Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Seremonial yang Membangun Etos “Dimensi Dalam”

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Jumat, 19 April 2024 17:08 WIB
Seremonial yang Membangun Etos “Dimensi Dalam”
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hendro Susilo (Istimewa)

Di momentum bulan Ramadan dan Idul Fitri, kecenderungan untuk menunjukkan kesemarakan dan gairah beragama cukup tinggi dalam kehidupan sosial masyarakat. Meramaikan dan menghidupkan suasana ramadhan dengan kegiatan khataman Al-Qur’an, iktikaf, zakat, halalbihalal dan sebagainya kerap menjadi fenomena tahunan yang mewarnai kehidupan sosial keagamaan baik di masyarakat maupun sebuah lembaga. Tentu saja, fenomena semangat keberagamaan dan kebiasaan yang membudaya ini membuat kita bahagia melakukannya.

Baru-baru ini, saya mengikuti acara halal bihalal (HBH) perguruan Muhammadiyah Solo yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Desain HBH tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. HBH berbentuk sarasehan (diskusi) dan diikuti oleh pimpinan sekolah (Kepala dan Wakil Kepala) TK, SD, SMP/MTs, SMA/SMK Muhammadiyah Solo. Sebelumnya, acara HBH ini diikuti oleh ribuan guru dan karyawan perguruan Muhammadiyah Solo untuk mendengarkan tausiyah HBH.

Sarasehan dan diskusi HBH tersebut, menghadirkan Prof. Suyanto, guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dia menyampaikan tema “Growth Mindset” untuk menumbuhkan sekolah Muhammadiyah berkemajuan. Narasumber memberikan motivasi psikologi sukses mengelola lembaga dengan menumbuhkan cara berpikir “tumbuh” yang memiliki faktor 80% mempengaruhi kesuksesan menuju unggul. Situasi lingkungan yang sering mengalami perubahan, kadangkala menimbulkan kesulitan dan tantangan. Namun, ditangan orang-orang yang memiliki perspektif berpikir yang “tumbuh”, kesulitan tersebut menjadi wahana belajar untuk terus tumbuh berkembang.

Nilai Tambah

Saya yang ikut hadir secara langsung, dapat merasakan atmosfer pertemuan HBH tersebut memiliki nilai tambah dalam memperkuat perspektif. Desain sarasehan dan diskusi memungkinkan menjadi daya tarik dan medium bagi peserta untuk mencari referensi jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapi di lembaga. Hemat saya, perubahan format seremonial HBH, yang menghadirkan pimpinan AUM sebagai lokomotif pergerakan menjadi efektif, efisien serta produktif dalam mewujudkan gerak berkemajuan. Hal ini, saya tangkap juga dari keterangan sambutan pimpinan Majelis Pendidikan terkait latar belakang mengapa desain diskusi sarasehan dalam seremonial HBH dilakukan.

Aspek seremonial dan kesemarakan dalam implementasi keberagamaan jangan berhenti pada aspek kulit luar (ritual) saja, namun harus lebih menyentuh aspek penghayatan (batiniyah). Tampilan luar dalam pelaksanaan semangat beragama memang perlu, namun harus diikuti aspek penghayatan yang pada akhirnya membangun etos dimensi dalam berupa kualitas moral dan tindakan benar.

Desain HBH dalam format diskusi sarasehan, harapannya akan menjadi media pendorong “dimensi dalam” yang menggerakkan semangat spiritualitas, mindset dan profesionalitas pengelola AUM dalam membawa lembaga ke arah gerak dakwah Muhammadiyah unggul berkemajuan. Sudah saatnya tradisi keberagamaan memiliki daya dorong batin dan penghayatan ke arah moralitas kemajuan, bukan sekadar seremoni dan simbol-simbol kering makna.

Penulis adalah guru SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Solo.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment