Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Kala Sekolah Menulis Sejarah

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 9 September 2024 19:44 WIB
Kala Sekolah Menulis Sejarah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Mohamad Ali (Dok. pribadi)

Penulisan sejarah perkembangan (historiografi) suatu sekolah sangat jarang dilakukan, tidak terkecuali sekolah-sekolah Muhammadiyah. Padahal, tidak sedikit sekolah Muhammadiyah yang umurnya sudah lebih dari setengah abad dengan dinamika perkembangan yang unik. Ketika bicara sejarah, ada dua makna yang terkandung, yaitu sejarah objektif dan sejarah subjektif (Kartodihardjo, 1992: 15). Sejarah objektif menunjukkan pada kejadian atau peristiwa itu sendiri, yaitu proses sejarah dalam aktualitasnya.

Di sebelah lain, sejarah subjektif adalah suatu konstruk, ialah suatu bangunan yang disusun penulis sebagai suatu uraian atau cerita baik dalam bentuk buku maupun artikel. Penulisan sejarah sekolah merupakan aktivitas sejarah subjektif yang perlu diperkenalkan kepada para pegiat dan praktisi pendidikan Muhammadiyah sedemikian rupa sehingga setiap sekolah, madrasah, maupun pondok pesantren setidaknya melahirkan satu buku sejarah tentang lembaganya.

Idealnya, setiap generasi mampu menulis sejarah zamannya sehingga akan muncul cukup banyak pandangan ataupun perspektif tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan zamannya. Keragaman perspektif ataupun sudut pandang atas dinamika suatu sekolah pada urutannya akan memperkaya visi dan kerangka pengembangan sekolah.

Historiografi Sekolah Muhammadiyah

Di tengah kelangkaan penulisan sejarah sekolah/madrasah/pesantren Muhammadiyah,  pada pertengahan bulan Agustus ini muncul sebuah buku karya Kiai Marpuji Ali (2024) berjudul Integrasi masjid dan Pendidikan, Pergumulan Perguruan Muhammadiyah Kottabarat Membangun Pendidikan Unggul-Berkemajuan. Beliau adalah komite sekolah/perguruan yang membidani kelahiran dan mendamping proses pengembangan Perguruan Muhammadiyah Kottabarat Surakarta.

Bila ditelisik agak jauh ke belakang, ternyata pada tahun 2000 Sutrisno menulis buku serupa berjudul Dinamika pendidikan SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Karya ini merupakan buah dari pergumulan dan refleksi pengalaman dalam menggerakkan dan mentransformasikan sekolah dari “sekolah kandang kambing” yang di-emohi menjadi sekolah unggul yang dimaui masyarakat.

Di tengah kelangkaan historiografi sekolah Muhammadiyah, kehadiran dua buku ini menarik untuk ditelaah lebih jauh. Pertama, bila dilihat dari tipologi penulisan termasuk dalam jenis sejarah orisinil, sebab penulis merekam segala sesuatu yang sedang terjadi di pandangan matanya dan diterjemahkannya dalam bentuk tulisan, bahan pokok tulisannya ialah kejadian yang disaksikan (Nourouzzaman Shiddiqi, 1983:18).

Cover buku karya Kiai Marpuji Ali (Diomedia)

Dari sisi penulis, Kiai Marpuji merupakan Ketua Komite Sekolah (Perguruan Muhammadiyah Kottabarat) sejak awal proses perintisan/pengembangan pada tahun 2003 sampai saat ditulisnya buku itu. Demikian pula Sutrisno adalah Kepala SD Muhammadiyah Sapen yang mengalami langsung proses awal perintisan di tahun 1980-an sampai menjadi sekolah unggulan. Dengan demikian kedua penulis ini merupakan pelaku langsung yang menyaksikan proses tumbuh kembang sekolah.

Sebetulnya, semua warga sekolah maupun stakeholder dapat menulis apa yang dialami maupun disaksikannya langsung, bukan hanya ketua komite maupun kepala sekolah. Guru-guru dapat menulis pengalamannya dalam mendidik siswa maupun dalam berinteraksi dengan guru-guru di lingkungan sekolah. Demikian pula para siswa dapat menuliskan pengalaman perjumpaan dengan teman-teman seangkatan maupun pengalaman belajar di sekolah tersebut. Sejarah orisinil sangat penting dalam proses penulisan sejarah karena merupakan sumber primer yang sangat berharga.

Kedua buku tentang historiografi sekolah Muhammadiyah di atas memiliki cara penyajian yang sedikit berbeda. Karya Sutrisno menampilkan model diakronis, sedangkan karya Marpuji menggunakan model singkronis. Model diakronis memanjang dalam waktu dengan ruang terbatas. Sedangkan model singkronis meluas dalam ruang tetapi rentang waktu terbatas.

Untuk memberi gambaran sekilas tentang kedua model penulisan diakronis vs sinkronis berikut ditampilkan struktur isi buku. Tebal buku Sutrisno 117 halaman dan bagi dalam empat bab, yaitu: “Pendahuluan”; “Sejarah dan Perkembangan SD Muhammadiyah Sapen”; “Dinamika Pendidikan dan Visi Masa Depan”; terakhir, “Percikan Pemikiran”. Sementara itu, buku Marpuji setebal 202 halaman dengan pembagian bab sebagai berikut: “Pendahuluan”; “Dinamika Masjid dalam Sejarah”; “Memakmurkan Masjid Melalui Inovasi Pendidikan”; “Orientasi Pengembangan Pendidikan Berbasis Masjid”; dan terakhir “Penutup”.

Dari struktur buku di atas tergambar dengan jelas pola penulisan diakronis yang dilakukan Sutrisno dengan memilah waktu dalam empat periode, seperti tergambar dalam bab II, “Sejarah dan Perkembangan SD Muhammadiyah Sapen: Masa Lalu, Pencarian Identitas, Pelaksanaan Identitas, dan Menuai Pelaksanaan”.

Di sebelah lain, buku Marpuji yang memilih pola singkronis kurang memperhatikan rentang waktu dan lebih banyak berbicara berbagai inovasi yang dilakukan oleh Perguruan Muhammadiyah Kottabarat yang dalam pengembangan terintegrasi dengan usaha-usaha memakmurkan masjid. Karena rentang waktu tidak terlalu panjang, maka dilakukan periodesasi secara ketat.

Historiografi: Penyempurna Inovasi

Historiografi, penulisan buku sejarah Muhammadiyah, merupakan suatu bentuk inovasi sekolah. Sekolah yang perkembangannnya datar-datar saja dipastikan akan kesulitan dan tidak merasa perlu untuk bisa menuliskan sejarah sekolahnya. Sekolah yang inovatif dan mengalami perkembangan yang pesat akan lebih tertantang untuk menuliskan sejarahnya dari pada sekolah yang datar-datar saja perkembangannya.

Selama satu dekade terkahir banyak bermunculan sekolah Muhammadiyah model baru di berbagai penjuru Tanah Air. Sembari terus mengembangkan lembaga dengan berbagai kreasi dan inovasi baru, akan lebih sempurna proses inovasi apabila menuangkan dalam bentuk tulisan. Dengan menuliskan gagasan pembaruan, jejak perkembangan, serta aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, maka akan lebih terjaga inovasinya.

Baca juga: Dua Kunci Kemajuan Sekolah

Dalam proses penulisan sejarah perkembangan suatu sekolah setidaknya memuat dua hal mendasar, yaitu tantangan yang dihadapai sekolah pada masa tertentu dan berbagai upaya, kreasi, dan inovasi yang dilakukan oleh pengelola sekolah dalam menghadapi dan menjawab berbagai tantangan yang dihadapi. Keberhasilan pengelola sekolah dalam merumuskan masalah mendasar zamannya dan kemudian memberikan jawaban yang tepat  atas permasalahan menjadi kunci bagi sekolah dalam menggapai kemajuan.

Sebaliknya, pengelola sekolah yang gagal paham masalah mendasar yang dihadapi,  bisa dispastikan tidak akan mampu merumuskan jawaban yang akurat yang pada urutannya akan mengalami kegagalan dalam menggapai kemajuan. Ringkasnya, kala sekolah mampu menuliskan sejarahnya, sama artinya dengan berhasil menyempurnakan  inovasi pendidikan yang mereka lakukan.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Leave a comment