis maupun mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Ringkasnya, modal utama dan pertama adalah keyakinan dan cita-cita hidup, imajinasi sosial yang menggerakkan untuk bertindak, itulah ideologi Muhammadiyah.

Penggerak kemajuan sekolah

Konstruksi berpikir di atas secara empiris dapat dilihat dengan jelas dalam proses perintisan dan penggembangan sekolah (madrasah/pondok) Muhammadiyah di seluruh penjuru Tanah Air. Bagaimana tiga atau empat orang warga Muhammadiyah di suatu tempat merintis suatu sekolah; ada yang menyumbang tanah dan dana, ada yang menyumbang pikiran atupun ide-ide, dan ada yang menyumbang tenaga. Akumulasi dan sinergi tiga unsur itu sudah cukup untuk berdirinya suatu sekolah.

Mereka menyumbang dana, pikiran, dan tenaga semata-mata mencari rida Allah dengan jalan mendirikan majelis ilmu baik bernama sekolah, madrasah, maupun pondok pesantren dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan kesejahteraan publik sebagai instrumen mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Mereka tidak mengharap keuntungan finansial (berbisnis), agar anaknya menjadi pimpinan sekolah (dinastik), misalnya. Kalaupun anggota keluarga ataupun pimpinan Muhammadiyah bekerja di situ harus sesuai dengan kompetensi.

Dalam kerangka berpikir ideologis inilah pesan sang pendiri, Kiai Dahlan: “Hidup-hidupi Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah” harus dibaca, dipahami, dan diterapkan. Pesan ini jangan dimaknai secara literal bahwa orang yang bekerja di sekolah (perguruan tinggi) Muhammadiyah tidak boleh menerima gaji.

Ketika kehidupan sosial semakin terdiferensiasi yang ditandai dengan kemunculan beragam profesi, guru/dosen salah satu profesi yang dibutuhkan dalam menggerakkan lembaga pendidikan Muhammadiyah. Sebagai profesional, mereka mencurahkan seluruh tenaga, waktu dan pikiran untuk membesarkan sekolah Muhammadiyah. Pimpinan Muhammadiyah, memiliki kewajiban memberikan gaji atau upah yang layak sesuai standar dan sesuai kemampuan.

baca juga: Inovasi Sekolah bukan Pilihan…

Meski demikian, kaum profesional di AUM tidak dibenarkan hanya sekadar mencari uang, hanya berpikir transaksional. Dengan memberikan tenaga, mencurahkan kemampuan, maka berhak memperoleh gaji.  Para pengelola sekolah harus berpikir dalam kerangka ideologis, bukan semata-mata transaksional.

Penerapan berpikir ideologis bagi kaum professional adalah demikian: saya digaji satu Rp1.000.000 maka bekerja setara dengan bergaji Rp2.000.000, digaji Rp4.000.000 maka dalam kerja profesional setara dengan digaji Rp8.000.000, demikian seterusnya. Dengan berpikir ideologis maka tidak ada lagi sekolah Muhammadiyah yang kualitasnya rendah, tidak ada guru Muhammadiyah yang bekerja seenaknya sendiri, tidak disiplin dan tidak profesional karena digaji di bawah standar.

Bertitik tolak dari uraian di atas terlihat urgensi pendalaman ideologi bagi para pengelola sekolah dan perguruan tinggi, guru-guru maupun dosen sebagai alarm, sebagai pengingat, bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah dirintis dan dikembangkan dengan modalitas ideologi yang lurus. Keyakinan dan cita-cita bahwa beramal adalah untuk mencari rida Allah SWT (transenden) dengan membangun kesejahteraan umum (imanen-kesalehan sosial/publik). Nampaknya di titik ini, meski terlihat lamat-lamat, garis demarkasi sekolah Muhammadiyah dengan sekolah Islam yang lain.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo

Berita Terbaru

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Leave a comment